
"Mau apa telepon Hersa?" Gita membuka tas jinjingnya yang berada di pangkuannya, kemudian mengambil benda pipih tersebut.
"Bilang kalau pas jam makan siang ... aku ingin makan bareng sama Mas Rizky dan dia harus pulang ke rumah, Ma," terang Nella.
"Oke, oke."
"Maaf ya, Ma. Aku merepotkan." Nella menyentuh punggung tangan Gita seraya tersenyum.
"Nggak masalah." Gita membalas senyumannya, lantas segera memencet nama Hersa untuk melakukan panggilan, kemudian selang beberapa detik saja—diangkat oleh seberang sana.
"Selamat siang, Bu," sapa Hersa.
"Siang, apa kau bersama Rizky?"
"Iya, tapi Pak Rizky sedang berada di kamar mandi."
"Nggak masalah, nanti kau bilang padanya ... jam makan siang, dia makannya di rumah bersama Nella, ya!" perintah Gita.
"Baik, Bu." Hersa mengangguk lalu mematikan sambungan telepon.
***
Saat ini Hersa tengah duduk di sofa di dalam ruangan Rizky, menunggu sang bos yang pamit ke kamar mandi.
Namun sudah tiga puluh menit, terhitung ketika Gita telepon tadi—pria tampan itu tak kunjung keluar dari kamar mandi.
Hersa yang merasa cemas lantas bangkit dari duduknya, lalu mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
Tok ... tok ... tok.
"Pak Rizky, apa Bapak baik-baik saja?"
Tidak ada sahutan, kembali Hersa mengetuk pintu.
"Pak!" pekik Hersa.
"Iya, apa?!" jawab Rizky berteriak.
"Apa Bapak baik-baik saja?"
"Iya, tapi gue mau minta tolong sama lu." Suara Rizky kembali lantang, sebab takut tak terdengar oleh Hersa.
"Bicara saja, Pak."
__ADS_1
"Belikan gue obat diarea, gue sakit perut."
"Mau saya antar ke Dokter saja?"
"Nggak usah, cepat pergi!"
"Baik, Pak." Hersa mengangguk, lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Selang satu menit, Rizky keluar dari kamar mandi dan bertepatan dengan suara ketukan pintu.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk!" pekik Rizky seraya mendudukkan bokongnya di kursi putarnya.
Ceklek~
"Riz, bagaimana kabarmu?" Seorang wanita cantik nan seksi berjalan masuk, suara ketukan high heels terdengar begitu nyaring hingga pandangan Rizky yang semula pada berkas kini menatap ke arahnya.
"Anna," ucap Rizky. Ya, ternyata dia adalah Anna.
Kemarin Anna gagal bertemu Rizky, sekarang dia berencana untuk bertemu lagi.
Wanita cantik itu berjalan mendekati Rizky yang masih duduk di kursi putar miliknya, dia hendak membungkuk untuk mencium pipi kiri Rizky. Tetapi pria tampan itu berhasil menghindar.
"Sombongnya ... mentang-mentang sekarang sudah punya istri," cibir Anna. Dia pada akhirnya berjalan menuju sofa lalu duduk di sana. Wanita cantik itu memakai dress ketat berwarna hitam dengan belahan dada yang begitu lebar hingga menonjolkan benda kenyalnya.
"Mau apa lu ke sini? Gue sibuk Anna."
Anna terdiam sejenak, lalu berkata, "Eemmm ... aku mau minta uang padamu, Riz. Sepuluh juta saja, boleh, kan?"
Rizky menatap aneh wajah Anna sambil geleng-geleng kepala. "Lu gila, ya? Memangnya lu pikir gue bank! Seenaknya minta uang!" tukas Rizky dengan ketus.
"Kok kamu gitu, sih? Kita 'kan teman. Bukannya dulu kamu juga sering memberiku uang?"
"Beda kali, dulu 'kan gue kasih lu uang karena lu gue bayar. Sekarang 'kan nggak."
"Ya sudah, kamu bayar aku saja. Kita main di sini, Riz." Anna menaruh tasnya di atas meja, lalu merogoh isi di dalamnya dan memperlihatkan kemasan komd*n di depan Rizky. "Aku bawa ini, kamu bisa memakainya." Anna beranjak menghampiri Rizky lalu dia pun menarik sedikit lengan pria itu.
