
"Aahh ... ini enak sekali, Nell. Luar biasa." Rizky bermain pelan menunggu Jihan selesai minum susu.
Dan setelah beberapa menit akhirnya Jihan selesai, bayi cantik itu sudah terlelap dari tidurnya. Rizky kembali beraksi, dia lantas mengendong tubuh Nella lalu menguncangnya penuh tenaga.
Tubuh Nella langsung bergetar hebat, sesuatu di dalam sana sudah tak kuat lagi untuk meledak. Dia segera menangkup kedua pipi Rizky, lalu melummat bibirnya dengan kuat saat pelepasannya keluar dengan sempurna.
"Eeeuughhhh ...," lenguh Nella. Napasnya terengah-engah. Keringat pada tubuhnya dan tubuh Rizky sudah menyatu jadi satu.
"Sudah keluar, Nell? Apa lega?"
"Iya, enak sekali, Mas." Nella mengangguk sambil tersenyum. "Mas sudah belum? Kenapa lama sekali?"
"Sebentar lagi." Rizky menurunkan tubuh Nella, lalu mengarahkan wanita itu untuk berdiri di depan tembok dengan bokong yang agak menungg*ng. Setelah itu dia pun menusuknya dari belakang sambil membungkam bibir Nella dengan salah satu tangan.
Proses bertukar keringat itu kembali dimulai, sesekali Rizky menoleh ke arah kasur. Untuk memperhatikan gerak gerik anaknya yang tidur tidak bisa diam. Dia merasa takut jika Jihan kembali terbangun.
"Sebentar ya, Sayang. Daddy lagi olah raga dulu dengan Mommy, sudah lama sekali. Aahh!" desah Rizky sambil menggerakkan tubuhnya.
Tak berselang lama, titik kenikmatan itu akhirnya sampai. Rizky segera menarik pinggulnya supaya larvanya tak masuk ke dalam rahim istrinya. Tetapi sayangnya saat dicabut miliknya itu sudah meleleh duluan, dia sendiri tak tahu ada yang masuk atau tidak ke dalam. Semoga saja tidak.
"Aaahh ... enak, Nell. Terima kasih, ini luar biasa." Rizky membalik tubuh Nella supaya saling memandang, lantas mengecupi seluruh wajahnya. Deru napasnya tersengal-sengal.
"Sama-sama, Mas. Keluarin diluar 'kan tadi?" tanya Nella.
"Iya, Sayang." Rizky mengangguk semangat.
***
Keesokan harinya.
Sofyan yang telah rapih dengan mengenakan setelan jas berwarna merah maroon lantas menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sana ada Maya sedang menata sarapan dan secangkir kopi hitam yang masih beruap di atas meja.
Dia sengaja bangun lebih dulu daripada Sofyan karena ingin masak untuk suaminya.
__ADS_1
"Selamat pagi istriku yang cantik," sapa Sofyan seraya merengkuh pinggang Maya, lalu mengecup tengkuknya dengan mesra dan seketika membuat bulu kuduk gadis itu meremang tak karuan.
"Pagi juga, Yank."
"Kamu kok rapih, wangi dan cantik banget, mau ke mana?" Sofyan melepaskan pelukannya, lalu menarik kursi untuk duduk dan menarik pinggang istrinya hingga duduk di pangkuannya. Perlahan kedua tangannya memeluk perut. Maya mengenakan setelan jas berwarna putih.
"Aku mau kerja, Yank."
"Kok kerja? Katanya mau menemui Om dan Tantemu? Hari ini saja kita ke sana, aku juga mau mengajakmu pergi berbulan madu."
"Besok saja kita ke sananya, Yank. Hari ini banyak kerjaan di kantor. Aku nggak enak sama Pak Riz ... maksudku, Rizky." Maya langsung meralat ucapannya.
"Oh ya sudah. Eh tapi di mana Rizky, Nella dan Jihan? Kok dari tadi aku nggak lihat mereka?" Sofyan menatap sekeliling ruangannya, bahkan sudah menengadah ke arah lantai dua.
"Aku juga belum melihat mereka dari pagi."
"Pagi Sofyan, Maya. Maaf mengganggu kalian." Terdengar suara seseorang wanita yang tak asing di telinga Sofyan. Pria itu langsung menoleh ke sumber suara. Dan ternyata suara itu milik besannya, Gita.
