
Ihsan menghampiri Angga dan mencium punggung tangannya, pria tua itu langsung mengelus puncak kepalanya.
Rasanya Rizky sudah tak ada gunanya lagi berada di sana. Status sebagai suami sama sekali tak dihargai, mungkin lebih baik Rizky pergi saja.
"Ya sudah aku mau pergi ke—"
"Kamu mau pergi begitu saja? Nggak minta maaf dulu?" sela Angga. Dia sepertinya senang sekali membuat Rizky terlihat lemah di depan Nella dan tentunya Ihsan juga ikut bahagia mendengarnya. Hanya Angga satu-satunya orang yang berada di pihaknya saat ini.
Ihsan tersenyum menyeringai pada Rizky, seolah mengejek pria yang terlihat masih menyimpan rasa kesal di dadanya.
"Maaf," ucap Rizky dengan terpaksa. Setelah mengatakan hal itu, dia berlalu pergi begitu saja dan masuk ke dalam mobil.
Rizky duduk di kursi belakang mobil Reymond sambil memeras jari jemarinya. Semakin lama, ada rasa lelah di dalam hatinya, lelah untuk memperjuangkan semuanya.
'Apa gue harus menyerah saja? Gue capek diperlakukan seperti ini.' Rizky memegangi dadanya yang berdenyut nyeri. Tatapan matanya mengarah pada Nella, Ihsan dan Angga yang tengah tertawa. Dia melihatnya dari balik jendela mobil. 'Gue juga mau dicintai, seperti lu mencintai Ihsan. Apa gue disini terlalu berharap?'
Tak lama Reymond dan Indah masuk ke dalam mobil, mereka duduk di kursi depan.
"Yang sabar ya Pak Rizky," ucap Indah. Dia melihat wajah Rizky begitu muram dari spion depan mobil.
"Iya," jawab Rizky datar.
"Lu mau gue antar ke mana? Ke rumah atau kantor?" tanya Reymond seraya mengemudi.
"Kantor."
"Yang sabar ya, Riz. Gue baru sadar ... kalau Pak Angga orangnya menyebalkan."
"Iya, Rey. Dia memang nggak pernah suka sama gue."
***
Malam hari tepatnya jam 7 malam. Rizky tengah berdiri di depan cermin besar yang berada di belakang meja kerjanya. Dia sudah mandi dan memakai setelan jas berwarna merah maroon, dia tengah merapihkan jas kupu-kupunya yang berwarna hitam.
Tak lama Hersa datang dan membuka pintu, pria itu memakai setelan jas berwarna biru nevy.
"Apa Bapak sudah siap? Mau berangkat sekarang?" tanya Hersa dengan sopan.
"Iya."
__ADS_1
"Oya, ini minyak wangi dari Bu Gita. Katanya Bapak harus memakainya." Hersa memberikan papar bag kecil yang sedari tadi dia tenteng. Lalu memberikan pada Rizky.
"Ah kebetulan, minyak wangi gue habis." Rizky membuka paper bag itu dan mengambil minyak wangi dengan kemasan botol kaca tapi tak berkardus. Sebelum dia semprotan pada jas, Rizky menyemprotkannya dulu pada telapak tangannya, sebab minyak wangi itu bukanlah minyak wangi yang biasa Rizky pakai.
Setelah mengendusnya, ada aroma vanilla lembut eksotis, dipadu harum woody yang maskulin. Dua kombinasi itu cukup segar dan menyejukkan saat Rizky menciumnya.
Lantas dia menyemprotkan pada beberapa titik di mana dia biasa memakai minyak wangi. Jas dan juga kemejanya.
Setelah bersiap, keduanya keluar dari kantor dan masuk ke mobil Rizky. Malam ini Hersa akan menjadi sopir Rizky sebab dia tidak ada mood untuk menyetir.
"Kita jemput Nona Nella dulu, Pak?" tanya Hersa sambil mengemudi.
Sebenarnya Rizky masih kesal pada Nella akibat kejadian tadi siang. Namun, jika dirinya tidak mengajak wanita itu—Sofyan dan Gita pasti akan menanyakannya.
"Iya," jawab Rizky datar.
