
"Gue nggak sibuk," jawab Rizky sambil tersenyum. Ia tau niat Nella pasti tak ingin mengajaknya, namun justru Rizky ingin ikut, ia juga mau melihat Nella memasak dan juga memakan masakan buatannya.
"Tuh, Rizky bilang nggak sibuk, kita pergi sama-sama saja kalau begitu," timpal Gita seraya merangkul bahu Nella, mengajaknya untuk masuk ke mobilnya.
Si*lan banget si Rizky, dia seperti sengaja' umpat Nella dalam hati.
"Kita pergi naik mobilku saja, Mah. Biar aku yang menyetir." Rizky mencegah Nella yang baru saja hendak masuk saat pintu mobil itu dibukakan oleh sopirnya Gita.
"Sama Pak Jaja saja, biar kamu nggak capek menyetir, Riz!" perintah Gita.
Rizky tentu tak merasa keberatan, namun berbanding terbalik dengan Nella. Wanita itu begitu keberatan lantaran sekarang ia duduk bersama Rizky di kursi belakang mobil. Sedangkan Gita, ia duduk di kursi depan di samping sopir.
"Bagaimana bulan madunya? Ke mana saja kalian?" tanya Gita yang masih penasaran dengan anak dan menantunya itu.
"Kita nggak kemana-mana, Mah. Nella 'kan saat itu sakit," jawab Rizky seraya menoleh pada Nella yang baru saja memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Benar juga, ya. Ya sudah, kapan-kapan kamu dan Nella bisa bulan madu lagi."
"Menurutku itu nggak usah, Mah. Lagian ... aku dan Pak Rizky juga sama-sama bekerja," sahut Nella tanpa menoleh.
Gita melihat mereka dari kaca depan mobil, terlihat sekali mereka begitu menjaga jarak saat duduk bersebelahan. Lebih tepatnya Nella yang terlalu menyempil di pintu.
Aku kira, setelah Rizky dan Nella melakukan malam pertama ... sikap Nella sudah berubah pada Rizky. Tapi justru sama saja. Aku jadi makin penasaran, alasan Rizky bisa menyentuh menantuku.
Apa jangan-jangan Rizky memperk*sanya? Kalau iya, apa nggak terdengar sadis? Nella 'kan masih gadis. Dia pasti merasa sakit jika bercinta dengan cara diperk*sa.
"Oya, Mamah sudah belikan kamu obat subur di apotek, Riz. Nanti kamu minum sehari sekali saja." Gita memutar tubuhnya ke belakang seraya memberikan plastik kresek kecil berwarna putih pada Rizky. Rizky langsung menerimanya, ia melihat sebentar obat itu kemudian mengantonginya pada saku jas merah maroon yang ia kenakan.
Gue yakin, meskipun tanpa obat subur ... gue bisa menghamili Nellla' batin Rizky.
"Mah, apa seorang wanita yang minum pil KB bisa hamil?" tanya Rizky tiba-tiba yang mana membuat Nella membulatkan netranya, namun ia masih fokus melihat ke arah jendela.
Kenapa Rizky tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan dia tau aku minum pil KB?' batin Nella.
"Tentu bisa," jawab Gita.
"Caranya?"
"Suruh dia berhenti minum, kau ini bodoh sekali, Riz!"
"Kalau wanitanya nggak mau bagaimana, Mah?"
__ADS_1
"Ya nggak bakal bisa. Memang siapa yang di KB? Nella?" terka Gita.
"Aku nggak tau." Rizky menoleh pada Nella seraya mengelus rambutnya. "Lu nggak di KB, kan?"
"Mamah mau punya cucu dari kalian, kamu jangan di KB sayang," tambah Gita.
Nella menoleh pada Rizky, menatap pria itu yang tengah tersenyum manis padanya. "Aku nggak KB, kok," jawabnya berbohong.
Rizky mendekatkan bibirnya pada telinga kiri Nella. "Gue tau lu bohong, gue tau lu minum pil KB," lirihnya berbisik. Seketika itu pun, Nella membulatkan netranya.
Aku ketahuan, bagaimana ini?' batin Nella dengan netra membola.
