Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
253. Aku tahu ini sakit


__ADS_3

Ceklek~


Beberapa menit akhirnya Maya keluar dari toilet, lalu menoleh ke kanan dan kiri. Mencari-cari keberadaan Diana. Tetapi tak melihat batang hidung wanita itu.


"May, cari siapa?" tanya seorang pria yang mana membuat gadis itu terhenyak kemudian menoleh ke arahnya. Pria itu adalah Sofyan, dia menyusulnya karena menunggu cukup lama. "Kamu sudah selesai belum? Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" Sofyan mendekat, lalu menyentuh kedua pundak istrinya.


Maya menggeleng. "Nggak, aku nggak kenapa-kenapa kok. Maaf ... Ayank sampai menyusul ke sini. Tadi ada masalah kecil."


"Masalah apa?"


"Tadi aku menabrak Bu ...." Maya menjeda ucapannya, rasanya ragu untuk mengatakan nama mantan istri suaminya. Dia ingat bagaimana ekpresi wajah Sofyan yang sedih saat membahas nama itu, dan itu membuat Maya tak tega. Dia tak mau melihat suaminya sedih.


"Menabrak siapa?"


"Itu, rekan bisnisnya Rizky. Tapi aku lupa namanya."


"Oh, lalu? Kenapa dengannya?"


"Ah lupakan saja, Yank. Eemmm ... kita balik saja ke meja."


Sofyan merangkul bahu Maya, lalu mengajaknya pergi dari sana. "Ayok."


'Bu Diana kemana, ya? Bukannya tadi minta ganti rugi?' Mata Maya masih berkeliling mencari keberadaan wanita itu, tatapi tak terlihat di mana-mana.


"Aku sudah pesan kwetiaw goreng dan jus mangga. Kamu suka nggak, May? Kalau nggak, bisa pesan lagi." Sofyan menarik kursi untuk istrinya duduk. Di atas meja sudah ada makanan dan minuman yang tadi disebutkan, setelah itu Sofyan duduk di kursi di depannya.


"Suka, Yank." Maya mengangguk. Sebelum mulai makan dia meraih segelas jus mangga, lalu menenggaknya sampai setengah. Melihat Maya sedang minum, Sofyan langsung tersenyum lebar hingga menampilkan deretan giginya. Kemudian mereka pun makan bersama.


*


*


"Kamu kenapa, May? Apa makanannya pedas?" Sofyan mengulurkan beberapa tisu ke tangan istrinya, dia sejak tadi memperhatikan Maya yang seperti kepanasan. Bahkan seluruh wajahnya sudah basah karena keringat, ditambah Maya juga duduknya tak nyaman. Bokongnya bergeser-geser dari kursi.


Maya menggeleng, lalu mengibaskan tangannya ke arah wajah. "Nggak pedes, Ayank. Cuma aku gerah saja."

__ADS_1


"Tadi pagi kamu mandi, nggak?"


"Mandi kok."


"Ya sudah, nanti setelah sampai di kamar hotel kamu langsung mandi. Biar gerahnya hilang," saran Sofyan yang mana dianggukan oleh Maya. Lantas gadis itu melanjutkan makannya.


'Semoga obatnya cepat ada efeknya. Maafin aku ya, May. Aku terpaksa memberikanmu obat supaya kita nggak akan gagal lagi saat kelonan. Aku ingin memilikimu seutuhnya,' batin Sofyan.


Pria itu dengan nekatnya memberikan obat perangsang ke dalam minuman Maya. Tetapi hanya sedikit dan dengan dosis rendah. Sofyan tak mau ambil resiko kalau Maya kenapa-kenapa, sekarang saja sejujurnya dia merasa bersalah.


*


*


*


Ceklek~


Mereka berdua masuk ke sebuah kamar hotel yang baru saja dibukakan pintunya dengan lebar oleh pria berseragam. Lalu pria itu memberikan card sistem ke tangan Sofyan.


"Terima kasih." Sofyan mengangguk sambil tersenyum manis. Setelah itu dia pun mengajak Maya masuk ke dalam kamar itu dan mengunci pintunya.


Kamar itu terlihat begitu bagus dan benar-benar mirip seperti kamar pengantin. Banyak sekali kelopak bunga di atas kasur, selimut putihnya juga berbentuk hati.


Disisi ruangan itu banyak lilin warna warni, dan tercium semerbak aroma mawar. Jangan lupakan lampu kamar yang berada di atas dibagian tengah, cahayanya terlihat redup tak terlalu terang. Semua itu adalah idenya Sofyan, dia membayar petugas pembersih hotel untuk membuat itu semua karena ingin melakukan ritual malam pertama.


