Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
75. Mengerjai apa maksudnya?


__ADS_3

"Bagaimana Bu, apa semuanya berhasil?" tanya Sofyan penasaran saat melihat Gita sudah berada lagi di pesta dan menghampirinya.


"Iya." Gita mengangguk semangat sambil tersenyum lebar dan Sofyan pun ikut tersenyum. "Semoga saja Nella lupa minum pil KB, jadi rencana makin sukses, Sofyan."


"Amin, Bu. Kira-kira kapan kuncinya kita buka? Nanti kalau mereka di dalam kehausan atau lapar bagaimana?"


"Ada air di sana, kalau lapar semoga saja nggak. Besok saja kita buka kuncinya. Kau ingin menginap juga 'kan?" tanya Gita.


"Kunci apa?" tanya Guntur yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka, hingga Sofyan tak jadi menjawab pertanyaan Gita.


Gita langsung menggeleng cepat, mungkin akan lebih baik jika rencana itu hanya dia dan Sofyan yang tahu sebab Gita yakin, Guntur pasti tak setuju.


"Ini Pa, Sofyan ingin ikut menginap juga dengan Diana ... tapi lupa menaruh kuncinya," elak Gita berbohong.


"Oh kok bisa? Memang tadinya taruh di mana?" tanya Guntur pada Sofyan. Sofyan langsung berpura-pura meraba kantong yang ada di celana bahannya.


"Nggak tahu, tapi nanti aku minta lagi saja pada pihak hotel."


"Oya ... ngomong-ngomong Nella dan Rizky ke mana? Apa mereka sudah pulang?" Guntur mengedarkan pandangan pada sekeliling, dia sedari tadi sibuk mengurusi tamu yang berdatangan sampai tak tahu apa saja yang telah istri dan besannya lakukan.


"Mama juga nggak tahu."


"Tapi si Hersa masih ada, mereka datang bersama Hersa juga, kan?" tanya Guntur kembali.


"Iya, biarkan saja Pak. Mungkin mereka sedang makan atau pergi ke toilet. Kita ke sana saja." Sofyan mengalihkan pikiran Guntur dan menunjuk pelaminan. "Kita berfoto bersama Ridho dan istrinya."


Guntur mengangguki ucapan dari Sofyan, lantas mereka sama-sama berjalan menuju pelaminan.


***


Tak terasa, mereka yang masih bergulat dengan peluh benar-benar melakukan sampai pagi. Entah sudah berapa gaya yang Rizky lakukan, namun saat ini Nella tengah tengkurap di bawah Rizky.


"Mas ... aku capek, apa kita bisa udahan?" tanya Nella pelan, tenaganya sudah terkuras habis dan merasa tubuhnya begitu lemas. Dia semalam suntuk sudah berhasil melakukan tiga kali pelepasan.


"Iya gue juga capek," jawab Rizky seraya menubruk tubuh Nella dari bawah dengan deru nafas yang tersengal-sengal, miliknya sudah berkerut dan dia pun tak ingat sudah berapa kali keluar di dalam perut istrinya. "Lu mau mandi? Kita mandi bersama? Oke?" Rizky mengangkat tubuhnya supaya tidak menindih Nella. Namun dilihat istrinya sudah memejamkan mata.


"Ya sudah. Kita tidur dulu saja." Monolog Rizky seraya membalik tubuh Nella supaya terlentang, tangannya terulur untuk mengambil beberapa tissu lalu membersihkan miliknya dan milik Nella sisa percintaan mereka. "Gue berharap, setelah ini ... lu bisa mencintai gue."

__ADS_1


*


*


*


Beberapa jam berlalu, Nella yang masih tertidur dikejutkan oleh suara bel yang berbunyi begitu nyaring hingga kedua matanya terbuka dengan lebar.


Dia menoleh pada Rizky yang memeluknya dari samping, pria itu masih terlelap tidur. Nella tentu ingat kejadian semalam dan itu menjadi satu-satunya pertanyaan di otaknya.


'Kenapa aku semalam seperti pasrah disentuh? Aku malah menginginkannya.'


Ting ... tong.


Ting ... tong.


Bel itu kembali berbunyi, sekarang Nella menoleh ke arah kiri tepat ke arah nakas untuk melihat jam weker yang berada di atasnya. Seketika itu pun, bola matanya membulat sempurna. Jam itu menunjukkan pukul 12.00, dan yang membuat Nella lebih terkejut adalah dia belum minum pil KB sejak semalam.