"Nggak! Lu gila apa bagaimana, sih? Gue punya istri beg*!" bentak Rizky sembari menepis kasar lengan Anna, hingga dia tak berhasil membuat Rizky berdiri.
"Ya sudah, aku pinjam saja kalau begitu," ucapnya dengan nada memohon. "Kamu benar-benar berubah semenjak menikah, Riz." Anna duduk kembali ke sofa.
"Berubah apanya, sih? Gue tetap gue yang dulu. Hanya saja gue 'kan sudah menikah ... jadi lebih baik kita menjaga jarak supaya istri gue nggak salah paham," terang Rizky.
__ADS_1
Rizky akan memegang teguh ucapannya pada Nella, jika dirinya adalah pria yang setia.
"Ya sudah ... pinjamkan aku uang saja, sepuluh juta, Riz."
"Memang lu mau buat apa?" tanya Rizky.
"Katanya kerja, kok Mas Rizky selingkuh!" seru seorang wanita yang baru saja melebarkan pintu, dan kebetulan pintu ruangan Rizky terbuka sedikit bekas Anna masuk tadi.
"Nella!" Rizky terbelalak lantaran kaget melihat sang istri berada di depan mata. Dengan refleks dia berdiri dan berjalan menghampirinya.
Wanita cantik itu tak datang sendiri, melainkan bersama Gita.
"Nella, lu kok ada datang ke sini? Kenapa? Bukannya lu sedang sakit?" Rizky segera memeluk tubuh wanita cantik itu saat tahu wajahnya begitu masam.
Kedatangan Nella lantaran dia sudah tak sabar ingin makan disuapi Rizky. Tangan kirinya juga menenteng kantong hijau yang berisi semur ati yang dibawanya dari rumah. Tetapi saat ini kantong itu terlepas dan terjatuh begitu saja dari tangannya.
Entah apa yang Nella pikirkan saat ini, tetapi pikiran negatif langsung memenuhi isi otaknya. Apalagi Nella tahu jika wanita itu adalah Anna, wanita yang pernah dia pergoki berbuat mesum dengan suaminya, sebelum menikah dengannya.
Hanya dari pelukan, Rizky seakan tahu jika istrinya itu masih sakit. Sebab terasa panas dan tubuhnya seperti lemah.
"Mau apa kau ke sini Jal*ng?!" pekik Gita seraya menarik lengan Anna hingga tubuhnya yang semula duduk, kini menjadi berdiri. Diremasnya tangan itu dengan kuat, hingga wanita cantik itu meringis kesakitan.
"Tante ampun, aku hanya ada urusan dengan Rizky, lepaskan!" Anna mencoba melepaskan lengannya pada cengkeraman tangan Gita, tetapi rasanya begitu sulit.
"Urusan apa, ha?" bentak Gita, lalu dia pun menatap tajam ke arah Rizky yang tengah memeluk Nella dengan erat. Meskipun istrinya itu berusaha berontak. "Apa kau berselingkuh, Riz?"
"Nggak! Ini semua salah paham!" bantah Rizky cepat.
"Mas bohong!" Nella mendorong dada Rizky dengan kuat, hingga pelukannya terlepas. Tetapi Rizky lagi-lagi memeluknya dan kini seakan mengunci pergerakan tubuh Nella.
Rizky menggeleng cepat. "Gue jujur. Gue dan Anna nggak ngapa-ngapain. Dia datang hanya ingin meminjam uang." Rizky mengecup puncak rambut kepalanya sembari melihat ke arah Anna. "Anna, tolong jelaskan semuanya. Gue nggak mau Nella dan Mama salah paham," pinta Rizky dengan wajah memelas.
Jantung Rizky berdebar kencang, dia merasa sangat takut jika istrinya itu berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Lepaskan dulu, aku akan jelaskan!" pinta Anna berteriak. Gita pun segera melepaskannya. "Aku datang ke sini mau meminjam uang, hanya itu saja," jawab Anna jujur sembari manatap Rizky yang tengah melototinya.
"Kenapa kau harus meminjam uang pada suamiku?!" pekik Nella dengan deru nafas yang tersengal-sengal. Darah dan emosinya seakan mendidih. Dia bisa saja menampar bahkan menjambak rambut wanita itu, tetapi sayangnya pelukan Rizky begitu erat.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1051...
__ADS_1