
Mata sebelah Rizky sudah menyorot ke arah kursi kerja sang sekertaris. Tetapi tak ada siapa pun di sana. Kemudian Rizky beralih menyorot tajam ke arah sofa panjang, namun sayangnya sama saja—tidak ada siapa pun.
'Kok nggak ada? Mereka hilang kemana?' batinnya.
Mata Rizky seketika membulat kala melihat lantai di dekat sofa itu banyak sekali pakaian berserakan. Dia yakin—pakaian luar dan dalam itu milik mertuanya.
Baru saja kakinya hendak melangkah masuk dan melebarkan pintu, secara tiba-tiba seseorang dari belakang menepuk pundaknya dan membuat Rizky terperanjat.
"Aah!" teriak Rizky kemudian langsung mengelus dada, cepat-cepat dia pun menutup pintu itu lalu berbalik. "Hersa! Kenapa lu ngagetin gue?!" Rizky melotot.
Sebenarnya Hersa bukan mau mengagetkan, dia hanya menepuk pelan lantaran penasaran dengan apa yang tengah dilakukan oleh bosnya. Nungging-nungging tidak jelas di depan pintu ruangan sekertaris sendiri.
"Pak Rizky sedang apa di ruangan Maya? Kok seperti mengintip?" tanya Hersa dengan penuh kecurigaan.
"Iya, gue lagi ngintip kucing lagi kawin. Sana lu pergi!" Rizky mendorong tubuh Hersa dengan kesal hingga pria itu beringsut mundur. Dia sangat tak mau jika gara-gara kehadiran Hersa—itu akan menggagalkan acara mengintipnya, terlebih dia juga tak mau Hersa ikut-ikutan.
"Memangnya ada kucing di sini? Perasaan nggak deh, dan ...."
"Aahhh ... Aahh ...."
Hersa membulatkan matanya saat mendengar suara dessahan Sofyan dari dalam. Dilihat Rizky juga seperti terkejut mendengarnya.
"Lho, Pak. Itu 'kan seperti dessahan pria? Atau jangan-jangan ...." Hersa terlihat makin curiga.
"Itu kucing jantan, wajar lah. Sekarang lu pergi dari sini. Kalau gue lihat lu ikut dengar ... lu gue pecat!" Rizky lagi-lagi mendorong tubuh Hersa, pria itu akhirnya pergi meninggalkannya. Rizky tampak sangat marah dengan kehadirannya.
'Dasar jomblo, gangguin orang mau ngintip aja,' batin Rizky.
Melihat situasinya yang sudah cukup aman, pria itu kembali membuka pintu ruangan Maya dengan pelan-pelan dan sedikit, lalu memerhatikan setiap isi dari ruangan itu.
Rizky terbelalak seketika kala melihat Maya tengah digendong oleh Sofyan berjalan menuju kamar mandi, keduanya bertubuh polos dan sepertinya masih saling menyatu.
'Wah, kayaknya panas nih!' Rizky menelan saliva. Perlahan masuk ke dalam, lalu menutup pintunya pelan-pelan. Setelah itu dia pun mengendap-ngendap berjalan menuju pintu kamar mandi, dan kebetulan pintu itu terbuka lebar.
__ADS_1
'Rezeki nomplok nih, rugi kalau nggak diabadikan.'
Mungkin menurutnya, dia sangat beruntung sebab kali ini bisa menyaksikan mertuanya tengah memadu kasih. Cepat-cepat Rizky mengambil ponselnya yang berada di saku jas, kemudian menyalakan kamera untuk memvideokan aksi mereka.
Rizky menyelipkan kepalanya sedikit di pintu kamar mandi sembari memegang ponsel.
"Ayank ... aku ...." Maya mencengkeram kuat kloset yang tertutup. Dia tengah menung*ngi Sofyan dan suaminya itu sejak tadi menusuk-nusuknya dari belakang. Pria itu seperti memakai seluruh kekuatannya, pompaan yang dia lakukan membuat tubuh Maya bergetar hebat.
"Aku apa? Enak, Sayang ...."
Keringat dingin tiba-tiba membanjiri seluruh wajah tampan Rizky, tangan yang memegang ponsel itu seketika ikut bergetar. Tidak hanya itu, miliknya dibalik celana juga ikutan bergetar
'Duh jadi ikut kepengen gue,' batinnya sambil menyentuh celananya yang sudah mengembung.
Suara dessahan demi dessahan tak henti-hentinya lolos di bibir Maya, tampaknya wanita itu begitu menikmati permainan suaminya yang terkesan ganas itu.
