Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
32. Tergila-gila padamu


__ADS_3

"Papah marah padaku? Maafkan aku, Pah. Aku nggak berhasil menemukan Nella." Rizky jadi merasa bersalah, itu membuatnya tak enak hati. Belum lagi ia mengingat plototan Sofyan saat di kantor, terus terbayang pada angan-angannya.


"Papah tidak marah padamu, Papah marahnya sama Nella. Sudah kau pulang saja dari Hotel, kemasi barang-barangmu dan Nella, lalu antarkan ke rumah Papah."


"Aku tinggal di rumah Papah?"


"Iya, kau dan Nella tinggal di rumah Papah."


Kok tinggal di sana? Berarti sama Diana juga, dong? Ah--gue tidak mau' batin Rizky.


"Aku dan Nella tinggal di rumah aku saja, Pah."


"Jangan, Nella perlu Papah awasi juga. Sementara saja kau dan Nella tinggal di rumah Papah. Kalau hubunganmu dan Nella sudah membaik, kalian bisa tinggal berdua di rumahmu," papar Sofyan.


"Oh ya sudah deh." Rizky menutup sambungan telepon. Setelahnya, ia kembali mengemudi menuju arah Hotel.


***


"Kita mau kemana Nona?" tanya sang sopir taksi saat Nella sudah masuk dan duduk di kursi belakang.


"Jalan dulu saja, Pak."


"Baik." Sopir itu langsung mengemudi.


Nella memencet tombol yang berada di samping ponselnya, namun dirinya baru ingat kalau saat ini ponselnya lowbat dan belum sempat ia isi daya.


Di dalam perjalanan yang entah arah tujuan, Nella memandangi jalan raya pada jendela. Tiba-tiba ia melihat seorang pria yang memakai motor gede berwarna hijau, tepat berada di samping mobil yang ia tunggangi.


Meskipun pria itu memakai helm, namun nyatanya Nella mengenalinya. Segera ia turunkan kaca mobil, sebelum pria itu berhasil menyalip mobil taksi.


"Kak Ihsan!" panggil Nella setengah berteriak dan lambaian tangan.


Pria itu langsung menoleh dan memberhentikan motornya di sisi jalan raya.


"Pak, berhenti di sini," ucap Nella pada sopir yang langsung memberhentikan mobilnya.

__ADS_1


Setelah membayar ongkos taksi, Nella turun dari mobil. Lantas dirinya menghamburkan pelukan pada sang kekasih yang sudah melepaskan helm dan berdiri menunggunya.


"Kakak, aku kangen Kakak," ucap Nella sambil memeluk erat tubuh kekar Ihsan, rasanya ia begitu rindu, sudah beberapa hari tak bertemu.


Ihsan langsung mencium kening Nella, tangannya mengelus sebentar pucuk kepala wanita itu. "Aku juga kangen kamu, Cantik. Tapi kok, kamu ada di sini? Bukannya kamu bilang ada di Hotel?"


Nella melepaskan pelukannya, ia segera menarik lengan Ihsan menuju motornya. "Kak, kita pergi dari sini."


"Pergi dari sini? Pergi kemana?"


"Aku ingin kita meninggalkan Jakarta, Kakak bawa aku pergi. Aku nggak tahan hidup seperti ini." Nella mengambil helm yang berada di spion, segera ia pakaian pada kepala Ihsan.


"Tapi kita nggak bisa pergi gitu aja, Nell." Ihsan menggeleng samar.


"Kenapa? Kenapa Kakak nggak pernah mau mengajakku pergi? Padahal aku ingin kita selalu bersama, apa Kakak nggak mencintaiku? Kakak nggak mau hidup denganku?" Nella memegangi dadanya yang sudah tersimpan banyak sekali rasa kesal, netranya berkaca-kaca. Kalau saja Ihsan mengajak kawin lari dari dulu, mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi. Itu hal yang saat ini terbesit dalam benaknya.


Ihsan kembali memeluknya, saat tau tetesan air mata itu terjatuh pada pipi sang kekasih. Ia paham situasi apa yang Nella hadapi sekarang. "Aku sangat mencintaimu. Kalau aku nggak cinta ... aku nggak akan melamarmu, Cantik. Aku ... aku bisa saja membawamu pergi saat ini, tapi bagaimana tentang statusmu? Kamu sudah menjadi istri orang, aku nggak bisa sembarangan bawa pergi kamu begitu saja."


