Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
284. Turunkan saja aku dijalan


__ADS_3

Maya menggeleng kepalanya dengan cepat. "Ayank apaan, sih? Su'uzan terus sama aku. Aku seneng itu karena mau beli seblak, dan tentunya ditemani Ayank."


Blush!


Kedua pipi Sofyan sontak merona, kata-kata itu terdengar sangat manis dan membuatnya berdebar.


"Masa, sih?"


"Iya."


"Cium dulu dong kalau beneran." Sofyan menunjuk salah satu pipinya sambil terkekeh, kemudian dengan cepat Maya mengecupnya. "Kamu bahagia 'kan menikah denganku, May?" Sofyan berbalik mencium pipi Maya.


"Bahagia, memang aku terlihat nggak bahagia, ya?" Maya berbalik tanya.


"Aku melihatnya juga bahagia kok. Tapi aku hanya ingin tahu saja. Oh ya, aku lupa memberitahu kalau mulai besok kamu nggak usah kerja di kantor Rizky, May. Aku sudah kirim surat pengunduran diri atas namamu ke dia."


"Lho, kenapa Ayank?"


"Kan kamu lagi hamil. Kamu nggak boleh capek, harus banyak istirahat di rumah."


"Tapi perutku masih kecil, malah masih rata." Maya mengelus perutnya.


"Mau kecil atau pun masih rata ... tapi kamu tetap saja sedang hamil. Wanita hamil nggak boleh capek apa lagi kerja!" tegas Sofyan.


Maya terdiam, ingin membantah rasanya takut. Dia tak mau membuat Sofyan marah dan menjadi istri durhaka.


"Tapi nanti aku sendirian dong di rumah. Aku bete, Ayank. Aku sudah biasa kerja dari dulu." Maya berkata dengan pelan dan sedikit manja, berupaya menolak permintaannya dengan halus.


"Kan ada Bibi. Masa kamu bete. Sekali-sekali kamu juga main ke rumah orang tuaku, May. Biar kamu dekat dengan Mamaku. Mamaku orangnya baik kok."


Maya menghela napas. "Aku malu, Ayank."


"Malu kenapa?"


"Ya malu saja, kan aku belum pernah main ke rumah mertua."


"Ya mangkanya main dulu. Nanti aku yang antar, ya? Oh ... atau nanti mainnya sama aku. Biar kamu nggak malu."

__ADS_1


Maya mengangguk kecil sebagai jawaban, dia tersenyum tipis. 'Padahal aku masih ingin kerja, kok malah disuruh berhenti?'


*


Setelah Sofyan memarkirkan mobilnya di sebuah restoran yang buka 24 jam, lalu dia pun turun seraya membuka pintu.


"Ayank, memangnya ada ya ... seblak di restoran?" tanya Maya.


"Lho, memangnya kamu biasa beli seblak di mana? Memang bukan di restoran?" Sofyan hendak menutup pintu tidak jadi.


"Ada tempat langgananku, tapi aku nggak tahu dia masih buka atau nggak. Soalnya ini 'kan sudah malam."


"Kamunya mau makan seblak di tempat langganan kamu atau coba di restoran? Nanti kita coba tanya dulu, barang kali disini juga ada."


"Ya sebenarnya ...." Maya terdiam kemudian mengusap perutnya. "Lebih enak sih langsung ke langganan aku dulu saja, Ayank. Kalau di sana tutup baru kita cari ke tempat lain."


"Oh begitu, ya sudah. Ayok." Sofyan masuk lagi kemudian mengemudi mobilnya.


Berselang beberapa menit, akhirnya mereka sampai pada tujuan. Mobil Sofyan berhenti tepat di depan rumah sederhana, ada sebuah gerobak di depan rumah itu dan bertuliskan nama 'Seblak Ceker Hot Jeletot' pada etalasenya.


Sayangnya di dalam etalase itu sudah tak ada apa pun, semuanya kosong. Entah memang sudah tutup karena malam atau memang habis, suasana di rumah itu juga cukup sepi. Bahkan disekitar rumah di samping kanan kirinya.


"Coba ketuk dulu pintunya Ayank, siapa tahu orangnya belum tidur."


"Katanya tadi kalau tutup cari ke tempat lain?"


