Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
162. Ayok mandi bareng


__ADS_3

Ihsan merogoh saku di dalam jaket kulitnya, lalu memberikan persegi empat berukuran sedang pada Nissa. Benda itu adalah bedak padat. "Ini bedaknya Tante Diana ketinggalan, tolong Tante berikan padanya."


Nissa menatap aneh wajah Ihsan sembari mengambil benda persegi itu di atas meja. "Kok bedaknya Kak Diana bisa sama kamu? Dan kapan kamu bertemu dengannya?"


"Saat di mall, nggak sengaja, Tan. Kemarin itu ...." Ihsan menceritakan kembali pertemuannya dengan Diana pada Nissa. "Dan pas belanja ... Tante Diana memintaku memegang tasnya, soalnya saat itu dia kesusahan memilih pakaian," imbuhnya lagi.


"Terus kenapa bedak ini ada sama kamu?" tanya Nissa.


Ucapan Ihsan masih ambigu, tidak memperjelas tentang sebuah bedak.


"Aku juga nggak tahu." Ihsan menggelengkan kepalanya. "Mungkin saat itu terjatuh ke paper bag yang aku bawa, kebetulan tas Tante Diana juga terbuka."


Bohong, padahal Ihsan sengaja untuk mengambilnya. Dan sekarang berpura-pura untuk mengembalikannya.


"Oh, yasudah ... nanti Tante berikan padanya." Nissa mengangguk paham seraya menaruh benda kecil itu ke dalam tasnya.


"Kalau bisa, berikan bedak itu ke Tante Diana saat sendiri saja, Tan. Jangan pas bersama Om Sofyan, aku nggak mau dia salah paham," pinta Ihsan dengan nada memohon.


"Iya, kamu tenang saja, San."


"Terima kasih, Tante." Ihsan mengulum senyum.


"Sama-sama." Nissa membalas senyuman itu.


'Bedak itu harus kembali pada pemiliknya,' batin Ihsan. Senyum yang awalnya manis pada wajah tampannya kini sirna dan berubah menjadi licik. 'Om Sofyan, kita lihat ... sampai kapan hubungan Om bertahan dengan istri Om.'


Setelah pesanan mereka jadi, mereka pun membayarnya ke kasir. Kemudian berjalan keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil sama-sama.


"Tante, di restoran Tante apa ada lowongan pekerjaan?" tanya Ihsan basa-basi sambil mengemudi.


"Buat siapa?"


"Buatku."


"Kamu mau kerja? Terus bengkelnya bagaimana?"


"Tetap jalan, tapi aku mau cari pengalaman saja dan itung-itung nambah penghasilan. Om Irwan juga nggak keberatan." Ihsan menoleh pada Nissa, wanita itu tampak antusias sekali menanggapi ucapannya. Membuatnya merasa senang. "Jadi pelayan atau tukang bersih-bersih juga nggak masalah, Tan."


"Yang Tante butuhkan sebenarnya manager, San."

__ADS_1


Ihsan membulatkan matanya. "Si Cantik memangnya berhenti kerja?"


"Bukan berhenti, dia ambil cuti. Bilangnya sih seminggu. Tapi Tante merasa kasihan juga kalau dia terus bekerja, biarkan saja dia istirahat."


Tadi pagi Nissa sempat di telepon oleh Nella, mengatakan jika ingin mengambil cuti selama seminggu. Wanita cantik itu juga sebenarnya ingin menghabiskan waktunya lebih banyak dengan Rizky.


Ihsan terdiam sejenak, sembari membayangkan wajah cantik mantan pacarnya itu. 'Semoga kamu baik-baik saja di sana, Cantik. Aku rindu padamu, kapan kita bisa dipertemukan lagi? Aku yakin ... kamu nggak akan bisa semudah itu mencintai Rizky. Kalau pun sudah pudar rasa cinta itu, aku akan membuatnya utuh lagi. Tunggu aku, Cantik. Kita pasti bisa bersama.'


"Yasudah, aku saja yang menggantikannya," ucap Ihsan dengan entengnya, didetik selanjutnya dia merasa malu sebab mengingat latar belakang pendidikannya, Nissa juga terlihat diam saja, tak memberikan tanggapan. "Maaf, Tan. Sepertinya ... menjadi seorang manager nggak cocok untukku, aku hanya lulusan SMK. Tapi ... aku sekarang sudah masuk kuliah, Tan."


Nissa tidak bertanya, tetapi Ihsan memberitahunya lebih dulu. Dia ingin Nissa mempertimbangkan keputusannya.