Rizky menelan saliva berkali-kali seraya menyeka keringat pada seluruh wajah, mendadak ruangan ber-AC itu terasa sangat panas. Milik Rizky makin meronta-ronta.
Disaat lagi enak-enaknya dan serius memvideokan adegan dewasa, mendadak ponsel Rizky berdering dengan kencang. Sebuah panggilan masuk dari Nella. Dan itu membuat dirinya panik hingga cepat-cepat mematikan panggilan itu.
Prang!
Suara ponsel yang terjatuh itu membuat Sofyan menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya seketika menegang dan emosinya meluap-luap kala melihat menantu kesayangannya tengah membungkuk untuk memungut ponsel.
"Rizky! Sedang apa kau!" teriak Sofyan sambil mendelik. Dia benar-benar begitu kaget. Kepanikannya yang saat menyadari Maya bertubuh polos langsung membuat pintu kamar mandi itu dibanting keras, hingga membuat Rizky terperangah dengan jantung yang berdebar.
'Sial! Aku ketahuan!' Rizky terbelalak saat melihat pintu kamar mandi itu perlahan hendak terbuka lagi, lantas dia pun cepat-cepat pergi dari sana takut jika nanti Sofyan murka.
"Rizky!" teriak Sofyan saat melihat menantunya keluar dari ruangan itu.
Ingin rasanya dia mengejar pria itu lalu mencekik lehernya, namun sayangnya tubuhnya yang polos membuatnya mengurungkan niat. Ditambah dia juga belum mencapai pelepasan, kepalanya terasa pusing jika si Jombo belum berhasil muntah.
Sofyan masuk lagi ke dalam kamar mandi, lalu melihat istrinya tengah membersihkan tubuhnya dengan selang shower. Wajah wanita itu terlihat merah dan cemberut.
__ADS_1
Lantas dengan segera Sofyan menarik selang shower, kemudian mengangkat satu kaki wanita itu ke atas pundaknya.
Baru saja dia hendak memasukkan kembali si Jombo, tetapi secara tiba-tiba istrinya itu mendorong tubuhnya hingga membuat Sofyan beringsut mundur beberapa langkah.
"Lho, kenapa? May? Kita 'kan belum selesai kelonan."
Maya berlari kecil keluar dari kamar mandi, kemudian menuju sofa dan langsung memunguti pakaiannya di lantai.
"Dih, May. Jangan dipakai dulu dong. Kan belum selesai." Sofyan berlari keluar kamar mandi lalu menghentikan istrinya yang tengah memakai cellana dalam.
"Aku nggak mau!" ujar Maya dengan ketus dan gelengan kepala. Dia menepis kasar tangan Sofyan lalu memakai pakaiannya.
"Kamu marah, May? Nanti aku akan tegur si Rizky. Tapi kita lanjutkan lagi, ya?" Sofyan berusaha merayu istrinya untuk kembali melanjutkan aktivitas panas itu. Tetapi wajah Maya masih cemberut dan sekarang dia sudah duduk di kursi kerja.
Wanita itu mengetik keyboard laptopnya, memulai kembali pekerjaannya tanpa meladeni suaminya.
'Tadi pagi kepergok Polisi, sekarang Pak Rizky. Aku malu sekali,' batin Maya kesal.
Sofyan mengusap wajahnya kasar, dengan penuh keterpaksaan dia pun bergegas memakai kembali pakaiannya.
'Ah padahal lagi enak-enaknya, tapi kenapa si Rizky bisa masuk? Padahal aku ingat kalau pintunya dikunci.'
Untuk memastikannya, Sofyan berjalan menuju pintu, lalu membukanya. Matanya seketika melotot saat melihat sebuah kunci yang bergelayut manja di sana. Kedua tangannya langsung mengepal, sekarang Sofyan tahu alasan mengapa Rizky masuk.
"Kurang ajar sekali Rizky! Berani-beraninya mengintip mertua sendiri!" berangnya emosi. Lantas segera Sofyan keluar dengan membanting pintu, lalu menghentakkan kakinya berlari menuju ruangan menantunya.
"Rizky!" teriak Sofyan.
Brak!
Pintu ruangan itu sama sekali tak diketuk lagi, langsung dibuka saja sebab dia tak sabar dan sangat emosi.
Melihat ruangan itu kosong tak ada orang, Sofyan tak langsung pergi, dia memilih masuk sebab ingin mengecek kamar mandi di dalamnya, kemudian langsung saja dia buka.
__ADS_1
Brak!