Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
140. Aku mau jadi teman


__ADS_3

"I love you too, Mas," jawab Nella sembari menatap layar ponselnya. Setelah menaruh ponselnya di tempat semula, dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


***


"Mbak baru bangun, ya," ucap Wulan saat melihat Nella keluar dari kamar tamu.


Wanita cantik itu terlihat begitu rapih, memakai celana jeans berwarna biru dan kemeja kotak-kotak hitam putih. Juga menenteng tas jinjingnya.


"Iya. Maaf banget tadi sore aku ketiduran, jadi nggak sempat melihat si kembar bangun."


"Iya, nggak apa-apa. Bisa lain kali, Mbak. Sekarang mereka juga sedang tidur lagi."


"Bayi memang suka sekali tidur, ya. Ya sudah ... aku pamit mau pulang. Nanti koper Mas Rizky diambil sama asistennya, ya."


"Mbak nggak makan dulu? Baru bangun, kan?"


"Terima kasih, tapi aku mau makan sekalian di restoran saja. Soalnya aku sudah lama nggak berangkat kerja."


"Oh, ya sudah ... nanti Pak Indra yang mengantar Mbak saja kalau begitu," tawar Wulan.


Nella menggelengkan kepala. "Nggak usah, di depan ada asistennya Mas Rizky yang sudah menunggu. Aku pergi sekarang, ya."


"Iya, hati-hati Mbak."


Nella mengangguk, lantas dia berjalan menuruni anak tangga sampai keluar dari rumah Rio.


Melihat kedatangan Nella yang sudah melangkah ke arah mobil, gegas Hersa membukakan pintu belakang mobilnya.


"Selamat pagi menjelang siang Nona Nella," sapanya sambil tersenyum.


"Pagi menjelang siang juga, Pak. Eemm ... Pak Hersa tolong antarkan aku ke restoran tante, ya," pinta Nella seraya masuk ke dalam mobil lalu duduk.


"Baik Nona." Setelah menutup pintu, Hersa masuk ke kursi depan lalu mengemudi.


"Koper Mas Rizky tolong diambil juga nanti ya, Pak di rumah Rio," pinta Nella lagi.


"Iya, Nona." Hersa sesekali memperhatikan Nella dari spion depan mobil, terlihat wanita cantik itu sedang bercermin pada kaca bedaknya sembari membereskan rambutnya.


'Nona Nella semakin hari semakin cantik saja,' batin Hersa.


"Nona maaf, apa saya bisa bertanya sesuatu?"


"Bicara saja, Pak."


"Apa di restoran tantenya Nona ada opor ayam?"


"Ada, Bapak tinggal pesan saja nanti."


Berbeda dengan Hersa yang sesekali melihatnya dari kaca spion mobil, Nella justru sibuk dengan dirinya sendiri. Membereskan make up dan rambut sejak tadi, dia merasa rambutnya tambah panjang dan tak selembut dulu.


Jika diingat, dia sudah lama sekali tak mengunjungi salon.

__ADS_1


'Sepertinya aku harus pergi ke salon, aku harus selalu terlihat cantik di mata Mas Rizky,' batin Nella.


"Apa di sana opornya sama seperti opor saat Nona mengirimkan untuk Pak Rizky?" tanya Hersa lagi.


"Maksudnya bagaimana?" Nella menyudahi aktivitasnya lalu melihat ke arah depan, tetapi tak melihat Hersa di spion, melainkan jalan raya.


"Maksud saya resepnya, apa sama?"


"Sama, Pak. Hanya saja kemarin yang aku kirim buatanku sendiri, kalau di restoran buatan chef."


"Nona belajar memasak dari kapan?"


Entah mengapa Hersa merasa nyaman berkomunikasi dengan Nella, dia juga merasa kagum sebab Nella benar-benar wanita sempurna menurutnya.


"Aku nggak ingat, tapi memang sejak kecil aku sering membantu almarhumah mama memasak, mungkin dari situ belajarnya."


"Berarti mama Nona juga pintar memasak, ya?"


"Iya, mama pintar memasak." Nella mengulum senyum, seketika dia mengingat momen indah saat bersama mama tercintanya, tetapi sayangnya tak bisa terulang kembali.


Tak terasa perbincangan mereka berakhir saat mobil hitam itu terparkir di depan restoran. Sebelum Nella turun, Hersa lebih dulu turun untuk membukakan pintu mobil untuknya.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama. Eemm ... Apa mau saya tunggu sampai pulang, Nona?" tawar Hersa.


"Nggak sudah, Pak. Aku bisa naik taksi." Nella tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam restoran.


