Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
61. Panas dingin


__ADS_3

"Tapi besok kamu harus masuk kerja, kita 'kan ada meeting."


"Itu pasti. Aku mau tidur dulu deh, aku mau mimpiin Nella." Rizky perlahan memejamkan matanya.


"Kamu nggak mau makan dulu? Nanti Papa suruh Bibi antarkan makan siang, kalau kamu takut dengan Opa."


Baru juga sebentar matanya terpejam, tiba-tiba Rizky sudah mendengkur saja. Sofyan yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum tipis.


Lantas, dia berjalan keluar dari kamar itu dan menutupnya pelan-pelan. Sofyan menuruni anak tangga dan menghampiri Bibi pembantu di dapur.


"Bi, bawakan makan siang untuk Rizky di dalam kamar, ya?" perintahnya.


"Baik, Pak."


Setelah mengatakan hal itu pada Bibi pembantu, Sofyan menghampiri Angga, Sindi dan Nella yang tengah duduk di ruang keluarga sambil nonton televisi.


"Nella, nanti kamu harus sering tengokin Rizky di kamarnya, takut badannya terasa sakit dan butuh bantuan kamu," pinta Sofyan pada Nella. Wanita itu mengangguki ucapannya.


"Iya, Pa."


"Kamu ini lebay sekali sih. Jangan terlalu sayang padanya, nanti kalau dia mengecewakanmu. Kamu juga yang sakit hati," tegur Angga. Pria tua itu seolah tak menyukai sikap Sofyan yang terlalu berlebihan menurutnya.


"Masa lebay, aku bisa saja kok, Pa."


"Itu sudah lebay namanya, Rizky itu anak orang lain. Tapi kamu jauh lebih menyayanginya dari pada anakmu sendiri." Angga merangkul bahu Nella dan menoleh sekilas pada cucunya.


Sofyan menghela nafas. "Rizky itu sudah aku anggap anak. Memang salah kalau aku menganggap menantu sendiri sebagai anak?"


"Terserah kamu sajalah, Papa nggak peduli," ujar Angga dengan ketus.


"Ya sudah ...aku pulang dulu. Papa jangan terlalu kasar sama Rizky. Kasihan dia, dia masih sakit."


Sofyan berjalan menghampiri Angga, terlihat pria tua itu tengah memutar bola matanya dengan malas. Setelah mencium punggung tangan Angga, dia mencium punggung tangan Sindi dan yang terakhir mencium kening Nella.


"Papa hati-hati di jalan," ucap Nella.


"Iya, Sayang."


***


Malam hari.

__ADS_1


Nella, Angga dan Sindi, mereka bertiga tengah makan malam bersama di ruang makan. Akan tetapi, mereka bertiga seolah tak melihat kehadiran Rizky, bahkan sejak Sofyan mengantarnya ke kamar.


"Nella, di mana Rizky? Kok dia nggak ikut makan?" tanya Sindi pada Nella yang fokus mengunyah makan malamnya.


"Nanti kalau dia lapar juga turun, Oma," jawab Nella santai.


Entah mengapa, mendadak Sindi memikirkan hal yang Sofyan ucapkan kalau pria itu masih sakit, dia jadi takut pada Rizky yang tak keluar kamar sejak tadi siang.


"Coba kamu cek, ajak dia makan bersama," pinta Sindi.


"Mama kenapa juga ngurusin Rizky?" tanya Angga dengan suara datar, aslinya dia begitu tak suka jika seseorang seperti peduli pada pria itu. "Biarkan saja dia, mau makan tau nggak ... itu bukan urusan kita," imbuhnya lagi dengan ketus.


"Tapi kalau Rizky kenapa-kenapa, kita juga yang disalahkan, Pa," jawab Sindi yang masih memikirkan Rizky.


"Dia nggak akan kenapa-kenapa, sudah nggak perlu dipikirkan," bantah Angga seraya melanjutkan makannya yang sempat terhenti.


Tak lama seorang satpam datang menghampiri mereka di ruang makan, dia menenteng tas kerja berukuran sedang berwarna hitam.


"Selamat malam Pak Angga, Bu Sindi dan Nona Nella. Ini ada barang milik Pak Rizky dari Bu Gita." Satpam itu menaruh tas kerja tersebut di atas meja didekat Nella. "Bu Gita juga berpesan, kalau Nona Nella yang harus mengantarkannya."


Angga berdecak kesal. "Ini lagi, ibunya lebay banget," cibirnya sambil geleng-geleng kepala.


