Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
196. Nggak cocok


__ADS_3

Guntur menoleh padanya seraya menggelengkan kepala. "Nggak, Papa kenyang. Buat kamu saja."


"Tapi ini enak, coba Papa cicipi dulu." Nella sudah menyendokkan satu bubur itu, tetapi ragu untuk menyodorkan ke mulut Guntur.


"Itu 'kan punya kamu, Nell. Makan saja, Papa sudah kenyang," tolaknya sembari mengusap perut.


"Yasudah deh." Nella mengangguk, lalu melahap satu sendok itu untuk dirinya sendiri.


"Sama Papa kok ditawarin, kok sama aku nggak sih, Mbak?" tanya Risma dengan wajah memelas menatap Nella di depannya


"Kalau mau, kamu pesan saja," jawabnya malas. Lalu melanjutkan makan.


Guntur memperhatikan sikap menantunya yang terkesan jutek pada Risma, tetapi dia tak bertanya apa-apa. 'Kenapa dengan Nella? Apa hanya perasanku saja?'


Dari kejauhan terhalang 4 meja, ada seorang pria yang tengah makan nasi goreng di tempat yang sama dengan mereka. Seketika mata pria itu membulat sempurna lantaran terkejut saat menyadari keberadaan Nella dan Guntur duduk bersama.


'Itu si Cantik, kan? Kok dia ada di kampus? Tapi kenapa bersama Papa mertuanya?' batin Ihsan.


Ya, pria itu adalah Ihsan. Ternyata dia juga kuliah sana.


Meskipun biaya perbulannya terbilang mahal, tetapi Ihsan sendiri sudah bekerja keras supaya bisa membayarnya.


Selain menjadi montir, dia juga bekerja di Restoran Nissa sebagai manager baru, tetapi masih ditahap pembelajaran.


Irwan sebagai om tentunya selalu mendukung langkah pria bule itu, apalagi untuk masa depannya yang lebih cerah.


Mungkin kalau Ihsan lulus kuliah dengan jurusan bisnis, dia bisa kerja di perkantoran dan itu membuatnya tak diremehkan seperti dulu.


Namun, balas dendamnya tentu masih ada untuk Rizky. Hanya saja sekarang dia masih memikirkan caranya.


Tak lama terdengar bunyi bel yang begitu nyaring di kantin. Ihsan melirik ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 8, sudah masuk jam mata kuliahnya.


'Sebenarnya aku masih ingin memandangimu, tapi aku harus kuliah. Ini juga demi kamu, Cantik.'


Ihsan bangkit dari duduknya. Setelah membayar sarapannya—dia pun bergegas pergi dari tempat itu lalu masuk ke dalam kelasnya.


Ihsan duduk di kursi paling belakang. Duduk di kursi paling belakang sebelah kiri tentunya menguntungkan baginya. Dia sengaja duduk di sana sebab takut sewaktu-waktu ada panggilan mendesak dan dia harus segera mengangkatnya.


Sebelum dosen bimbingannya datang, Ihsan lebih dulu membuka resleting tasnya, lalu mengambil buku catatan kemudian membacanya dalam hati.

__ADS_1


"Selamat pagi, semua."


Terdengar suara dari pria berkacamata yang baru saja masuk. Lalu Ihsan pun mengangkat kepalanya yang sempat menuduk. Pria tersebut adalah dosen bimbingan dijurusan Ihsan dan dia datang bersama seorang gadis cantik berambut pendek.


"Selamat pagi, Pak," jawab Ihsan dan teman-temannya yang lain.


"Kalian kedatangan mahasiswi baru, dia pindahan dari kampus yang berada di Korea Selatan," kata Dosen lalu menoleh sembari tersenyum pada gadis yang berada di sebelahnya. "Silahkan perkenalkan namamu."


Gadis berambut pendek itu mengangguk. Lantas melambaikan tangannya sambil tersenyum manis. "Hai teman-teman, aku Risma Olivia Gumelang. Salam kenal semuanya."


"Salam kenal juga, Risma!" sahut mereka serempak, begitu pun dengan Ihsan.


"Kamu duduk di sana, sekarang kita mulai kelasnya." Dosen itu menunjuk kursi kosong yang kebetulan berada tepat di depan kursi yang Ihsan duduki.


"Baik, Pak." Risma mengangguk sopan, lalu dia pun berjalan menuju kursi yang dimaksud.


Namun sebelum sampai ke kursi, pandangannya terus menatap Ihsan yang tengah membaca bukunya lagi.


Risma merasa heran sebab melihat Ihsan seperti berbeda dengan pria yang lainnya pada kelas itu. Selain umurnya yang terbilang lebih dewasa dari yang lain, wajah Ihsan yang bule tentu membuatnya makin menonjol dan berbeda dari yang lain.


