
Rizky nyengir kuda. "Tentu nggak, Mah. Aku hanya bercanda." Rizky mengambil satu troli itu lantas mendorongnya ke belakang tubuh Nella dan Gita. "Ayok kita belanja, Mah!"
"Ayok!" sahut Gita seraya berjalan di depan bersama Nella. Yang pertama mereka kunjungi adalah tempat beberapa daging.
"Mamah mau aku masakin apa?" tanya Nella.
"Gue mau dimasakin rendang, Nell," sahut Rizky dari belakang.
"Aku nggak tanya Bapak, aku tanya Mamah!" balas Nella dengan ketus seraya memilih-milih daging sapi dan ayam.
"Nggak usah riques, Riz. Terserah Nella saja. Dia 'kan yang jadi kokinya, kita hanya tinggal makan," kata Gita sambil tersenyum menoleh sekilas pada Rizky yang berada di belakang mereka.
"Iya deh. Lagian ... apa pun yang Nella buat nanti, pasti rasanya enak."
"Sok tau!" cicit Nella.
Setelah menimbang-nimbang akan memasak apa, Nella pada akhirnya mengambil daging ayam sebagai menu utama. Kemudian, mereka berjalan ke tempat lain untuk mengambil bumbu dan menu tambahan lainnya untuk memasak.
Hampir 40 menit mereka mondar mandir keliling supermarket. Setelah dirasa cukup dan melihat troli sudah lumayan penuh, mereka mengakhiri sesi belanja.
Rizky mendorong troli itu ke depan kasir dan ia juga sekalian membayarnya.
Barang belanjaanya yang terisi beberapa kantong itu dibawa semua menuju mobil. Rizky memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
"Mamah, aku mau pipis dulu sebentar, ya?" pinta Nella seraya memegangi perut bagian bawahnya.
"Biar Rizky antar," ujar Gita.
"Ayok, Nell," ajak Rizky.
"Nggak usah, toiletnya dekat kok." Nella menunjuk toilet umum yang berada di samping gedung supermarket. Lantas dirinya langsung berlari meninggalkan Rizky dan Gita.
Rizky hendak menyusul Nella, namun lengannya langsung dipegang oleh Gita, mencegah anaknya untuk pergi.
"Biarkan saja, Mamah ingin bicara denganmu sebentar."
"Bicara apa, Mah?"
"Bagaimana cara kamu bisa menyentuh Nella?"
"Kok Mamah tanya itu lagi, sih?" Rizky mengerutkan kening.
"Iya, Mamah masih penasaran. Bagaimana caranya?"
"Ya tinggal dimasukkin, Mah. Burungku dimasukkan ke goa Nella."
__ADS_1
Plak!
Gita menabok kasar pundak Rizky, saat mendengar jawaban yang terdengar sangat mesum itu. "Kenapa kau justru menjelaskannya? Kalau itu Mamah juga tau."
"Terus apa? Mamah 'kan tanya caranya?" alis mata Rizky bertaut, merasa binggung.
"Maksud Mamah, Nella 'kan nggak suka padamu, tapi kok kamu bisa meluluhkan hatinya supaya Nella mau bercinta denganmu? Apa yang kau perbuat? Apa kau memperk*sanya?" tanya Gita penasaran.
Rizky terkekeh. "Nggak lah, Mah. Mamah ini ada-ada saja."
"Terus caramu apa saat itu?"
Apa gue harus cerita sama Mamah tentang syarat gue dulu mengajak Nella bercinta? Apa Mamah perlu tau?' batin Rizky.
"Jujur pada Mamah, Riz! Mamah perlu tau!" tekan Gita seraya memegang lengan Rizky, ia menatap dalam mata Rizky hingga membuat Rizky tak mampu untuk berbohong padanya.
"Saat itu Nella memintaku untuk bicara dengan Papahnya, supaya mau bercerai dengannya."
Gita terbelalak. "Lalu?"
"Lalu aku menurutinya, tapi dengan syarat Nella mau bercinta denganku."
Bugh!
Rizky mengusap-usap lengannya yang terasa nyeri, bekas tabokan dan tonjokan sang Mamah. "Aku nggak ada pilihan lain, hanya itu yang bisa aku lakukan demi menyentuh Nella," keluh Rizky. "Tapi Mamah pasti sudah tau dari Papah, kan? Papah Sofyan nggak setuju dan kita nggak jadi bercerai."
