Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
226. Kamu juga cantik


__ADS_3

...(Flashback On)...


Plak!


Sebuah tamparan di pipi kiri Maya mendarat dengan sempurna, gadis itu tampak diam mematung sambil meringis dan menyentuh pipinya.


Bukan sekali saja dia mendapatkan sebuah tamparan, tetapi berulang kali dan itu adalah dari Tante iparnya, namanya Yuni Astuti. Dia seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua orang anak dan semuanya laki-laki.


Alasan dia sering melakukan hal itu karena cukup emosi, emosi karena hampir setiap hari dia harus mambayar hutang pada bank keliling.


Bukan dia yang hutang, tetapi suaminya. Dan hutang itu karena untuk biaya makan sehari-hari. Tetapi Yuni beranggapan kalau itu juga karena untuk biaya kuliah Maya. Saat ini Maya masih berusia 20 tahun.


Padahal Maya termasuk siswi yang berprestasi, tetapi sayangnya dia tak mendapatkan beasiswa.


Omnya sendiri punya alasan mengapa dia nekat menguliahkan Maya, sedangkan Maya sendiri tak pernah memaksa. Apalagi Maya adalah gadis yang tinggal di kampung lalu merantau ke ibukota untuk kuliah, biaya yang dikeluarkan untuk tinggal di ibukota tentu tak murah.


Maya sebenarnya juga kerja paruh waktu, demi membantu itu semua. Tetapi sayangnya uang yang selalu dia kirim ke tantenya tak pernah cukup untuk membayar hutang. Selalu saja dia yang disalahkan.


Saat ini dia pulang karena memang sedang libur, ditambah ingin menenggok Omnya yang sakit asam urat. Sakit asam uratnya dari dulu dan belum kunjung sembuh sampai sekarang. Asam uratnya itu berada di kedua lutut dan mata kaki.


Sudah sering minum obat, bahkan diurut pun, tetapi belum juga sembuh. Masih sering kumat dan itu membuat pekerjaannya terhambat.


Darus Sholihin, sebenarnya dia tukang sol sepatu, hanya saja dia sudah tak kuat berjalan dan lebih memilih membuka jasa sol di toko baju. Toko baju yang dia pegang juga awalnya bukan miliknya, itu adalah milik kakaknya, yaitu papanya Maya. Karena orang tua Maya sudah meninggal dunia, jadi dialah yang meneruskan. Lumayan juga sudah diberi modal.


Namun, sampai sekarang mereka tinggal mengtrak. Darus tak pernah punya uang yang cukup untuk membeli rumah.

__ADS_1


"Pokoknya kamu harus jadi orang sukses, dan jangan dulu menikah sebelum membelikan Tante dan Om rumah! Tante capek jualan gorengan untuk membayar hutang Ommu, May! Kamu harus berjanji sama Tante!" Yuni mencengkeram kedua bahu gadis itu sambil menggoyangkannya, dia sungguh begitu muak melihat Maya.


"Iya, aku akan menjadi orang sukses, Tan. Aku juga punya cita-cita menjadi sekertaris," jawab Maya dengan bibir yang bergetar.


"Awas kamu, ya! Kalau sampai kamu berbohong ... Tante akan membunuhmu!" ancamnya lalu membanting pintu kamar gadis itu dan berlalu pergi.


Maya terdiam dan langsung duduk di atas kasur, dia mengusap kedua pipinya saat air matanya jatuh. Maya ingat, Yuni bahkan pernah menodongkan sebuah pisau ke lehernya sehabis dia dan Darus berantem masalah uang.


Dia juga pernah terang-terangan mengatakan jika Maya pembawa sial, sebab dengan adanya Maya ditengah-tengah kehidupan mereka, itu membuat Yuni makin terbebani masalah ekonomi.


...(Flashback Off)...


Ingin rasanya Sofyan bangun, lalu memeluk tubuh gadis yang tengah menangis itu. Tetapi dia tak berani. Maya jelas bukan siapa-siapanya, dia juga tak mau jika sikapnya nanti akan membuat gadis itu tak nyaman.


"Ah sudah, jangan menangis. Maafkan aku yang tanya-tanya terus. Jadi kamu sedih begini," ucap Sofyan tak enak hati. Lalu kembali mengulurkan sebuah tissue pada gadis itu.


