Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
27. Datang bulan


__ADS_3

"Alasan? Siapa yang beralasan? Kan memang kenyataannya kayak gitu. Kita liburan seminggu di sini sambil bulan madu, setelah itu baru pulang," papar Rizky.


"Aku nggak mau berbulan madu! Bapak ini mempermainkan aku, ya? Aku sudah memberikan semuanya, tapi kenapa Bapak begini!" geram Nella dengan emosi.


"Siapa yang mempermainkan lu, sih? Gue nggak mempermainkan. Lu juga, kenapa harus bilang memberikan semuanya? Tubuh lu itu milik gue, Nell. Lu istri gue." Rizky memegangi dadanya.


Nella menatap nanar wajah Rizky, entah kenapa pria itu dalam semalam seperti berubah pikiran. Seperti tak ada niat untuk membantunya.


"Sebenarnya Bapak mau membantuku atau tidak, sih?"


"Iya, gue akan bantu lu. Tapi setelah kita pulang dari sini."


"Tapi aku nggak mau kalau seminggu di sini, aku nggak betah tinggal di Hotel, Pak! Aku juga punya banyak kerjaan di Restoran!" tegasnya.


"Nggak betahnya kenapa? Kalau lu bosen kita bisa pergi keluar untuk jalan-jalan, kita bisa menghabiskan waktu sama-sama."


Dia ini bicara apa sih? Ah menyebalkan sekali Pak Rizky ini! Aku ingin pulang, aku tidak mau terus menerus bersamanya!' batin Nella.


Nella menarik pelan tubuhnya untuk bangun, juga melilitkan selimut sampai di atas dada. Rasa sakit dan ngilu itu masih terasa pada inti tubuhnya, tapi ia tak mungkin juga seharian hanya berbaring, apalagi dengan tubuh polosnya. Bisa-bisa, Rizky kembali mengulangi kejadian semalam.


"Mau gue gendong?" tawar Rizky saat melihat Nella yang sudah duduk diujung kasur sambil menjatuhkan kakinya ke lantai.


"Nggak usah!" cetus Nella. Ia berdiri dengan menyeimbangkan tubuhnya supaya tidak terjatuh. Rizky ikut berdiri dan memegangi lengan Nella, mencoba untuk membantu wanita yang kini melangkah terseok-seok. Namun hal tersebut ditolak oleh Nella, ia menepis lengan Rizky. "Lepas! Aku bisa jalan sendiri!" ketusnya.


Rizky menghentikan langkahnya dan melihat Nella berjalan pelan menuju kamar mandi, pandangan matanya berpusat pada bokong Nella yang berbalut selimut. Ia membulatkan netranya tatkala melihat beberapa bercak darah begitu banyak pada area bokong istrinya.


Rizky segera berlari dan memeluk tubuh Nella dari belakang, merasa cemas. "Nella, lu nggak apa-apa? Kok bokong lu berdarah?" Ia menyentuh bokong Nella tepat pada darah yang masih terasa basah, ia takut kalau darah itu akibat ulahnya semalam. Kalau terjadi sesuatu pada Nella, ia juga akan kena imbasnya.


Nella terbelalak. "Darah? Darah apa?" Nella melepaskan dekapan tangan Rizky pada perutnya, ia memutar kepalanya ke belakang, sedikit mencubit selimut pada ujung jarinya, tepat area bokong supaya mampu melihat apa yang Rizky ucapkan.


Apa aku datang bulan?


Kalau diingat-ingat, dari tanggalnya memang sudah memasuki waktunya datang bulan.


Setelah melihat penampakan itu, Nella berlari menuju kamar mandi tanpa peduli dengan rasa nyeri pada bagian intinya. Ia sangat penasaran untuk mengecek.


Rizky mengedarkan pandangannya pada kasur, banyak bercak darah juga di sana mengenai seprei putih. Lantas dirinya segera menelepon pelayan Hotel untuk menggantinya.


"Nella, lu nggak apa-apa 'kan? Apa yang berdarah? Apa milik lu berdarah?" tanya Rizky seraya mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok.


Apa jangan-jangan itu darah perawan? Ah masa banyak begitu? Semalam gue lihat hanya ada di burung gue kok, dan sedikit.


Ceklek~


Nella membuka pintu sedikit, namun hanya kepalanya yang muncul di balik pintu. "Pak Rizky, bisa aku minta tolong?"


"Tolong apa?"


"Tolong belikan aku pembalut, Pak."


Deg!