"Iya, tapi nggak ada salahnya diketuk dulu dan tanya. Siapa tahu masih ada." Maya turun begitu saja dari mobil Sofyan, kemudian dia pun berjalan menuju rumah itu dan mengetuk pintunya. "Bu Cici! Bu!" panggil Maya.


Sofyan ikut turun, lalu menghampiri Maya dan ikut mengetuk pintu kayu tersebut.


Namun, sudah hampir 15 menit belum ada sahutan. Pada akhirnya mereka mengakhiri ketukan pintu itu dengan wajah kecewa.


"Kita cari ke tempat lain saja, May. Sepertinya orangnya tertidur lelap," ajak Sofyan seraya mengenggam tangan istrinya, lalu membawanya masuk lagi ke dalam mobil. Maya terlihat menurut.


Kemudian, mereka kembali lagi ke restoran tadi. Tetapi hanya Sofyan yang masuk sebab ingin bertanya dulu, takutnya makanan itu tidak ada.


Hanya tiga menit, Sofyan akhirnya kembali ke mobilnya dengan wajah lesu.

__ADS_1


"Bagaimana Ayank?" tanya Maya.


Sofyan menggeleng. "Nggak ada, May. Katanya ga jual."


"Terus bagaimana? Coba cari ke tempat lain."


"Aku cek dulu g*ogle, ya. Siapa tahu ada penjual yang masih buka."


"Tadi aku sudah cek g*ogle, tapi nggak ada Ayank."


Ketikan Sofyan yang hendak mencari penjual seblak pada kolom pencarian itu tak jadi diteruskan lantaran mendengar apa yang Maya ucapkan.


"Berarti memang semua sudah tutup. Memang sudah malam sih, besok saja bagaimana?" tawar Sofyan.


Maya menggeleng sambil menyentuh lengan suaminya. "Nggak mau, aku kepengennya sekarang. Aku juga laper."


"Ya sudah, kita cari ke tempat lain." Sofyan mengangguk lalu menarik gas mobilnya, dia kembali mengemudi.


"Naik mobilnya pelan-pelan saja Ayank, sekalian lihat-lihat dipinggir jalan. Siapa tahu ada yang jual," pinta Maya.


"Kalau pedagang kaki lima begitu pasti kotor, May."


"Nggak lah. Kata siapa kotor." Maya memerhatikan sisi jalan raya, kanan dan kiri. Tetapi tidak ada satu pun yang menjual seblak. Kebanyakan nasi goreng, sate, pecel lele dan martabak.


Sudah hampir dua jam mobil itu melintasi kota, tetapi pencarian mereka terasa hampa. Sampai detik ini penjual seblak itu tak ada.


"Selain seblak kamu mau apa? Yang ada saja, May," tawar Sofyan, dia terlihat sudah sangat lelah dan bosan mencari makanan yang tak kunjung ketemu.


"Nggak mau, aku maunya seblak Ayank."


"Tapi nggak ada yang jual. Pedagangnya sibuk kelonan kayaknya. Lebih baik kita pulang saja deh, kita kelonan."


Maya menggeleng. "Nggak ah, aku mau makan seblak dulu, baru pulang."


"Tapi ini sudah jam 2, coba lihat." Sofyan memperlihatkan ponselnya pada Maya, wajahnya tampak merah seperti memendam emosi. "Mana ada penjual seblak jam 2 pagi begini, May? Jam-jam segini tuh lagi enak-enaknya tidur."


"Tapi aku nggak bisa tidur, Ayank. Aku mikirin terus seblak."

__ADS_1


Sofyan membuang napasnnya kasar. "Seblak dipikirin, lagian makanannya juga seperti muntahan kucing. Pasti nggak enak, sudah begitu susah didapat lagi," gerutunya kesal.


"Dih kok Ayank malah menghina makanan?" Maya jadi ikut-ikutan kesal, wajahnya tampak cemberut. "Aku 'kan sudah bilang kalau itu bukan muntahan kucing, itu enak dan aku kepengen. Kalau Ayank nggak ikhlas antar aku beli .. turunkan saja aku di jalan! Aku akan beli dan mencarinya sendiri sampai pagi!" Maya memalingkan wajahnya ke arah jendela, lalu mengusap air mata yang tiba-tiba saja luluh membasahi pipinya. Dia menyentuh dadanya yang terasa sesak dan entah mengapa dia sangat sedih sekali.


__ADS_2