Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
267. Jangan kutuk aku jadi batu


__ADS_3

Sofyan berdecak, matanya menyorot tajam pada Rizky yang masih betah membeku di kursi mobilnya.


"Apa kamu ke sini hanya akan menjadi patung, Riz? Apa nggak ada rasa bersalah sedikitpun di hatimu? Dasar menantu durhaka!" umpat Sofyan sambil berteriak.


Jderr!


Tidak mendung, apa lagi hujan. Tetapi entah mengapa secara tiba-tiba ada suara petir yang menggema dan kilat petir itu berada tepat di belakang tubuh Sofyan.


Momen itu sepertinya sangat pas saat dimana sekarang Sofyan tengah murka.


Rizky terbelalak, dengan rasa takut dan debaran jantung di dalam dada—dia pun bergegas turun dari mobil kemudian menghampiri Sofyan seraya berjongkok dan memeluk lututnya.


Memang tidak ada cerita tentang seorang menantu dikutuk oleh mertuanya menjadi batu, tetapi entah mengapa sekarang Rizky takut Sofyan akan mengatakan hal itu.


"Papa ampun! Maafkan aku, jangan kutuk aku jadi batu, Papa ...," pinta Rizky memelas. Pelukan pria itu begitu erat di bawah sana. "Aku mengakui kalau aku salah, ya ... aku sangat salah karena aku sudah berani mengintip Papa dan Mama Maya. Tapi yang aku lakukan hanya semata-mata karena penasaran, itu saja."


"Penasaran?" Rahang Sofyan mengeras, tangannya yang sejak tadi berada di pinggang kini turun untuk menyentuh kepala Rizky. Dia mendongakkan kepala pria tampan itu supaya menatapnya dari bawah. "Apa kamu penasaran ingin melihat Maya bugil?"


Mata Rizky seketika melotot kala tangan Sofyan sudah menyangga lehernya, cepat-cepat dia menggelengkan kepala. "Nggak! Bukan seperti itu, Pa! Papa jangan salah paham."


"Lalu apa?!"


"Aku hanya penasaran ingin melihat bagaimana Papa bercinta, aku ingin melihat gayanya dan membandingkan burung kita lebih besar punya siapa."


Kejujuran dari hatinya meluncur begitu saja di bibirnya. Baginya, saat ini tak ada waktu untuk berbohong pada Sofyan, pria itu pasti selalu tahu apa yang ada dipikirannya.


Sofyan langsung membulat matanya, segera dia mendorong tubuh Rizky hingga pria itu tersungkur di aspal. Tetapi pria itu langsung memeluk lututnya kembali.

__ADS_1


"Papa maafkan aku. Aku mohon ... aku khilaf Papa."


"Kamu gila! Stress! Bisa-bisanya kamu punya pikiran seperti itu. Mesum sekali otakmu, Riz." Sofyan mengusap pelipis matanya sambil geleng-geleng kepala. "Mesummu sudah akut, sepertinya kamu harus dibawa ke rumah sakit jiwa."


Rizky menggeleng cepat. "Dih, aku nggak gila, Pa. Hanya mesum saja."


Sofyan menghentakkan kakinya dengan keras hingga membuat pelukan Rizky terlepas, pria itu pun kembali tersungkur di aspal. Selanjutnya Sofyan berlari masuk ke dalam gerbang dengan emosi dan gerbang itu langsung ditutup serta dikunci ketika melihat Rizky ingin ikut masuk.


"Papa! Kok malah pergi? Aku minta maaf!" Rizky berteriak sambil menyentuh pagar besi, kepalanya nongol di sana sambil melihat papa mertuanya berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan hal apa pun. Sepertinya pria itu benar-benar marah dan murka padanya, hingga kata maaf dari Rizky sama sekali tak dia tanggapi.


"Hei, buka gerbangnya! Kenapa lu kunci lagi?" Rizky menatap sinis satpam rumah Sofyan sambil menggoyangkan pagar itu dengan kesal.


Bukannya membuka gerbang, satpam itu justru tak meladeninya. Dia justru berlalu masuk ke dalam pos satpam.


"Eh, sial*n banget, lu! Kenapa malah masuk! Cepat buka!" teriak Rizky marah-marah.


'Apa aku salah pilih menantu? Kenapa Rizky bisa segila itu? Parah sekali otaknya.' Sofyan mengepalkan kedua tangannya dengan keras.


Sebenarnya tadi dia ingin sekali mencekik leher Rizky atau minimal menonjoknya karena telah kurang ajar. Tetapi entah mengapa dia justru lebih memilih pergi.