"Kalau nggak, jadi sopir Tante juga nggak masalah," imbuhnya lagi.


"Ah kamu ini, masa kamu kerja dengan Tante. Rasanya nggak enak." Nissa menggeleng samar.


Bukan masalah tidak mau, tetapi Ihsan adalah mantan kekasih keponakannya. Dia takut jika kehadiran pria bule itu akan membuat masalah dengan Sofyan.


Tetapi memang itulah tujuan Ihsan sebenarnya.


"Nggak enaknya kenapa?" tanya Ihsan penasaran. "Oh, Tante nggak percaya dengan keahlianku dalam bekerja, ya?" tebak Ihsan.


Nissa menggeleng cepat. "Bukan seperti itu, San. Tante hanya nggak mau menganggap kamu sebagai bawahan saja," jawabnya beralasan.


"Tapi tetap saja Tante nggak bisa. Eemm ... bagaimana nanti Tante carikan kamu pekerjaan saja, kalau memang kamu ingin kerja sampingan," saran Nissa.


"Kalau Tante nggak menerimamu nggak usah, nggak apa-apa. Tante juga nggak perlu mencarikannya pekerjaan, aku nggak mau merepotkan." Ihsan menggembung senyum.


"Nanti Tante pikiran lagi deh, ya," jawab Nissa sambil tersenyum canggung.


Asli dia merasa tak enak, ucapan dan pembawaan Ihsan yang begitu lembut seakan mampu membuatnya ingin membantu.


'Apa kujadikan Ihsan manager atau sopir saja, ya? Dia 'kan niat ingin bekerja, bukan mengganggu hubungan Rizky dan Nella. Lagian ... aku juga kasihan padanya,' batin Nissa.


...(Flashback Off)...


...***...


Di rumah Sofyan.

__ADS_1


"Mas ayok mandi, kok duduk?"


Mereka baru juga sampai ke kamar Nella, tetapi Rizky sudah duduk di sofa sembari membuka laptopnya yang sempat dikirim oleh satpam rumahnya.


"Lu mandi duluan saja, gue mau periksa ini dulu," jawab Rizky tanpa mengalihkan pandangannya, dia masih fokus melihat data-data pekerjaannya.


"Dih kok begitu, sih?" Nella mendengus kesal, lalu dia pun segera menghampiri Rizky dan duduk di sampingnya. "Ayok mandi bareng, aku mau pipis."


"Ya sudah ... pipis duluan saja. Mandi duluan, Sayang." Rizky tersenyum.


"Periksa datanya nanti saja setelah mandi, aku mau mandi bersama Mas Rizky." Sekarang Nella sudah bergelayut manja di lengan Rizky, tetapi pria itu masih serius tentang hal yang dia lihat. "Mas ...," rengek Nella kesal, lama-lama rasa kencingnya begitu menyiksa.


"Mandi duluan saja, Sayang." Jawaban Rizky masih sama.


"Ya sudah deh, tapi nanti Mas nyusul, ya?" Merasa tak tahan dan takut mengompol, Nella pun segera bangkit lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Gegas Nella melepaskan seluruh pakaiannya, kemudian menyalakan kran shower.


Namun sampai sesi mandinya yang hampir berakhir, Rizky tak kunjung masuk juga ke dalam kamar mandi. Padahal, pintu itu tak dikunci bahkan berbuka sedikit.


Merasa kesal menunggu, akhirnya Nella memutuskan mengakhiri mandinya.


Ceklek~


Dia pun keluar dengan memakai lilitan handuk di atas dada, dan terlihat Rizky masih betah duduk di sana sembari menatap layar laptop.


Sungguh, pemandangan itu membuatnya emosi. Ingin rasanya Nella marah-marah, tetapi rasanya malas.


Pada akhirnya dia pun hanya mengeringkan tubuhnya, lalu memakai piyama tidur pendek. Setelah itu membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Rizky seraya menggeliat, meregangkan otot-otot yang terasa kaku selama satu jam duduk. Lantas dia pun melipat laptopnya.


Baru saja Rizky berdiri dan mulai melangkah, seketika matanya membulat kala melihat Nella tengah terlentang di atas kasur sembari melepaskan kancing bajunya. Dari atas hingga ke bawah.


"Mas ...," desah Nella dengan wajah menggoda. Dia ingin sekali suaminya itu mendekatinya dan mulai mengajaknya bermain-main di atas kasur.


'Aku ingin bercinta, Mas.'


...Jangan lupa like dan komentarnya...

__ADS_1


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...


...1059...


__ADS_2