
"Tapi itu nasi goreng banyak, Nell. Cukup buat dua porsi, nggak mungkin lu habiskan semua."
"Mau dua porsi atau tiga porsi, harusnya Bapak jangan asal makan gitu aja! Bapak harusnya izin dulu padaku!" tegas Nella.
"Oke, oke. Gue minta maaf kalau gitu."
Bukannya menjawab, Nella malah menutup pintu mobil Rizky dengan kasar. Lantas berjalan keluar dari gerbang.
Rizky langsung turun dari mobil, ia berlari dan menarik lengan istrinya saat Nella melambaikan tangan pada taksi yang baru saja lewat dan taksi itu pun berhenti.
"Lepas!" pekik Nella. Ia menepis kasar tangan Rizky pada lengannya, namun setelah terlepas—justru Rizky mendekapnya dari belakang.
"Lu mau kemana?" Rizky menggelengkan kepalanya pada sopir taksi yang baru saja menurunkan kaca mobilnya, seakan meminta sang sopir untuk pergi. Sopir itu mengangguk, lantas meninggalkan Nella dan Rizky dipinggir jalan.
"Bapak ini menyebalkan sekali, lepasin aku!" Nella memberontak, namun usahanya seakan sia-sia. Dekapan Rizky begitu erat padanya.
"Jangan marah, maafin gue. Gue janji nggak bakal seperti itu lagi," pinta Rizky seraya mencium pucuk rambut Nella.
"Lepasin aku dulu!" teriak Nella.
"Lu mau ke mana? Pasti mau ke Restoran, kan? Biar gue yang anterin."
"Nggak usah! Aku mau naik taksi!"
"Kenapa nggak mau? Gue bisa anterin lu."
Keduanya sama-sama tidak ada yang mengalah. Disatu sisi Nella tak mau ikut dengan Rizky, disisi lain—Rizky mau mengantar Nella.
Namun pada akhirnya, Nella yang harus mengalah—lantaran malu pada umum yang melihat Rizky mendekapnya terus-menerus.
"Oke, aku mau diantar Bapak. Tapi lepaskan dulu!" titahnya kesal.
Rizky meregangkan dekapannya sampai terlepas, gegas ia merangkul bahu istrinya. Takut jika Nella akan lari. Rizky mengajaknya untuk masuk ke mobil lagi.
Didalam perjalanan, sesekali Rizky menoleh pada Nella. Wanita itu terlihat melamun sambil memegangi kotak nasi.
"Apa lu sampai sekarang masih jijik sama gue?" tanya Rizky.
Nella memalingkan wajahnya, kearah jendela. Sebetulnya, ia binggung dengan nasi goreng yang berada di tangannya. Niatnya ingin makan sekotak berdua dengan Ihsan, tetapi Rizky malah memakannya lebih dulu.
Tak mungkin juga kalau ia memakan nasi goreng itu lagi, bahkan dengan Ihsan. Nella tak mau makan makanan bekas dari Rizky.
"Nel, Nella," panggil Rizky dengan nada lembut.
__ADS_1
Nella menoleh dan mengulurkan lengannya, memberikan nasi goreng yang baru saja ia tutup kepadanya. "Ini, buat Bapak saja," ucapnya datar.
Rizky tersenyum dengan mata yang berbinar. Segera ia mengambil kotak itu. "Terima kasih, maafin gue tapi, ya?" mohon Rizky kembali.
"Aku nggak mau ini terulang lagi," jawabnya dan lalu memalingkan wajahnya lagi.
"Iya, gue janji." Rizky menaruh kotak itu di kursi tempatnya duduk. "Gue kira ... lu buat nasi goreng itu untuk gue juga. Itu terlalu banyak soalnya."
Kepedean sekali dia, siapa juga yang mau memasak untuknya' batin Nella.
"Terus kalau nasi goreng ini buat gue, lu sarapan apa dong?"
"Restoran banyak sarapan," jawabnya ketus.
Selang tiga puluh menit berlalu, akhirnya mobil Rizky sampai pada Restoran milik Nissa. Nella hendak membuka pintu, namun cepat-cepat Rizky menarik kepalanya. Mendaratkan kecupan singkat pada bibir merah mudanya.
"Lu hati-hati Nella."
Kembali Nella tak menanggapinya, wanita itu turun dari mobil—lantas berlalu masuk ke Restoran setelah membalas sapaan dari kedua satpam di depan.
Lagi-lagi sikap gue membuat lu makin membenci gue, ya?' batin Rizky.
Setelah melihat Nella masuk ke Restoran, Rizky memutar balik mobilnya dan melajukannya.
