Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
68. Muntah sendirian


__ADS_3

Sekitar lima menit, pijatan yang Rizky lakukan sembari menonton video akhirnya berada dititik puncaknya. Cepat-cepat Rizky bangun supaya larva putihnya tidak muntah di dalam air.


"Aaahhh ...," desahnya dengan deru nafas yang tersengal-sengal. Senjata pamungkas Rizky mulai mengecil, tidak menegang seperti tadi dan membuatnya tersiksa. Tetapi kepuasaan itu terasa hampa, tidak seperti pemeran yang ada di dalam video. "Kapan gue merasakan hal itu lagi sama Nella? Gue bosen muntah sendirian," keluh Rizky dengan sedih.


Tiga puluh menit sudah dia berendam, akhirnya Rizky keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di atas pinggang. Tak lama suara ketukan pintu terdengar.


Tok ... tok ... tok.


"Sebentar, Bi. Aku pakai baju dulu!" ujar Rizky setengah berteriak. Dia membuka lemari dan mengeringkan tubuhnya sebentar, lalu memakai kaos putih polos lengan pendek dan celana boxer berwarna hitam.


"Masuk, Bi." Rizky mendudukkan bokongnya di atas kasur, punggungnya menyender pada ranjang dan kakinya selonjoran.


Ceklek~


Pintu itu dibuka, tetapi bukan Bibi yang datang, melainkan Nella. Mata Rizky langsung membulat sempurna, kaget bercampur senang.


"Nella." Rizky melihat Nella berjalan mendekatinya sambil membawa segelas susu putih di atas nampan, ada salep juga di atasnya.


'Kok dia yang datang? Bukannya aku menyuruh Bibi?' batin Rizky.


...(Flashback On)...


Setelah sampai di kamarnya, Nella langsung merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai di atas dada. Matanya mulai dia pejamkan, tapi sudah beberapa menit berlalu mata itu tak kunjung tertidur.


Sikap aneh Rizky yang tak biasa seolah tergantung di saraf otaknya. Nella terus memikirkannya.


"Kenapa Pak Rizky begitu aneh? Dia juga sekarang sedikit alim." Nella membuka matanya dan bangkit untuk duduk. "Oya, dia bilang bahunya pegal, apa aku pijat saja?"


Nella terdiam sejenak sampai akhirnya dia menggeleng cepat. "Ngapain aku memijatnya? Dia saja bilang nggak jadi. Lagian ... nanti ngelunjak," tukasnya. "Ah tapi, aku punya salep pereda nyeri, mungkin dia bisa memakainya."


Nella membuka laci di bawah nakas, dia mengambil salep kemudian berdiri dan melangkahkan keluar dari kamar.


Tepat di depan kamar Rizky, Bibi pembantu datang sambil membawa nampan. Gegas dia berjalan cepat menghampirinya, sebelum Bibi mengangkat tangan untuk mengetuk pintu.


"Bibi, biar aku saja yang mengantarnya," ucap Nella seraya mengambil nampan itu dan meletakkan apa yang dia bawa di atasnya.


"Iya, Nona."


"Oh iya, Bi. Bibi ambil salep Bibi, aku juga punya salep." Nella menaikkan dagunya ke arah benda yang dimaksud, lantas Bibi mengambil salep miliknya dan berlalu pergi meninggalkan Nella.


...(Flashback Off)...


Nella meletakkan gelas itu di atas nakas dan memberikan salep pereda nyeri yang berbentuk seperti pasta gigi pada Rizky. "Ini salepnya, aku biasa pakai ini kalau tubuhku pegal-pegal, Mas."


Rizky menerimanya sambil tersenyum, jangan lupakan jantungnya yang tiba-tiba kembali berdebar. "Terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama." Nella tersenyum.


Rizky membuka salep itu dan memencetnya tepat diujung jari. Perlahan dia mengolesi kedua bahunya dan sesekali memijatnya.


"Apa Mas Rizky perlu obat? Aku bisa minta sama Opa obat nyeri otot."


Rizky menggeleng cepat. "Nggak, ini sudah cukup. Gue nggak suka minum obat." Rizky memberikan lagi salep itu, tapi Nella menggerakkan tangannya seakan menolak.


"Mas Rizky pakai saja, siapa tahu perlu."


Rizky mengerutkan kening, sikap Nella semakin hari semakin hangat saja. Tetapi justru membuatnya binggung.


'Kok Nella baik banget sih? Kenapa dia? Apa jangan-jangan mama sudah pelet dia tanpa sepengetahuan gue? Bahaya juga.'