*


*


Seorang wanita yang semula duduk kini berdiri saat melihat kedatangan Nella yang tepat menghentikan langkahnya di depan mejanya.


Nella pun yang mengetahui siapa wanita itu lantas memutar bola matanya dengan malas. 'Mitha, mau apa dia ke sini?' batinnya.


Rasanya malas untuk menjawab ucapan dari wanita itu. Dia ingin langsung pergi sebenarnya, tetapi lengannya tiba-tiba saja di pegang oleh Mitha.


"Mbak tunggu dulu, kok main pergi begitu saja, sih." Mitha mendengus kesal saat melihat sikap acuh tak acuh dari wanita cantik itu, jelas sekali Nella seperti tak suka akan kehadirannya.


"Kamu mau apa? Aku banyak kerjaan." Nella menepis kasar tangan Mitha pada lengannya.


"Aku hanya ingin bicara sama Mbak Nella," ucapnya dengan wajah memelas.


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama," jawab Nella terpaksa.


Sebenarnya malas, tapi ada rasa tak enak dalam hati Nella. Dia pun memutuskan untuk duduk bersama wanita itu sekalian memesan sandwich dan susu hangat, sebab perutnya masih kosong sejak pagi.


"Apa kemarin salad buah dariku sudah Mbak makan?" tanya Mitha seraya menyedot jus mangga yang berada di depannya melalui sedotan.


"Salad buah? Kapan kamu mengirim salad buah?"

__ADS_1


Nella mengerutkan keningnya. Jelas dia tidak tahu lantaran kemarin pergi dengan Rizky tanpa bertemu dengan Bi Yeyen. Salad yang awalnya berada di tangan satpam kini sudah diserahkan oleh Bi Yeyen, namun belum sampai ke tangannya.


"Kemarin, aku 'kan datang ... tapi Mbak Nella nggak bisa bertemu denganku. Jadi aku titip saladnya pada satpam depan. Memangnya Mbak belum menerimanya?"


Nella menggelengkan kepala. "Belum."


"Padahal itu aku yang buat lho, Mbak. Sebagai permintaan maaf."


"Oh, terus kemarin kamu ada perlu apa menemuiku? Hanya ingin mengantar salad buah dan minta maaf?"


"Iya." Mitha mengangguk semangat. "Aku juga mau kita berteman."


"Berteman?" Nella mengerutkan keningnya sembari menatap binggung wajah Mitha. Wanita itu terus saja tersenyum memandanginya, tetapi Nella tak yakin jika senyuman itu adalah tulus. "Untuk apa?"


"Kok Mbak tanya untuk apa? Memangnya Mbak nggak punya teman selama ini?"


"Enak saja, tentu aku punya."


"Aku mau jadi teman Mbak Nella sekarang. Oya ... Mbak pulang kerja sampai jam berapa?"


"Mau apa tanya-tanya?" ucap Nella ketus.


"Aku mau mengajak Mbak ke salon mau, nggak? Kebetulan aku juga mau perawatan."


"Salon apa? Kecantikan apa rambut?"


Seperti sebuah kebetulan, Nella juga ingin ke salon sebenarnya.


"Dua-duanya, aku 'kan rajin ke salon setiap seminggu dua kali, Mbak. Mangkanya aku cantik dan menarik, kan?" Mitha memuji dirinya sendiri sambil mengusap rambut pirangnya.


"Nggak ah, biasa saja." Nella memutar bola matanya dengan malas. Meskipun sudah meminta maaf, rasanya dia masih tak suka dengan wanita di depannya itu. Jangankan untuk memujinya, menatap wajahnya saja sebenarnya enggan.


"Mbak 'kan wanita, jadi wajar kalau nggak memuji sesama. Tapi aku sering dipuji banyak pria, katanya aku cantik dan seksi. Eh, sama pintar memasak juga."


"Terus kenapa kamu mengejar-ngejar suami orang?" tukas Nella.


"Siapa yang mengejar? Kemarin 'kan aku sudah jelaskan kalau Om Guntur dan Papiku yang menjodohkan aku dengan Mas Rizky, jadi bukan aku yang mengejarnya," elak Mitha.


"Oh."


"Jadi bagaimana, Mbak? Mbak mau 'kan pergi ke salon denganku?" Mitha membuka tasnya di atas meja, lalu mengambil ponselnya. "Aku juga sekalian mau meminta nomor Mbak, supaya kita lebih akrab. Coba sebutkan berapa?"


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...


...1093...


Maaf baru bisa up🙏, ada masalah yang bikin Author down banget dari pagi.


Malah tadinya nggak mau up, tapi nggak tega sama kalian 🤧. Mohon pengertiannya, ya~ 🖤

__ADS_1


__ADS_2