"Iya, Mamah tau itu Riz. Papah sudah cerita." Gita mengangguk, lantas mengelus lembut kedua bahu Rizky. "Lalu bagaimana hubunganmu sekarang? Apa sudah ada kemajuan?"
"Sekarang belum, tapi nanti akan ada kemajuan," jawabnya sambil senyum-senyum sendiri, ia membayangkan bisa kembali menyentuh Nella. Apa lagi itu akan berlaku setiap hari.
"Bagus itu, Mamah mau mendengar berita tentang Nella hamil. Berikan Mamah cucu yang lucu, Riz," pinta Gita.
"Tentu, Mamah tenang saja," jawabnya sambil tersenyum.
***
Sampainya di rumah Guntur, mereka bertiga turun dan masuk ke rumah. Bibi pembantu datang untuk membawakan beberapa kantong belanjaan yang Rizky tenteng, membawanya menuju dapur.
"Mamah tunggu di ruang keluarga saja," kata Nella saat sampai di dapur bersama Rizky dan Gita.
"Nggak apa, Mamah mau melihat kamu masak sayang." Gita menarik kursi di meja dapur, lantas duduk di sana. Sedangkan Rizky, pria itu berdiri di belakang Nella, namun agak berjarak.
"Gue juga mau lihat lu masak, Nell," timpal Rizky.
Masak saja pakai dilihatin, anak sama ibu sama saja, menyebalkan' batin Nella.
__ADS_1
Ia mengambil ikatan rambut ke dalam tasnya yang berada di meja, lantas menguncir kuda rambut panjangnya.
Rizky memperlihatkan Nella dari belakang, tengkuk putih dan kedua bahu mulusnya yang terekpos dengan gamblang, terlihat begitu menggoda hingga membuat Rizky menelan salivanya susah payah.
Nanti malam, gue harus cek dia sudah selesai datang bulan atau belum. Gue nggak sabar ingin mengajaknya goyang' batin Rizky.
"Mau Bibi bantu, Nona?" tawar Bibi pembantu seraya menghampiri Nella yang tengah mencuci ayam.
"Nggak usah, Bi. Biar aku sendiri saja," tolak Nella. "Mamah suka makan makanan pedas nggak? Aku mau masak ayam balado." Nella menoleh pada Gita yang masih duduk manis di sebelahnya.
"Gue nggak suka pedas Nell," sahut Rizky.
"Aku tanya Mamah, bukan Bapak!" sembur Nella sambil mengerucutkan bibirnya.
Kenapa dia nyambar terus kayak petir, aku ingin melakban mulutnya yang bawel itu' gerutu Nella dalam hati.
"Tapi gue 'kan mau makan masakan lu juga, kok lu tega, sih?"
Bodo amat!' batin Nella.
"Cabenya sedikit saja Sayang, biar nggak pedas. Supaya Rizky bisa ikut memakannya," terang Gita yang mana dianggukan oleh Nella.
Ya kalau begitu namanya bukan balado. Ah terserah saja deh, mereka ini yang makan.
Tiga puluh menit sudah Nella berkutat di dapur, sampai akhirnya ia menyelesaikan dua menu masakan untuk makan siang. Ayam balado dan sayur bayam jagung.
Mata Rizky berbinar saat melihat ayam balado dan sayur bayam yang masih beruap, aroma harum masakan itu sampai masuk ke rongga hidungnya. "Wah, aromanya harum sekali, perut gue jadi lapar."
Setelah Nella menyelesaikan masakannya, barulah Rizky berani mendekat padanya. Sedari tadi ia ingin mendekati Nella, namun takut Nella marah-marah dan merasa risih.
"Biar Bibi yang membawa masakannya, Nona." Bibi pembantu mengambil alih mangkuk sayur yang dipegang oleh Nella.
"Terima kasih, Bi."
"Sama-sama."
Gita bangkit dari duduknya seraya menghampiri Nella. Sedangkan Rizky, pria itu sudah berjalan mengekori Bibi pembantu menuju ruang makan.
"Kamu ingin ganti baju? Bajumu bau masakan nggak?" Gita mendekatkan hidungnya pada dada Nella. Sontak, Nella beringsut ke belakang, merasa risih. Nella mendekatkan hidungnya pada lengan bajunya sendiri dan ternyata tercium aroma masakan.
"Nanti aku pakai baju siapa?"
Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!
Yuk follow IG Author: @rossy_dildara
__ADS_1