Rizky merangkul bahu Nella dan mencium pipinya, kembali ia berbisik. "Gue akan kasih tau Mamah gue sekarang juga dan Papah lu."
"Jangan!" cegah Nella seraya memegangi tangan Rizky yang baru saja masuk ke dalam saku jas, hendak mengambil ponselnya.
"Kalian ini kenapa?" Gita sedari tadi memperhatikan tingkah anak dan menantunya dari kaca depan, merasa penasaran sebab suara mereka tak sampai pada telinganya.
Rizky dan Nella melihat ke arah Gita secara bersamaan.
"Boleh nggak berhenti sebentar? Ada yang perlu aku bicarakan dengan Nella, Mah," pinta Rizky.
"Tentu boleh." Gita mengangguk. "Berhentikan mobilnya, Pak," titahnya pada sang sopir.
Mereka berjalan agak menjauh, supaya Gita yang berada di dalam mobil tak mampu mendengar ucapan mereka.
Rizky bersedekap seraya berkata, "Lu mau gue tutup mulut?"
Nella mengangguk cepat. "Iya."
"Tapi ada syaratnya," ucapnya seraya tersenyum menyeringai. Ide di dalam otak Rizky tiba-tiba saja muncul, ini adalah kesempatan untuknya.
"Syarat apa?"
"Kita bercinta setiap hari."
Deg!
Nella terbelalak. "Bapak gila? Aku nggak mau!" Nella menggeleng cepat.
"Gue tau lu nggak akan mau. Tapi gue nggak peduli, gue mau kita bercinta."
__ADS_1
"Kenapa harus itu syaratnya?"
"Kenapa? Lu keberatan? Meskipun kita bercinta setiap hari, lu nggak bakal hamil anak gue."
Yang terpenting sekarang gue bisa menyentuh lu tiap hari. Gue mau lu selalu ingat gue' batin Rizky.
Nella terdiam dan mulai mencerna permintaan Rizky. Tapi entah syarat itu akan menguntungkan untuknya atau tidak. Namun yang jelas sekarang, Rizky bisa menutup mulutnya.
Yang penting aku harus minum pil KB setiap malam, aku nggak akan hamil anak Rizky meskipun dia menyentuhku setiap hari. Ya ... itu benar' batin Nella.
"Tapi Bapak harus berjanji juga, jangan sampai ada yang tau aku minum pil KB," pinta Nella.
"Oke, tapi lu harus memakai lingerie setiap malam, sebelum kita bercinta. Gue juga nggak mau dengar penolakan disesi kita bercinta, gue mau lu juga menikmatinya."
Menikmati katanya? Nggak sudi' batin Nella.
"Lu setuju nggak?" Rizky mengulurkan tangannya ke depan Nella. "Kalau lu menuruti ucapan gue, gue juga akan menuruti ucapan lu."
Rasanya tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya. Nella lantas menjabat tangan Rizky. "Deal!"
"Oke, kita langsung melakukannya saat lu selesai datang bulan." Setelah mengatakan hal itu, Rizky merangkul bahu Nella, mengajaknya untuk masuk ke mobil.
Berarti nanti malam dong? Nanti malam dia akan menyentuhku lagi?' batin Nella.
"Ada masalah apa kalian?" tanya Gita saat melihat Rizky dan Nella baru saja masuk.
"Hanya masalah sepele kok, Mah," jawab Rizky.
"Benar hanya sepele?" tanya Gita kembali untuk memastikan.
"Iya, Mah," jawab Rizky.
***
Sampainya di pusat perbelanjaan yang cukup besar dan ramai, mereka bertiga turun dari mobil. Lantas masuk bersama-sama.
"Ambil troli, Riz!" perintah Gita seraya menunjuk beberapa troli yang berjejeran di dekat pintu utama saat mereka masuk.
"Maksud Mamah aku yang membawanya selama kalian belanja?" tanya Rizky menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Ya iyalah, kalau bukan kamu terus siapa?" Gita mengedikkan dagunya. "Kamu tega kalau Nella atau Mamah yang membawanya?"
__ADS_1
Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!
Yuk follow IG Author: @rossy_dildara