Nella menutup mulutnya yang sudah menganga. 'Astaga! Aku lupa minum pil KB, bagaimana ini?' batin Nella. Dia bangkit untuk duduk dan melepaskan dekapan Rizky hingga membuat pria itu mengerjapkan matanya.


Ting ... tong. Sudah berapa kali bel itu kembali berbunyi dan belum ada yang membukanya.


"Bukannya dikunci dari semalam? Kok ada yang memencet bel?" Rizky bangkit seraya berdiri. Dia memungut celana bahan miliknya untuk dikenakan. Setelah itu, berjalan menuju pintu.


Rizky sebenarnya ragu untuk menurunkan handle pintu, namun tiba-tiba pintu itu berhasil dibuka.


Ceklek~


"Selamat siang Pak, saya bawa makan siang dan barang-barang Bapak," ucap seorang pelayan pria. Dia membawa meja troli yang berisi menu makan siang dan satu koper.


"Lu disuruh siapa?" tanya Rizky penasaran.


"Seorang pria, Pak. Tapi saya tidak tahu namanya. Dia bilang ... dia adalah mertua Bapak."


'Papa Sofyan? Apa mungkin ini adalah kerjaan Mama dan Papa Sofyan? Kok mereka bisa punya ide seperti ini?' batin Rizky.


"Pak maaf," ujar pelayan pria itu lagi dan seketika membuat Rizky tersadar dengan lamunannya. "Mau saya bawa ke dalam atau bagaimana?"

__ADS_1


"Bawa ke dalam." Rizky melebarkan pintu dan membiarkan pelayan pria itu masuk. Troli dan koper yang dia bawa langsung ditaruh di dekat meja.


"Ini kuncinya, Pak." Sebelum keluar, pelayan pria itu memberikan card system pada Rizky dan pria tampan itu langsung menerimanya.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Sepeninggal pelayanan hotel pergi, Rizky kembali mengunci pintu dan tiba-tiba terdengar suara pintu yang baru saja terbuka, asalnya dari kamar mandi.


Nella keluar dengan memakai handuk kimono, penampilannya seperti semalam, hanya bedanya wajahnya tidak lagi memerah malah terlihat makin bercahaya.


"Lu baru selesai mandi? Kebetulan ada yang kirim kita pakaian dan makanan." Rizky tersenyum sembari berjalan menghampirinya.


"Katanya semalam pintunya dikunci, kok Mas sekarang memegang kunci?" Nella menatap mata Rizky dengan penuh kecurigaan.


'Apa semalam dia mengerjaiku?' batin Nell


"Oh ini." Rizky memperlihatkan kartu itu di depan wajah Nella. "Tadi gue buka pintu saat ada yang memencet bel dan ternyata sudah nggak dikunci lagi. Pelayan yang bawa makanan dan barang-barang kita ... dia yang kasih sama gue." Rizky mencoba menjelaskan, dia tak mau jika Nella salah paham padanya.


"Mas pasti berbohong, kan? Apa jangan-jangan Mas semalam mengerjaiku?" Tatapan itu langsung berubah menjadi tajam, Nella merasa Rizky telah membohonginya.


"Mengerjai apa maksudnya?" Rizky mengerutkan kening, dia jelas tak mengerti maksud dari tuduhan istrinya, sebab dia juga seperti sama-sama dikerjai. Namun bedanya Rizky yang paling bahagia di sini.


Rizky meraih koper dan mengangkatnya ke atas kasur, dia membuka dan mencari-cari ponselnya. Mungkin saja Gita dan Sofyan menaruh ponsel mereka di sana.


"Mas cari apa?" tanya Nella.


"Ponsel." Pencariannya nihil, benda pipih itu tidak ada, hanya ada pakaian.


'Ah nggak ada, menyebalkan sekali, kenapa Mama dan Papa nggak menaruhnya di sini,' gerutu Rizky dalam hati. Lantas dia menoleh pada Nella yang masih cemberut.


"Lu jangan marah dulu, nanti kalau kita pulang ... lu bisa tanya sama Papa lu atau Mama gue. Tapi gue bersumpah, gue nggak tahu apa-apa. Sekali ini saja, lu harus percaya sama gue," ucapnya dengan nada memohon.


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...

__ADS_1


__ADS_2