Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
173. Tambah seksi nanti


__ADS_3

Mereka yang berada di sana membulatkan matanya, kecuali Nella dan Aji.


Tentu apa yang Nella ucapkan adalah bentuk tak sukanya pada Mitha dan berimbas pada papinya juga. Terlebih dengan apa yang dialaminya sekarang. Nella begitu percaya bahwa ini adalah ulah Mitha dan mungkin saja pria itu ikut-ikutan.


"Nella, kenapa lu bicara seperti itu? Jangan bicara seperti itu sayang," ucap Rizky tak enak hati.


Lantas dia pun bangkit seraya berdiri, kemudian duduk di atas kasur di samping Nella, dan mengelus puncak rambutnya.


Terlihat wajah Nella begitu masam. Bisa dipastikan jika di dalam hatinya menyimpan amarah.


Namun apa yang Nella tuduhkan bukankah bisa menjadi sebuah fitnah? Sebab belum benar kalau itu ulah Mitha.


"Terus apa, Mas? Om Aji pasti kesini disuruh anaknya." Nella memegang lengan suaminya seraya mendongakkan wajahnya. Lalu dia pun kembali menatap Aji yang belum memberikan jawaban sejak tadi. "Iya 'kan, Om? Om disuruh Mitha, kan?"


Aji menggeleng cepat. "Nggak, Om saja baru tahu kamu masuk rumah sakit pas Reymond dan istrinya menghampiri Mamimu. Jadi Om sekalian ingin melihat keadaanmu."


"Om pasti bohong."


"Itu memang benar, Nell," sahut Diana.


Nella kembali menatap wajah Rizky yang sejak tadi menatapnya. "Mas ... aku mau Om Aji pergi dari sini, aku nggak mau bertemu dengannya," ucapnya pelan tetapi mampu didengar oleh Aji.


'Benar kata Mitha, si Nella wanita yang sombong. Masa orang mau menjenguk malah diusir,' batin Aji.


Rizky mengangguk seraya berdiri, lalu berjalan menghampiri Aji. "Pak, apa kita bisa bicara diluar?" tanya Rizky yang mana dianggukan oleh pria itu.


"Mas Rizky nggak boleh pergi!" seru Nella saat melihat suaminya menurunkan handle pintu bersama Aji di sampingnya.


Lantas pria tampan itu menoleh dan menyunggingkan senyum. "Sebentar saja, nggak akan ada lima menit, Sayang."


Nella sudah menganga ingin melarangnya lagi, tetapi Rizky sudah duluan keluar meninggalkan ruangan itu bersama Aji dan disusul oleh Reymond.


"Kamu kok seperti nggak suka sama Om Aji? Kenapa, Nell?" tanya Indah penasaran. Diam-diam dia memperhatikan sikap dan wajah temannya itu.


"Aku nggak suka karena dia Papinya Mitha, Indah."


"Memang kenapa kalau dia Papinya Mitha?"


"Mitha pernah ingin merebut Mas Rizky dariku," jawab Nella kesal.


Indah membulatkan matanya lantaran kaget dengan ucapan Nella. "Masa sih, Nell? Merebutnya bagaimana? Dia menggoda Pak Rizky?"


"Iya, dia memang wanita gatal. Aku benci dengannya."


*


*

__ADS_1


"Maaf ya, Pak. Kalau ada ucapan Nella yang menyinggung," ujar Rizky saat baru saja duduk di kursi panjang bersama Reymond, tetapi Aji masih berdiri.


"Nggak apa-apa, Riz. Om bisa memakluminya. Oya ... nanti kamu kapan-kapan makan lagi ke restoran Om, ya? Om tunggu."


"Iya, tapi aku nggak janji."


Aji tersenyum seraya mengusap bahu kiri Rizky. "Ya sudah ... Om permisi dulu kalau begitu."


"Iya, Om." Rizky mengangguk.


Setelah itu, Aji berlalu pergi meninggalkan mereka berdua yang masih duduk.


"Riz, sepertinya hubungan lu sama Nella jauh lebih baik, ya?" Reymond menepuk paha kiri temannya.


"Alhamdulillah, semuanya nggak sia-sia, Rey." Rizky tersenyum dengan hangat.


"Tapi kenapa lu selalu jarang ada di kantor? Kemarin siang gue ke kantor lu ... tapi lu sudah pulang."


"Ah iya." Rizky mengusap pelan wajahnya. "Semenjak Nella membalas perasaan gue ... gue hampir susah untuk kerja, Rey. Dari kemarin-kemarin dia minta gue untuk berhenti kerja malah."


