Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
147. Gue hanya sebentar


__ADS_3

Mendengar kalimat cinta seketika rasa tertekan Rizky sirna begitu saja, guratan senyum itu langsung tercetak pada bibir seksinya.


Perlahan Rizky membuka mata dan sontak saja dia menjerit saat melihat kepalanya plontos bahkan begitu mengkilap terkena pantulan sinar lampu. "Aaakkkhhh!"


Rizky melonjak sampai berdiri, lalu meraba kepalanya dengan kedua tangan. Terasa sangat licin, mungkin nyamuk saja akan tergelincir jika ingin mengigit kulit kepalanya.


"Mas kenapa? Apa kepala Mas sakit?" Nella panik dan segera menghampiri Rizky, lalu ikut meraba kepala botaknya dan seketika dia tersenyum. "Aku ingin menciumnya, ini sangat halus."


Berbeda dengan Rizky yang tampak begitu syok, Nella malah kegirangan bahkan sampai lompat-lompat.


Rizky segera membungkuk lalu mendekatkan kepalanya pada Nella dan dia pun segera menciumnya.


Cup, cup, cup. Tiga kecupan itu mendarat dengan sempurna. Lalu setelahnya Nella kembali mengusap perut.


"Terima kasih, Mas. Mas sudah mau dicukur sampai botak untukku. Mas benar-benar suami yang baik." Nella memeluk tubuh Rizky saat pria itu berdiri tegak.


"Benarkah, gue suami yang baik? Lu nggak menyesal memilih gue, kan?"


"Tentu saja nggak. Maafin aku, maaf kalau aku sering meminta yang aneh-aneh. Ini keinginan anak kita, Mas." Nella menarik tangan Rizky menuju perutnya.


"Nggak masalah, selagi bisa ... gue akan turuti semua kemauan elu. Gue juga mencintai lu, Nell."


"Mas manis, seperti si manis jembatan Ancol." Nella melepaskan pelukannya, kemudian berjinjit dan Rizky pun membungkuk sedikit.


Cup~


Kini wanita itu mengecup pipi kirinya.


"Nggak usah dipasang wig, deh. Begini sudah tampan."


Rizky menggeleng cepat. "Nggak mau, kan sesuai perjanjian."


"Ya sudah deh."


Rizky duduk lagi dan dan menerima sentuhan tangan Nella saat memakaikan wig itu pada kulit kepalanya.


"Gue takut wig ini jatuh Nell, atau terbang gitu."


"Nggak bakal, kecuali ada yang narik."


"Tapi ini nanti dikasih shampoo atau nggak, sih?"

__ADS_1


"Dikasih Mas, nanti selama Mas Rizky memakai rambut palsu ... aku yang akan merawat rambut ini." Nella tersenyum lalu mengusap keringat yang baru saja mengalir pada dahi suaminya.


"Kak, Kakak punya vitamin untuk mempercepat pertumbuhan rambut, nggak?" tanya Nella pada pemuda yang telah mencukur rambut Rizky.


"Ada, tapi untuk apa ingin cepat tumbuh rambut kalau dibotak, Mbak?" tanyanya heran.


"Nggak apa-apa, berikan saja vitaminnya." Nella menadah tangan. Lantas pemuda itu menggeser etalase yang berada di meja lalu mengambil botol berukuran sedang berwarna hitam, dan memberikan padanya.


"Ini serum rambut, Mbak. Bisa dipakai sehari 2x jika ingin cepat tumbuh rambut. Sebelum tidur dan sehabis mandi pagi," jelasnya.


"Oke, jadi totalnya berapa?" Nella menaruh botol tersebut di dalam tas, lalu mengambil dompet.


"Lima ratus ribu, Mbak."


Nella baru saja mengambil lima lembar uang berwarna merah, tetapi Rizky yang baru saja berdiri segera mencegahnya.


"Lu mau apa? Biar gue saja yang bayar," tolak Rizky seraya merogoh dompet kulitnya di dalam saku celana.


"Ih nggak mau, aku saja yang bayar." Nella menggeleng cepat, lalu mencegah Rizky yang baru saja mengambil black card di dalam dompetnya.


"Masa lu yang bayar? Aneh-aneh saja, gue 'kan suami lu, Nell."


"Nggak apa-apa, aku ingin membayarnya. Kepala botak itu 'kan milikku." Nella bersikukuh ingin dia yang bayar. Lantas dirinya memberikan lima lembar uang merah tersebut pada pemuda bermasker, lalu mengajak Rizky keluar dari tempat itu.


"Tapi aku makan 'kan di rumah Mas Rizky, itu sama saja memberi nafkah, kan?" Nella bergelayut manja di lengan Rizky, sesekali dia melirik wajah suaminya.