"Papa kenapa? Ada masalah?" tanya Nella seraya menghampiri. Dia melihat Sofyan berdiri di depan pintu utama yang tertutup dengan wajah merah dan menggertakkan gigi. Terlihat jelas jika pria itu tengah memendam emosi.


Sofyan membuang napasnya kasar. "Kamu dan Jihan menginap malam ini, ya? Oh ya, apa kamu bawa hape?" Sofyan mengalihkan pembicaraannya, dia malas sekali membicarakan Rizky. Biarkan saja pria itu di luar, dia sama sekali tak ada niat untuk membiarkan Rizky masuk.


Nella merogoh kantong celananya, dia baru sadar jika dirinya tak mengantongi ponsel. "Sepertinya tertinggal di rumah deh. Memangnya kenapa aku dan Jihan menginap? Papa dan Mama Maya nggak lagi berantem, kan?" tebak Nella.


Sofyan mengeleng cepat. "Nggak lah masa berantem, ngomong-ngomong di mana Mama Maya dan Jihan?" Mata Sofyan berkeliling pada setiap sudut ruangan rumahnya sambil berjalan, tetapi tak melihat istri dan cucunya dimana-mana.

__ADS_1


"Mama Maya di kamarku, Pa. Dia sedang main dengan Jihan." Nella berjalan di samping Sofyan sampai mereka menaiki anak tangga lalu menuju kamar Nella.


Ceklek~


Saat kamar itu dibuka, terlihat Maya tengah berbaring di samping Jihan. Keduanya memejamkan mata dan tampak begitu pulas.


"Eh, tidur mereka, Nell." Sofyan tersenyum memandangi keduanya, terasa hangat di dalam hatinya. Semenjak pulang kerja wanita itu diam saja tak berbicara padanya, bahkan wajahnya tampak cemberut. Dia sepertinya masih marah.


Namun tadi, saat melihat Nella dan Jihan datang—senyuman dibibir merah mudanya tergambar jelas, terlihat begitu tulus.


"Iya, Pa," sahut Nella lirih. Dia tersenyum memandangi Maya dan Jihan. Pemandangan itu justru bukan terlihat seperti cucu dan oma, tetapi ibu dan anak. "Ah ... kalau lihat begini aku jadi ingin cepat-cepat punya adik, Pa."


"Eh, kok gitu?" Alis mata Sofyan bertaut. Memang apa hubungannya?"


Nella menarik lengan Sofyan untuk sama-sama keluar dari kamar, kemudian menutup pintu. Dia tak enak jika obrolannya nanti akan membangunkan Maya dan Jihan.


"Mama Maya masih muda, Papa juga belum tua-tua amat. Cepat bikin adik untukku. Cowok, ya! Biar nanti bisa melindungi Jihan." Suara Nella terdengar seperti merengek.


Perlakuan Nella terhadap Maya berbeda sekali seperti pada Diana. Yang Sofyan tahu—selama beberapa bulan dia menikah dengan Diana—jangankan meminta adik, memintanya untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama saja Nella enggan. Terlihat jelas jika putrinya itu sangat tak menyukai Diana.


"Iya, iya, Papa juga sedang usaha ini, Nell. Kan butuh proses."


"Papa buatnya rutin dong, biar cepat jadi. Masa begitu saja musti diajari." Nella menoel pipi kiri Sofyan, menggodanya.


Terlihat kedua pipi papanya itu langsung merona. Sebuah ingatan tentang perguluman panas saat di kantor tadi seketika terlintas di otaknya. Rasanya sangat enak dan nagih. Tetapi sayangnya gara-gara Rizky—Sofyan belum berhasil memuntahkan si Jombo. Dia masih tegang di dalam celana.


Kembali Sofyan merasakan kesal, namun dia tutupi dengan sebuah kekehen kecil lalu mencubit kecil hidung mancung anaknya. "Bisa saja kamu, sekarang pintar ya ... mentang-mentang sudah pengalaman."

__ADS_1


"Kan Mas Rizky yang ajarin." Nella memeluk tubuh Sofyan lalu mengusap punggungnya. Dia ikut merasakan kebahagiaan yang papanya alami sekarang. "Eh, ngomong-ngomong tentang Mas Rizky ... ini 'kan sudah malam, kok dia nggak ke sini, ya?" Nella menatap jam pada dinding yang menunjukkan pukul 7, dia tiba-tiba mengingat Rizky yang biasanya pasti sudah pulang, bahkan sejak sore tadi. "Padahal aku tadi bilang ke Bi Yeyen lho, Pa."


__ADS_2