"Maaf kalau terdengar lancang, bagaimana kalau nanti biar aku saja membuatkan rumah untuk Tante dan Ommu. Dengan begitu kamu dan aku bisa menikah."


Gampang sekali Sofyan mengatakannya, bagaikan menyusut ingus. Dia merasa begitu percaya diri karena memang berduit. Tetapi, dibalik itu semua niatnya memang ingin membantu, dan begitu pun dengan kemauan, yaitu bisa menikah lagi.


Maya menggeleng. "Nggak bisa, Pak. Masalahnya saya sudah berjanji pada diri saya sendiri ... kalau biaya itu saya yang tanggung. Saya juga nggak mau menyusahkan orang lain. Apalagi dengan barter yang Bapak ajukan itu."


"Oh, terus bagaimana sekarang? Jadi aku benar-benar ditolak? Kamu nggak memberikanku kesempatan?" tanya Sofyan dengan masih punya semangat.


"Saya juga binggung. Tapi bukannya mengajak orang menikah harus saling suka, kan? Pak Sofyan sendiri nggak suka pada saya. Masa sudah mengajak saya menikah? Rasanya aneh."

__ADS_1


"Kata siapa nggak suka? Justru kamu kali yang nggak suka." Sofyan malah membalik ucapan Maya. Dilihat gadis itu diam saja, seperti binggung untuk memberikan jawaban.


Jika dipikir, apa alasan Maya bisa suka dengan Sofyan? Sofyan memang sempurna, tetapi rasanya terlalu tua untuknya.


"Ah ya sudah, nggak masalah. Nggak perlu dipikirkan. Tapi terima kasih untuk malam ini, karena kamu sudah mau makan malam bersamaku," ujar Sofyan. Dia tak mempermasalahkan jika memang Maya menolaknya, dia cukup tahu diri. "Ini, ini buatmu. Aku sengaja tadi mampir ke toko bunga." Sofyan memberikan buket bunga itu ke tangan Maya.


"Terima kasih, Pak. Saya mohon maaf jika tadi sempat ada salah kata." Maya tersenyum.


"Nggak ada yang salah, dan kamu nggak perlu minta maaf. Oh ya, kamu pulang naik apa? Ayok kuantar pulang." Sofyan berdiri, lalu memencet bel supaya pelayan restoran itu datang menghampiri. "Totalnya berapa?" tanya Sofyan seraya merogoh kantong celananya untuk mengambil dompet kulit.


"Semuanya sudah dibayar Pak Rizky Gumelang, Pak," sahut wanita itu dengan sopan, kemudian berlalu pergi.


***


"Saya naik taksi saja, Pak." Maya menolak ketika Sofyan membukakan pintu mobilnya untuk dirinya masuk.


"Kenapa? Mentang-mentang ditolak kamu juga sampai nggak mau diantar pulang? Aku nggak akan macam-macam kok. Tenang saja."


Maya menggeleng cepat. "Saya nggak mau merepotkan, lagian apartemen saya lumayan dekat dari sini, Pak."


"Eemm ya sudah deh. Ayok kuantar sampai masuk ke mobil taksi." Sofyan tak mau memaksa jika memang gadis itu benar-benar tak mau. Lantas dia pun berjalan bersebelahan dengan Maya menuju jalan raya, sambil menunggu taksi lewat. "Ngomong-ngomong berapa umurmu, May?"


"25, Pak."


'25? Ah, aku memang terlalu tua untuknya. Selisih kita saja 20 tahun. Dia seperti seumuran Nella, hanya saja lebih tua satu tahun,' batin Sofyan.

__ADS_1


"Saya duluan ya, Pak. Terima kasih buket bunganya, ini sangat cantik." Maya tersenyum manis sambil melambaikan tangannya, lalu masuk ke dalam mobil taksi yang baru saja dia stopkan.


Sofyan hanya mengangguk dan tersenyum saja, kemudian menatap mobil itu sampai tak terlihat. 'Kamu juga cantik, May. Ah si Rizky ... Maya beneran kinyis-kinyis, tapi sayangnya nggak berjodoh sama Papa. Bagaimana ini, Riz? Bisa-bisa Papa nggak bisa tidur nanti malam.' Sofyan membuang napasnya dengan kasar, lalu berjalan lesu menghampiri mobilnya lagi dan masuk ke dalam.


__ADS_2