
Ihsan menggeleng cepat seraya berdiri. "Nggak, Nona. Sebelumnya berterima kasih atas tawarannya. Tapi aku sekarang ingin menjalani hari-hariku seperti ini saja," tolak Ihsan halus. "Ya sudah ... kalau begitu aku permisi, selamat malam."
Setelah mengatakan hal tersebut, Ihsan pun pergi dari cafe itu. Meninggalkan Mitha yang dongkol dalam hati.
***
Keesokan harinya.
Dokter berambut pendek itu tengah memeriksa keadaan Nella yang hanya ditemani Rizky di ruang kandungan. Guntur dan Gita pulang dulu sejak pagi, lantaran ada urusan.
"Bagaimana, Dok? Apa anak saya dan Nella sehat?" tanya Rizky seraya menatap monitor.
Dokter itu tengah melakukan USG, dan dia pun melihat janin yang sebesar kacang hijau agak samar di sana.
Dokter berambut pendek itu menghela nafasnya dengan lega. "Alhamdulillah, ternyata obat penguat kandungan yang saya berikan kemarin sangat cepat efeknya. Kandungan istri Bapak sudah baik-baik saja," tuturnya seraya tersenyum, lalu membereskan kembali baju Nella.
"Alhamdulillah." Nella dan Rizky berucap syukur secara bersamaan.
"Jadi aku sudah boleh pulang, Dok?" tanya Nella.
Dokter itu mengangguk. "Iya, boleh. Tapi habiskan infusan ini dulu ya, Nona." Dokter itu menunjuk kantong infusan pada tiang yang masih terisi penuh sebab baru saja diganti tadi pagi.
"Lama dong, Dok," keluh Nella dengan wajah sendu. Dia sudah sangat bosan berada di rumah sakit, ingin cepat-cepat pulang dan lebih tepatnya jalan-jalan bersama Rizky.
"Tidak akan lama, paling siang atau sore sudah habis."
"Yasudah, Dok. Terima kasih, saya akan membawa Nella ke kamar inap lagi." Rizky mengangguk. Baru saja tubuh wanita itu dia gendong lalu menuju kursi roda, sebab datangnya tadi menggunakan itu, tetapi Nella dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Aku mau digendong saja, nggak mau naik kursi roda, Mas," ucapnya dengan suara manja seraya mengalungkan lengannya pada leher suaminya.
"Oke deh, tapi tangan lu yang satunya bawa tiang infusan." Rizky kembali berdiri tegak.
"Nggak mau."
"Terus bagaimana kita kembali ke kamar? Infusannya?" Rizky merasa binggung sebab tangan Nella masih terus berada di lehernya, sedangkan dia sendiri susah membawa tiang infusan lantaran kedua tangannya membawa tubuh Nella.
__ADS_1
"Minta tolong suster atau perawat saja, Mas. Aku ingin seperti ini saja." Nella mendekatkan wajahnya ke arah wajah Rizky, lalu mengecup bibirnya sekilas.
Sekarang Nella bahkan lebih sering mencium duluan, padahal dulu—jangankan untuk mencium, dicium Rizky saja dia merasa risih.
"Biar saya yang membawakannya, ayok." Dokter itu menawarkan dirinya sendiri.
"Terima kasih, Dok," ucap Rizky yang dianggukan oleh Dokter. Lantas mereka pun melangkah keluar dari ruangan itu menuju ruang inap Nella.
"Mas nggak akan ke kantor 'kan hari ini?" tanya Nella dengan memasang wajah memelas.
Sejak pagi dia sudah melihat suaminya itu terus mengangkat telepon yang entah dari siapa saja sangking banyaknya, rasanya dia ingin terus bersama dan tak ingin ditinggal.
"Pokoknya Mas nggak boleh ke kantor titik!" sergah Nella saat bibir Rizky menganga hendak memberikan jawaban. "Aku sakit juga karena kurang perhatian dari Mas tahu, coba Mas nggak sibuk bekerja terus dan selalu menjagaku ... aku nggak akan minum jamu."
"Lu minum jamu 'kan pas bangun tidur dan ada gue juga, kok. Lalu apa hubungannya sama pekerjaannya?" Rizky terkekeh mendengar ucapan Nella yang makin kesini makin ngelantur.
Perlahan-lahan dia pun membaringkan tubuh Nella di atas ranjang pasien, lalu menarik selimut sampai di atas dada. Kemudian, Dokter berambut pendek itu meninggalkan mereka berdua.
