Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
211. Tim Cacing


__ADS_3

"Mampus lu, Riz! Memang enak!" balas Reymond sambil tertawa jahat. Sekarang mereka adil, sama-sama terkena pisau.


Rizky langsung menoleh pada Nella, dilihat istrinya itu begitu serius dan sepertinya tak tahu jika dia terkena pisau.


"Kakak kenapa?" tanya Risma seraya menyentuh tangan Rizky yang sudah berlumuran darah.


"Nella! Aku berdarah!" Rizky berteriak kencang memberitahu istrinya. Sontak Nella menoleh dengan mata yang membulat sempurna. Dia meninggalkan pekerjaannya yang tengah menggoreng ikan, lalu segera berlari menghampiri Rizky dan langsung terkejut melihat tangan suaminya.


Luka itu sebenarnya kecil, hanya saja Rizky sengaja memencetnya supaya keluar banyak darah dan mendapatkan kecemasan dari istrinya.


"Ya ampun, Mas berdarah!" Nella hendak melambaikan tangannya ke depan host untuk memberitahu, tetapi host itu sudah lebih dulu datang lantaran diberitahu oleh Risma. Tangan kanannya memegang kotak p3k.


"Silahkan Nona lanjutkan memasaknya, biar saya yang bantu menangani luka Pak Rizky," titah host itu sambil membuka kotak tersebut.


Nella mengangguk, baru saja dia hendak melangkah, tetapi lengannya dicekal oleh suaminya.


"Cium dulu, memangnya nggak kasihan apa Masmu luka begini," pinta Rizky dengan lembut. Baru pertama kali Nella melihat wajah Rizky tampak begitu manja, dan itu sukses membuat Reymond ingin mencemoohnya.


"Dih, si Rizky lebay banget. Kena pisau saja langsung minta cium, apalagi tertusuk?" cibir Reymond sambil tertawa.


"Ngiri aja lu, Rey. Suka-suka gue dong." Rizky memutar bola matanya dengan malas, lalu menarik pinggang Nella supaya makin dekat dengannya. "Cepat cium, kok diam saja?"


Sebenarnya malu dilihat banyak orang. Tetapi lantaran ingin buru-buru kembali ke pantrynya, Nella langsung mencium pipi kanan Rizky.


Cup~


"Lain kali Mas hati-hati," ucapnya pelan, lalu setelah itu dia berjalan meninggalkannya.


"Iya, Sayang." Rizky tersenyum dan melambaikan tangannya.


Seusai menangani jari Rizky, host itu pergi untuk kembali duduk di kursinya. Tak berselang lama terdengar suara pekikan yang berasal dari Risma.


"Aww! Perih!" Risma tidak kenapa-kenapa. Hanya saja dia histeris lantaran minyak pada wajan muncrat mengenai punggung tangannya, padahal dia baru saja menaruh ikan di atas wajan penggorengan. "Kakak, aku takut! Kakak yang goreng ikan deh!" Risma memberikan spatula pada Rizky, tetapi pria tampan itu malah memberikannya lagi.


"Nggak mau!" Rizky menggeleng cepat, dia sempat melihat cipratan minyak itu dan baginya itu sangatlah horor. "Kakak tadi kena pisau, Kakak nggak mau kena minyak."


"Aku juga nggak mau, rasanya perih." Risma menyentuh punggung tangannya sambil meringis ketakutan. Tubuhnya bahkan beringsut mundur ke belakang karena takut terkena minyak.


"Katanya bisa masak, kamu ini bagaimana, sih?" Rizky mendengus kesal, segera dia mematikan kompor sebelum ikan itu gosong.


"Aku memang bisa, tapi nggak terlalu jago."


"Waktu kalian tinggal 15 menit lagi, ya!" seru host bersama suara denting jam.

__ADS_1


Rizky dan Risma langsung terbelalak mendengar hal itu. Ikan mereka saja masih mentah, sedangkan waktunya sudah mau habis.


"Dih Kakak, bagaimana ini? Kita masak apa?" tanya Risma gelagapan.


"Ikannya direbus saja," ucap Rizky.


"Jadi masak ikan rebus?" Risma mengambil panci lalu mengisi air.


"Iya, nanti kamu juga nggak akan kena minyak," saran Rizky.


Risma menurut, dia pun langsung memasukkan tiga ekor ikan didalamnya. Kemudian menaruh panci itu di atas kompor, setelah wajan dipindahkan ke atas meja pantry.


Rizky mencari-cari garam di dalam keranjang. Kemudian dia menemukan toples kecil lalu membukanya. Perlahan pria tampan itu mengambil sedikit isi didalamnya untuk dia cicipi. Sebab Rizky ragu itu garam apa bukan.


Setelah terasa asin di lidah, Rizky memasukkan satu sendok makan garam, kemudian mengaduknya.


"Hanya itu bumbunya, Kak?" tanya Risma dengan kening yang berkerut.


"Ya."


"Masa cuma garam? Nggak enak dong."


