
Di rumah sakit.
Rizky sudah tengkurap di ranjang pasien tengah diperiksa oleh Dokter pria. Di dalam ruang pemeriksaan itu ada Nella, Guntur, Gita dan Jihan yang berada dalam gendongannya.
"Kenapa dengan Mas Rizky, Dok?" tanya Nella saat melihat Dokter menaruh stetoskop ke lehernya sendiri.
"Pinggangnya keseleo, Nona."
Tak lama suster masuk ke dalam sana sambil membawa nampan stenless, ada suntikan dan botol kaca yang berisi cairan obat.
Lantas dokter itu mengambil suntikan itu, lalu memasukkan obatnya ke dalam.
Celana kolor Rizky dia tarik ke bawah hingga menampilkan bokong putihnya, dan seketika Rizky terkejut. Dia langsung menyentuh bokongnya.
"Dokter mau ngapain? Kenapa kolorku ditarik?" tanya Rizky seraya menoleh ke arah Dokter. "Aku masih normal! Aku bukan gay."
"Dih, saya juga masih normal, Pak. Saya hanya mau suntik Bapak. Biar sakitnya hilang."
"Nggak! Aku nggak mau!" Rizky langsung berlonjak dari tempat tidur seraya duduk, lantas membereskan celananya.
"Bapak nggak mau disuntik?"
"Iya, nggak mau." Rizky menggeleng cepat, dia benar-benar takut dengan jarum suntik. "Berikan aku obat atau salep saja, tapi nggak perlu disuntik, Dok."
"Ya sudah kalau Bapak nggak mau. Nanti saya berikan salep atau obat saja, ya?"
"Iya."
Setelah mengolesi salep pada pinggangnya dan sudah mereda rasa sakitnya, lantas mereka semua keluar sama-sama dari ruangan itu. Selanjutnya Nella juga sekalian konsultasi ke dokter kandungan untuk melakukan kb. Tetapi dia hanya berdua dengan Rizky.
"Setelah diperiksa, akan lebih baik yang melakukan kb Pak Rizky saja. Supaya nggak mempengaruhi ASI," jelas Dokter wanita saat sudah memeriksa kondisi rahim Nella.
"Kok aku, Dok? Memang bisa?" Rizky mengerut keningnya binggung.
"Bisa, pakai komd*m."
__ADS_1
"Mana enak bercinta pakai komd*m, Dok. Kurang berasa," keluh Rizky. Padahal dulu jika bercinta dia selalu pakai pengamanan. Tetapi saat sudah menikah Rizky sendiri seolah menampik dan tidak mau.
"Hanya satu atau dua bulan saja, Pak. Nanti setelah itu Nona Nella bisa minum pil KB."
"Sudah turuti saja, Mas. Yang penting kita bisa bercinta," ujar Nella pelan.
'Iya, sih. Yang penting aku nggak kalah sama Papa,' batin Rizky.
***
Maya menghela napas panjang saat menyelesaikan ritual nongkrong yang menghabiskan waktu tiga puluh menit itu. Tetapi dia sama sekali tak membuang hajat, hanya nongkrong saja lantaran sakit perut.
Setelah selesai membersihkan diri dan mencuci tangan dengan air beserta sabun, dia pun keluar dari kamar mandi sambil membereskan pakaiannya.
Ceklek~
"Pak Sofyan. Ah ... Maksudku Ayank Sofyan." Maya membulatkan matanya saat melihat suaminya itu tengah berdiri di depannya dengan lilitan handuk di atas pinggang. Wajah dan tubuh pria itu terlihat masih basah.
"Kamu ngapain di kamar mandi tamu?" Sofyan mengerutkan keningnya binggung.
"Oh sakit perut? Kenapa nggak ngomong saja pas aku mandi, jadi nggak perlu ke kamar mandi tamu."
"Nggak apa-apa kok, lagian ini juga sudah selesai." Maya tersenyum canggung.
"Apa perutmu masih sakit? Mau aku antar ke rumah sakit?" Sofyan tiba-tiba menyentuh perut rata Maya dan seketika membuat gadis itu terkesiap. Sejak tadi dia masih gugup dan takut, sekarang justru makin bertambah.
"Nggak." Maya menggeleng cepat.
"Ya sudah, ayok balik lagi ke kamar. Aku sudah nggak tahan banget, May. Mau kelonan sama kamu." Sofyan mengendong tubuh ramping Maya lalu membawanya keluar dari kamar tamu menuju kamarnya, lagi-lagi gadis itu terkejut dengan kedua mata yang terbelalak. "Kamu kenapa sih, May? Kok seperti gugup?"
