
Pagi hari.
Tring... Tring... Tring.
Bunyi alarm berdering begitu nyaring pada kamar itu, asalnya dari ponsel Nella yang berada di dalam tas. Nella sengaja menyetel alarm lantaran ingin bangun lebih awal dari Rizky, ia tak mau jika dimarahi Sofyan. Terlebih lagi, sekarang ia berada di rumah mertuanya.
Namun, bukan Nella yang bangun untuk mematikan alarm itu, melainkan Rizky. Ia melihat jam pada layar ponsel Nella yang menunjukkan pukul 05:30.
Baru saja ponsel Nella mau Rizky taruh kembali di dalam tas, tiba-tiba ponsel tersebut kembali berdering. Namun kali ini adalah panggilan masuk dari nomor baru.
"Siapa yang telepon pagi-pagi begini?" Rizky menoleh ke arah Nella, istrinya yang cantik itu masih tertidur lelap. Tanpa meminta izin, Rizky mengangkat panggilan itu.
"Halo Cantik, selamat pagi. Apa kita bisa bertemu di Restoran untuk sarapan bersama?" tanya seorang pria dari seberang sana. Suaranya terdengar begitu familiar. Akan tetapi yang Rizky terka, ia adalah pacarnya Nella.
"Apa kita bisa bertemu?" tanya Rizky seraya menarik tubuhnya untuk duduk bersandar pada ranjang.
"Siapa kamu?"
"Gue Rizky, suami Nella."
"Aku pacarnya, mau apa kamu ingin bertemu denganku? Kamu mau memintaku untuk menjauhi Nella, begitu? Itu nggak akan terjadi!" tegas Ihsan.
"Gue mau lu dan Nella putus!" tegas Rizky.
"Itu nggak akan terjadi, selamanya Nella adalah milikku."
"Lu nggak usah mimpi, Nella istri gue dan dia adalah milik gue. Apa lu tau? Gue dan dia habis bercinta dan setiap hari kita selalu bercinta."
"Aku nggak peduli! Hati Nella hanya untukku. Kau boleh menang sekarang, karena kekayaanmu. Tapi lihat nanti ... Setelah aku sukses, aku akan mengambil Nella darimu!" tantang Ihsan.
Rizky tersenyum miring dan geleng-geleng kepala. Tak ada rasa takut dalam hatinya atas apa yang Ihsan ucapkan. Ia yakin... Ihsan tak akan bisa mengambil Nella dari tangannya. "Oh begitu, ya? Buktikan saja, tapi sebelum lu sukses ... gue akan buat Nella melupakan lu dan tergila-gila sama gue."
"Hahahaha ...." Ihsan terbahak. "Jangan mimpi, Riz! Nella nggak akan bisa suka apalagi tergila-gila pada pria bej*t seperti dirimu!"
"Kurang a—"
Tut... Tut... Tut.
__ADS_1
Belum sempat Rizky menyelesaikan ucapannya, Ihsan sudah mematikan sambungan telepon.
"Bangs*t! Nggak sopan banget lu sama gue? Nggak tau gue siapa?" maki Rizky sambil melototi ponsel Nella, ia begitu geram dan merasa tak terima.
"Kenapa Bapak memegang ponselku?" Nella yang baru saja bangun dari tidurnya langsung merampas ponselnya di tangan Rizky, ia melihat panggilan keluar dari nomor Ihsan. Segera ia menelepon balik kekasih hatinya itu.
"Halo Kak, selamat pagi. Tadi ada apa Kakak telepon?" tanya Nella ketika panggil itu diangkat oleh Ihsan.
"Pagi juga Cantik. Aku ingin mengajakmu sarapan bersama, apa bisa?"
"Bisa, Kakak mau bertemu di mana?"
"Di Restoran seperti biasa."
"Oke, kita ketemu di sana, Kakak tunggu aku."
Wajah Rizky begitu masam saat memperhatikan Nella yang tengah mengobrol. Ia terlihat tak suka mendengarnya.
"Lu nggak boleh ketemu Ihsan!" cegah Rizky seraya menahan selimut yang baru saja Nella tarik. Hendak ia gunakan untuk menutupi tubuh polosnya saat bangkit dari kasur.
"Itu bukan urusan Bapak!"