Beberapa menit kemudian, mobil Rizky akhirnya terparkir di depan halaman rumah Angga. Rumah itu terlihat sepi, mungkin tiga orang di dalam sana tengah makan bersama.
"Sudah sampai, Pak. Kok Bapak nggak turun?" Hersa menoleh pada Rizky, wajah Rizky terlihat begitu masam dan seakan tak ada semangatnya malam ini.
"Lu yang turun dan masuk ke rumah Opa, bilang sama Nella gue nunggu dia di mobil," titah Rizky seraya memalingkan wajahnya.
Dua menit kemudian, Hersa masuk lagi ke dalam mobil itu dan disusul oleh Nella yang duduk di samping Rizky.
Rizky menoleh ke arah dan seketika itu pun, matanya terbelalak. Rizky benar-benar terpesona melihat penampilan istrinya.
Nella terlihat begitu cantik dengan memakai full make up, tapi begitu menyatu dengan warna kulitnya.
Yang membuat Rizky makin terpesona ialah pakaian yang dikenakan Nella. Wanita cantik itu memakai long dress dengan model membelah di bagian paha kiri, hingga menampilkan paha putih dan mulus miliknya. Dress itu berwarna merah maroon dan begitu ngepres di badan Nella, tergambar jelas lekukan tubuhnya.
'Gila, seksi banget Nella.'
Rizky mengusap wajahnya, hampir saja mulutnya ikut menganga melihat keseksian Nella. Akan tetapi, mata liarnya tak bisa terus berhenti memandangi paha mulus yang berada di dekatnya.
'Apa Mama nggak salah memberikan Nella dress untuk dipakai ke pesta? Cantik sih, banget malah. Tapi sepertinya terlalu seksi, pahanya kemana-mana. Nanti kalau pria lain nafs* sama Nella bagaimana?'
Rasa takjubnya langsung sirna dan berubah menjadi rasa khawatir. Meskipun Nella tak suka padanya, tapi Rizky merasa tak ikhlas jika pria lain melihat keindahan tubuh istrinya.
Dia juga sadar ketika Nella seakan tak nyaman memakai dress itu, hampir sedari tadi dia membenarkan posisi duduk supaya pahanya tidak begitu terlihat. Nella juga menutupnya dengan dompet emas yang dia bawa.
__ADS_1
Rizky membuka jas yang dia kenakan, lalu memberikan pada Nella. "Pakai ini."
"Untuk apa?" Nella mengerutkan kening.
"Paha lu," jawab Rizky seraya memalingkan wajahnya.
"Terima kasih." Nella mengambil jas dari tangan Rizky, aroma wangi jas itu sampai tercium ke hidungnya. Lantas wanita itu menaruhnya untuk menutup pahanya.
'Minyak wangi Mas Rizky sepertinya baru, aromanya enak,' batin Nella.
"Kalau lu nggak nyaman, harusnya lu nggak usah pakai pakaian itu," ucap Rizky dengan suara datar.
"Nggak apa-apa, kita 'kan hanya sebentar."
'Sebentar katanya? Kelihatan banget dia nggak mau pergi sama gue lama-lama. Sabar, Riz.'
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai ditujuan. Rizky dan Nella turun bersama dan diikuti oleh Hersa yang membawa kado.
"Mas, ini jasnya." Nella memberikan jas merah itu pada Rizky, namun terlihat Rizky enggan untuk menerima.
"Pegang saja, untuk duduk nanti," jawabnya datar tanpa menoleh.
"Maaf Nona ini kadonya," ucap Hersa pada Nella sembari menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang.
"Iya, terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Rizky melirik sebentar pada kotak yang Nella bawa. Padahal dia sendiri tak membawa kado, tapi Nella malah membawa kado.
'Kapan dia beli kado? Oh, mungkin saat sama pacarnya tadi siang,' batin Rizky.
Mereka pun masuk bersama ke gedung hotel berbintang lima itu. Keduanya langsung disambut hangat oleh Gita dan Sofyan yang tengah berdiri. Dua orang itu tentunya sudah menunggu-nunggu kedatangan Rizky dan Nella, bahkan sejak sejam yang lalu.
'Wah, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Semoga sukses,' batin Sofyan.
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...
__ADS_1