
"Bersolo karier dululah, Riz. Pakai sabun." Sofyan sebenarnya memberikan pria tampan itu saran, tetapi ucapannya dibarengi dengan kekehan yang terdengar mengejek.
"Mana enak pakai sabun. Perih tahu burungku, Pa."
"Memangnya kamu sering pakai sabun?" tanya Guntur.
"Dulu pernah, tapi semenjak menikah ya nggak, Pa." Rizky menggeleng.
"Oh, kirain."
"Akhirnya ... Papa punya teman untuk bermain sabun bareng." Sofyan menepuk keras pundak Rizky dengan penuh kebahagiaan.
"Dih, kata siapa? Aku nggak mau main sabun lagi sekarang." Rizky menggeleng cepat.
"Jangan bilang nanti kamu akan sewa jal*ng? Nanti Papa potong burungmu, Riz!" tegas Sofyan sambil melotot.
"Nggaklah. Ah ... aku tanya dokter dulu deh." Rizky langsung berlari ke arah yang berlawanan, dia menghampiri dokter wanita tadi yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
*
Rizky mengetuk pintu itu sebentar, lalu membukanya.
Ceklek~
"Malam Dokter," ucap Rizky dengan sopan lalu menarik kursi untuk duduk di depannya. Dokter itu tengah menulis pada beberapa lembar kertas dan langsung melihat ke arahnya.
"Oh Pak Rizky, ada apa?"
"Aku ingin minta maaf atas air kencingnya yang buat Dokter terpleset tadi." Sebelum bertanya akan lebih baik dia meminta maaf dulu. Sebab bagaimanapun juga ada rasa bersalah di dalam hatinya.
"Nggak masalah, Pak." Dokter berambut pendek itu tersenyum seraya mengangguk kecil.
"Oh ya, Dok. Kira-kira ... habis melahirkan Nella dan aku kapan boleh hubungan badan?"
"Biasanya sebulan, tapi Bapak belum boleh membuatnya hamil dulu."
"Lho kenapa? Dia 'kan istriku, Dok."
"Dia memang istri Bapak, bukan istri orang lain. Tapi memang belum boleh. Kalian harus menjedanya setahun atau dua tahun. Nanti Nona Nella diKB dulu."
Sebenarnya Rizky tak masalah akan hal itu, yang dia permasalahan disini adalah momen bercintanya yang ditunda cukup lama. Dia pastinya akan tersiksa.
"Oh yasudah kalau begitu. Terima kasih, Dok."
__ADS_1
"Sama-sama."
Rizky tersenyum, kemudian berjalan keluar dari ruangan itu menuju ruang bersalin. Tetapi saat sampai disana seorang perawat memberitahunya jika Nella sudah dipindahkan ke kamar inap. Segera Rizky berjalan menuju ke saba.
Ceklek~
Rizky membuka pintu kamar VIP tersebut, kamarnya begitu luas dan ada tempat tidur pasien yang berukuran besar.
Nella sedang tertidur pulas di sana, dia sudah berganti pakaian dengan mengenakan seragam pasien berwarna biru muda. Disana ada Gita juga duduk di sofa.
Rizky berjalan mendekati Nella untuk mengecupi seluruh wajahnya, bibir pun juga. Dia mellumatnya dengan lembut dan sebentar. Setelah itu dia duduk di samping Gita.
"Papa dan Papa Sofyan ke mana, Ma?" Rizky memang tak melihat mereka berdua di kamar itu.
"Mereka ngopi di cafe depan."
"Oh. Mama sudah beritahu Opa dan Omanya Nella belum? Aku ingin memberitahu tapi nggak punya nomornya."
"Besok Mama beritahu. Sekarang mereka pasti sudah tidur."
Rizky tiba-tiba menguap dan langsung dia tutupi dengan salah satu tangannya, mendadak rasa kantuk itu menyerangnya. Dilihat jam dinding yang berdenting sudah menunjukkan pukul 3 pagi.
"Mama nggak tidur? Aku ngantuk sekali." Rizky berdiri, lalu berjalan menuju tempat tidur Nella dan disusul oleh Gita. Dia baru saja hendak menaikkan kakinya ke atas, tetapi langsung disingkirkan oleh mamanya.
"Dih, kok aku tidur di bawah? Tega banget Mama. Aku 'kan mau tidur dengan Nella." Rizky mengucek salah satu matanya sambil menguap lagi.
"Yang lebih tega lagi kalau Mama yang di bawah. Lagian ... itu kasur memang sengaja untukmu tidur, nanti kedua papamu juga tidur denganmu." Gita naik pelan-pelan ke atas tempat tidur Nella, lalu berbaring di sampingnya.
"Masa aku tidur di tengah? Mana enak. Lagian aku nggak suka tidur dengan laki-laki, Ma. Apalagi sama Papa Guntur. Dia 'kan ngorok kalau tidur."