Memang tidak heran, banyak mahasiswa atau mahasiswi luar negeri yang kuliah disini, hanya saja Risma merasa penasaran saat melihat Ihsan. Rasanya ingin berkenalan juga.


Setelah sampai di kursi, Risma langsung duduk kemudian menaruh tas ranselnya di atas meja. Lantas dia pun menggeserkan bokongnya ke samping, supaya dapat melihat Ihsan yang berada di belakangnya. Kemudian perlahan dia mengulurkan tangannya.


"What is your name?" tanyanya.


Ihsan menarik salah satu alisnya ke atas, merasa binggung pada gadis di depannya yang berbicara dalam bahasa Inggris.


Bukan karena Ihsan tak bisa, tetapi hanya binggung mengapa gadis itu bicara dalam bahasa asing dengannya? Memangnya tampangnya itu benar-benar mirip bule banget? Padahal bagi Ihsan, dia hanyalah bule abal-abal. Sebab orang tuanya saja dia tak tahu asli bule atau tidak.


"Kamu bertanya padaku?" Ihsan menunjuk dirinya sendiri.


"Wah, ternyata Master bisa bicara bahasa Indonesia?" Risma merasa takjub, dia tersenyum sumringah seraya bertepuk tangan pelan.


"Siapa yang kamu panggil Master? Aku?" Ihsan mengerutkan keningnya sambil geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan apa yang gadis itu katakan. Dia ini benar-benar berpikir Ihsan bule atau hanya meledeknya?


"Iya, siapa lagi." Risma mengangguk semangat.


"Aku orang Indonesia, pasti bisa bahasa Indonesia. Kamu ini aneh," jawab Ihsan malas.

__ADS_1


"Oh, ternyata Kakak orang Indonesia, aku kira bule dari luar negeri."


Ihsan terdiam, lalu menurunkan pandangannya ke arah buku. Merasa malas meladeni gadis di depannya.


"Nama Kakak siapa? Kok pelit banget sampai nggak dibagi." Risma memang belum mendapatkan jawaban sejak tadi, padahal niatnya ingin mengajak berkenalan.


"Ihsan," jawab Ihsan tanpa menatapnya.


"Namanya Indonesia banget, tapi wajahnya bule. Nggak cocok," gumamnya seraya membenarkan lagi posisi duduknya. Kini Ihsan yang melihat punggung gadis itu.


"Kamu bilang apa tadi?" Ihsan langsung bersuara dan kali ini agak keras. Dia tadi sempat mendengar gumaman dari mulut Risma dan nampaknya dia tak terima.


"Aku nggak bilang apa-apa kok," jawab Risma sambil terkekeh, lalu membuka isi di dalam tasnya.


"Jelas tadi kamu mengejek nama dan wajahku. Memangnya apa yang salah?" Ihsan menatap kesal kepala belakang Risma.


Gadis berambut pendek itu menggeleng cepat. "Aku nggak mengejek, aku hanya bilang nama Kakak kurang cocok untuk wajah Kakak yang bule. Hanya itu saja," jelasnya. "Harusnya lebih keren sedikit. Minimal namanya Marcell, Mark atau Markus."


Ihsan berdecak kesal. Tentu dia tak menyukai dengan apa yang Risma katakan tadi. Secara tidak langsung dia mengatakan nama Ihsan tidak keren. "Siapa namamu tadi?"


"Risma."


"Kamu juga nggak cocok memakai nama itu," balas Ihsan.


Risma membulatkan matanya, lalu memutar kepalanya ke belakang. Tepat pada Ihsan yang tengah tersenyum miring padanya.


"Enak saja kalau bicara, namaku bagus, ya! Papaku yang memberikannya!" tegasnya tak terima.


Sendirinya tidak terima kalau dibilang namanya tidak cocok, tapi tadi dia begitu enteng mengatakan hal yang sama pada Ihsan.


Ihsan malah terkekeh melihat gadis itu marah padanya, apalagi matanya sedikit melototinya. "Namamu memang bagus, tapi nggak cocok untuk wajahmu," tambahnya lagi.


"Maksud Kakak aku jelek?!" Risma makin kesal dan kini mencengkeram lengan Ihsan dengan tiba-tiba. Tetapi Ihsan masih terus terkekeh dan kali ini tambah keras. Risma dibuat geram olehnya. "Aku cantik! Enak saja kalau bicara!" berangnya dengan emosi yang meluap-luap.


"Risma! Ihsan! Kalian sedang apa!"


*


*

__ADS_1


__ADS_2