Sofyan membaringkan tubuh Maya di atas kasurnya perlahan-lahan, setelah itu dia pun mengunci pintu kamar kemudian melepaskan handuk sambil berjalan menghampiri istrinya lagi.
Maya menelan salivanya dengan kelat, perlahan dia menyeka keringat yang sudah bercucuran di daerah wajah. Sungguh, dia benar-benar gugup dan tak bisa berpikir jernih. Apalagi tubuh Sofyan sudah polos sempurna dan menampilkan beberapa potong roti sobek.
'Pak Sofyan umur berapa, sih? Kok tubuhnya seperti masih muda? Kekar dan berotot?' batin Maya.
__ADS_1
"Kamu lihatin apa, May? Sudah nggak sabar, ya?" goda Sofyan sambil terkekeh. Dia menurunkan pandangan ke arah senjata pamungkasnya sendiri yang super jumbo itu, lalu merangkak naik ke atas kasur. Dia mengira istrinya itu sudah menatap asetnya yang sangat berharga, padahal Maya sejak tadi menatap perut kotak-kotaknya.
"Aku ...." Maya membulatkan matanya dengan lebar saat pandangannya kini beralih pada milik Sofyan yang tegak berdiri seperti tihang listrik. Dia mengalihkan pandangannya, wajahnya merah padam lantaran malu dan gugup.
"Nggak usah takut, May. Aku 'kan sudah bilang kalau sakitnya hanya sebentar. Nanti lama-lama jadi enak. Malah kamu akan ketagihan." Sofyan mengerti akan sikap Maya, dia dapat memaklumi itu semua. "Aku janji mainnya akan lembut, nggak kasar, May. Kalau sakit kamu bilang saja."
Pertama-tama Sofyan melepaskan jas yang menempel pada tubuh istrinya, selanjutnya menarik kaos putih polosnya hingga kini hanya bra saja yang menutupi area dada.
Baru saja dia hendak menyentuh dua gundukan kenyal itu, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Maya yang berasal dari kantong celana bahan yang berdering dengan keras.
Maya yang tengah berbaring langsung duduk, dia meraih selimut untuk menutupi dadanya lalu merogoh benda pipih itu.
"Siapa yang telepon?" Sofyan menatap wajah Maya saat istrinya memperhatikan layar ponselnya.
"Rizky."
"Sini, biar aku yang angkat." Sofyan mengulurkan tangannya, dan Maya segera memberikan ponselnya ke tangan Sofyan.
"Halo, May. Lu ada di mana? Kok belum sampai? Hersa nungguin lu dari tadi tahu." Suara Rizky terdengar begitu nyaring dan sepertinya marah.
"Ngapain Hersa nungguin Maya? Dia nggak boleh dekat-dekat dengan Maya!" tegas Sofyan. Suaranya lebih keras daripada Rizky. Maya yang mendengarnya sampai terkejut, wajah suaminya juga tampak merah.
"Eh, Papa. Bukan seperti itu, Maya ... ah maksudku Mama Maya, dia ditunggu di ruang rapat. Aku 'kan nggak masuk ke kantor, jadi biarkan Mama Maya dan Hersa saja yang meeting bersama Reymond," jelas Rizky memberitahu. Dia tak mau membuat papa mertuanya salah paham.
"Oh ...." Sofyan menghela napas lega. "Tapi Mama Maya hari ini nggak masuk kerja dulu."
"Kenapa memangnya?"
"Papa dan dia mau ...." Ucapan Sofyan menggantung kala pandangannya bertemu dengan Maya. Entah mengapa dia merasa malu ingin jujur pada Rizky, padahal biasanya selalu blak-blakan.
"Oh ... aku ngerti nih. Pasti Papa mau goyang lagi, kan?" tebak Rizky sambil cengengesan. "Masih pagi juga. Tapi aku mengerti, namanya pengantin baru pasti nagih ya, Pa? Ya sudah deh ... nggak apa. Tapi Papa butuh kamar hotel, nggak? Mau aku pesankan?" tawar Rizky.
Wajah Sofyan seketika merona, dia tersenyum kecil. "Nggak perlu, Papa mau di kamar saja. Tapi do'akan saja biar sukses ya, Riz."
"Sukses? Pasti dong. Masa iya nggak sukses. Papa 'kan suhunya di ranjang. Eh, tapi Papa mau tanya gaya baru nggak? Aku punya gaya baru untuk bercinta. Namanya kodok loncat, Pa."
__ADS_1