Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
222. Menagih janji


__ADS_3

"Buka saja, Pak. Siapa tahu dari penggemar," saran Hersa.


"Mana ada gue penggemar, Sa. Lu pikir gue artis?"


"Ya bisa saja, coba buka sekarang. Saya ingin melihat isinya." Hersa ikut-ikutan menjadi penasaran.


Lantas segera Rizky membuka kotak itu, dan saat dibuka—sontak dia membulatkan matanya dengan lebar. Giginya nyengir dan menatap aneh pada sebuah benda yang terlihat mirip bokong itu. Terasa kenyal dipegang dan ada lubangnya juga.


"Dih, apaan ini, Sa? Kok seperti ...." Ucapannya mengantung kala mendengar suara gelak tawa Hersa yang sungguh menggelegar, hingga membuat telinganya berdengung.


"Aduh, Pak. Mentang-mentang Nona Nella habis melahirkan ... Bapak sampai beli mainan untuk bermain solo. Memangnya nggak bisa hanya pakai sabun saja, ya?" ejek Hersa sambil menutupi mulutnya dengan salah satu tangan.


Rizky langsung menaruh benda itu ke atas meja. Kepalanya menggeleng. "Enak saja kalau bicara, gue nggak pesan mainan begituan. Lagian rasanya juga pasti nggak enak. Itu 'kan bokong bohongan."


"Dicoba dulu saja di kamar mandi, Pak," saran Hersa lagi. Lagi-lagi dia seperti mengejeknya dan itu membuat Rizky kesal.


"Berhenti mengejek gue, jangan sampai ...." Ucapannya terjeda lantaran suara deringan pada ponselnya. Itu adalah dari Sofyan. Cepat-cepat Rizky mengangkat panggilan itu lalu mengibaskan tangannya ke arah Hersa. Seolah mengusirnya untuk pergi.


Setelah melihat Hersa pergi, barulah Rizky mengangkat panggilan itu kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan.


"Halo, Pa."


"Halo, Riz. Apa kiriman Papa sudah kamu terima?"


Pertanyaan Sofyan sukses membuat Rizky membulatkan matanya dengan lebar. Jadi dia pengirimannya?


"Oh, jadi mainan bokong Papa yang kirim?" tanya Rizky dengan penuh kecurigaan.


"Iya, kamu senang, kan?" tanyanya lagi sambil terkekeh geli.


"Dih, Papa parah banget. Maksudnya apa coba memberikanku mainan bokong seperti itu? Geli tahu, Pa."


"Mana ada geli sih, Riz. Itu 'kan mirip bokong wanita. Dan Papa sengaja membelikanmu itu supaya kamu nggak main sabun."


Mungkin niat Sofyan baik karena ingin membantu menantunya untuk mengeluarkan hasrat, daripada dia harus menyewa wanita. Sofyan juga tak mau itu sampai terjadi.

__ADS_1


"Iya, aku nggak mau main sabun. Tapi Papa juga nggak perlu membelikan aku main seperti ini. Nggak guna."


"Ah kamu ini nggak ada terima kasihnya." Sofyan mendengus kesal. Tampaknya dia tak suka dengan jawaban Rizky yang seolah menolak mentah-mentah pemberiannya. "Terus saat kamu menginginkannya bagaimana? Nggak mungkin juga kamu tahan sampai sebulan setengah, kan? Jangan sampai kamu mengajak Nella bercinta sebelum pulih. Itu bahaya!" tegas Sofyan dengan lantang.


"Aku mengerti kok, Pa. Aku juga nggak akan melakukan itu sama Nella. Dan hasratku berhasil tuntas karena Nella ...." Rizky ingin menceritakannya. Hampir semua memang tak ada yang ditutup-tutupi untuk Sofyan.


Namun rasanya dia malu dan ragu, apalagi mengingat status Sofyan yang menjadi duda. Kalau pria itu pengen bagaimana? Apa dia akan menyewa wanita lagi seperti dulu?


Sofyan sendiri semenjak bercerai—dia sama sekali tak melakukan hal itu. Minum alkohol dan mampir ke bar pun sepertinya tidak, dia selalu menjaga kesehatan dan juga jantungnya.


"Karena Nella apa?" tanya Sofyan penasaran.


"Karena Nella bisa membantuku. Ya Papa pasti mengertilah begituan mah. Bahkan sering juga 'kan dielus dan diemut-****," jawab Rizky ragu-ragu dan kini terdengar suara gelak tawa Sofyan.


"Dasar omes! Tega banget kamu ya, Riz! Sampai meminta bantuan Nella. Dia 'kan seharian menemani Jihan."


"Iya, sebenarnya aku nggak tega. Tapi aku juga mau dibelai, Papa. Aku mau dimanja-manja."


"Dih amit-amit." Sofyan kembali terkekeh. "Oh ya, bicara masalah dibelai. Papa juga meneleponmu sekalian ingin menagih janji."


"Katanya kamu mau mencarikan Papa jodoh. Kapan itu, Riz? Sekarang Papa ingin menikah lagi. Papa nggak mau kelamaan karena takut keburu tua. Mumpung sekarang tenaga masih kuat, masih tahan beronde-ronde."


