Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
135. Satu mangkuk berdua


__ADS_3

Sementara itu, Mitha sudah ada setengah jam menunggu di dalam mobil yang terparkir di luar gerbang. Dia sampai tidak diberi izin untuk memasukkan mobilnya ke dalam gerbang rumah mewah itu sebelum mendapatkan izin dari tuan rumah.


"Pak, mana Mbak Nella? Kok lama sekali datangnya?" tanya Mitha seraya menurunkan kaca mobilnya, berbicara pada satpam yang berada di dalam gerbang.


Sebelumnya, dia sudah meminta satpam itu untuk memberitahu Nella kalau dirinya datang ingin menemuinya, tetapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kemunculan wanita yang dia tunggu sejak tadi.


Satpam itu baru saja hendak memberikan jawaban, namun ponselnya berbunyi notifikasi pesan masuk dan segera dia buka.


"Kata Pak Rizky, Nona pulang saja. Dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Nona Nella," ucap satpam tersebut sambil menatap layar ponselnya, rupanya isi pesan itu dari Bi Yeyen yang baru saja memberitahunya.


Mitha berdecak kesal sambil berdecih. "Cih! Memang mereka berdua adalah pasangan terlebay, seperti nggak ada hari-hari yang lain saja. Giliran aku mau bertamu ... mereka malah menghabiskan waktu bersama."


"Nona, apa Nona mendengar apa yang saya katakan?" tanya sang satpam. Dia melihat Mitha sedari tadi tak kunjung pergi tetapi malah menggerutu dengan suara pelan, dan dia pun tak mendengar apa pun.


"Iya, aku dengar kok," jawab Mitha malas, lalu dia turun dari mobil dan menyelipkan tupperware berbentuk bulat pada sisi gerbang. "Aku titip ini saja, ini salad buah untuk Mbak Nella. Bilang padanya ... anggap ini sebuah permohonan maaf, Pak."


"Iya, Nona. Nanti saya berikan padanya." Satpam itu memberikannya dengan senang hati, lalu melihat Mitha masuk lagi ke mobil dan mengendarainya.


***


"Ah!" Nella mendessah nikmat saat tubuhnya kini diguncang hebat oleh Rizky dari belakang. Kedua telapak tangannya sudah menempel pada tembok, seolah menahan supaya tidak jatuh.


"Enak, Nell. Luar biasa." Rizky mengoceh dibarengi dengan desahhan, dia sudah menghentakkan pinggulnya dengan kecepatan full hingga membuat keringat di tubuhnya bercucuran di lantai.


Selang beberapa menit saja, akhirnya miliknya berhasil membuncah dan Rizky kembali menekannya lebih dalam supaya cairan kentalnya masuk sepenuhnya.


Nafas mereka langsung terengah-engah saat keduanya berhasil mencapai pelepasan.


"Capek, nggak?" tanya Rizky seraya mengecupi bahu istrinya dan sesekali menjilatinya.


"Capek, Mas." Nella menyeka keringat pada dahinya.


"Ya sudah, kita mandi. Nanti kita makan siang bareng." Rizky mencabut miliknya yang sudah mengerut, lalu menarik lengan Nella untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas mau berendam apa langsung mandi saja?" tanya Nella.


"Langsung mandi saja, kalau berendam nanti lama," jawab Rizky.


Nella mengangguk, lalu keduanya berdiri di atas kucuran shower yang baru saja Nella putar krannya.

__ADS_1


"Eemm ... Mas, saat di kantor polisi tadi, Mas jadi memenjarakan Kak Ihsan?" tanya Nella ragu-ragu saat melihat Rizky tengah menyabuni tubuhnya dengan spons mandi yang sudah berbusa. Sebetulnya dia merasa penasaran, tetapi ada rasa ragu untuk bertanya sebab takut Rizky marah.


Dan betul saja, wajah pria tampan itu mendadak masam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, padahal mereka sempat saling memandang.


"Itu bukan urusan lu, lu nggak perlu tahu," jawab Rizky dengan ketus.


"Eemm ... ya sudah nggak masalah, Mas nggak perlu marah juga. Maafin aku." Nella segera memeluk tubuh Rizky, dia tak mau cuma lantaran masalah sepele—mereka menjadi berantem.


"Iya, tapi lu nggak usah ngomongin dia lagi. Pokoknya gue sudah nggak mau dengar ... lu atau siapa pun membahas dia. Gue hanya ingin kita fokus berumah tangga dan tentunya sambil menunggu si Upil lahir." Perlahan Rizky menyentuh perut Nella, merabanya secara perlahan. "Kapan dia besar? Kok masih rata saja?"