"Tapi hatiku hanya untuk Kakak. Aku nggak peduli akan statusku."


"Aku ingat, Kak. Tapi aku nggak tahan hidup dengan Rizky, aku benci sama dia."


"Jangan terlalu membenci dia. Bersikaplah biasa saja, yang terpenting kamu jangan sampai mencintainya."


"Itu nggak akan."


"Oya, aku ada kabar gembira buat kamu, Cantik." Ihsan melepaskan pelukan dan menyeka air mata pada kedua pipi kekasihnya.


"Kabar baik apa, Kak?"


Ihsan membuka resleting tas selempang yang sedari tadi berada di dadanya, kemudian ia mengambil 100 lembar brosur dan memperlihatkan pada Nella. "Ini, coba lihatlah."


Nella mengambil satu brosur tersebut dan ternyata isinya adalah brosur bengkel Irwan, ajang promo untuk memperbanyak pelanggan yang datang.


"Nanti aku akan suruh juniorku sebarin brosur ini, supaya bengkel Om Irwan tambah ramai dan tentunya aku bisa mendapatkan banyak uang, Nell." Ihsan menarik senyum, ia terlihat sangat antusias dengan niatnya.

__ADS_1


"Begitu ya, Kak. Emm ... ya sudah, bagi aku beberapa lembar." Nella bukan hanya mengambil beberapa lembar, namun setengah dari brosur tersebut.


"Kamu untuk apa?"


"Nanti aku akan memberikan pada pelanggan di Restoran, siapa tau mereka mau mampir ke bengkel Kakak." Mungkin niat Nella adalah ingin membantu. Iya, kalau Ihsan sukses nanti. Cita-citanya untuk hidup bersama akan terwujud.


"Nggak usah, Cantik. Kamu nggak perlu repot-repot membantuku, biar aku sendiri saja." Ihsan hendak mengambil brosur yang berada di tangan Nella, namun tangan wanita itu menggeser hingga tak bisa diraih oleh Ihsan.


"Nggak repot kok, nanti aku tinggal menyuruh para pelayan saja, Kak. Aku juga ingin membantu Kakak, supaya Kakak cepat-cepat bisa mengambilku dari tangan Rizky," ucapnya dengan semangat.


"Ya sudah deh, tapi terima kasih banyak, ya?" Ihsan menyentuh pipi kiri Nella dan mengecup bibirnya singkat. "Kamu memang wanita yang sempurna, aku begitu tergila-gila padamu, Cantik."


"Aku juga tergila-gila sama Kakak," jawabnya dengan pipi yang sudah bersemu merah. Hatinya terasa hangat dan kembali berbunga.


"Jadi kamu mau kemana? Mau aku antar pulang?" tawar Ihsan.


"Berhubung kita sudah ketemu dan sudah lama baru ketemu lagi, kita jalan-jalan dulu saja, Kak." Nella menaruh brosur tersebut ke dalam tas branded miliknya, supaya tidak ada yang jatuh.


"Boleh, jalan-jalan kemana?"


"Eemm ...." Nella sedang berfikir, namun tiba-tiba perutnya langsung berbunyi. Ia juga sempat melihat jam pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 1 siang, sudah lewat jam makan siang. "Kita makan bareng dulu saja, Kak. Aku laper." Nella memegangi perutnya yang datar.


"Oke, mau makan apa dan di mana?"


"Aku lagi kepengen bakso, Kak."


"Ya sudah, kita cari penjual bakso. Kamu naiklah." Ihsan lebih dulu naik ke atas motor dan tak lama Nella juga naik.


Nella mendekap Ihsan dari belakang saat motor itu melaju dengan kecepatan sedang. Dan untuk saat ini, Nella ingin melupakan tentang statusnya yang sudah menikah. Ia ingin bersenang-senang dengan Ihsan seperti biasa yang ia lakukan dulu.


"Kakak, aku mau makan bakso ditempat biasa," panggil Nella setengah berteriak.


"Oke kita ke sana."


Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️

__ADS_1


__ADS_2