"Bedalah. Ya sudah ... lu pegang saja kartu ini." Rizky memberikan kartu hitam itu ke tangan Nella dengan sedikit memaksa. "Lu pakai ini buat kita ke salon, kodenya tanggal kita menikah."


"Aku nggak jadi ke salon deh." Nella menggeleng cepat. Keinginannya untuk creambath sudah sirna, dia justru sekarang ingin cepat-cepat bertemu Diana. Bertanya masalah tadi.


"Terus kita ke sini cuma cukur rambut gue doang, ya?"


"Iya." Nella nyengir kuda.


"Ah dasar, lu memang terkadang aneh." Rizky menoel pipi kanan istrinya, lalu mengajaknya berjalan keluar dari mall.


"Biarin."


"Oya Nell ... kira-kira, ini rambut palsu asalnya dari mana, ya?" Rizky menyentuh kepalanya sendiri, entah mengapa rasanya dia takut jika rambut itu jatuh dari kepalanya.


"Dari oranglah, Mas. Masa dari kucing." Nella terkekeh.

__ADS_1


"Nggak, maksud gue ... apa mungkin dari orang yang sudah meninggal? Kan serem gitu kalau gue pakai. Nanti arwahnya mengikuti kita sampai rumah bagaimana?" tanya Rizky dengan wajah ketakutan. Kini mereka telah sama-sama masuk ke dalam mobil.


"Ih, nggak Mas. Itu pasti rambut orang yang sengaja mencukur rambut. Terkadang ada salon yang membuka jasa cukur rambut sampai botak atau bondol," jelas Nella.


"Masa sih? Terus ada yang mau?"


"Ya ada, itu contohnya dibuat wig."


"Kenapa orang itu mau? Apa rambutnya banyak kutu? Atau ketombe?"


"Mereka mau karena dibayar biasanya, bayarannya juga lumayan besar kalau mau sampai botak, Mas," terang Nella.


"Oh, tapi kok nggak malu, ya? Gue sih nggak mau meskipun dibayar juga."


"Itu Mas mau, kan sudah dibotakin. Aku bayarin juga." Nella mengerutkan keningnya, merasa binggung melihat Rizky yang tiba-tiba lupa ingatan.


"Gue dibotakin bukan karena mau dibayar, tapi karena menuruti ucapan elu. Gue 'kan cinta sama istri gue yang cantik ini." Rizky mendekat, lalu mengecup singkat bibir istrinya. "Eh, gue lupa. Bonusnya gue belum dapat, kan? Sekarang saja kalau begitu."


Rizky bergegas membuka resleting dan kancing celananya, lalu menurunkan sampai di atas lutut.


"Bonus apa? Mas mau apa?" Nella bergidik ngeri melihat senjata pamungkas Rizky sudah tegang dan berdenyut-denyut. Dia juga sedikit heran, mengapa milik Rizky seakan mempunyai nyawa lebih dari satu. Padahal dia tentu ingat, jika tadi saat di lift—mereka sudah bercinta.


'Kok dia bisa berdiri lagi? Bukannya tadi kita sudah bercinta?' batin Nella.


"Lu masa lupa? Katanya mau dihisap?" Rizky tersenyum sembari menggenggam miliknya, lalu menarik dan menurunkannya secara perlahan, hingga Nella yang melihatnya pun menelan kelat salivanya.


'Sedang apa Mas Rizky?' batin Nella.


Rizky memegang tangan Nella, lalu mengarahkan pada miliknya. Dan sontak saja Nella terbelalak dan segera menarik tangannya.


"Nanti malam saja, sekarang kita 'kan mau menemui Mami."


Rizky menggeleng cepat. "Nggak ah, gue maunya sekarang. Eh tapi gue mau kencing dulu bentar deh." Rizky membereskan kembali celananya.


"Dih, Mas ...," Nella mendessah sembari memegang lengan Rizky, ketika pria tampan itu membuka pintu mobil. "Jangan sekarang."


"Gue maunya sekarang, lu kok nolak, sih? Gue saja nurut dibotakin." Rizky memandangi wajah Nella dengan ekspresi cemberut. "Lu tunggu di mobil, gue hanya sebentar."


"Tapi ini parkiran, Mas. Nanti kalau ketahuan satpam bagaimana? Kita bisa-bisa ditegur." Nella menatap sekeliling mall tersebut, ada dua satpam berseragam hitam yang tengah berjaga di depan pintu keluar masuk mall.


...Jangan lupa like dan komentarnya...

__ADS_1


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...


...1092...


__ADS_2