"Kok bengong? Katanya mau mandi, May?" Sofyan mengelus pipi kiri istrinya. Maya yang tengah melamun karena memperhatikan ruangan itu langsung terperanjat.


"Oh, iya. Aku mau mandi." Maya mengangguk, dia berjalan menuju lemari putih, lalu membukanya untuk mengambil handuk kimono berwarna putih. Setelah itu dia pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.


Maya hendak mengunci pintu kamar mandi, tetapi tiba-tiba pintunya dibuka oleh Sofyan.


"Eh, Ayank kok masuk?" Maya sontak membulatkan matanya saat melihat tubuh Sofyan polos sempurna tanpa sehelai benang. Si Jumbo sudah tegak berdiri. "Kenapa Ayank nggak pakai apa-apa? Dan kenapa ke sini? Aku mau mandi."


"Aku juga mau mandi." Sofyan menutup pintu kamar mandi, kemudian dengan gerakan cepat dia pun mengendong tubuh istrinya lalu memasukkannya ke dalam bathtub yang sudah terisi penuh dan banyak sekali kelopak bunga mawar. Dia juga ikut masuk ke dalam sana lantas menindih tubuh Maya dari atas.

__ADS_1


"Ayank ...," lirih Maya dengan bibir yang bergetar, tubuhnya juga ikut bergetar kala merasakan remmasan di area dada karena ulah suaminya. Dia melepaskan kancing jas, kemudian menyingkap kaos hitamnya sampai atas.


"Ini akan enak, Sayang. Jangan takut," ujar Sofyan pelan, lalu melahap salah satu gunung kembar istrinya yang telah berhasil dia keluarkan dari tempatnya.


"Aahhh!" desah Maya sambil memejamkan mata. Kedua tangannya memegangi sisi bathtub menahan semua rangsangan yang dilakukan oleh Sofyan.


Setelah cukup lama bermain pada dua benda itu, Sofyan segera menarik celana panjang Maya yang sudah basah, juga dengan celana dallamnya.


Selanjutnya, Sofyan langsung mengesekkan senjata pamungkasnya ke arah inti tubuh Maya di dalam bathtub. Gadis itu sudah mengigit bibir bawahnya dengan deru napas yang tersengal.


Pelan-pelan Sofyan mengarahkan pada milik istrinya. Namun sebelum dia tekan, Sofyan menatap wajah istrinya terlebih dahulu. Wajah istrinya itu terlihat merah padam, matanya juga terlihat begitu sayup.


"Tahan ya, May. Ini hanya sebentar kok sakitnya," pinta Sofyan lembut. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya, lalu meraupnya dengan lembut. Kedua tangan Maya dia taruh ke atas bahunya.


Gadis itu langsung mencengkeram erat kedua bahunya saat Sofyan menekan miliknya untuk masuk ke dalam sana. "Eeeuughhhh," lenguh Maya sambil melotot, miliknya terasa sesak dan sakit.


Sofyan melummat lembut dan kembali menekankan senjatanya lebih dalam hingga masuk sempurna.


"Aakkkhh!" Sangking tak kuat menahan sakit, Maya sampai memekik. Miliknya terasa sangat perih dan seperti robek.


"Maaf, Sayang ...," ucap Sofyan pelan. Dia masih diam ditempat, tetapi dia merasakan miliknya seperti terjepit dan itu sangatlah nikmat.


"Sakit, Ayank ...," lirih Maya, tak kuasa air matanya menetes. Dia sempat menahannya tetapi tak bisa. Ngilu sekali di dalam sana, seperti ada yang mentok.


"Iya, aku tahu ini sakit. Tapi hanya sebentar aku janji." Sofyan mengendong tubuh langsing istrinya, mereka masih dalam penyatuan dan kini langkahnya berjalan menuju kamar.


Niatnya ingin bercinta di dalam bathtub, tetapi sepertinya tak jadi. Tubuh Maya terlalu tegang dan membuat posisinya tak nyaman. Mungkin kalau di atas kasur akan lebih baik.


Perlahan Sofyan membaringkan tubuh istrinya, tubuhnya juga ikut berada di atas dengan kedua siku dan lutut yang menahannya. Sofyan pun mengangkat pinggulnya, lalu menekannya kembali dan pelan-pelan naik turun.


"Aahh!" desah Sofyan. Rasanya tak kuat jika tak mendessah, milik Maya benar-benar menjepit miliknya. "Kandangmu sangat enak, May, sempit."


...***...


Akan ada beberapa adegan ++, dibab ini dan dibab selanjutnya. Mohon memaklumi, si Kakek mau coba bobol gawang 🤣.

__ADS_1


Disarankan cukup umur, tapi kalau ga suka atau ga kuat ... silahkan skip tapi jangan lupa tinggalkan like. Oke?


__ADS_2