"Eh, Bu Gita, Pak Guntur. Selamat pagi, Pak, Bu," sapa Maya sambil tersenyum dan membungkuk sedikit.
"Bapak dan Ibu kok pagi-pagi ke sini? Tumben? Ayok, sarapan bersama." Sofyan terlihat salah tingkah, wajahnya juga sama merahnya seperti Maya karena malu.
"Kita sudah sarapan, Sofyan," ujar Guntur. "Aku dan Gita ke sini karena di telepon Nella. Katanya Rizky sakit pinggang dan nggak bisa bangun dari tempat tidur."
"Sakit pinggang?" Sofyan mengerutkan keningnya heran. "Kok bisa dia sakit pinggang? Memangnya habis ngapain?"
"Aku juga nggak tahu."
"Eh, Papa Guntur dan Mama Gita sudah datang. Selamat pagi. Selamat pagi Papa dan Mama Maya." Nella yang baru saja turun dari anak tangga sambil menggendong Jihan lantas menghampiri mereka di ruang makan. Kemudian mencium punggung tangan Guntur dan Gita. Dia sudah mandi, memakai dress di atas lutut. Rambutnya terlihat basah seperti habis keramas.
"Pagi, Nella," sahut Maya sambil tersenyum.
"Katanya Rizky sakit pinggang? Kenapa dia?" tanya Sofyan. Dia bertanya tapi sudah berjalan menaiki anak tangga sebelum dijawab oleh Nella. Sofyan terlihat mencemaskan Rizky.
__ADS_1
Ceklek~
Sofyan membuka pintu kamar Nella dengan lebar. Dilihat menantunya itu tengah berbaring sambil meringis menyentuh pinggangnya. Pakaian Rizky masih sama seperti semalam, dia juga terlihat seperti belum mandi.
"Pagi, Pa."
"Pagi, kamu kenapa, Riz? Kok bisa sakit pinggang?" Sofyan berjalan menghampiri Rizky. Dan tak lama Guntur dan Gita masuk ke dalam sana, menghampiri pria tampan yang kini tengah meringis kesakitan.
"Kamu habis ngangkat apa sampai sakit pinggang? Mau digendong apa bagaimana ini?" Guntur terlihat binggung akan alasan dia datang, Nella hanya memintanya datang untuk mengantar Rizky pergi ke dokter.
"Semalam aku habis bercinta sama Nella. Hanya itu saja, tapi pagi-pagi pinggangku sakit sekali, Pa," ujar Rizky sambil meringis kesakitan. Pinggangnya terasa sangat nyeri dan kencang.
Tiga orang itu langsung membulatkan matanya saat mendengar cerita sedikit dari Rizky.
"Kok bercinta? Memangnya sudah boleh? Nella masih berdarah, Riz," omel Gita.
"Sudah nggak, Ma. Semalam aku juga sudah konsultasi ke dokter. Aku boleh bercinta dengannya."
"Apa Nella sudah dikb? Nanti kalau dia bunting lagi bagaimana? Jihan 'kan masih kecil." Sekarang Sofyan yang mengomel.
"Ih, nanti saja ngomelnya. Tolong bantu aku ke mobil dulu, aku nggak kuat jalannya, Pa."
"Iya, iya." Sofyan membungkuk, lalu menaruh lengan kiri Rizky ke pundaknya. Begitu pun lengan kanan Rizky yang sudah berada di pundak Guntur. Keduanya membantu pria tampan itu untuk berdiri, lalu berjalan keluar dari kamar hingga menuju mobil Guntur yang berada di halaman rumah.
"Sepertinya pinggangmu encok. Dasar payah, bukannya kemarin malam kamu beliin Papa obat encok? Kok sekarang malah kamu yang encok." Sofyan terkekeh. Kemudian membuka pintu mobil dan membantu Rizky untuk duduk. "Harusnya kamu minum obat encok itu, Riz."
"Aku nggak encok. Enak saja Papa kalau bicara." Rizky menampik dengan gelengan kepala. "Ini mungkin salah urat saja, kaget karena baru digoyang lagi sudah lama."
"Ah lebay kamu. Baru sebulan setengah doang, apa kabar Papa yang berbulan-bulan."
"Kamu nggak usah ikut, biar aku saja yang antar Rizky, Yan." Guntur mencegah Sofyan yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Lho kenapa memangnya, Pak?"
__ADS_1