Ah, Rizky baru ingat. Ya—dia pernah berjanji seperti itu bahkan sehari saat surat cerai Sofyan datang. Sekarang dia dan Diana sudah resmi bercerai. Bahkan Diana dan Aji sudah menikah lebih dulu ketika hakim sudah mengetuk palu.


Sofyan sendiri sedih, sedih karena sampai sekarang sejujurnya belum bisa melupakan Diana. Tetapi waktu seolah memaksanya untuk melupakan wanita itu dan membuka lembaran baru.


Dia bisa mencari pengganti Diana, tetapi takut jika salah lagi. Mungkin saja Rizky bisa membantunya kali ini dan kebetulan dia juga sudah membuat janji.


"Iya, aku akan mencarikan jodoh untuk Papa mulai hari ini. Nanti kukabari, ya?"


"Jangan lupa yang kinyis-kinyis ya, Riz."


"Oke, siap."


Setelah panggilan itu Rizky matikan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Cepat-cepat Rizky menyingkirkan mainan bokong itu dari hadapannya. Melemparkannya sampai masuk ke dalam tong sampah yang terbuka.

__ADS_1


"Masuk!" pekik Rizky seraya duduk, lalu mengambil kotak makan siangnya di dalam kantong merah.


Ceklek~


"Selamat siang, Pak Rizky. Maaf menganggu makan siang Bapak. Ini berkas yang Bapak minta tadi," ujar Maya, sekertaris Rizky. Dia berjalan perlahan lalu meletakkan apa yang dibawanya di atas meja kerja Rizky. Lalu berdiri di depan pria tampan itu."Apa ada lagi, Pak? Sebelum saya keluar makan siang?" tanyanya sopan.


"Nggak a ...." Rizky mengantung ucapannya saat mengangkat wajahnya dan menatap wajah Maya. Seketika matanya membulat dan sebuah lampu terang seakan ada di atas kepala.


Pernah mendengar pribahasa yang mengatakan 'Pucuk dicinta Ulam pun tiba?' Pasti pernah, kan?


Perumpamaan itu yang saat ini Rizky dapatkan. Rizky baru menyadari jika sekertarisnya itu cantik dan cukup manis, sebab dia sendiri tak terlalu memperhatikan.


Dia putih, rambut pendeknya dulu kini telah panjang sepunggung. Mungkin sama panjangnya dengan rambut Rizky. Dan yang terpenting dari itu semua—adalah tubuh Maya cukup sintal apalagi tepat di area dada. Hanya saja gadis itu tak pernah memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Bahkan dia juga jarang sekali memakai rok. Sekarang saja dia memakai celana katun berwarna hitam dan kemeja polkadot dengan tali di pinggang.


Rizky tak terlalu mengenal Maya lebih dekat, tetapi hampir semua pekerjaannya selalu benar dan dia termasuk pegawai yang penurut. Rizky menebak jika dia adalah wanita baik-baik, dan semoga saja masih perawan.


"Apa yang Pak Rizky lihat? Apa ada yang salah dengan saya?" Antara binggung dan takut bercampur menjadi satu saat melihat tatapan mata Rizky kepadanya. Maya tentu tahu bagaimana pengalaman liar pria itu dalam urusan bercinta. Apalagi sekarang pria itu sudah menikah dan punya anak. Dia tak mau jika dicap sebagai pelakor. Apalagi Nella adalah teman kuliahnya, meskipun Nella sendiri lupa padanya. "Saya nggak mau jadi selingkuhan Bapak," tolaknya terang-terangan.


Rizky terbelalak, lalu bergelak tawa dan geleng-geleng kepala. "Siapa juga yang mau cari selingkuhan? Gue pria setia, May."


"Terus kenapa Bapak menatap saya seperti itu? Saya 'kan takut, Pak," jawabannya sambil mundur beberapa langkah dan menurunkan pandangan.


"Maaf kalau tadi gue menatap lu seperti terkesan nggak sopan. Tapi sebenarnya gue hanya ingin tanya sesuatu sama lu, May."


"Apa itu? Bicara saja, Pak."


"Apa lu punya pacar?" tanya Rizky penasaran.


***


Sekedar info, nanti akan ada beberapa bab tentang kisah Papa Sofyan dan jodohnya. Tapi dia hanya pemanis saja dan pemeran utamanya tetap Rizky dan Nella, ditambah Dede Jihan deh.


Yang sudah baca novel pertamaku pasti sudah taulah, ya. Kadang aku suka bikin cerita begini karena suka kasihan sama salah satu pemerannya. Itu aja sih alasannya. Dulu Reymond lalu ke Rio, sekarang nggak apa lah, ya, kalau Nella ke Papa Sofyan. Lagian masih satu keluarga ini.


Aku ngasih tahu supaya kalian nanti ga kaget dan bakal ngira kalau alurnya ngawur, padahal menurutku nggak. Lagian Papa Sofyan dan Rizky juga sebelas dua belas, ada gila-gilanya.

__ADS_1


Tapi tetap, semuanya terserah kalian. Lanjut ya tinggal baca, nggak seneng ya tinggal tinggalkan aja. Oke? 😉


__ADS_2