"Ada lah, Mas. Sekarang aku mau makan pisang. Mas tolong kupas untukku, ya?" Nella menunjuk dua pisang besar yang berada di dalam parsel di atas nakas.
"Oke, pisang yang di atas nakas apa di dalam celana gue, nih?" tanya Rizky menggoda seraya menarik kursi kecil lalu mendudukkan bokongnya.
"Hahaha ...." Rizky bergelak tawa sambil mengulurkan tangannya ke arah nakas untuk meraih parsel buah. Setelah dibuka plastiknya, dia pun mengambil satu pisang dan perlahan mengupasnya. "Yang di dalam celana jangan digigit, tapi diemut." Rizky menyodorkan buah tersebut pada bibir Nella, lalu wanita cantik itu langsung mengigit dan mengunyahnya.
"Mas mesum."
"Mesum, mesum juga lu suka, kan?"
"Nggak kok," kilah Nella berbohong. Kembali dia mengigit pisang itu dan mengunyahnya. "Mas ... diluar tadi siapa?"
Saat mereka masuk tadi, Nella melihat seorang pria berbadan kekar tengah duduk di kursi tunggu. Wajahnya terlihat familiar tetapi Nella tak ingat.
"Oh, dia Ali, Nell."
Sebenarnya Rizky mau memperkerjakan si Aldi untuk menjaga Nella, tetapi dia pun tak tahu mengapa Hersa malah membawa Ali. Sebetulnya mau Aldi atau pun Ali, mereka sama-sama mempunyai kemampuan dan Rizky yakin—bisa diandalkan.
__ADS_1
Hanya saja Rizky merasa kesal akibat Ali lebih suka bicara ketimbang Aldi.
"Ali?" Nella mengerutkan keningnya. "Ali siapa? Ali baba?"
Rizky terkekeh. "Mungkin, nanti dia akan menjaga lu. Kalau lu mau pergi-pergi ... lu bisa menyuruh dia."
"Memangnya Mas nggak mampu menjagaku, sampai menyuruh orang lain?"
"Bukan begitu, tapi kadang gue 'kan nggak bisa dua puluh empat jam bersama lu, Nell. Jadi lebih baik gue bayar orang."
"Daripada membayar orang untuk menjagaku, mending dia suruh menggantikan posisi Mas Rizky saja dalam bekerja," saran Nella. "Jadi dia yang harus ke kantor, Mas yang menjagaku."
Itu sih kepengenan Nella.
"Mana bisa begitu, Nell. Kemampuan kita saja berbeda."
"Tapi aku tetap nggak mau, Mas." Nella menggeleng cepat. "Aku nggak mau dia menjagaku, aku maunya Mas Rizky. Mas nggak boleh kerja mulai sekarang!"
Rizky terkekeh. "Lu ada-ada saja ya, Nell. Dimana-mana istri nyuruh suaminya kerja, ini malah suaminya disuruh jadi pengangguran."
"Biarin, pengangguran 'kan enak makan tidur doang." Nella memalingkan wajahnya sambil merenggut.
Rizky memilih tak meneruskan obrolannya, sebab makin menjadi-jadi nanti.
'Ah si Nella makin aneh-aneh saja. Padahal hari ini gue memang libur lagi,' batin Rizky.
***
Ihsan turun dari mobil hitam milik Omnya yang sudah diparkiran pada parkiran mobil. Lalu dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit. Lebih tepatnya Ihsan sekarang tengah membuntuti Diana dari belakang yang membawa tentengan kantong merah berukuran sedang.
'Mau apa Tante Diana ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa si Cantik?' batin Ihsan.
Sebelum datang ke rumah sakit, dia sudah mengikuti Diana saat keluar rumah, dan dia sendiri tak tahu mengapa wanita itu malah datang ke rumah sakit.
Kebetulan anak buah Sofyan hari ini tak mengikuti wanita, mungkin itu adalah kesempatan emas untuk Ihsan melancarkan aksinya.
__ADS_1
Baru saja bibirnya menganga hendak manggil dan sedikit lagi dia hampir menyentuh pundak Diana, tetapi sayangnya keduluan oleh seorang pria berjas biru nevy yang tiba-tiba saja datang mendahuluinya.
"Diana," ucap pria itu sambil merangkul bahu Diana.