Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
219. Kok Mas cemberut terus?


__ADS_3

Brak!


Gita langsung membanting pintu sebab sudah tak sanggup untuk melihat pemandangan itu. Dan apa yang dilakukannya membuat Guntur yang tengah tertidur seketika bangun lantaran kaget.


"Mama! Malam-malam berisik amat! Ada apa, sih?" Guntur berdiri lalu menghampiri istrinya.


"Ini, Rizky seperti orang gila, Pa." Gita mengadu. "Rizky! Cepat keluar dan pakai celana! Kalau nggak Mama akan potong burungmu!" teriak Gita sambil menggedor pintu.


Yang berada di dalam kamar mandi itu segera keluar, wajahnya tampak merah padam karena malu. Sedangkan Gita langsung masuk ke dalam tetapi sebelum itu dia menoyor kepala Rizky terlebih dahulu.


"Apa yang kamu lakukan di kamar mandi, Riz? Kenapa nggak pakai celana?" tanya Guntur.


Rizky melirik ke arah Nella sebentar dengan wajah sedih. "Tadinya aku mau mengajak Nella itu, Pa."


"Itu apa?"


"Eemm ... itu ...." Rizky mengantung ucapannya, ragu untuk berucap. Padahal aslinya dia ingin jujur.


Ceklek~


Gita membuka pintu kamar mandi, dia telah selesai melakukan ritual buang air.


"Jangan bilang kamu mau mengajak Nella bercinta di kamar mandi? Mama bukannya sudah melarangmu, ya!" tegur Gita sambil marah-marah.


"Jangan aneh-aneh deh, Riz. Nella habis melahirkan masa sudah kamu ajak bercinta. Bukannya kamu sudah konsultasi sama dokter? Kamu lupa apa gimana, sih?" Guntur menimpali dengan wajah kesal.


Rizky menggeleng cepat. "Ih nggak. Mama dan Papa salah paham. Siapa juga yang mau mengajak Nella bercinta."


"Terus mengajak apa?" Gita dan Guntur berucap bersamaan. Nella sejak tadi diam sambil melihat Rizky, dia ingin ikut bicara tapi rasanya malu.


"Ciuman. Ya ... hanya ciuman." Rizky ngeles, dia pun mengusap-usap tengkuknya.


"Ciuman, ciuman. Mana ada ciuman sampai kamu nggak pakai celana seperti itu. Dasar mesum kamu, Riz!" seru Gita.


"Mesum juga sama istri sendiri, memangnya nggak boleh, ya? Mama nggak ngertiin aku." Rizky merajuk. Dia pun berbaring kembali dengan wajah cemberut. Kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya hingga wajah. 'Ah gagal deh. Mama pakai acara bangun segala. Kesiksa dong gue sampai pagi.' Rizky menggerutu dalam hati.


Gita dan Guntur hanya geleng-geleng kepala, lalu mereka pun kembali ke posisi masing-masing. Gita menghampiri Nella, sedangkan Guntur berbaring di samping Rizky.


"Kamu tidur lagi saja, Nell. Biar Mama yang menimang-nimang Jihan." Gita mengambil alih Jihan dari tangan Nella, dilihat bayi cantik itu belum tertidur sehabis menyusu. "Pasti dia bangun gara-gara Rizky, ya?"


"Nggak kok, Ma." Nella menggeleng. "Tadi memang Jihan bangun karena lapar saja."


"Kalau Rizky minta yang aneh-aneh jangan dianggap, biarkan saja."


'Aneh-aneh apa, sih? Minta dihisap atau dielus doang padahal.' Rizky membatin.

__ADS_1


"Tapi aku kasihan sama Mas Rizky, Ma. Sepertinya dia kesiksa." Nella berucap ragu-ragu.


Gita membuang napas gusar. "Belum ada seminggu sudah bilang kesiksa, dia pasti cari perhatian doang." Gita melirik ke arah Rizky yang tertutup selimut, dia diam pura-pura tidur.


***


Keesokan harinya.


Bruk!


Risma yang tengah berjalan masuk ke dalam rumah sakit tiba-tiba menabrak seseorang. Paperbag yang dia bawa pun ikut terjatuh.


"Ah, maaf ... maaf. Aku nggak sengaja." Bukan Risma yang mengatakan hal itu, tetapi seseorang yang bertabrakan dengannya. Cepat-cepat dia memungut paperbag yang terjatuh di lantai, lalu memberikan pada Risma.


"Nggak apa-apa, bukan salah Ba ... eh, Om ini Omnya Mbak Nella, ya?" Risma baru sadar saat pandangan keduanya bertemu, ternyata orang yang dia tabrak adalah Steven.


"Kamu adiknya Rizky?" Steven ingat wajah Risma saat lomba. "Siapa namamu?" Steven mengulurkan tangannya, mengajak gadis itu berkenalan.


"Risma. Om sendiri?" Risma membalas uluran tangan itu.


