
Melihat Nella jatuh pingsan, Rizky tentunya makin panik.
Hanya dalam waktu sepuluh menit saja—mobil Rizky sudah melesat jauh hingga sampai ke depan rumah sakit terdekat.
Gegas Rizky pun membawa Nella masuk ke dalam UGD, supaya lebih cepat ditangani Dokter.
"Dok, istri saya pendarahan. Tolong dia," ujar Rizky saat membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur, lalu menatap Dokter wanita yang tengah menghampirinya.
"Bapak keluar dulu, saya akan menanganinya," jawabnya seraya menunjuk pintu.
"Iya, Dok." Sebelum keluar dari ruangan UGD, Rizky menyempatkan untuk mencium kening istrinya seraya berkata, "Lu akan baik-baik saja, Sayang."
*
*
Rizky mendudukkan bokongnya di kursi tunggu, dia pun segera mengambil ponselnya ke dalam saku jas untuk menghubungi Sofyan.
Namun, baru juga tersambung—terdengar suara operator yang mengatakan jika nomor tersebut sibuk.
"Oh iya, bukannya Papa bilang mau ke Bandung? Apa mungkin dia sudah berangkat?" Rizky memang tak tahu dan saat mengendong Nella sampai keluar rumah pun—dia tak sadar jika sudah tak ada Sofyan dan Diana di rumah itu.
Selanjutnya, pria tampan itu memutuskan untuk menghubungi Gita. Lalu Hersa dan yang terakhir adalah Bi Yeyen.
Tiga puluh menit sudah dia duduk di kursi itu, tetapi belum ada tanda-tanda pintu UGD terbuka dan orang-orang yang dia hubungi datang.
Rizky merasa sangat prustasi, dia juga merasa bersalah atas apa yang dialami istrinya.
'Apa tadi gue mainnya terlalu kasar? Milik Nella sampai berdarah begitu. Tapi perasaan, pas bercinta tadi ... dia nggak mengeluh sakit, malah terus mendessah seperti keenakan.'
Rizky mengangkat kedua tangannya menuju kepala, niatnya ingin menjambak rambut lantaran hatinya begitu gundah. Tetapi saat tangannya sampai ke kepala—mata Rizky langsung terbelalak.
Dia terkejut bukan main karena kepalanya plontos. Akibat panik tadi, sepertinya Rizky lupa memakai wig.
Demi menyelamatkan harga dirinya supaya tak malu—pria tampan itu bergegas membuka jasnya lalu menaruh jas itu ke atas kepalanya.
"Rizky, bagaimana keadaan Nella?" tanya seorang wanita yang baru saja datang tergesa-gesa, dia adalah Gita.
Wanita paruh baya itu datang berbarengan dengan Hersa dan Bi Yeyen yang mendorong koper. Rizky sudah memintanya untuk membawa pakaian ganti Nella dan dirinya, berjaga-jaga siapa tahu Nella akan disuruh dirawat.
Rizky pun menoleh, lalu berdiri. "Alhamdulillah, akhirnya Mama sampai juga. Nella sedang ditangani Dokter," jawabnya. Pria tampan itu berjalan beberapa langkah menghampiri Hersa, lantas berbisik ke telinga kirinya. "Belikan gue topi atau kupluk, Sa."
__ADS_1
"Untuk apa, Pak?" Hersa tak paham, sebab dia sendiri tak tahu kalau sang bos sudah tak berambut.
"Buat kepalalah. Masa burung. Sudah sana beli secepatnya!" perintah Rizky pelan, tetapi suaranya terdengar tegas.
"Bapak mau yang bermodel seperti apa?"
"Apa saja, sana cepat pergi!" pekik Rizky kesal. Dia tak mau jika kepala botaknya ketahuan oleh Gita, bisa-bisa wanita itu akan meledeknya habis-habisan.
Hersa mengangguk, lantas dia pun berlari meninggalkan mereka. Membelikan apa yang Rizky perintahkan.
"Kenapa Nella bisa masuk rumah sakit, Riz?" tanya Gita sekali lagi, wajahnya terlihat kalut.
Rizky menoleh kemudian mengajaknya sama-sama duduk bersama. "Aku juga nggak tahu, Ma. Tiba-tiba Nella pendarahan."
Gita membulatkan matanya. "Pendarahan? Kok bisa, sih? Dia jatuh atau bagaimana?"
Rizky menggeleng cepat. "Dia nggak jatuh, dia baik-baik saja. Cuma dia pendarahan pas kita habis bercinta."
