Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
158. Benar-benar jujur


__ADS_3

Mendengar pintu itu terbuka, Nella pun segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia seakan menjual mahal pada suaminya.


Tentunya apa yang Rizky lihat saat ini membuat matanya berbinar, dia sungguh merasa bahagia bertemu Nella.


"Nella, lu ternyata ada di sini," ucapnya lembut seraya menghampiri Nella. Rizky duduk di sebelahnya lalu menarik tubuh wanita itu supaya ada di dalam dekapannya. "Jangan marah dong Sayang. Gue nggak selingkuh, gue pria yang setia." Rizky mengecupi kening Nella meskipun wanita itu seakan menolaknya.


Melihat kemesraan yang Rizky lakukan pada anaknya, tentu membuat Sofyan makin yakin jika menantunya itu tak mungkin bermain api di belakang Nella.


Rasanya tak perlu juga untuk mendengar penjelasan, yang penting sekarang—mereka harus bicara empat mata. Untuk menjelaskan semua kesalahpahaman ini.


"Kalian bicara berdua dulu, Papa pergi sebentar," ujar Sofyan seraya berdiri, lalu mengajak Gita yang sejak tadi berdiri untuk ikut bersamanya. Meninggalkan suami istri yang sedang berantem itu.


Sebenarnya Nella ingin protes melihat Sofyan yang pergi meninggalkannya. Tetapi mulutnya seakan susah untuk bicara sebab hatinya merasakan nyaman di pelukan Rizky.


Dekapan penuh cinta dan kasih sayang itu tentu terasa sangat hangat hingga membuat jantungnya berdebar dengan kencang.


"Lu percaya sama gue, kan? Gue nggak bohong. Gue berani bersumpah ... kalau gue nggak selingkuh. Gue ini pria setia, Nell." Rizky perlahan menarik rambut palsunya, hingga kepala plontosnya terlihat pada pandangan Nella.


Mata Nella langsung berbinar, dia pun dengan refleks mengangkat tangannya tepat pada kepala Rizky seraya mendongakkan wajahnya.


Saat sudah menempel, Nella perlahan mengelusnya. Masih terasa licin dan belum ditumbuhi rambut baru.


"Apa rasanya?" tanya Rizky sambil tersenyum.


"Lembut," jawab Nella pelan dengan sunggingan senyum.


Rasa marah dan kesalnya seketika sirna saat melihat pemandangan kepala Rizky.


Botak! Ya ... Nella amat menyukai kepala botak Rizky.


"Apa Mas ingin aku percaya?" tanya Nella. Kini pandangannya turun pada wajah tampan suaminya.


"Mau dong." Rizky mendekat, lalu meraup dan melummat sebentar bibir istrinya.


"Katakan jujur dulu padaku. Siapa Anna dan kenapa Mas dan dia seperti dekat. Padahal Mas bilang ... kalau kalian bukan siapa-siapa," ujar Nella dengan tatapan serius.


"Kalau gue jujur ... apa lu akan benci sama gue?" Rizky menarik alis matanya sebelah.


Bisa saja berkata jujur, tetapi Rizky takut jika Nella akan jijik padanya yang suka celap-celup dimasa lalu.


"Kenapa aku harus benci?" Nella menatap binggung.


"Ya mungkin saja, atau bahkan jijik. Gue 'kan dulu bukan pria baik-baik, Nell. Lu pasti sudah tahu gue seperti apa, kan?"

__ADS_1


"Lalu hubungannya dengan Anna apa? Eemm ... apa Anna itu wanita sewaan Mas Rizky dulu?" tebak Nella. Tangannya kini turun tak lagi menyentuh kepala botak suaminya.


"Itu benar." Rizky mengangguk samar. "Tapi ... sumpah demi apa pun, semenjak gue menikah dengan lu ... gue nggak pernah bersama dia lagi. Gue kemarin juga sudah bilang, kan ... kalau Anna dan gue baru bertemu lagi."


"Apa Mas jujur?" tanya Nella dengan tatapan serius.


Rizky mengangguk seraya tersenyum manis. "Gue jujur, benar-benar jujur."


"Mas dulu punya berapa wanita sewaan? Apa mereka semua cantik-cantik? Dan dibayar berapa sekali bercinta?" tanya Nella penasaran.


Tiba-tiba mendadak dadanya terasa sesak. Padahal, bukankah Nella sudah tahu latar belakang Rizky bagaimana? Tetapi tetap saja ada rasa tak rela dalam hatinya.


"Nggak usah dibahas deh, itu 'kan hanya masa lalu." Rizky menggeleng samar, dia merasa malas bercampur malu membeberkan aib dimasa lalunya. Tetapi terlihat Nella masih begitu penasaran.