"Steven. Ah, jangan panggil Om. Panggil Kakak saja," ucapnya sambil tersenyum menggoda.


"Tapi Om 'kan Omnya Mbak Nella, Omnya Kak Rizky juga. Masa aku—"


"Nggak apa. Lagian Kakak masih muda, lho. Cuma beda berapa tahun doang sama Rizky," sela Steven cepat. "Kakak juga belum menikah."


"31," jawab Steven berbohong.


"Oh." Risma manggut-manggut. "Berarti memang hanya beda setahun sama Kak Rizky."


"Nah mangkanya. Masa Kakak dipanggil Om sama anak perawan, kayaknya nggak enak saja." Steven terkekeh. "Oh ya, kamu ke sini mau bertemu keponakanmu, ya? Ayok bareng."


"Iya, Om." Risma mengangguk.


"Kok Om lagi? Kakak dong."


"Iya, Kakak." Risma kemudian berjalan dan begitu pun dengan Steven. "Om bawa apa itu? Besar sekali?" Risma melihat kado besar yang Steven bawa. Motif gambar kado itu juga Hello Kitty.


"Oh ini? Ini kado untuk Jihan."


"Kakak sudah tahu namanya juga?"


Steven mengangguk. "Iya, kemarin diberitahu Nella."


***

__ADS_1


Sementara itu di kamar inap Nella, Rizky tengah mengemasi barang-barang. Sebab baru saja Dokter datang mengatakan kalau Nella dan Jihan sudah boleh pulang.


Namun, sejak pagi wajah pria tampan itu cemberut terus lantaran belum mendapatkan keinginannya.


"Mama mau ke ruangan Dokter dulu ya, Nell." Gita memberikan Jihan yang sejak tadi dia gendong pada Nella. Bayi cantik itu bangun tetapi begitu anteng tak menangis.


"Mau ngapain, Ma?" tanya Nella.


"Mau nanya masalah ASImu yang belum keluar banyak. Apa boleh pakai susu formula, tadi lupa Mama lupa bertanya."


"Aku pernah baca di internet katanya bagusan ASI, Ma."


"Iya, maksud Mama buat selingan saja. Sebentar, ya?" Gita mengecup kening Nella lalu berjalan keluar dari kamar inap.


"Apa sudah selesai, Mas? Padahal suruh Bi Yeyen saja datang ke sini untuk membereskannya." Nella bertanya pada Rizky yang baru saja menutup koper. Dia juga sedari tadi memperhatikan wajah suaminya yang ditekuk.


"Nggak apa," jawab Rizky tanpa menoleh.


"Mas marah sama aku?" tanya Nella yang mana membuat Rizky menoleh, lalu menggeleng cepat.


"Nggak, aku nggak marah."


"Kok Mas cemberut terus? Jihan bahkan nggak Mas gendong lho dari pagi."


Rizky berjalan menghampiri Nella, kemudian segera menggendong Jihan dan mengecupi kedua pipinya. Lalu dia pun mengulum senyum ke arah Nella.


'Memangnya wajahku kelihatan marah, ya? Padahal siapa yang marah?' Rizky membatin.


"Mas boleh potong rambut."


"Kamu nggak suka rambutku gondrong lagi, Nell? Katanya aku lebih tampan?" Sekarang wajah Rizky berubah jadi sedih. "Apa kamu udah nggak cinta lagi sama aku, ya?"


"Kok Mas ngomong seperti itu? Aku cinta sama Mas. Tapi rambut Mas sudah sangat panjang. Kalau nggak nanti cukur sedikit saja biar rapih."


Rambut Rizky sudah melewati bahu. Mungkin menurut Nella, dengan mencukur rambut, nanti wajah Rizky akan lebih fresh tak suram seperti saat ini.


"Tapi nanti aku jelek, Nell. Nggak tampan seperti sekarang."


"Kapan sih Mas jelek? Pas botak tampan, gondrong tampan. Pasti pas balik seperti dulu tambah tampan lagi, Mas." Nella memuji supaya Rizky senang. Dan benar saja, wajahnya langsung berubah menjadi ceria, kedua pipinya bahkan merona.


Lantas Rizky pun menaruh Jihan di dalam box dengan hati-hati. Entah apa yang mau Rizky lakukan, tetapi dia sudah duduk di samping Nella seraya menangkup kedua pipi wanita itu.


Rizky mengelus-elus bibir merah Nella yang menempel lipstik berwarna pink. Lalu mendekatkan wajahnya dan tak lama dia pun meraup kasar bibir itu.


Cup~

__ADS_1


Rizky melummat bibir Nella dengan penuh semangat, tangan kirinya berada di punggung menahan tubuh istrinya supaya tidak terjatuh di atas kasur. Sedangkan tangan kanannya langsung meremas salah satu gunung kembar yang membuatnya hampir tidak fokus dari siang dan malam.


__ADS_2