Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
285. Aku pengen itu


__ADS_3

Sofyan segera menepikan mobilnya saat mengetahui wanita itu menangis. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya, menyesal karena telah mengatakan sesuatu hal yang membuatnya sedih.


Dia pun lantas menarik lengan Maya hingga membawanya berada dalam dekapannya.


"Maaf, May. Maaf kalau aku salah bicara. Kamu jangan nangis." Sofyan menangkup kedua pipi Maya lalu mengusap air matanya dengan ibu jari.


Maya menggeleng cepat. Lalu melepaskan pelukan Sofyan dengan kasar. "Aku mau turun dan cari sendiri saja."


"Eh, jangan! Bahaya!" Sofyan cepat-cepat mencekal lengan Maya ketika wanita itu hendak turun saat sudah membuka pintu.


"Lepas Ayank! Aku mau beli sendiri!" Maya menghentakkan tangan Sofyan hingga terlepas, tetapi dengan cepat suaminya itu menarik pinggangnya sampai membuat Maya duduk kembali. Lantas cepat-cepat Sofyan menutup pintu dan menguncinya.


"Jangan marah, May. Maafkan aku, ayok kita cari seblak lagi." Sofyan gegas menjalankan kembali mobilnya lalu mengemudi, dia merasa takut sekali saat melihat Maya marah.


*


*


Mobil Sofyan berhenti tepat di parkiran salah satu wisata Jakarta yakni museum kota tua. Mungkin saja pedagang sana ada yang menjual seblak, sebab suasana di sana selalu ramai setiap hari dan setiap waktu.


Banyak juga beberapa pemuda pemudi yang nongkrong walau untuk sekedar ngopi bareng atau numpang pacaran di depan halaman luas di luar museum itu.


"Ayok turun, May." Sofyan sudah turun dari mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Maya keluar. Wanita itu pun langsung turun tanpa mengucapkan kata-kata, wajahnya masih terlihat cemberut.


Sofyan berjalan sambil merangkul pinggang Maya, sorotan matanya sudah mengelilingi sekitar. Mencari-cari makanan yang Maya inginkan.


Ternyata pilihan Sofyan untuk pergi ke sana tak salah, sebab banyak sekali para pedagang yang berjejeran di tempat khusus dan salah satu warung yang bertuliskan nama 'Seblak Ceker' juga ada di sana. Buka 24 jam dan ada tempat untuk makannya juga.


"Bu, pesan seblak satu. Jangan terlalu pedas," ucap Sofyan pada seorang wanita tua yang memakai kerudung. Dia penjual seblak.


"Makan sini atau bungkus, Pak?" Ibu itu berbalik tanya.


Sofyan segera menoleh pada Maya, bibirnya baru saja menganga ingin bertanya. Tetapi wanita itu sudah duduk di bangku kayu depan meja.


"Makan sini, Bu. Sama buatkan saya kopi hitam, ada nggak?"


"Ada, tapi kopi instan nggak apa-apa, kan?"


"Iya, nggak apa-apa. Dan ...." Sofyan menatap Maya yang sama-sama menatapnya. "Kamu mau minum apa, May?"


"Es teh manis," jawab Maya dengan wajah yang masih cemberut.

__ADS_1


"Sama teh manis hangatnya satu ya, Bu."


"Es teh manis, bukan teh manis hangat Ayank." Maya membuka suara, dia berpikir kalau Sofyan salah dengar. Padahal pria itu memang sengaja.


"Es teh manis atau teh manis hangat yang benar?" tanya Ibu penjual itu yang terlihat binggung.


"Es teh manis."


"Teh manis hangat."


Mereka berucap secara bersamaan, tetapi kedua jawaban itu berbeda.


"May, jangan minum es. Ini masih terlalu pagi, nggak baik," tegur Sofyan lembut.


"Tapi aku kepengen."


"Sudah jangan bandel, yang penting 'kan seblaknya beli." Sofyan tak peduli dengan permintaan istrinya, lantas berbicara lagi dengan Ibu berkerudung itu. "Teh hangat saja, Bu."


"Baik."


Setelah itu Sofyan duduk di samping Maya.


"Kalau bukan es teh manis aku nggak mau minum ah," ujar Maya kesal, lalu bermain ponsel.


Maya menoleh pada Sofyan sambil merengut. "Kok nggak apa-apa? Kalau aku haus bagaimana?"


"Ya tinggal minum."


