Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
97. Mau gue gendong?


__ADS_3

Bruk!


Baru saja Sofyan terlelap dari tidurnya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh tubuhnya yang tertimpa barang berat. Terlebih lagi, senjata miliknya ikut terhantam dan membuatnya berdenyut nyeri.


Sofyan membuka matanya dengan lebar, dan dengan refleks tangannya mendorong kuat barang berat itu.


"Aaw!"


Ternyata itu bukanlah barang, melainkan Rizky yang tertidur tapi jatuh di atas tubuh mertuanya. Sofyan berhasil membuat Rizky meringis kesakitan lantaran kepala belakangnya menghantam kaki ranjang.


Pria tampan itu mengerjapkan matanya yang masih sayu. "Papa jahat sekali, lagi enak-enak tidur malah mendorongku," gerutu Rizky seraya meraba kepala belakangnya. Itu bukan hanya terasa sakit, tetapi ada sebuah benjolan. "Astaga sampai benjol, Papa!"


"Kamu yang jahat Riz!" berang Sofyan kesal, kedua tangannya memegang senjata miliknya yang masih berdenyut-denyut nyeri. "Burung Papa mules gara-gara kamu tahu, nggak!"


"Dih, memang aku melakukan apa? Aku dari tadi tidur kok."


"Kamu tidur tadi jatuh! Dan masalahnya menimpa tubuh Papa!" Sofyan mengertakan giginya dengan masih meringis.


"Mana aku tahu, namanya juga orang tidur. Lagian Papa ... kenapa tidurnya terlalu ke sini, 'kan aku ada di atas."


"Sudah salah kamu masih menyalahkan Papa, ya! Bukannya minta maaf!" bentak Sofyan sambil menendang kaki menantunya.


"Papa, Mas Rizky. Kalian kenapa berantem? Ini sudah malam," tegur Nella. Akibat adu mulut mereka, wanita itu jadi terbangun dari tidurnya.


Mereka berdua langsung terdiam dan memperbaiki posisi tidur, berbaring bersebelahan.


"Maafkan aku, Pa," ucap Rizky seraya menoleh sebentar pada Sofyan. Dilihat papa mertuanya tengah meraba asetnya sendiri dari dalam celana kolornya.


"Apa telur Papa pecah?" tanya Rizky seraya ikut meraba. Bahkan dia ikut memasukkan tangannya ke dalam kolor Sofyan.


"Nggak sopan sekali kamu, Riz! Pegang-pegang sembarangan!" Sofyan yang merasa kesal langsung mencubit perut menantunya yang mana membuat pria itu meringis kesakitan.


Rizky yang sudah berhasil menyentuh bulu hangat itu bergegas menarik tangannya. "Ampun, ampun. Aku hanya ingin ikut memastikannya kok."


"Mas Rizky, Papa! Aku 'kan sudah bilang tidur! Kenapa malah sibuk bercanda, sih?" Nella mendengus kesal, dia sampai tak bisa melanjutkan tidurnya akibat suara mereka yang menjadi penyebabnya.


Mereka kembali terdiam, tetapi hanya untuk sesaat.


"Kepalaku sakit, Pa. Benjol," ucap Rizky lirih.


"Kamu pikir Papa nggak? Sudah tidur saja, besok juga sakitnya hilang sendiri, kita 'kan anak cowok ... masa begitu saja cengeng." Sofyan menarik selimut dan menutupnya hingga dada.


"Anak cowok apanya? Papa itu sudah bapak-bapak," cibir Rizky. Entah mengapa mulutnya kembali ingin mengoceh, meskipun sudah ditegur Nella dua kali.

__ADS_1


"Jangan songong, kamu juga sebentar lagi jadi bapak!"


"Berarti aku yang salah. Papa bukan bapak-bapak lagi, tapi kakek-kakek."


"Apa kamu bilang?" Sofyan sudah melotot dengan emosi di dadanya, kedua tangannya langsung memukuli menantunya tanpa ampun.


"Hentikan, Pa! Sakit! Aku ...."


"Papa Mas Rizky! Kalian keluar dari kamar ini!" Nella yang sudah begitu jengkel kembali menegur kedua pria itu, dia bahkan melempar bantal tidurnya tepat pada wajah mereka berdua yang kebetulan posisinya begitu dekat.


"Kok kamu usir kita? Jangan begitu Sayang, Papa dan Rizky 'kan di sini menunggumu," ucap Sofyan dengan suara lembut, tiba-tiba dia merasa takut melihat anaknya yang tengah duduk sambil melotot ke arahnya, kedua tangan wanita itu juga sudah mengepal. Sofyan melirik sebentar pada Rizky. Pria tampan itu sudah memejamkan mata pura-pura tidur, mencari aman.


