
Dua puluh menit sudah Nella bermain-main dengan leher Rizky sampai akhirnya dia melepaskannya. Kini ada jejak kepemilikan berwarna merah keunguan di leher Rizky.
"Kok udahan?" tanya Rizky dengan kening yang berkerut, sejujurnya dia masih ingin menikmati sensasi itu dan tak mau secepatnya berakhir.
"Sudah merah, Mas. Sekarang apa yang aku lakukan lagi?" tanya Nella binggung.
"Apa saja, sesuka hati lu dan sebisa elu."
Nella mengangguk, kini kedua tangannya menangkup pipi Rizky dan langsung membenamkan ciuman.
Tangan Rizky yang masih meremmas bokong kini perlahan menyingkap lingerie, kemudian merambat menuju CD.
Rizky menurunkan kain segitiga itu sembari mengangkat tubuh Nella, dan dengan sekali hentakkan saja, penyatuan mereka berlangsung.
"Eemm." Nella bergumam saat merasakan sengaja Rizky masuk penuh dan bergerak dengan lincah di dalam sana. Dengan begini sama saja Rizky yang memimpin. Tetapi tidak apa, yang terpenting Nella sudah berhasil membuat tanda merah di leher suaminya. Sedikit ada perubahan sebab tak hanya pasrah dan keluar duluan.
Rizky melepaskan pagutan bibir itu, lantas mengangkat tubuh Nella untuk memposisikan berada di depannya dan masih dalam penyatuan. Setelah itu dia bangkit untuk sama-sama duduk.
"Mas ...."
Guncangan yang Rizky lakukan membuat kasur itu bergetar hebat dan sama halnya dengan tubuh Nella.
"Gaya begini kita baru coba, kan?" Entah bertanya atau menebak, tetapi suara Rizky terdengar menggoda Nella hingga mampu membuat wanita itu meremang tak karuan.
"Iya, Mas ...."
"Apa enak rasanya?"
"Iya."
"Iya apa? Bilang enak dulu." Rizky menarik ke atas pakaian Nella dan kini tubuh itu sudah polos sempurna dan tangan Rizky bisa bermain pada puncak dadanya.
"Iya, enak."
Rizky tersenyum kemudian makin mempercepat ritmen hingga selang beberapa menit, akhirnya mereka bersama-sama mencapai pelepasan. Milik Rizky berkedut dan membuncah di dalam rahim Nella, tiba-tiba dia juga mengingat ucapan Gita.
"Daddy menengokmu sayang, semoga kamu baik-baik saja di dalam," ucap Rizky seraya mengusap perut Nella, mereka sama-sama mengatur nafas yang naik turun.
Mata Nella seketika berbinar mendengar apa yang Rizky katakan. Sungguh, dia benar-benar merasa bahagia.
Setelah dirasa cukup, Rizky perlahan mencabut miliknya yang sudah mengerut, lalu merebahkan tubuh Nella dan tubuhnya bersama-sama sembari menarik selimut sampai di atas dada.
"Terima kasih, ini sangat nikmat," ucap Rizky seraya mencium puncak rambut istrinya dan mendekapnya ke dada bidangnya.
"Sama-sama. Eemm, Mas ... apa ini tandanya Mas sudah percaya kalau aku hamil anak Mas Rizky?" tanya Nella ragu-ragu.
__ADS_1
"Sebelumnya gue minta maaf sama lu, Nell. Maaf karena sudah meragukan elu. Jujur, gue sendiri memang belum percaya seratus persen ... tapi gue akan berusaha mempercayainya," tutur Rizky.
Jawaban itu kurang memuaskan menurut Nella, tetapi dia masih bisa memakluminya.
"Tapi lu tenang saja, kita nggak akan pisah kamar lagi. Gue akan terus tidur sama lu dan kita akan selalu bersama. Lu mau, kan?"
"Mau, aku mau terus bersama Mas Rizky." Nella tersenyum dan merasakan hangatnya dalam pelukan itu. "Terima kasih juga, Mas sudah mencoba untuk mempercayaiku."
"Iya. Apa gue boleh tanya sesuatu sama lu?"
"Tanya apa?"
"Bagaimana perasaan lu sama gue? Apa sudah ada cinta?"
"Aku sendiri nggak tahu, tapi aku merasa nyaman berada di dekat Mas Rizky. Kalau bisa ... aku juga nggak mau jauh-jauh, aku juga nggak suka lihat Mas Rizky bersama wanita lain. Apa itu sudah dikatakan kalau aku mencintai Mas Rizky?"