Gegas Rizky mengendong Nella, membawanya menuju bathtub.
"Kenapa Bapak ikut masuk? Aku ingin mandi!" berang Nella seraya memukul-mukul dada bidang Rizky.
"Gue juga mau ikut mandi, tapi sebelum mandi ... kita bercinta dulu," kata Rizky seraya menurunkan tubuh Nella ke dalam bathtub, ia juga ikut masuk dan mengisi air di dalamnya.
"Bukannya semalam sudah? Masa kita melakukan lagi?"
"Terus kenapa? Lu keberatan?" Meski Nella memberontak, Rizky berhasil mengangkat tubuhnya untuk duduk di pangkuannya sambil melakukan penyatuan.
"Aku—ah!"
"Ah, enakan, Nell?" Rizky menghentak-hentakkan pinggulnya dari bawah. Air yang sudah terisi lumayan penuh itu sampai terciprat keluar dari bathtub, akibat gempuran Rizky.
Nella yang awalnya memberontak, lama-lama menjadi pasrah. Apalagi saat tangan Rizky kembali memilin pucuk dadanya, sembari mengajaknya berciuman. Ia ikut menikmatinya.
__ADS_1
Gue nggak akan biarkan lu menemui si Ihsan' batin Rizky.
***
Di Restoran.
Sudah hampir satu jam Ihsan menunggu di Restoran, duduk di meja yang berada di dekat kaca pintu masuk. Segelas teh manis hangat sudah tersisa setengahnya, akibat menunggu Nella yang tak kunjung datang.
Ia mencoba menelepon Nella, namun tak kunjung mendapat jawaban. Mengirim pesan, namun tak ada balasan.
"Ihsan, kamu bisa menunggu Nella di ruangannya," kata Nissa seraya menghampiri Ihsan yang tengah sibuk memandangi ponselnya, pria bule itu mengalihkan pandangannya dan tersenyum saat Nissa menarik kursi dan duduk di depannya.
"Aku tunggu di sini saja, Tan."
"Apa kamu sudah menghubunginya?" Nissa melihat jam pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8, tidak biasanya Nella telat datang jika ada janji dengan Ihsan. Padahal, ia yang sering menunggu Ihsan lebih dulu.
"Sudah, tadi pagi sih aku sudah bilang mau mengajak dia sarapan bersama. Tapi sampai sekarang, aku telepon dan kirim pesan ... nggak ada jawaban, Tan."
Apa mungkin Nella nggak datang ada hubungannya dengan Rizky? Sedang apa kira-kira Nella di sana?' batin Ihsan.
Mendadak dadanya terasa nyeri, mengingat ucapan Rizky pada sambungan telepon. Ihsan juga tak mungkin menunggu Nella terus menerus yang entah sampai kapan datang. Akhirnya, ia memutuskan untuk bangkit dari duduk.
"Tan, aku mau ke bengkel saja kalau begitu." Ihsan merogoh saku jaketnya. Setelah itu, ia menaruh plastik putih kecil di atas meja didekat Nissa. "Aku titip ini saja, Tan. Untuk Nella."
"Kamu nggak mau tunggu setengah jam lagi? Kasihan buburnya nggak dimakan." Nissa melirik sebentar pada dua bungkus bubur yang masih berada di atas meja.
"Buburnya mau aku buang saja, sudah jadi air juga." Ihsan mengambil bubur tersebut dan menentengnya. Setelah membayar minuman, Ihsan pamit dan pergi dari Restoran.
*
"Bang, kenapa wajahnya lesu begitu?" tanya pemuda berusia 20 tahun, ia adalah Salim, junior Ihsan. Ia melihat wajah Ihsan begitu cemberut ketika melepaskan helm dan menaruhnya pada spion motor.
"Aku nggak apa-apa, kok." Ihsan tersenyum tipis, lantas turun dari motor dan bergegas masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian bengkel.
Semenjak membagikan brosur, bengkelnya jauh lebih ramai dari pada sebelumnya. Ihsan sampai kewalahan dan tutup jam 12 malam, padahal biasanya sampai jam 9 lantaran sudah sepi. Namun, ia masih bisa menyempatkan untuk menghubungi Nella dan mengajaknya bertemu. Ya walaupun kali ini tidak berhasil bertemu.
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
__ADS_1
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...