
Beberapa menit kemudian, Ihsan pun langsung mendapatkan ide disaat ada seorang satpam yang tiba-tiba lewat di depannya. Ihsan pun segera memanggilnya, tak mau melewatkan kesempatan emas.
"Pak tunggu sebentar!" panggil Ihsan yang mana membuat langkah satpam itu terhenti lalu menoleh padanya.
"Ada apa, Pak?"
"Itu, coba Bapak lihat mobil itu, Pak." Ihsan mengarahkan jari telunjuknya ke arah mobil Rizky yang masih goyang-goyang. Dan pandangan satpam itu pun langsung tertuju ke arah sana. "Sepertinya ada pasangan mesum di dalam mobil itu, Pak. Saya juga lihat mereka berdua sejak dari tadi nggak keluar-keluar dari mobil," terang Ihsan mengadu.
Seketika mata satpam rumah sakit itu melebar sempurna, dan dengan cepat dia berlari menghampiri mobil itu.
Namun Ihsan tak ikut dengannya, dia lebih memilih masuk lagi ke dalam mobilnya. Dan tentunya dia juga ingin melihat kemarahan Rizky.
"Mampus lu, Riz. Memangnya enak lagi bercinta di gagalin?" seru Ihsan sambil tersenyum menyeringai.
Tuk ... tuk ... tuk.
Satpam itu mengetuk kaca mobil Rizky, lalu berucap, "Permisi, Mas dan Mbak."
"Aahh ...," desah Rizky sekuat tenaga saat dirinya berhasil mencapai pelepasan. Begitu pun dengan Nella yang sudah keluar lebih dulu.
Ternyata sesi bercinta mereka cepat berakhir sebelum Ihsan menggagalkan.
"Mas ... Mbak." Satpam yang berada di luar masih mengetuk-ngetuk pintu.
Rizky yang sadar akan hal itu bergegas membersihkan sisa pelepasannya pada inti tubuh istrinya, lalu cepat-cepat membereskan pakaian Nella dan membantunya memakai celana.
Selanjutnya dia juga memakai celana kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Rizky seraya menyeka keringat pada dahinya, dia tersenyum manis.
"Apa Bapak dan Nona sedang berbuat mesum tadi?" tanya satpam itu menatap curiga.
Nella yang sejak tadi sudah duduk di samping Rizky hanya bisa menundukkan kepalanya, wajahnya tampak memerah karena malu.
'Apa dia melihat kita berdua bercinta? Memalukan sekali,' batin Nella.
Rizky terkekeh. Tidak seperti Nella yang sangat malu hingga tak berani menampakkan wajahnya, Rizky justru bersikap biasa saja.
Hal seperti ini sudah sering dia alami dan kata malu itu sepertinya sudah tak ada lagi.
"Apa yang Bapak katakan? Masa saya bercinta dengan istri saya di mobil? Yang benar saja," bantah Rizky sambil tersenyum. "Lebih baik di kamar Pak, Pak. Biar enak dengan berbagai gaya."
__ADS_1
"Tapi saya lihat sendiri mobil Bapak goyang-goyang dan tadi saya sempat mendengar suara seseorang yang mendessah," jelasnya. Telinganya tak tuli, memang benar dia mendengar suara yang keluar dari mulut Rizky.
"Oh itu ...." Rizky menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal seraya memikirkan ide. "Tadi saya sempat berdebat dengan istri saya, Pak," jawab Rizky berakting sedih.
"Istri saya juga sempat memukuli saya dan suara dessah tadi ... adalah suara saya yang telanjur kesal. Jadi saya meluapkannya dengan mengatakan aahhh ... seperti tadi." Rizky mengarang cerita dengan ekspresi yang dibuat-buat.
"Tapi Bapak terlihat baik-baik saja, nggak ada yang luka?" Satpam itu masih tak percaya, dilihat tubuh Rizky tak ada bekas dia dipukuli.
"Istri saya memukulnya dengan kasih sayang, Pak. Jadi nggak bakal ada luka. Dan sepertinya Bapak hanya salah paham. Yasudah kalau begitu saya duluan, ya, Pak. Saya ingin mengajak istri saya beli es krim. Supaya dia nggak marah lagi."
Satpam itu terdiam sambil menganggukkan kepalanya, sepertinya ucapan Rizky mampu membuatnya percaya.
Rizky membuka pintu mobilnya lalu mengajak Nella keluar sama-sama sembari merangkul bahunya. "Kamu jangan kesal lagi padaku, ya? Aku cinta mati padamu," ucap Rizky seraya mengecup kening istrinya, kemudian meninggalkan satpam yang masih berdiri mematung di dekat mobilnya.