Gita langsung menoyor kepala Rizky sampai tubuhnya oleng, untungnya tak sampai jatuh. "Kamu gila? Kamu ingin membunuh istri dan anakmu, ha?" bentaknya.
Rizky menggeleng lagi. "Nggak, aku hanya menengok anakku, kok. Kata Mama juga aku harus sering menengoknya, kan?"
"Kamu mainnya terlalu kasar, nggak? Harusnya bedain dong, bercinta saat Nella belum hamil dan sudah hamil. Goyangannya jangan terlalu keras!" gerutu Gita dengan emosi yang memuncak.
"Itu juga nggak kok, aku dan Nella malah saling ...." Ucapan Rizky menggantung kala mendengar suara pintu UGD itu terbuka.
Mereka yang melihatnya pun segera berjalan menghampiri Dokter wanita berambut pendek. Dokter itu adalah Dokter yang meriksa keadaan Nella.
"Keluarga dari Nella Pujianti?" tanyanya pada ketiga orang itu.
"Saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
Rizky menunjuk wajahnya sendiri dengan salah satu tangannya, dan tangan yang satunya sibuk memegangi jas. Dia takut jika jas itu terjatuh dari kepalanya. Terlebih kepala botaknya juga masih begitu licin.
"Sebelum Bapak tahu keadaannya, saya ingin bertanya dulu. Apa Bapak tahu istri Bapak sedang hamil?" tanya Dokter itu.
"Tentu tahu, Dok."
"Apa istri Bapak tidak mau mempunyai anak?"
"Maksudnya bagaimana?" Kening Rizky berkerut, dia tak paham dengan pertanyaan Dokter. "Apa gara-gara saya mainnya kasar ya, Dok? Tadi saya dan istri saya habis bercinta," terang Rizky.
__ADS_1
"Masalahnya bukan itu, tapi istri Bapak minum semacam jamu pengugur kandungan."
Deg!
Mata Rizky, Gita dan Bi Yeyen sontak membeliak sangking terkejutnya.
"Pengugur kandungan?" Rizky dan Gita berucap secara bersamaan.
"Tapi saya sendiri nggak tahu istri saya minum jamu itu, Dok. Dan rasanya dia juga tak mungkin melakukannya," terang Rizky tak percaya.
"Nanti Bapak bisa tanyakan saja pada istri Bapak kalau dia sudah sadar, ya? Dan untungnya Bapak cepat ke sini. Sedikit lagi bayi Anda bisa keluar dan tak bisa terselamatkan."
Mendengar penuturan sang Dokter, seketika tubuh Rizky melemas. Bisa-bisanya dia tak tahu dengan apa yang Nella lakukan. Tetapi rasanya dia tak percaya, jika Nella melakukan itu dengan sengaja.
"Tapi sekarang dia baik-baik saja 'kan, Dok? Lalu anak saya bagaimana?" tanya Rizky.
"Dua-duanya lemah, Pak. Apalagi bayinya, efek jamu itu sangat kuat sampai memengaruhinya. Tapi kita do'akan saja supaya dia menjadi kuat kembali dan sehat. Untuk sementara ... istri Bapak dirawat dulu, nanti saya akan pantau terus kondisinya," terang Dokter.
"Amin, terima kasih, Dok."
"Sama-sama." Setelah itu, Dokter berambut pendek tersebut lantas masuk lagi ke dalam ruangan UGD.
Sedangkan Rizky, Gita dan Bi Yeyen duduk di kursi tunggu.
Gita mengusap bahu Rizky, mencoba menenangkan anaknya yang seakan syok dengan apa yang telah terjadi.
"Bisa-bisanya Nella minum jamu pengugur kandungan? Dan dapat dari mana jamu itu?!" gerutu Rizky pada dirinya sendiri.
"Memangnya dari pagi kamu nggak sama Nella? Bukannya tadi kamu bilang habis bercinta?" tanya Gita.
"Itu memang benar, tapi dia bangun lebih dulu dariku, Ma."
"Maaf sebelumnya Pak Rizky ...," ucap Bi Yeyen pelan, tetapi membuat Rizky yang berada diujung langsung menoleh ke arahnya. "Tadi pagi Bibi antar jamu dari Bu Gita untuk Nona Nella, tapi jamu itu adalah jamu penguat kandungan."
Padahal belum ditanya, tetapi Bi Yeyen lebih memilih memberitahu duluan. Sebab dia tak mau jika sewaktu-waktu disalahkan.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1061...
__ADS_1