
"Maaf Nona, saya tidak sengaja," ucap pelayan itu.
Rasanya ingin marah dan memaki, tetapi mulutnya yang sudah tak sanggup ditahan membawanya untuk berlari menuju toilet.
Ooeek ... Ooeek.
Nella memuntahkan isi di dalam perutnya di dalam wastafel, seluruh sarapannya tadi pagi sudah terkuras habis.
"Kenapa perutku lagi-lagi mual?" Nella menyalakan kran air dan membasuh mulutnya. Dia juga menatap tubuhnya sendiri di depan cermin dan seketika itu pun kedua matanya terbuka lebar.
Tumpahan es yang menimpa dadanya membuat bra berwarna hitam itu tercetak jelas dari kaos putihnya. Nella merasa malu jika harus keluar dari toilet dalam keadaan begitu. Pasti banyak orang-orang yang melihat memperhatikannya.
"Apes banget sih! Kenapa pakai ketumpahan minuman segala?" gerutu Nella.
Nella terdiam dengan masih memandangi wajahnya di cermin, ingatannya berputar saat dirinya berada di pesta pernikahannya adiknya Rizky. Suaminya itu datang membawa jas untuk dililitkan pada pinggangnya.
Nella jadi menginginkan hal itu terjadi lagi sekarang.
'Apa Mas Rizky akan menungguku diluar sambil membawakan jasnya? Tapi ... dia nggak memakai jas dan nggak tahu aku ada di sini,' batin Nella sedih.
Sementara itu di meja Rizky, pria tampan itu benar-benar sudah kenyang dan menikmati makanan yang Mitha sajikan, begitu pun dengan Reymond. Meskipun awalnya dia menolak, lama-lama luluh juga untuk memakannya.
"Bagaimana Mas Rizky, Pak Reymond ... apa makanan buatanku enak?" tanya Mitha penasaran. Sebetulnya, hanya jawaban Rizky yang rela membuatnya duduk menunggu.
'Semoga saja Mas Rizky bilang enak, aku merasa bahagia nanti,' batin Mitha.
"Menurut gue sih enak." Rizky mengangguk jujur, lalu menoleh pada Reymond. "Bagaimana menurut lu, Rey?"
"Iya enak, cuma sedikit keasinan," jawab Reymond jujur.
Mitha tersenyum lebar, hanya keasinan sedikit tentu tidak masalah bukan? Tinggal kurangi garam saat memasak nanti.
"Keasinan mungkin Mitha ingin cepat menikah. Iya, kan?" Aji sang pemilik restoran sekaligus papi dari Mitha tiba-tiba saja datang menghampiri mereka bertiga. Dia menatap putrinya yang sudah tersenyum malu-malu.
"Papi ini bicara apa? Nggak, kok," kilahnya.
__ADS_1
"Iya ... Papi bercanda." Aji mengusap puncak rambut Mitha, lalu menoleh ke arah Rizky dan Reymond. "Terima kasih kalian sudah mau mampir dan mencicipi masakan Mitha, dia selain seorang model ... juga pintar memasak, Riz."
Aji sebenarnya ingin membanggakan putri semata wayangnya hanya kepada Rizky, namun rasanya tak enak jika langsung berterus terang.
Reymond hanya terdiam, dia tak ada niat untuk menjawabnya juga. Wajahnya terlihat begitu masam, seolah menandakan jika dirinya tak pernah suka dengan Aji maupun Mitha.
Namun, berbeda dengan Rizky, pria tampan itu sungguh menghargai mereka, dia juga suka sekali dengan wanita yang pintar memasak.
"Sama-sama, Pak. Semoga usaha Bapak makin lancar," jawab Rizky.
"Amin. Eemm ... ya sudah, Om dan Mitha tinggal dulu, ya?"
"Iya, Pak," sahut Rizky.
Awalnya Mitha seakan tak mau jika papinya itu membawa dirinya pergi dari Rizky, dia masih ingin memandangi wajah pria tampan itu. Namun, Aji malah merangkul bahunya dan mengajaknya untuk masuk ke ruang pribadi miliknya yang berada di restoran itu.
"Papi kenapa ajak aku pergi? Katanya aku disuruh pendekatan dengan Mas Rizky?" Mitha mendengus kesal.
"Pelan-pelan saja pendekatannya, nanti Rizky curiga. Papi nggak mau dia tahu kalau Papi dan Pak Guntur menjodohkan kalian."