"Nanti ada waktunya kok, Mas. Oya Mas ... aku mau makan bakso, kita makan siangnya pakai bakso, ya!"


"Kalau makan bakso, berarti nggak makan nasi dong? Gue laper banget tapi ...." Sekarang tangan Rizky beralih menyentuh perutnya yang keroncongan.


"Pakai nasi juga 'kan bisa, Mas."


"Memangnya enak, bakso pakai nasi?" Rizky mengerutkan keningnya. Dia memang belum pernah mencoba makan bakso dengan nasi.


"Enak, aku sering mencobanya," jawab Nella.


***


"Bukan di restoran, tapi di kios. Tempatnya di dekat kantornya Om Mawan, Mas."


"Oh, Pak Wahyu penjualnya, ya?" tebak Rizky.


"Iya, kok Mas tahu? Mas pernah beli juga di sana?" tanya Nella dengan penuh antusias seraya menoleh ke arah Rizky.


Rizky menggeleng cepat. "Nggak, gue tahu dari Reymond. Dia mertuanya Rio, lu tahu Rio juga, kan?"


Nella mengangguk. "Tahu, dia teman kuliahku. Oh iya ... kata Indah juga, Rio anaknya kembar ya, Mas? Aku mau melihatnya."


"Mau melihat dulu apa makan bakso dulu?" tanya Rizky.


"Makan bakso sambil melihatnya."


"Mana bisa? Lebih baik makan dulu, cacing gue dari tadi bunyi terus, mau makan."


"Oke deh."

__ADS_1


Mobil itu melaju sampai masuk ke depan halaman rumah Pak Wahyu sang pemilik bakso, tetapi sayangnya kios itu tertutup rapat dan rumahnya juga begitu sepi seperti tak ada orang.


"Yah, kok nggak jualan, sih? Padahal aku pengen," keluh Nella saat melihat pemandangan yang mengecewakan berada di depan matanya, tangannya perlahan mengelus perut.


"Eh, lu mau ke mana? Kan tutup?" Rizky ikut turun dari mobil, setelah melihat Nella turun dan berjalan menuju rumah itu lalu mengetuk pintu.


Tok ... tok ... tok.


"Pak, Pak Wahyu."


"Ngapain diketuk? Sudah kelihatan ini rumah nggak ada orang, Nell. Mungkin orangnya sedang pergi." Rizky mengerutkan keningnya.


"Pergi ke mana?"


"Mana gue tahu." Rizky mengedikkan bahunya. "Kita cari tukang bakso yang lain saja, ya! Cari yang baksonya besar-besar dan cepat kenyang." Rizky menarik lengan istrinya supaya ikut berjalan, tetapi Nella justru menahannya dan seolah enggan untuk pergi dari tempat itu.


"Nggak mau, aku mau baksonya Pak Wahyu. Mas juga belum pernah mencobanya, kan? Rasanya enak tahu, Mas. Aku sudah lama nggak makan bakso," jelas Nella dengan sendu, dia pun langsung memeluk tubuh Rizky. "Aku mau makan bakso itu dengan Mas Rizky, satu mangkuk berdua," ucapnya lagi dengan suara manja.


Rizky menghela nafasnya dengan gusar, lalu mengambil ponsel pada kantong celana jeansnya untuk menghubungi seseorang.


"Dih, kok Mas Rizky malah teleponan. Aku 'kan sudah bilang mau makan bakso." Nella mendongak ke arah wajah Rizky, sekarang wajah sedihnya berubah menjadi kesal.


"Ini gue mau telepon Rio."


"Kok Rio? Yang jualan 'kan mertuanya." Nella merenggut.


"Iya, gue tahu." Rizky mengangguk sambil mengecup singkat kening Nella. "Gue nanya dia, siapa tahu dia tahu mertuanya ada di mana dan kenapa nggak jualan," jelasnya.


Nella mengangguk, lantas dia melepaskan pelukan Rizky dan duduk di kursi di dekat pintu.


Krukuk-krukuk. Terdengar suara cacing yang berdemo, tetapi asalnya dari perut Rizky. Sejak tadi dia menahan lapar, bahkan perutnya itu hanya terisi air putih saja sejak pagi.


'Padahal tukang bakso banyak, kenapa harus cari yang nggak ada? Mana gue laper banget lagi,' gerutu Rizky dalam hati sambil menunggu sambungan teleponnya diangkat.


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...


...1107...

__ADS_1


Vote dan hadiahnya yuk, berikan seikhlasnya 🤗 biar semangat nulis


__ADS_2