Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
289. Saya khilaf


__ADS_3

"Ah, maafkan saya, Pak. Saya khilaf," ujar Sofyan dengan wajah merah karena malu.


"Khilaf-khilaf, mana ada khilaf di tempat umum!" Pria yang hanya memakai boxer dan memakai kalung dengan liontin peluit itu mendengus kesal sembari berkacak pinggang, dia seperti penjaga pantai di sana.


Hampir semua orang di pantai itu memerhatikan mereka, ada pula yang sampai berbisik-bisik. Sofyan dan Maya yang merasa sangat malu itu lantas berlalu pergi dari sana.


"May, maafin aku, ya? Gara-gara aku kamu jadi malu." Sofyan melihat kedua pipi Maya yang sejak tadi merah, dia berpikir Maya pasti tadi sangat malu.


Benar, wanita itu begitu malu. Tetapi sejak tadi dia terus membayangkan momen ciuman mereka yang hanya sebentar, padahal lagi enak-enaknya, sayangnya salah tempat.


Sofyan menyewa salah satu kamar ganti sekaligus dengan kamar mandi di dalam. Dia tak mungkin mau jika mandi di kamar mandi umum dan pastinya mengantre.


"May, kamu mandi duluan saja. Nanti kunci pintunya, aku mau beli pakaian ganti untuk kita berdua." Sofyan membuka pintu ruangan itu, kemudian mengajak Maya masuk.


"Sabunnya mana Ayank? Masa aku mandi nggak pakai sabun."


"Permisi, Pak." Seorang pria berkumis tebal menghampiri mereka dengan membawa keranjang kecil yang berisi peralatan mandi. Dari mulai shampoo, sabun cair berserta sponsnya, sikat gigi, pasta gigi dan sabun pencuci muka. Dia pemilik kamar ganti yang Sofyan sewa. "Saya lupa memberikan peralatan mandinya, semuanya baru, Pak."


Sofyan tak langsung menerima keranjang yang diberikan oleh pria itu, sebab dia sendiri binggung.


"Tapi aku nggak meminta Bapak belikan peralatan mandi."


Pria itu tersenyum. "Memang nggak, tapi saya berikan ini gratis dan bukan kepada Bapak saja. Tapi semua yang menyewa kamar ganti."


"Oh begitu. Ya sudah terima kasih, Pak." Setelah mendengar penjelasan, barulah Sofyan menerimanya dengan senang hati. Kebetulan memang dia membutuhkannya.


"Maaf kalau mereknya bukan sama yang seperti Bapak atau Nona pakai, tapi semoga saja bisa dipakai. Kalau begitu saya permisi."


Sofyan tersenyum begitu pun dengan Maya, lantas pria itu pergi meninggalkan mereka.


"Nih, May. Pakai yang ada saja dulu, ya? Nanti kalau sampai rumah bisa mandi lagi. Ngilangin air asinnya saja." Sofyan memberikan keranjang itu ke tangan Maya, kemudian dia pergi untuk membeli pakaian.


20 menit Sofyan kembali dengan membawa plastik belanjaannya, dia pun lantas mengetuk pintu kamar ganti tersebut.


Tok ... tok ... tok.

__ADS_1


"May," panggilnya.


Terdengar seseorang tengah membuka kunci pintu tersebut, tetapi dia tak membukakan pintunya.


"Ayank buka sendiri saja, aku nggak pakai apa-apa soalnya," ujar Maya setengah berteriak didalam sana.


Ceklek~


Sofyan membuka pintu, lalu masuk. Dan setelah itu dia kunci lagi pintunya.


Mata Sofyan sontak membulat tak kala melihat tubuh polos istrinya yang tengah berdiri dibalik pintu tadi, seluruh kulitnya basah dan air pada ujung rambut panjangnya pun menetes ke lantai. Maya terlihat begitu seksi dan menggoda imannya, sesuatu di dalam sana pun langsung berkedut.


Cepat-cepat Sofyan mengambil handuk di dalam plastik, lalu memberikan pada istrinya.


"Keringkan tubuhmu, May. Nanti setelah itu pakai baju. Aku beli baju untuk kita dengan model yang sama, tapi ukuranmu yang lebih kecil."


Bukannya menerima handuk dan memakainya, Maya justru tiba-tiba saja memeluk tubuh Sofyan. Dan membuat pria itu kaget hingga plastik dan handuknya jatuh ke lantai.


"Lho, kok peluk aku? Aku bau asin. Kamu 'kan habis mandi?" tanya Sofyan heran. Niat ingin mendorong tubuh Maya supaya melepaskan pelukan, akhirnya Sofyan urungkan. Sebab dia merasakan kedua gunung kembar Maya begitu kenyal menempel, rasanya sayang jika dilepaskan begitu saja. Apa lagi wanita itu sangat wangi.


