
Nella menggeleng cepat. "Nggak, aku bisa jalan sendiri," jawabnya pelan.
"Ya sudah ... ayok pulang, kita naik mobil Papa," ujar Sofyan seraya merangkul bahu Nella dan mengajaknya melangkah. Rizky ikut membuntut di belakangnya.
"Biar aku saja yang menyetir, Pa," ucap Rizky seraya menadah tangan ke arah Sofyan, saat mereka telah sampai di parkiran mobil.
Sofyan memberikan kunci mobilnya, lalu pria tampan itu membukakan pintu mobil yang berada di samping kemudi untuk Nella.
"Lu duduk di depan sama gue, ya?"
"Iya, Mas." Nella mengangguk, lalu segera masuk. Disusul mereka berdua.
"Kita ke pengadilan dulu untuk membatalkan perceraian kalian, setelah itu baru pulang ke rumah Opa, ya?" ucap Sofyan yang berada di kursi belakang.
"Iya, Pa." Rizky mengangguk, lantas menyalakan mesin mobil dan mengemudi dengan kecepatan sedang.
Mendadak Nella teringat ucapan Guntur yang mengatakan jika dirinya mulai sekarang harus tinggal di rumah Rizky. Mau tidak mau dia harus menurut sebab itu adalah pilihannya.
"Mas ... mulai sekarang aku ingin tinggal di rumah Mas Rizky," ucap Nella pelan seraya menoleh ke arah Rizky.
"Apa gue nggak salah denger?" Rizky menoleh sekilas pada Nella dengan kening yang berkerut, dia benar-benar merasa tak percaya jika istrinya bersedia tinggal di rumahnya.
Namun berbeda dengan Rizky yang masih heran, Sofyan justru begitu bahagia dan mengulas senyuman begitu lebar pada wajahnya.
"Bagus itu, kamu memang harusnya tinggal berdua di rumah Rizky. Kamu juga belum pernah tahu rumahnya, kan?" tebak Sofyan yang ikut menyahut.
"Iya, Pa," jawab Nella pelan.
"Apa lu dipaksa Papa? Kalau lu nggak mau nggak apa-apa. Gue bisa tinggal dimana pun asal bersama lu," ujar Rizky. Dia menebak jika Sofyan lah yang membuat wanita itu mau tinggal di rumahnya.
"Enak saja kalau bicara, kapan Papa memaksa? Papa nggak paksa kamu 'kan, Nella?" Sofyan tentunya tidak terima, Rizky seolah memfitnahnya.
"Aku yang menginginkannya kok, Mas. Bukan dipaksa Papa."
"Bener?" Rizky bertanya sekali lagi dan memastikannya. Nella hanya mengangguk samar dan tersenyum. Sikap wanita cantik itu begitu alim dan sangat manis, hingga membuat jantung Rizky berdebar kencang.
'Ya ampun, lu manis banget sih, Nell. Gue jadi pengen cepat-cepat bawa lu ke kamar gue,' batin Rizky.
"Terima kasih ya, Nell. Semoga lu betah nanti."
"Sama-sama, Mas."
__ADS_1
"Nanti Papa akan kirim pakaian Nella ke rumahmu, Riz," ucap Sofyan.
Rizky menggeleng dan melihat Sofyan dari spion depan mobil. "Nggak usah, Pa. Mama sudah menyiapkan pakaian untuk Nella di rumahku."
"Kapan?" tanya Sofyan.
"Sebenarnya sudah lama, itu sehabis kita menikah, Mama kira ... Nella mau langsung tinggal di rumahku, eh ternyata nggak." Rizky menoleh pada Nella yang tengah menunduk, ucapan pria tampan itu seketika membuat hatinya tak enak.
'Mama Gita sampai sudah menyiapkan pakaianku di rumah Mas Rizky? Tapi baru sekarang aku ingin tinggal di rumah anaknya. Apa aku jahat?' batin Nella.
"Tapi nggak apa-apa, kok. Yang penting aku bisa bersama Nella dan aku sangat bersyukur dia mau tinggal di rumahku, Pa," imbuh Rizky lagi.
"Kamu memang suami pengertian, Papa nggak salah pilih menantu." Sofyan merasa terharu dan makin bangga dengan Rizky, pria tampan itu hampir terlihat sempurna di matanya.