"Tapi 'kan tadi Ayank pesannya teh manis hangat, bukan es teh manis. Ya aku nggak mau meminumnya."


Sofyan mengusap kasar wajahnya lalu mengusap dada, dia mencoba untuk bersabar meski sesungguhnya sudah sangat jengkel.


Namun, tiba-tiba melintas di dalam otaknya— tentang perubahan sikap Maya. Biasanya wanita itu selalu menurut setiap apa pun yang dia katakan. Tetapi entah mengapa di malam ini Maya terlihat sangat berubah dan menyebalkan. Seperti bukan Maya yang dulu Sofyan kenal.


'Kok Maya tiba-tiba nyebelin begini, sih? Perasaan kemarin-kemarin nggak. Apa dia sudah bosan menikah denganku? Ah tapi ... bukannya tadi Maya bilang kalau dia bahagia, ya? Terus kenapa bisa berubah?'


Sofyan dan Maya saling memandang, tetapi mereka sama-sama diam sampai akhirnya seblak, kopi dan teh manis hangat itu tersaji di atas meja.


Sofyan meraih secangkir kopi yang masih terlihat beruap itu, lantas dia pun menyesapnya sedikit.


Bukannya langsung makan seblak, Maya justru tengah memerhatikan tegukan kopi di leher suaminya dan itu membuatnya menginginkannya. Wanita itu sampai menelan ludahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kok lihatin aku terus? Bukannya makan seblak," ujar Sofyan yang mengetahui Maya yang sejak tadi melihatnya.


"Aku mau itu ...." Maya melirikkan matanya ke arah lain.


"Itu apa? Kopi?" Sofyan memberikan cangkir kopi di tangannya pada Maya, tetapi wanita itu menggeleng. 'Oh iya, dia pasti nggak bakal mau minum kalau nggak minum es teh manis. Ah Maya ini.'


Sofyan merasa tak tega kalau benar saat ini Maya tengah haus, wanita itu juga sekarang hanya memerhatikan seblak dan belum memakannya. Dalam pikiran Sofyan—mungkin Maya tak mau makan seblak karena belum minum dan saat ini dia haus.


"Bu! Es teh manisnya jadi. Pesan satu!" Terpaksa Sofyan memesan, dari pada istrinya tambah marah.


"Katanya aku nggak boleh minum es, kok pesan?" tanya Maya sambil memandangi Sofyan yang lagi-lagi tengah meminum kopi. Namun yang dia pandangan bukan wajahnya, tetapi lagi-lagi tegukan kopi pada leher pria itu.


"Kan kamu pengen tadi." Sofyan berdecak.


"Kalau nggak boleh nggak usah, aku bisa minum ini." Maya langsung meminum teh manis hangat pada gelas hingga sisa setengah, lalu dia pun mulai menyendokkan seblak ke dalam mulutnya.


'Terus kenapa tadi dia bilang mau itu? Itu apa?' batin Sofyan.


*


Mendadak Maya merasa kenyang, padahal hanya dua suap seblak itu masuk ke dalam mulut. Sudah begitu dia makan juga tak fokus, sejak tadi melirik terus ke arah Sofyan yang tengah minum kopi.


"Ayank ... aku kenyang."


"Itu seblaknya belum habis, malah masih banyak. Masa kenyang?" Sofyan melihat mangkok di depan istrinya.


"Tapi aku sudah kenyang, nggak mau makan seblak." Maya mengelus perutnya sendiri.


"Terus sekarang kamu kepengen apa? Mumpung di sini banyak yang jualan ... jadi sekalian beli saja."


Dalam otak Sofyan tiba-tiba terlintas bayangan kasur, dia merasa ingin sekali cepat-cepat pulang untuk berbaring lalu tidur. Sekarang saja sejujurnya dia mengantuk, tetapi ditahan.


"Aku pengen itu, Ayank."


"Itu apa?" Sofyan mengerutkan keningnya, binggung dengan pertanyaan Maya yang hanya menatap dirinya.


"Itu ...."


"Ya itunya apa? Yang jelas ngomongnya. Itu bakso, itu mie ayam, itu nasi goreng, itu sate atau itu apa?"


"Aku malu ngomongnya. Di sini banyak orang." Maya menatap sekeliling, banyak beberapa orang yang bolak-balik membeli jajanan di sekitar warung sebelah kanan kiri tempat itu.

__ADS_1


"Kenapa malu? Tinggal bicara saja."


__ADS_2