"Apa kita bisa itu, Ayank?" tanya Maya pelan. Namun, suaranya terdengar begitu seksi dan manja. Telinga Sofyan sampai gatal mendengarnya, tidak biasanya Maya bicara dengan nada seperti itu.


"Itu. Eemm ... apa bisa sekarang saja, jangan tunggu nanti malam?"


"Maksudnya?"


"Itu lho, Ayank. Masa Ayank nggak ngerti." Maya mendongakkan wajahnya ke atas, lalu memandangi wajah Sofyan. Kening pria itu mengerut seperti binggung. Kedua pipi Maya begitu merah seperti udang rebus.


"Ya apa? Kamu kalau bicara kadang suka membinggungkan. Intinya saja apa?"


"Eemmm ...." Maya menelan saliva, lalu menggeleng cepat. Kedua pipinya tambah merah saja dan rasanya dia malu untuk jujur. "Maksudnya aku laper, Ayank. Aku mau cepat-cepat makan makanan laut."


Setelah itu Maya melepaskan tubuh Sofyan, kemudian memungut handuk dan melilitkan sampai di atas dada.


"Oh ...." Sofyan terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Tentang makanan? Iya, kita akan makan kok. Sebentar ... aku mandi dulu, ya? Habis itu kita makan." Sofyan mengambil handuk di dalam plastik, kemudian masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Maya berdiri membeku menatap punggung Sofyan yang sudah menghilang, entah mengapa ada rasa kecewa di hatinya. 'Ayank nggak peka banget, sih? Masa nggak ngerti apa yang aku mau.'


Maya mendengus kesal, lalu dia pun duduk lesehan dan mengambil semua pakaian di dalam plastik hitam itu. Ada stelan panjang berwarna hijau tosca. Modelnya sama, dan dia mengambil yang ukuran kecil.


Namun, anehnya Maya tak menemukan pakaian dalam. Baik itu miliknya atau milik Sofyan.


"Lho, kok Ayank nggak beli daleman? Apa lupa?" Monolog Maya. Didetik berikutnya entah mengapa tiba-tiba saja terlintas pikiran kotor diotaknya, pikiran kotor tentang maksud dari apa yang suaminya itu beli. "Oh, apa mungkin Ayank Sofyan sengaja? Membeli pakaian tapi nggak sama dalemannya juga? He ... he ... he."


Entahlah, sekarang Maya malah cekikikan sendiri membayangkan ketika Sofyan memakai celana berbahan kaos itu tanpa cd. Apa lagi dia sendiri tahu betapa besarnya milik Sofyan.


*


*


Tak lama pintu kamar mandi itu dibuka oleh Sofyan yang baru selesai mandi dan memakai lilitan handuk di atas pinggang.


"Ayank kok mandinya cepat banget? Nggak bersih, ya?" tanya Maya. Dia sudah memakai pakaian dan duduk selonjoran sambil menatap Sofyan yang baru saja berjongkok untuk mengambil pakaian.


"Enak saja, ya bersih atuh, May. Tapi aku nggak suka sama airnya." Sofyan menyingkap setelan bajunya, lalu matanya berkeliling seperti mencari-cari sesuatu.


"Kenapa memangnya? Asin?"


"Iya, asin. Tenyata air pamnya juga asin, mungkin terserap air laut kali, ya?"


"Mungkin."


"Eh, ngomong-ngomong ... kamu lihat cd aku nggak, May?"


"Cd apa? Aku nggak lihat cd dari tadi." Maya menggeleng.


"Pas kamu buka plastik putih, ada plastik hitamnya nggak?" tanya Sofyan binggung.


Maya menggeleng lagi. "Nggak ada, cuma itu doang. Bukannya Ayank sengaja nggak beli daleman, ya?" tebak Maya sambil terkekeh.


"Aku beli kok, tapi itu punyamu ada 'kan, ya? Kok punyaku nggak ada sih, May? Apa jatuh, ya?"

__ADS_1


"Punyaku apa? Aku juga nggak pakai daleman." Maya menyingkap kaosnya hingga memerlihatkan bukit kembarnya, dan sontak membuat Sofyan terbelalak. "Kenapa Ayank? Kok kayak kaget gitu? Apa jangan-jangan Ayank ...."


"Sepertinya memang jatuh, May," potong Sofyan cepat, lalu menjambak rambutnya dengan frustasi. Dia mencari celana dallam itu cukup lama tadi, dan yang Sofyan cari tentu yang berbahan bagus. "Ah sial banget! Masa iya nggak pakai daleman? Gondal gandil, dong!" gerutunya kesal.


__ADS_2