Satpam itu membungkuk sedikit, lalu melangkahkan kakinya pergi dari ruang makan dan keluar rumah.


"Aku antar ini sebentar, Opa ... Oma." Nella menenggak air minum dulu sebentar sebelum bangkit dari duduknya dan mengambil tas kerja.


"Jangan lama-lama, kamu juga belum selesai makan!" tegas Angga setengah berteriak saat sang cucu sudah berjalan menaiki anak tangga.


Nella hanya menoleh dan mengangguk, lantas dirinya naik ke atas. Setelah sampai tepat di depan kamar tamu, Nella langsung mengetuk pintu.


Tok ... tok ...tok.


Pintu itu sebenarnya tidak ditutup, malah terbuka sedikit. Namun jika Nella langsung masuk begitu saja, rasanya tak sopan. Dia juga takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan, contohnya seperti tak sengaja melihat Rizky habis selesai mandi.


Sekali ketukan pintu itu tidak mendapatkan respon dan Nella kembali mengetuknya seraya berkata, "Pak Rizky, apa Bapak baik-baik saja?"


Nella terdiam dengan masih menunggu sahutan, hampir sudah satu menit, Rizky belum juga menyahut.


"Pak Rizky! Apa Bapak baik-baik saja?!" teriak Nella. Mungkin Rizky tak dapat mendengar.


"Iya ...."

__ADS_1


Benar saja, sahutan Rizky akhirnya terdengar. Tapi suaranya begitu pelan dan terdengar bergetar.


"Aku bawa kiriman dari Mama Gita, Pak."


"A-apa lu bisa ma-suk saja?" tanya Rizky dengan suara terbata. Nada suaranya membuat Nella penasaran.


'Ada apa dengan Pak Rizky?' batin Nella.


Nella membuka pintu itu dan masuk ke sana. Matanya sekita terbelalak saat melihat tubuh Rizky yang hampir semua tertutup selimut. Terlihat juga tubuh Rizky begitu bergetar, seperti tengah mengigil kedinginan.


Saat dirinya bangun tidur, Rizky merasa tubuhnya kedinginan disertai panas pada seluruh wajahnya. Wajahnya juga seperti kencang dan seakan tertarik, berdenyut-denyut dan terasa nyeri. Rizky seperti kemakan omongannya sendiri lantaran pura-pura sakit dan sekarang—dia merasakan sakit yang sesungguhnya.


"Bapak kenapa? Sakit?" tanya Nella. Dengan ragu-ragu dia mendekati Rizky dan duduk di atas kasur.


"Di mana remote AC? Apa lu bisa mencarikan dan mematikannya?" tanya Rizky dengan masih diposisi yang sama, menutupi dirinya dengan selimut.


Nella menarik laci di bawah nakas, lalu mengambil remote itu dan langsung mematikan suhu AC.


"Sudah, Pak." Nella menaruh tas kerja yang sedari tadi dia bawa di atas nakas. Namun seketika pandangannya tertuju pada nampan yang berisi sepiring nasi dan semangkuk sop ayam. Dia tahu betul itu adalah menu tadi siang dan saat tangannya menyentuh nasi, nasi itu sudah kering sebab sudah lama dibiarkan sejak tadi siang. "Bapak belum makan?"


"Belum."


"Kenapa belum makan? Bapak sakit?"


"Iya, tubuh gue panas dingin, Nell. Gue nggak kuat ...," ucapnya lirih.


Nella dengan ragu-ragu menyentuh selimut yang berada tepat diujung kepala Rizky. Perlahan dia membukanya dan terlihat wajah Rizky pucat, matanya terpejam, dia juga menggertakkan giginya karena kedinginan.


Hanya membuka selimut dari kepalanya saja Nella sudah merasakan hawa panas. Lantas, Nella menyentuh pipi kiri Rizky yang terlihat membengkak dengan punggung tangannya. Dia langsung terbelalak saat merasakan kulit Rizky yang begitu panas bagaikan kompor.


"Bapak sepertinya demam. Sebentar ... aku minta tolong Opa dulu untuk mengantar Bapak ke rumah sakit."


"Nggak usah!" tolak Rizky saat sadar kalau Nella sudah bangkit dan berdiri. Wanita itu baru beberapa melangkah, tapi langsung terhenti dan menatap Rizky.


"Kenapa?" tanyanya dengan kening yang berkerut.


"Apa gue boleh minta tolong sama lu?" tanya Rizky dengan ragu.


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...

__ADS_1


__ADS_2