Rizky terbelalak. "Apa lu bilang?" Rizky mengerenyitkan keningnya, merasa tak percaya atas permintaan Nella. "Jadi lu datang bulan? Darah tadi adalah darah itu?"


"Iya. Bapak bisa 'kan belikan aku pembalut?"


Kenapa harus datang bulan? Padahal, gue mau ngajak dia bercinta lagi nanti malam.


"Pak!" panggil Nella sekali lagi, ia melihat Rizky diam saja.


"Belikan aku pembalut!"


"Enak aja lu, masa gue?" Rizky menunjuk wajahnya sendiri sambil geleng-geleng kepala. "Malu lah, masa cowok beli pembalut. Gue nggak mau!" tegasnya.


"Bapak 'kan bisa menyuruh orang lain, asisten Bapak atau siapa kek!" Nella mengendus kesal.


"Oh, ya sudah lu tunggu sebentar."


"Pak!" panggil Nella setengah berteriak, saat melihat Rizky sudah membuka kunci kamar. Pria tampan itu menoleh. "Beli yang ada sayapnya!"


"Sayap? Sayap gimana? Lu mau terbang?"


"Ih bukan, bilang saja beli yang ada sayapnya. Aku tunggu nggak pake lama!" tekan Nella seraya menutup pintu kamar mandi


Rizky berdecak kesal dan keluar dari kamar itu, namun kebetulan sekali ada pelayan pria yang datang membawa seprei baru yang sempat ia pesan tadi.


"Pak Rizky, saya datang mau mengganti seprei," ucapnya.

__ADS_1


"Oh boleh-boleh, silahkan." Rizky membukakan. pintu kamarnya kembali dan menyuruh pelayan pria itu masuk untuk mengerjakan tugasnya.


Pelayan itu telah selesai mengganti seprei dan kini melipat seprei bernoda darah, kemudian menyelipkan pada ketiaknya. "Sudah diganti ya, Pak."


"Oya ... gue bisa minta tolong?"


"Tolong apa, Pak?"


"Beliin pembalut."


Pelayan itu terbelalak. "Pembalut? Bapak 'kan pria, masa pakai pembalut?"


"Bukan buat gue, tapi buat istri gue. Lu mau nggak? Nanti gue kasih uang jalan."


Pelayan itu menggeleng cepat. "Saya nggak mau, Pak. Saya malu membelinya."


"Kok malu? Beli aja, nanti gue kasih satu juta buat uang jalannya," tawar Rizky merayu, padahal sendirinya juga malu untuk membeli sendiri. Ia sudah mengambil dompet pada saku belakang celana jeansnya, memperlihatkan beberapa lembar uang merah pada lipatan dompet kulit berwarna hitam miliknya.


"Maaf, Bapak minta tolong ke orang lain saja, saya nggak mau. Kalau begitu saya permisi." Pelayan itu pamit keluar dari kamar. Ia seperti tak ada ketertarikan saat melihat dompet tebal Rizky.


"Cih! Menyebalkan! Dikasih duit nggak mau." Rizky ikut keluar dari kamarnya sambil mengendus kesal, ia masuk ke lift yang baru saja terbuka. Ingin turun ke lantai bawah tepat disebuah Restoran Hotel. Mungkin saja ia bisa menemukan pelayan wanita yang bisa ia mintai tolong.


Ting~


"Rizky!" panggil seorang wanita yang berdiri tepat di depan pintu lift yang baru saja terbuka. Ia tiba-tiba memeluk tubuh Rizky dan mengecup pipinya.


Cup~


"Anna! Kok lu ada di sini?" tanya Rizky heran, ia melepaskan pelukan wanita itu dan mengajaknya keluar dari lift sebelum pintunya kembali tertutup.


Anna bergelayut manja di bahu Rizky. "Kok kamu tega sih sama aku? Nikah nggak bilang-bilang?"


"Kenapa harus bilang? Memang lu siapa? Penting gitu?" Rizky menepis lengan Anna pada bahunya, ia merasa malu karena menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung yang lewat.


"Kok kamu gitu sih? Jahat sekarang, kenapa kamu harus nikah sih, Riz? Terus kenapa nggak cerita?" kesal Anna.


"Gue bukan jahat, nanti kalau ada waktu gue ceritain, deh. Sekarang gue lagi darurat Anna." Mata Rizky masih mencari-cari pelayan wanita. Segitu banyaknya pelayan yang berseliweran, tak ada satu pun yang berjenis kelamin wanita, semuanya laki-laki.


"Kamu cari siapa? Daruratnya kenapa?"

__ADS_1


Jangan lupa like 💕


__ADS_2