"Berdo'a saja supaya mereka berdua begadang di cafe, jadi kamu tidur sendiri." Gita meringkukkan badannya menghadap Nella, lalu perlahan memejamkan mata. "Sudah ah, Mama ngantuk. Mau istirahat. Besokkan mau bertemu cucu." Gita tak menggubris keluhan anaknya, dan tak lama dirinya sudah berada di alam mimpi.
Rizky berdecak kesal seraya berjalan menuju kasur, lalu merebahkan tubuhnya di atas sana. Posisinya terlentang, dengan kedua tangan dan kaki dia rentangkan ke sisi tempat tidur.
Baik Guntur ataupun Sofyan, dia tak akan membagi tempat tidurnya untuk kedua pria itu.
'Enak saja aku tidur bertiga. Mana enak? Lebih enak sama Nella. Bisa raba-raba sambil cium-cium.'
Tak berselang lama Rizky terlelap dari tidurnya, dua pria yang tadi dia bicarakan masuk ke dalam kamar itu. Keduanya langsung terkekeh melihat posisi Rizky tidur dengan serakah.
"Aku tidur di sofa saja, Pak. Lagian nggak lama juga pagi." Sofyan sudah berbaring lebih dulu pada sofa lalu memejamkan matanya.
Guntur geleng-geleng kepala, dia pun berjongkok lalu menggeserkan tubuh Rizky supaya memberikannya ruang berbagi tempat tidur. Sudah berhasil tergeser, tetapi tubuh pria tampan itu malah menggelinding masuk ke dalam ranjang.
__ADS_1
"Rizky, bangun." Guntur menepuk-nepuk lengan pria itu supaya dia bangun untuk naik lagi ke kasur. Sebab untuk meraih tubuhnya Guntur merasa kesusahan.
Sayangnya pria itu tidur seperti orang pingsan, sudah dibangunkan beberapa kali tetap tak bangun-bangun. Pada akhirnya Guntur tak memperdulikannya, dia perlahan berbaring dan memejamkan mata.
'Bodo amat deh, nanti kalau sadar dia akan pindah sendiri.' Guntur membatin.
***
Keesokan paginya.
Nella duduk selonjoran sembari disuapi bubur ayam oleh Gita yang tengah duduk di kursi kecil. Tetapi sedari tadi dia terus menatap pintu, seperti menunggu seseorang.
"Kamu nungguin siapa, Nell? Opa dan Oma?" tebak Gita.
"Aku sejak bangun nggak lihat Mas Rizky, dia ke mana ya, Ma?"
"Iya, Mama juga nggak lihat." Gita kembali menyendokkan bubur ke dalam mulutnya. Dia sama halnya tidak melihat anaknya, hanya Sofyan dan Guntur saja yang pamit pergi ke restoran untuk sarapan.
"Anakku kapan dibawa ke sini, Ma? Aku sudah nggak sa ...." Ucapan Nella menggantung kala terdengar suara benturan dari bawah ranjangnya.
Dugh!
"Aaww!" Seseorang yang berada di bawah itu memekik kesakitan.
Nella terbelalak. "Mama, di bawah ada siapa?"
Gita cepat-cepat menaruh mangkuk bubur di atas nakas, lalu dia pun bersujud ke bawah ranjang. Seketika matanya terbelalak saat melihat Rizky berada di sana sedang meringis sambil menyentuh dahinya.
"Astaga, Riz. Kamu ini lagi ngapain, sih?" Gita menarik kaki kiri pria tampan itu hingga keluar dari bawah ranjang. Lantas dia pun berdiri, terlihat dahinya merah.
"Mama ngerjain aku, ya? Kok aku bisa sih tidur dikolong?" Rizky mendengus kesal sembari mengusap-usap dahinya.
"Dih, Mama 'kan nyuruh kamu tidur di kasur, Riz."
"Terus kenapa aku ada dikolong? Dan kasurnya ...." Rizky melihat kasur yang semalam dia tiduri sudah berdiri dipojok ruangan itu. "Itu siapa yang beresin? Semalam aku tidur di kasur Mama."
"Itu Papa yang beresin. Mama mana tahu kamu ada dikolong."
"Ah, pasti kerjaan Papa," tuduh Rizky. Perlahan dia menyentuh tengkuknya yang terasa kaku. "Leherku sakit jadinya ini, Ma. Mama tega sekali padaku."
"Mama nggak tahu apa-apa, Riz. Kamu nyalahin Mama terus." Gita ikut-ikutan jadi kesal.
"Sini aku pijitin, Mas," tawar Nella seraya mengulurkan tangan. Dia merasa kasihan melihat wajah Rizky yang begitu memelas.
__ADS_1
Mata Rizky langsung berbinar, cepat-cepat dia mendekat dan duduk di sampingnya. Tetapi baru saja tangan Nella hendak menyentuh tengkuk pria itu, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang dibuka oleh seseorang.