Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
177. Kamu bisa menolong Papa?


__ADS_3

Sofyan membulat matanya dengan lebar, kemudian menoleh pada Nella yang baru saja berjalan menghampirinya.


"Apa Mami ada di kamar, Nell?"


Nella menggelengkan kepala. "Mami belum pulang dari tadi sore, Pa. Dia ...." Ucapan Nella kembali menggantung kala melihat Sofyan berlari keluar dari rumahnya, dia pun segera mengejarnya.


"Papa mau pergi ke mana?" Nella mencekal tangan Sofyan saat pria itu baru saja membuka pintu depan mobilnya.


"Papa ada urusan, Nell. Papa pergi dulu, ya?" Sofyan mengecup rambut anaknya, lalu segera menepis tangannya dan bergegas masuk ke dalam mobil.


Namun Nella yang ingin ikut segera berlari menuju pintu sebelahnya, kemudian langsung masuk sebelum Sofyan melajukan mobilnya.


"Kamu jangan ikut, di rumah saja."


Nella menggeleng cepat. "Nggak mau, aku mau ikut. Masa aku di rumah hanya dengan Om Dirga doang."


Sebetulnya bukan karena itu, lebih tepatnya Nella merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi pada perubahan sikap Sofyan tadi.


Awal datang menemuinya terlihat begitu ceria, akan tetapi saat membaca pesan—semuanya seketika sirna dan kali ini Nella yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres.


"Yasudah deh." Sofyan malas berdebat, lebih baik menurutinya saja—supaya cepat sampai ke tempat tujuan.


Dia pun segera menyalakan mesin mobil dan mengendarainya dengan kecepatan full.


"Papa, sebenarnya ada apa, sih? Apa ada masalah?" tanya Nella seraya menoleh pada Sofyan, dia juga merasa takut dengan mobil yang dikendarainya begitu kencang.


"Kamu bisa menolong Papa dulu sekarang?" tanya Sofyan tanpa menoleh.


"Tolong apa? Tapi jangan terlalu kencang menyetirnya, Pa. Papa 'kan bawa wanita hamil. Bahaya lho, Pa," tegur Nella sembari menyentuh perutnya sendiri.


Sofyan mengangguk, lantas mengurangi kecepatan. "Kamu telepon nomor yang chat Papa, tapi kamu nggak usah tanya apa-apa dulu. Ini darurat," pinta Sofyan seraya memberikan ponselnya pada Nella.


Wanita cantik itu segera mengetik benda pipih tersebut dan membuka isi di dalam chat. Seketika matanya membulat, mulutnya sampai menganga membaca isi chat itu. Namun segera dia tutupinya dengan salah satu tangannya.


"Yang chat Papa ini siapa? Kok dia bisa bilang Mami bersama pria lain?" tanya Nella penasaran, padahal tadi Sofyan sudah bilang—jika dia tak perlu bertanya apa-apa dulu.


Selain keadaan darurat, Sofyan juga tengah mengatur emosinya yang sudah mendidih. Dia tak mau sampai meluapkan amarahnya pada Nella.


"Tadi Papa minta tolong kamu dengar nggak, sih?" Sofyan mendengus kesal.


"Ah iya, maaf, Pa." Nella mengangguk, segera dia menghubungi nomor telepon itu, tetapi tak diangkat-angkat. Nella mencobanya berulang kali.

__ADS_1


"Apa kamu bawa hape juga?" tanya Sofyan.


"Aku lupa membawanya, tertinggal di meja makan sepertinya, Pa."


"Kamu chat Rizky, takutnya dia mencarimu di rumah. Terus habis itu telepon lagi nomor itu dan nomor Mami."


"Iya, Pa." Nella mengangguki ucapan Sofyan. Segera dia kirim pesan pada suaminya, mengabari saat ini tengah pergi bersama Sofyan.


Kemudian setelah itu, dia pun kembali menghubungi nomor yang mengirim pesan dan nomor Diana.


Namun sampai mereka sampai di hotel berbintang 5 pun, salah satu nomor itu tak berhasil menjawab teleponnya.


"Kamu tunggu di sini saja, ya? Sambil terus menghubungi Mami," pinta Sofyan seraya membuka pintu mobilnya lalu turun.


"Aku mau ikut dengan Papa, aku juga akan membantu Papa." Nella bergegas turun dan menghampiri Sofyan.


"Kamu seperti buntut, tapi kamu jangan emosi duluan, ya! Soalnya ini masalah rumah tangga Papa. Kalau pun memang benar-benar terjadi ... biarkan Papa yang menanggungnya," ujar Sofyan dengan mata yang berkaca-kaca. Belum juga dia melihat secara langsung, tetapi hatinya sudah berdenyut nyeri.