*
"Pak, saya Nella Pujianti. Sekitar seminggu yang lalu ... saya mendaftar untuk bercerai dengan suami saya.Tapi saya datang ke sini untuk mencabut tuntutan perceraian. Saya nggak jadi bercerai dengannya," ucap Nella pada seorang pria yang memakai setelan jas berwarna hitam, saat dirinya dan Rizky tengah berdiri di dalam gedung pengadilan. Pria itu adalah orang yang sama ketika Nella dan Angga datang untuk mendaftar perceraian.
Rizky melihat wajah Nella dari samping, hatinya terasa begitu hangat mendengar ucapan yang terlontar dari bibir manis istrinya.
'Alhamdullah ... terima kasih ya, Allah. Semoga pernikahanku akan lebih baik dan lebih indah untuk kedepannya,' batin Rizky.
Rizky dan Nella sudah sampai di depan pintu utama rumah Rizky. Sofyan tidak ikut mampir lantaran dirinya harus segera pergi ke kantor. Pria tampan itu memencet bel rumahnya dan tak lama pintu tersebut dibuka.
Ceklek~
"Selamat datang di rumah Rizky, menantu Mama yang paling cantik."
Rizky mengerutkan kening, dia merasa aneh mengapa ada Gita di rumahnya. Padahal dia belum memberitahu kalau Nella akan tinggal dengannya.
Wanita paruh baya itu lantas memeluk tubuh Nella dan mengecup keningnya sekilas. "Kamu sudah sembuh?"
"Sudah, Ma," jawab Nella.
Mereka semua masuk ke dalam dan berjalan menaiki anak tangga.
"Mama kok ada di sini?" tanya Rizky.
"Iya, Mama mau menyambut menantu Mama yang baru saja datang ke rumah suaminya," jawab Gita.
"Kok Mama tahu aku dan Nella ke sini? Dari siapa?"
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan Papa mertuamu, tadi saat kalian ke pengadilan ... dia memberitahu Mama," terang Gita.
Setelah sampai di depan kamar Rizky, Gita membukakan pintunya dengan lebar untuk anak dan menantunya masuk.
Rizky membulatkan matanya, dia merasa aneh dengan kamarnya itu. Baru kali ini dia melihat seprei pada kasurnya berwarna putih, dan terlebih ditaburi kelopak bunga mawar merah. Disekeliling ruangan itu ada lilin pengharum ruangan tetapi belum menyala.
Kamar itu sudah begitu mirip seperti kamar hotel dan membuat Rizky kembali dejavu untuk mengingat adegan percintaannya dengan Nella.
"Pasti Mama yang melakukan ini semua, kan?" terka Rizky.
"Tentu saja, ini 'kan malam pertama kalian." Gita mengajak Nella untuk duduk bersamanya di atas kasur.
Wanita cantik itu mengedarkan pandangannya pada ruangan yang begitu luas itu. Ada dua lemari besar yang masing-masing berisi empat pintu. Juga ada dua lemari kaca yang berisi jam tangan, sepatu dan gesper laki-laki.
Sedangkan lemari kaca yang berada di sebelahnya, berisi jam tangan, berbagai macam sepatu jenis wanita dari berhak tinggi sampai tidak memiliki hak. Juga ada beberapa tas branded, sudah hampir mirip seperti toko di mall.
"Malam pertama apa sih, Ma? Aku sama Nella sudah melakukan malam pertama," jawab Rizky.
"Kan di rumahmu belum, jadi sama saja, kan?"
"Iya, iya, terserah Mama deh."
"Oya ...." Gita menoleh pada Nella yang tengah terdiam dengan kedua pipi merona. "Pakaian dan barang-barang wanita di dalam kamar ini harus kamu pakai ya, Nell. Mama yang membelikan semuanya," terangnya.
"Iya, Ma."
Tiba-tiba ponsel Rizky berbunyi notifikasi pesan masuk, pria tampan itu langsung merogoh ponselnya di dalam saku jas lalu membaca isi pesan tersebut.
"Aku lupa hari ini ada meeting," gumam Rizky. Lalu dirinya mengalihkan pandangan ke arah Gita. "Mama di sini dulu temani Nella, ya? Aku ingin pergi ke kantor."
'Dih, kok ke kantor? Aku 'kan mau bersamanya,' batin Nella. Padahal dia sempat berkhayal untuk bisa menghabiskan seharian penuh bersama Rizky, tetapi semua seketika sirna.
"Iya, kamu tenang saja."
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Vote dan juga hadiahnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....
...1065...
__ADS_1