Rizky terkekeh, sepertinya Nella masih ragu dengan perasaannya sendiri. "Nggak tahu, tapi gue merasakan hal yang sama seperti itu. Dan gue yakin itu adalah cinta."
"Mungkin iya, Mas. Aku sudah mencintai Mas Rizky."
"Semoga saja. Oya ... lu laper, nggak? Mau pesan makanan?" tawar Rizky.
Nella mengusap perutnya. "Sepertinya aku kepengen ikan bakar deh, Mas."
"Ikan bakar apa? Gue pesan sekarang, ya?" Rizky melepaskan dekapannya, lalu mengulurkan lengannya menuju nakas untuk meraih ponselnya.
"Bakar ikan di rumah?" Rizky terdiam sejenak lalu mengangguk. "Ya sudah ... gue akan menemui Bibi buat minta tolong bakar ikan." Rizky bangkit dari duduknya, tetapi ketika hendak melangkah—lengannya dipegang oleh Nella.
"Tapi aku inginnya makan ikan dari hasil memancing."
"Memancing? Memangnya siapa yang memancing?" Rizky mengerutkan kening.
"Mas Rizky, aku mau Mas Rizky mancing ikan untukku."
"Tapi gue nggak bisa mancing, gue juga nggak punya alatnya."
"Yasudah beli sekarang, terus mancing, Mas."
"Mancingnya di mana?"
"Di tempat pemancinganlah, Mas. Masa di kamar mandi." Nella berdecak kesal.
"Tapi ini sudah malam, memangnya masih buka?"
"Coba cari informasinya di internet, siapa tau ada yang buka." Nella menekan lengan Rizky sampai duduk, setelah itu dia juga duduk tetapi di pangkuannya dengan saling berhadapan. "Ayoklah, Mas. Aku mau ikan dari hasil tangkapan Mas Rizky. Apa Mas Rizky nggak mau memancing untukku?" Suara Nella terdengar seperti merengek, dia juga mengusap-usap dada bidang Rizky sembari mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Iya, iya. Sebentar ... gue telepon Hersa dulu, dia orangnya hobi memancing."
Mata Nella berbinar, dia segera memeluk tubuh Rizky dan mengecup singkat bibir suaminya saat benda pipih itu tertempel pada telinganya.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama." Rizky juga mengecup singkat bibir istrinya sambil tersenyum.
"Selamat malam, Pak," ucap Hersa yang terdengar oleh Rizky saat benda pipih itu menempel pada telinga kanannya.
"Sa, lu tahu tempat pemancingan di daerah sini, nggak?" tanya Rizky.
"Tahu, Bapak mau memancing?"
"Iya, lu sekalian belikan alat dan umpannya juga, ya!" titah Rizky.
"Eh, Bapak mau mancingnya sekarang?" Suara Hersa terdengar seperti kaget.
"Iyalah, kan gue nanyanya juga sekarang."
"Ya sudah, nanti saya kirim alamatnya ke Bapak. Dan tentang alat pancingan ... kalau Bapak nggak punya, di sana bisa nyewa kok," terang Hersa.
"Oh, tapi tempatnya bersih dan nyaman, nggak? Gue nggak mau kalau kolamnya bau."
"Dijamin bersih dan nyaman, Pak. Saya sering ke sana soalnya."
"Lu jangan kirim alamatnya deh, lebih baik sekalian mengantar gue saja."
"Ok, Pak. Bapak mau sekarang perginya?" tanya Hersa.
Rizky menoleh pada Nella, hendak bertanya padanya. "Gue mancingnya sekarang?"
"Memang sekarang jam berapa, Mas?" tanya Nella.
Rizky menjauhkan sedikit benda pipih itu untuk melihat jam pada layar. Setelah dilihat, dia menempelkannya lagi ke telinga. "Jam tujuh," jawabnya.
"Iya sekarang saja, mumpung belum terlalu malam, Mas," ujarnya seraya berdiri.
"Iya, Sa. Lu sekarang jemput gue pakai mobil lu, ya!" perintah Rizky.
"Baik, Pak,"
Setelah menutup sambungan telepon, Rizky melihat Nella yang tengah sibuk memilih pakaian. Pertama wanita itu mengambil pakaian pria, lalu selanjutnya dress.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
__ADS_1
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1042...