Ihsan yang ikut menyaksikan itu semua segera turun dari mobil lalu menghampiri satpam. Tentu yang dilihatnya tadi tak sesuai keinginannya. Harusnya Rizky marah, tetapi tadi dia sempat melihat wajah Rizky begitu ceria.
"Bagaimana, Pak?" tanya Ihsan seraya menghentikan langkahnya.
"Sepertinya hanya salah paham, mereka sedang berantem tadi, Pak." Setelah mengatakan hal itu, satpam itu berlalu pergi meninggalkan Ihsan yang berwajah kesal.
'Berantem katanya? Berantem apanya? Orang mereka seperti sedang bercinta kok!' gerutu Ihsan dalam hati.
*
*
*
"Pasti dong, gue 'kan peka." Rizky tersenyum lalu mengecup kening istrinya.
Padahal tadi dia hanya asal bicara, tetapi ternyata kebetulan jika Nella kepengen beli es krim.
Mereka pun berjalan menuju freezer es krim. Lalu tangan Rizky menggeser kaca freezer untuk Nella memilih. Segera Nella memilih es krim dalam bentuk cup rasa strawberry.
"Mas mau nggak?" tawar Nella.
Rizky menggeleng cepat. "Nggak, buat lu saja. Belinya satu, jangan banyak-banyak ... nanti sakit perut," tegur Rizky.
"Iya, Mas." Nella mengangguk. Kemudian mereka pun menuju kasir dan menunggu antrian, ada tiga orang di depan mereka. "Oya, Mas ... tadi ada yang ingin aku tanyakan lho."
"Tanya apa?"
__ADS_1
"Apa Mas dulu pernah berniat ingin pelet aku?"
Pertanyaan Nella sontak membuat Rizky membulatkan matanya.
'Kok Nella tiba-tiba nanya begitu, sih? Apa Mama memberitahunya tentang Mbah Yahya? Ah menyebalkan sekali, padahal 'kan itu nggak terjadi dan yang punya niat pelet memelet itu 'kan idenya Mama.'
"Mas! Kok bengong?!" Nella menyenggol perut Rizky hingga pria tampan itu terperanjat lalu menggeleng cepat.
"Lu ini bicara apa sih, Sayang?" Rizky terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Gue nggak pernah ada niat pelet lu. Lagian ... untuk apa juga gue pakai cara begitu-begitu, kuno tahu nggak, sih. Nggak gentle juga. Gue 'kan pria seja ...."
Ucapan Rizky menggantung kala melihat orang yang memakai jaket jeans hitam tengah memutar kepalanya ke belakang, tepat ke arahnya. Sorotan matanya begitu tajam.
Degh!
Rizky sontak terbelalak, merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya. Jenggot putih pria itu sungguh membuat Rizky mengenalinya meski hanya pertama kali bertemu.
"Mbah Yahya," ucap Rizky tertohok.
Ya, ternyata pria itu adalah Mbah Yahya. Rizky sendiri tak sadar jika dia sejak tadi berada di depan.
Namun Rizky merasa aneh, sebab penampilan Mbah Yahya sangat berbeda. Dia memakai jaket jeans berwarna hitam dengan dalaman kaos abu-abu, dan celana jeans berwarna biru.
Rizky tentu ingat penampilan pria paruh baya itu saat pertama kali berjumpa yang memakai jubah hitam.
Meski penampilannya berubah, tetapi dia tetap saja seram dan mengerikan di mata Rizky.
"Mas kenal? Siapa dia, Mas?" tanya Nella penasaran.
Tidak seperti Rizky yang merasa takut dan seketika merasakan hawa panas, Nella malah biasa saja dan kini mengulurkan tangannya saat melihat Mbah Yahya berbalik badan.
"Kamu pasti Nella, kan?" tebak Mbah Yahya sambil menjabat tangan Nella. Dia telah selesai membayar pada kasir dan kini giliran Rizky.
"Bapak kok bisa tahu namaku?" Nella mengerutkan keningnya binggung.
"Panggil Mbah saja. Mbah tahu namamu dari suamimu."
"Oh, begitu."
Nella tersenyum lalu melepaskan tangannya dari Mbah Yahya. Rizky yang sudah selesai membayar segera merangkul bahu Nella.
"Ayok kita pergi. Ah, aku duluan ya, Mbah," ujar Rizky pamit. Sebenarnya agak canggung, tetapi tak enak juga kalau dia tak ada basa basi.
__ADS_1
Lantas Rizky membuka pintu kaca itu dan keluar dari mini market bersama Nella.
"Hati-hati sama mantan kekasih istrimu, Riz! Dia berbahaya!" serunya.