Ingatan tentang tindakan konyol sang mama langsung terlintas begitu saja dalam pikirannya. Rasanya Rizky tak rela jika kebaikan Nella diakibatkan guna-guna Mbah Yahya.


"Oya, Nell. Gue mau ngajak lu pergi besok malam. Adik gue nikah, apa lu bisa pergi sama gue?"


"Bisa." Tanpa berpikir lagi, Nella langsung mengiyakannya.


"Nanti gue jemput lu pas pulang kerja dan kata mama ... dia mengirim pakaian untuk kita, apa sudah sampai?"


"Sudah, tadi aku yang menerimanya."


"Iya. Ya sudah ... aku mau kembali ke kamar, Mas."


"Selamat malam Nell."


Ucapan Rizky membuat Nella yang baru melangkah langsung terhenti, wanita itu menoleh padanya dan tersenyum. Kemudian Nella pun keluar dari kamar Rizky dan menutup pintu.


Setelah segelas susu itu dihabiskan, Rizky membaringkan tubuhnya sambil memeluk salep dari Nella, hatinya seakan dipenuhi kebun bunga.


"Nella kalau senyum tambah manis, apalagi kalau bibirnya gue kecup."


Sekilas bayangkan mereka yang tengah ciuman langsung terlintas, namun gegas Rizky mengusap wajahnya. Bisa-bisa miliknya kembali tegang jika mengingat hal-hal seperti itu. "Lebih baik gue tidur deh, selamat malam Nella cantik," ujarnya sambil memejamkan mata.


***


Keesokan harinya.


Nella baru saja sampai di restoran. Tepat di dalam ruangannya dia sedang duduk di kursi putar miliknya dan mencoba untuk menghubungi Indah.


Sejak dari kemarin-kemarin Nella tidak jadi mengajak Indah pergi, banyak sekali hal yang dia lakukan. Mungkin sekarang diwaktu yang menurutnya senggang, Nella bisa mengajak Indah pergi.


"Halo, pagi Indah," sapa Nella saat sambungan itu diangkat dari seberang sana.

__ADS_1


"Pagi, Nella. Ada apa?" tanya Indah.


"Apa hari ini kamu sibuk?"


"Nggak, memang kenapa?"


"Aku ingin mengajak kamu pergi ke mall."


"Wah benarkan?" Suara Indah terdengar begitu antusias. "Tapi nanti nggak jadi lagi."


"Nggak, kali ini beneran jadi. Tapi anakmu bagaimana? Kalau repot bisa diajak."


"Nanti Caca dan Bayu aku titip ke Mama Santi, kamu tenang saja. Oya ... jam berapa kita ke Mall? Apa sekarang?"


Nella menatap jam tangan yang berada dipergelangan tangannya, menunjukkan pukul 10 pagi. "Boleh deh, kita juga pasti lama berkeliling. Nanti kita sekalian makan siang bareng, ya?"


"Oke, kamu jemput aku atau aku ke rumah Opa Angga?" tanya Indah.


"Aku jemput kamu, aku berangkat sekarang."


"Hati-hati, aku mau siap-siap sekarang."


"Iya." Setelah mematikan sambungan telepon, Nella bangkit dari duduknya dan menenteng tas jinjing miliknya.


***


Sementara itu di kantor Rizky, seseorang yang berada diluar tengah mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk!" pekiknya dari dalam.


Orang itu menurunkan handle pintu dan membukanya, ternyata dia adalah Reymond.


"Hei Riz, sibuk lu?" Reymond berjalan masuk dan duduk di atas sofa. Dia tadi sempat melihat Rizky tengah sibuk menatap layar laptopnya, sebelum menatap ke arahnya.


"Eh elu, Rey. Perasaan kita nggak ada meeting, kok lu ke sini?" Rizky mengerutkan kening. Lantas dirinya bangkit dari duduk dan berpindah posisi duduknya di sofa, di samping Reymond.


"Memang nggak ada, gue cuma mau mampir saja sekalian nanya hubungan lu sama Nella. Gimana? Ada perkembangan nggak?" tanya Reymond penasaran.


Rizky menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya di penyangga sofa. "Lumayan Rey, gue sekarang tinggal lagi di rumah Opanya menjelang perceraian."


"Bagus deh kalau gitu, gue ikut senang. Oya ... lu mau pergi ke mall nggak?" tanya Reymond seraya bangkit dari duduk sambil membereskan jas.


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...

__ADS_1


__ADS_2