Aji terbelalak. "Nella? Kok kamu bisa bicara dengannya? Ketemu di mana?" Aji lantas mendudukkan bokongnya di sofa berbarengan dengan Mitha.
"Tadi pagi aku telepon Mas Rizky, tapi yang mengangkat dia. Kata Om Guntur ... mereka 'kan mau cerai, tapi kok ponsel Mas Rizky bisa dipegang dia, sih?"
Aji menggeleng samar. "Papi nggak tahu, mungkin kebetulan saja."
"Tapi kira-kira ... Mas Rizky dan Mbak Nella benar-benar cerai nggak, Pi? Nanti nggak jadi lagi?" tanyanya murung. Mitha sebenarnya tak mau jika usaha papinya untuk mencari jodoh gagal kali ini. Sudah cukup dulu saja dan membuat dirinya merasa dirugikan.
"Mudah-mudahan jadi, keputusannya besok. Kamu sabar dan tenang saja."
"Iya, Pi."
***
"Riz, kok lu bisa kenal sama si Mitha?" tanya Reymond penasaran. "Lu pernah tidur dengannya?"
__ADS_1
Reymond tentu mengenal siapa temannya itu, jadi dia langsung asal menebak saja.
Rizky terkekeh. "Nggaklah, tapi dulu sih gue sempat mau pas ditawarin Om Mawan. Tapi nggak tahunya dia anaknya Pak Aji dan masih gadis juga, ya sudah nggak jadi."
Mungkin hanya Nella satu-satunya wanita masih gadis saat dia tiduri, Rizky juga dulu hanya meniduri seorang wanita yang mau dan menjual diri, selain itu dia tidak akan melakukannya. Apalagi seperti memaksa seorang wanita yang jelas tidak mau. Itu termasuk memperk*sa.
"Oh." Reymond mengangguk-angguk. "Tapi awas lu, Riz. Nanti dia gangguin rumah tangga lu lagi." Sorotan mata temannya terlihat tajam, dia seakan menegur Rizky.
"Nggaklah, masa dia begitu. Bukannya dia wanita baik-baik? Lagian ... rumah tangga gue juga sudah diujung tanduk, Rey. Keputusannya besok." Tiba-tiba kesedihan itu muncul di hati Rizky, mengingat akan rumah tangganya yang sudah kalut. "Gue yakin sih ... Nella pasti akan setuju buat cerai. Sebentar lagi gue jadi duda, Rey." Rizky terdiam dan menarik senyum getir.
Reymond mengusap sekilas lengan Rizky yang berada di sampingnya, hatinya terasa ikut sakit melihat Rizky seperti itu. Namun, Reymond akan mencoba untuk menghiburnya. "Apa masalahnya dengan status duda? Lu pas belum menikah saja sudah nggak perjaka, kan?" tukas Reymond sambil terkekeh.
Benar saja, raut kesedihan itu langsung berubah dan membuat pria tampan itu terkekeh lalu menepuk bahunya.
"Sial*n lu! Apa bedanya lu sama gue? Lu juga udah nggak perjaka saat menikah sama Indah," balas Rizky tak mau kalah.
"Hahahaha ... iya, tapi gue 'kan nggak jadi duda sekarang, nggak seperti lu. Nanti lu main sabun atau main sama Anna lagi? Eh ngomong-ngomong ... bagaimana kabar si Anna?"
"Gue juga nggak tahu, udah lama nggak ketemu." Rizky menggeleng cepat.
"Dulu lu deket banget sama dia, kan? Sampai gue kira dia pacar lu, ternyata dia jal*ng lu, hahahaha."
"Ish! Jangan begitu, Rey! Anna gitu-gitu juga 'kan pernah bantuin lu dulu." Kembali Rizky menepuk bahu Reymond, menghentikan tertawa jahat temannya.
"Iya, iya maaf. Gue cuma bercanda. Tapi serius lu nggak tahu dia? Gue kira lu masih berhubungan."
"Nggak, semenjak menikah dengan Nella ... gue nggak pernah menghubunginya. Benar ya, Rey kata Mama gue ... menikah itu mengurangi dosa. Semenjak menikah gue juga nggak pernah pergi ke club malam dan minum alkohol. Gue merasa hidup gue jauh lebih sehat."
"Ah tapi paling kalau lu jadi duda nanti ... lu bakal balik seperti dulu lagi, lu juga bakal sama si Anna lagi," cibir Reymond.
"Semoga saja nggak Rey, gue pengen jadi orang bener. Oya ... gue mau ke toilet dulu, mau kencing." Rizky bangkit dari duduknya.
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...
__ADS_1