Mata Nella menyapu setiap sudut ruangan Restoran, ia mencari-cari keberadaan Ihsan. Namun sayangnya tidak ada.
Di mana Kak Ihsan? Apa dia belum datang?' batin Nella
"Ivan!" panggil Nella agak keras pada pelayan pria yang baru saja selesai mengantarkan pesanan. Pria itu lantas menghampirinya.
"Ada apa, Mbak?"
Nella membuka tas branded miliknya, mengambil brosur milik Ihsan. Lantas, ia memberikannya pada pria yang bernama Ivan tersebut.
"Tolong berikan brosur ini pada pelanggan, kamu promosikan juga. Bilang padanya ... jika ada yang menservis mobilnya di bengkel itu, akan diberi menu gratis. Namun dengan catatan--"
"Kamu nggak perlu melakukan itu Cantik," sela Ihsan yang baru saja datang menghampirinya.
Nella menoleh "Kakak," ucapnya seraya memeluk tubuh Ihsan yang tengah berdiri di belakangnya.
Ihsan membalas pelukan singkat itu dan mencium keningnya. "Kalau mau membantuku cukup dengan sebarkan brosur saja, nggak perlu pakai ada makanan gratis. Aku nggak mau, Cantik," pintanya.
"Tapi Kak bukannya--"
__ADS_1
"Pokoknya aku nggak mau," selanya kembali. "Kamu sudah mau membantuku saja ... aku sangat terima kasih, cukup aku yang berjuang selanjutnya." Ihsan tersenyum dan mengelus pucuk rambut Nella.
Nella mengangguk, lantas menoleh pada Ivan. "Bagikan saja brosurnya, nggak perlu makanan gratis. Dan bawakan nasi goreng dua porsi tapi dalam satu piring, sama teh manis hangat dua gelas. Nanti antarkan ke ruanganku," titah Nella yang mana langsung dianggukkan oleh Ivan.
Setelah itu, Nella mengajak Ihsan masuk ke ruangannya. Mereka duduk di sofa yang berada di ruangan Nella dan selang beberapa menit—pesanan Nella datang. Mereka langsung sarapan bersama, sepiring berdua.
"Cantik, perasaan kamu bilang buat nasi goreng. Kok kamu malah pesan nasi goreng?" tanya Ihsan sambil mengunyah satu suapan dari Nella.
"Aku memang sudah membuatnya, Kak. Tapi nasi gorengnya dimakan sama Rizky. Aku kesal padanya," jawabnya dengan wajah cemberut.
"Oh, memangnya Rizky nggak kamu buatkan?"
"Nggak lah, ngapain aku membuat untuknya ... nggak penting sekali." Sekarang giliran Nella yang mendapatkan suapan dari Ihsan.
Seusai sarapan, Nella kembali memeluk tubuh Ihsan, menciumi dada bidang pacarnya.
"Aku cinta sama Kakak."
"Aku juga sangat mencintaimu. Eemm ... aku sepertinya nggak bisa lama-lama, Cantik." Ihsan menciumi rambut Nella.
"Kakak mau ke mana? Aku mau seharian sama Kakak di sini. Kakak temenin aku."
"Aku 'kan harus kerja. Siapa tau di bengkel sudah ramai."
Nella melepaskan pelukannya, dan kini menangkup kedua pipi Ihsan. "Cium dulu, baru pergi," ucapnya seraya memejamkan mata, Nella seakan memberikan kode ingin mengejaknya berciuman. Ia merasa rindu, sudah lama tak melakukan ciuman dengannya.
Ihsan tersenyum, tentu ia juga sama rindunya seperti Nella. Ihsan mendekatkan kepala pada Nella. Lantas mendaratkan bibirnya pada bibir Nella.
Cup~
Ihsan memagut bibir Nella, begitu pun dengan Nella. Ciuman penuh cinta itu hingga terdengar bunyi decakan lantaran lidah mereka saling berbelit, saling bertukar saliva.
Ciuman itu berakhir saat ponsel Ihsan berdering, juniornya menelepon sebab bengkelnya ramai, butuh campur tangan Ihsan yang sudah menjadi senior.
Ibu jari Ihsan mengulas sisa salivanya pada bibir Nella, ia menciumi seluruh wajah Nella dengan penuh cinta sebelum bangkit dari duduknya.
"Aku pergi dulu Cantik."
"Iya, Kakak hati-hati kerjanya."
"Kamu juga." Ihsan tersenyum dan keluar dari ruangan Nella.
Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!
__ADS_1