"Kok begitu? Kenapa?" Alis mata Reymond bertaut.


Rizky terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Nggak tahu gue juga, kadang dia memang aneh dan gue juga nggak ngerti sama jalan pikirannya. Tapi mungkin itu bawaan bayi."


"Lu nggak mau cari CEO buat perusahaan lu? Kata Hersa ... banyak proyek yang ditunda juga."


Reymond manggut-manggut, pandangan matanya seketika mengarah pada benda yang berada di atas kepala Rizky, rasanya aneh saja—tidak biasanya temannya itu memakai benda di atas kepalanya. "Ngomong-ngomong ... sejak kapan lu pakai kupluk?"


Tangan Reymond hendak menarik benda di atas kepala Rizky, tetapi dengan cepat Rizky tepis.


"Jangan pegang!" cegahnya. Rizky tak mau jika temannya itu mengetahui dirinya botak, bisa-bisa nanti—Reymond akan meledeknya.


"Kenapa?"


Rizky menggeleng cepat. "Nggak, gue lagi seneng saja pakai kupluk. Ini atas permintaan Nella juga," jawabnya berbohong.


"Dasar bucin lu." Reymond terkekeh sambil menyenggol lengan Rizky.


*


*


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rizky pada Dokter berambut pendek yang tengah memeriksa keadaan Nella.


Kantong infusan itu sudah berhasil habis dan ini adalah waktu dimana wanita itu pulang. Namun sebelumnya, tentu Dokter harus mengecek keadaannya dulu.


"Nona Nella sudah boleh pulang, tapi besok-besok ... kalau mau mengonsumsi apa pun, harus dicek terlebih dahulu, ya? Supaya tak terulang kejadian seperti ini," terang Dokter yang mana dianggukan oleh Nella dan Rizky.

__ADS_1


"Baik, Dok," jawab Rizky.


"Semoga ibu dan bayinya tetap sehat, kalau begitu saya permisi." Setelah mengelus perut Nella sembari tersenyum, Dokter itu pun berlalu pergi dari kamar inapnya.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa pulang, Nell," ujar Rizky seraya mengecup singkat kening istrinya.


Wanita cantik itu sudah berganti pakaian, memakai baju rajut lengan pendek berwarna merah dan celana bahan panjang berwarna putih.


"Iya, Mas." Nella mengangguk seraya tersenyum.


"Ayok kita pulang." Rizky menarik tangan Nella perlahan untuk turun dari ranjang, tetapi wanita itu malah menahan tangannya sendiri.


"Aku mau digendong sampai mobil," pintanya dengan manja.


"Gendong?" Rizky mengerutkan keningnya, lagi-lagi sikap istri itu aneh dan juga menggemaskan. Tentu Rizky tak akan bisa menolak permintaannya, apa lagi hanya ingin digendong saja. "Boleh, tapi lu malu, nggak?"


"Ngapain malu?"


Disekitar mereka masih ada Diana, tetapi wanita itu seperti tak dianggap kehadirannya. Dia tengah bersedekap dengan bibir yang mengerucut.


"Mau gendong depan atau belakang?" tawar Rizky.


"Belakang."


Rizky pun mengangguk, lalu membelakangi Nella dan membungkuk sedikit. Wanita itu dengan senangnya langsung menangkup punggungnya.


Lantas Diana mengikuti langkah kaki pria tampan itu dengan hati dongkol. Sungguh, dia merasa kesal dan bete berada ditengah-tengah mereka.


'Manja banget si Nella. Padahal jalan juga bisa, ngapain pakai minta digendong segala,' gerutu Diana dalam hati.


"Tubuhku nggak berat 'kan, Mas?" tanya Nella seraya menciumi pundak kiri suaminya.


"Nggak kok, lu 'kan langsing."


"Hanya langsing saja?"


"Maksudnya?"


"Kata Mas dulu, tubuhku indah juga, kan? Kok tadi nggak bilang? Apa sekarang tubuhku jelek, ya?" tanya Nella dengan nada manja.


Rizky terkekeh geli. "Kata siapa? Jelas tubuh lu indah dari dulu sampai sekarang."


"Kalau nanti-nanti bagaimana? Nanti perutnya juga akan buncit, apa aku akan seperti badut, Mas?" Nella menyentuh perutnya sendirian seraya mengusapnya.


"Nggak bakal, malah lu akan tambah seksi nanti."


"Mas serius atau bohong?" tanya Nella tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2