"Yasudah tambahkan sendiri kalau bisa. Kamu dari tadi diam saja." Rizky menoleh pada Risma seraya menatapnya dengan sengit, dia sejujurnya sangat jengkel melihat adiknya yang terus berpura-pura bisa masak padahal aslinya tidak bisa.


"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu, stop!" seru host dengan lantang. Kata stop itu langsung mengakhiri waktu memasak.


Tak berselang lama ketiga juri itu berjalan menghampiri pantry para peserta, dan pantry pertama adalah milik Nella dan Steven. Mereka bertiga langsung mencobanya.


"Kamu masak apa, Sayang?" tanya Rizky penasaran, dia ingin menghampiri untuk melihat. Tetapi tak diperbolehkan oleh juri.


Nella menoleh. "Ikan kembung balado, Mas."


"Aku juga tadinya mau masak itu."


"Terus? Nggak jadi?"


"Nggak, aku berubah pikiran." Rizky menggeleng cepat.


"Ini sangat enak, Nona, Pak," ujar seorang chef yang memuji masakan Steven dan Nella. Terlihat kedua orang itu tengah mengulum senyum.


"Terima kasih, Chef," ujar Nella dan Steven berbarengan.


"Sama-sama."

__ADS_1


Setelah itu mereka berpindah pada pantry Rizky. Lalu melihat hasil karya dari kedua orang itu.


"Lu sama Risma masak apa? Kok ikan sama sayurnya pucat sekali?" tanya Bima sang pemilik restoran dibarengi kekehan kecil.


Wajar pucat, di dalam mangkuk itu hanya berisi ikan, air dan juga garam. Entah apa rasanya, ikannya pun Rizky tak tahu itu matang atau tidak.


"Ikannya si Rizky sakit kali, Bim. Mangkanya pucat." Reymond menyahut sambil tertawa menyebalkan.


"Coba saja dulu, pasti enak rasanya," ujar Rizky dengan pede.


Bima langsung mengambil sendok, lalu menyeruput kuah ikan tersebut. Dan secara tiba-tiba dia langsung tersendak.


"Uhuk! uhuk!"


"Lu kenapa?" Rizky mengerutkan keningnya.


"Rasanya aneh, Riz." Hanya kata itu yang terlontar sambil mengusap bibir, kemudian Bima langsung pergi menuju pantry Guntur dan Gita. Chef dan host bahkan tak mencicipinya sama sekali, sepertinya mereka tak berselera dengan makanan yang Rizky dan Risma sajikan.


"Dih, Kak. Bagaimana kalau kita kalah? Kok mereka seperti nggak suka?" keluh Risma sedih. Matanya terlihat berkaca-kaca melihat hasil masakan mereka.


"Terima nasib saja, Ris." Rizky menjawabnya dengan nada pasrah.


"Lho, mana masakan Ibu dan Bapak?" tanya host pada Guntur dan Gita. Di atas meja pantry mereka tak ada apa pun.


"Sudah dibuang, gagal," jawab Guntur dengan wajah kesal.


"Kok bisa gagal? Memang diapakan tadi ikannya, Om?" tanya Bima.


"Baru dipotong, tapi ikannya sudah hancur."


"Hancurnya?" Bima mengerenyitkan dahinya heran.


Guntur mengambil baskom di dalam bak wastafel yang berisi lima ekor ikan yang sudah hancur dagingnya, lalu menunjukkannya pada ketiga juri itu. Semua yang terjadi adalah ulah Gita yang tidak bisa memotong ikan dengan benar.


Terlihat wajah wanita paruh baya itu terpenuhi rasa penyesalan pada Guntur, karena telah mengecewakannya.


"Wah, sayang sekali ya, Om," ujar Bima ikut sedih. Dia pun tersenyum tipis lalu berjalan ke belakang menuju pantrynya yang lainnya.


Setelah semua masakan itu selesai dicicipi, para kapten tim diminta untuk berdiri berjajar di depan ketiga juri.


"Sebelumnya terima kasih atas partisipasi kalian yang sudah mengikuti ajang lomba," ujar host sembari tersenyum. "Kami bertiga sudah berdiskusi dan menentukan siapa pemenangnya. Mohon jangan berkecil hati bagi yang kurang beruntung."


Sepuluh pria yang menjadi kapten itu mengangguk semangat. Tetapi tidak dengan Rizky, Guntur dan Reymond. Tiga orang itu sepertinya gagal. Reymond juga tadi menyediakan ikan goreng yang gosong pada juri, tentu hal tersebut tak akan membuatnya menang.

__ADS_1


"Baik, kalian pasti menunggu-nunggu siapa pemenangnya, kan?" Sekarang Bima sang pemilik restoran yang berbicara dengan menggunakan mic. "Yang berhak mendapatkan hadiah mobil dan vocer gratis adalah ...." Bima menjeda ucapannya demi membuat para peserta itu berdebar-debar. "Tim cacing!" serunya dengan lantang.


Sontak Rizky, Reymond dan Guntur langsung melihat sekeliling orang yang berada di sampingnya. Pasalnya mereka tak mengetahui Tim cacing itu milik siapa.


__ADS_2