Dia tak bisa membayangkan jika itu benar-benar terjadi, mungkin hatinya akan hancur berkeping-keping.


"Semoga saja itu nggak benar dan hanya nomor iseng yang mau mengerjai Papa. Sekarang kita masuk dulu." Nella menyeka air mata yang baru saja lolos mengasihi pipi Sofyan, segera dia kecup pipi papanya.


"Selamat malam. Bapak dan Nona ada perlu apa? Silahkan menuju resepsionis jika ingin memesan kamar," ujar Satpam berseragam hitam yang menyapa. Sepertinya mereka tak bisa asal masuk begitu saja tanpa menyewa kamar hotel.


"Ah iya, Pak." Sofyan mengangguk, dia pun memesan kamar hotel terlebih dahulu dan meminta yang berada di lantai 3.


Setelah mendapatkan card sistem, Sofyan dan Nella masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Kemudian memencet tombol lantai 3.


Terdengar suara deringan ponsel Sofyan dan nama di depan layar adalah 'Istriku Tercinta' Nella yang melihatnya segera memberikan ponsel itu pada papanya.


"Mami telepon, Pa."


Sofyan segera mengangkat panggilan itu dan bertepatan dengan pintu lift yang baru saja terbuka, mereka pun keluar.


"Halo, Pi. Maaf Mami baru angkat telepon," ucap Diana dengan lembut.


"Mami ada di mana? Kata Nella ... Mami belum pulang dari tadi sore. Mami ke mana saja?" tanya Sofyan, dia masih menjaga suaranya supaya tetap stabil meskipun kini sudah sangat emosi.


Pandangan Sofyan dan Nella menengadah pada setiap pintu yang mereka lewati, mencari-cari kamar nomor 303.


"Oh, tadinya Mami hanya main ke rumah teman. Tapi sepertinya ini sudah larut, jadi Mami memutuskan untuk menginap."

__ADS_1


"Kenapa nggak memberitahu Nella, dia bilang khawatir padamu," tanya Sofyan.


Langkahnya langsung terhenti akibat Nella yang menahannya. Lantas wanita cantik itu menunjuk ke arah pintu tepat kamar yang mereka cari.


Mereka berdua tak sadar, jika ada seorang pria yang memakai seragam cleaning servis tengah mengepel lantai, tetapi dia hanya mengepel disatu tempat saja. Lebih tepatnya di dekat mereka, supaya dia bisa menyaksikan drama yang akan segera berlangsung.


Pria yang juga memakai topi biru itu tiada lain adalah Ihsan. Seorang pria yang awalnya ingin menjebak Diana tetapi justru tak perlu jebak—Diana ternyata memang selingkuh.


Semenjak Diana keluar dari rumah sakit—Ihsan sudah memata-matainya sampai ke sini. Dan dia adalah orang yang mengirim pesan dan video pada Sofyan.


Ihsan mengehentikan aktivitas sejenak. Sunggingan senyum pada wajah tampannya tercetak jelas saat melihat mantan kekasihnya ada di depan mata.


Sudah lama baru bertemu, tetapi kecantikan Nella tak pernah kurang di matanya. Malah makin bertambah dan membuat jantungnya berdebar.


'Tambah cantik kamu, Nell. Aku jadi makin sulit melupakanmu. Tapi tenang saja ... setelah hubungan Papamu hancur, akan kubuat hubunganmu dan Rizky hancur juga,' batin Ihsan. Dia kembali pura-pura mengepel, meski sesekali mencuri-curi pandang.


"Ini mau aku beritahu, Pi. Tadi hapeku eror," jawab Diana pada sambungan telepon.


Nella segera memencet bel yang berada di depan pintu, tanpa izin dulu pada Sofyan.


Pria yang masih menelepon itu segera mematikan sambungan teleponnya, sebelum Diana dapat mendengarnya.


Ting ... tong ... ting ... tong.


Tiga kali bel itu dipencet, tetapi tak kunjung mendapatkan respon.


Lantas Sofyan mengetuk-ngetuk pintu tersebut dan Nella pun kembali memencet bel.


Tok ... tok ... tok.


Ting ... tong ... ting ... tong.


Ceklek~


Mendengar pintu itu baru saja dibuka, Sofyan segera mendorongnya hingga orang yang masih berada di dalam beringsut mundur. Segera dia masuk tanpa permisi diikuti oleh Nella.


jangan lupa like dan komentarnya~


vote dan giftnya juga boleh~


biar tambah semangat 😌

__ADS_1


__ADS_2