"Sekali lagi aku dengar kalian mengoceh ... aku akan tarik Papa dan Mas Rizky keluar!" ancam Nella seraya berbaring kembali.


Sofyan bangkit lalu menaruh bantal yang Nella lempar tadi ke atas ranjang, di sebelah kepala Nella yang sudah berbaring dengan posisi miring. Dia hanya dapat melihat punggung anaknya


Setelah itu dia kembali berbaring disebelah Rizky sambil mengusap dadanya. Meredakan emosinya sendiri.


***


Keesokan harinya.


Pagi-pagi Nella sudah meminta untuk diperiksa oleh Dokter, sebab dirinya sudah tak betah dirawat di rumah sakit, ingin cepat-cepat pulang ke rumah.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rizky yang tengah berdiri di dekat ranjang Nella bersama Sofyan. Mereka berdua sudah rapih dan begitu tampan mengenakan setelan jas senada, berwarna hijau army.


"Alhamdulilah, semuanya sudah normal, Pak," jawab Dokter itu seraya tersenyum pada Rizky dan Sofyan. "Tapi Nona Nella nggak boleh sampai telat makan, dan hindari makanan yang terlalu pedas, ya?"


"Iya, Dok," jawab Rizky, Sofyan dan Nella secara bersamaan.


"Nona Nella sudah boleh pulang sekarang, jangan lupa minum susu ibu hamil setiap hari ... biar kandungannya selalu sehat, ya?"


"Iya, Dok." Mereka kembali menjawab secara bersamaan.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi."


"Terima kasih, Dok," ucap Rizky.


"Sama-sama."


"Bapak berdua bisa keluar dulu? Saya akan membantu Nona Nella mengganti pakaian," ujar Suster pada Sofyan dan Rizky yang mana dianggukkan oleh mereka.


Mereka keluar dari kamar inap itu dan kebetulan ada hal yang ingin Rizky tanyakan pada Dokter berkacamata.

__ADS_1


Gegas dirinya berjalan cepat menghampiri Dokter yang baru saja hendak masuk ke dalam ruangan.


"Dok, tunggu sebentar!" panggil Rizky yang mana membuat langkah Dokter itu terhenti, lalu menoleh ke arahnya.


"Iya, ada apa, Pak?"


"Maaf nih, Dok. Saya mau bicara tentang masalah hubungan badan." Rizky tersenyum canggung sembari mengusap tengkuknya. Ada rasa malu di dalam hatinya itu, tetapi kalau tidak ditanyakan pada ahlinya—Rizky bisa dirundung dilema.


"Kenapa dengan hubungan badan?" tanya Dokter dengan kening yang berkerut, sepertinya dia tak paham maksud perkataan Rizky yang hanya setengah.


"Kan Nella sedang hamil, apa boleh wanita yang sedang hamil melakukan hubungan badan dengan suaminya?" Rizky memperjelas pertanyaan.


Dokter itu terkekeh. "Tentu boleh, siapa yang melarangnya?" Jawabannya sama persis dengan Gita kemarin.


"Oh begitu, syukurlah." Rizky menghela nafasnya dengan lega.


"Tapi Bapak harus bedakan dengan sekarang, ingat kalau di dalam perut istri Bapak sudah ada bayi," terang Dokter.


"Bedakan bagaimana?" Rizky mengerutkan kening.


"Ya bedakan, jangan seperti dulu. Bisa dari durasi bercinta jangan terlalu lama, bisa juga dari kondisi istri Bapak. Kalau Nona Nella seperti kelelahan ... jangan dipaksa," terang Dokter lagi.


"Saya bukan tipe suami pemaksa kok, Dok. Kalau masalah itu sih, aman." Rizky mengangguk-angguk.


"Bagus itu."


Setelah mendapatkan pencerahan dari sang Dokter, Rizky balik lagi menghampiri Sofyan yang sempat dia tinggalkan di depan kamar inap Nella.


Kebetulan juga bertepatan dengan Nella yang harus saja keluar dari kamar itu. Dia sudah mengganti pakaiannya, memakai dress selutut tanpa lengan berwarna merah maroon. Rambutnya digerai dan panjang sepunggung.


Meskipun wajahnya tidak diberi polesan make up, tetapi kecantikannya mampu membuat Rizky terpesona.


"Lu sudah selesai?" Sebenarnya tidak perlu dipertanyakan, jelas wanita itu sudah rapih. Hanya saja Rizky ingin basa-basi.


"Sudah, Mas." Nella mengangguk pelan.


"Apa lu masih lemes? Mau gue gendong?" tawar Rizky sambil tersenyum.


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....


...1076...

__ADS_1


__ADS_2