"Tapi Mas nggak cinta sama Anna, kan?"


Rizky menggeleng cepat. "Nggaklah, kita hanya patner saja dulu. Nggak lebih."


"Tapi aku nggak percaya, nggak mungkin Mas nggak ada perasaan dengannya. Apa lagi kalian pernah bercinta, atau mungkin sering?" tebak Nella dengan wajah sedih.


"Bedalah Sayang. Gue kalau sama panther ranjang ... melakukannya hanya dengan nafs*, bukan pakai perasaan."


"Kalau denganku bagaimana? Hanya dengan nafs* juga?"


Rizky mencubit lembut hidung mancung istrinya seraya tersenyum. "Awalnya mungkin iya. Tapi jujur saja. Saat malam pertama kita ... gue merasa sesi bercinta gue sangat aneh dan itu juga membuat gue jatuh cinta sama lu."


"Aneh karena rasanya jauh lebih nikmat, dan mungkin karena ...." Lengan Rizky yang semula mendekap wanita itu seketika terlepas. Tangannya kini turun dan perlahan meraba inti tubuh Nella yang memakai dress di atas lutut berwarna lavender. "Lu saat itu masih gadis."


"Memangnya Anna sudah tak gadis lagi saat Mas Rizky menyentuhnya?"


"Iya." Rizky mendekatkan wajahnya ke arah Nella, lalu mengecup singkat bibir merah muda istrinya.


Cup~


"Gue hanya cinta sama lu, hanya lu satu-satunya yang ada di hati gue," imbuhnya lagi. Kemudian Rizky kembali mencium bibirnya.


Cup~


Kali ini bukan hanya ciuman saja, tetapi berupa lumattan. Awalnya lembut lama-lama menjadi kasar dan panas.


Perlahan Rizky menyingkap dress istrinya sembari melebarkan kedua pahanya, lalu tangan nakalnya kini menyusup pada celana pendek hingga masuk ke dalam cd istrinya.


"Eemm ...." Nella bergumam saat merasakan jari tengah Rizky sudah masuk ke dalam sana. Menariknya maju mundur hingga tubuhnya ikut meliuk-liuk.

__ADS_1


Padahal hanya satu jari, tetapi mampu membuat Nella meremang tak karuan.


Kedua tangan Nella meremmas kedua bahu Rizky, saat Rizky makin mempercepat pergerakan tangannya diiringi bergulat lidah.


Hampir saja Nella mencapai nirwana, tetapi Rizky segera menghentikan aktivitasnya saat terdengar bunyi pintu yang terbuka.


Cepat-cepat dia menarik tangannya pada celana Nella, lalu membereskannya.


Nella pun segera memakaikan Rizky wig, teringat jika kepala suaminya botak.


'Padahal lagi enak-enaknya,' batin Nella.


"Apa sudah selesai memberikan penjelasan?" tanya Sofyan sembari tersenyum. Dia menatap Rizky dan Nella silih berganti. Kedua pipi mereka merah padam lantaran kabut gairah yang tertahan.


"Sudah, Pa." Rizky mengangguk seraya tersenyum. "Aku dan Nella mau pamit pulang dulu, ya." Dia pun menarik lengan Nella hingga wanita cantik itu ikut berdiri dengannya.


"Pulangnya ke rumah Papa saja, ya?" Sofyan berjalan beberapa langkah untuk menghampiri Nella, lalu mengelus sebentar puncak rambutnya.


"Ke rumah Papa? Memang mau apa?" tanya Rizky.


"Menginap, kalau bisa ... kalian tiga hari menginap."


"Aku nggak mau." Nella menggeleng cepat. "Aku mau tinggal berdua dengan Mas Rizky di rumahnya, Pa," tolak Nella. Dia kembali memeluk Rizky.


"Sombongnya, dulu saja kamu nggak mau tinggal di rumah Rizky," cibir Sofyan sambil terkekeh.


"Itu 'kan beda," jawab Nella.


"Tapi masalahnya Papa besok mau pergi ke Bandung selama tiga hari, Nell. Tadinya ... Papa mau kamu temenin Mami Diana di rumah."


"Ke Bandung mau apa?" tanya Nella.


"Masalah kerjaan."


"Kan di rumah ada Dirga juga, Mami nggak akan sendirian." Nella masih tetap tak mau.


"Ih, kok kamu masih memanggilnya nama? Panggil Om dong, dia 'kan Om kamu," gerutu Sofyan.


"Iya, maksudku Om Dirga."


"Dirga ikut juga dengan Papa, dia 'kan sudah seperti asisten kedua Papa."


...Jangan lupa like dan komentarnya...

__ADS_1


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...


...1083...


__ADS_2