
"Tadi Rizky telepon Papa ... katanya dia lembur sama Hersa di kantor. Banyak pekerjaan." Sofyan sengaja berbohong pada Nella, supaya dia tak khawatir dan sengaja menyiksa Rizky dulu dengan cara menjauhkan Nella dan Jihan, supaya pria itu mikir keras dan tak akan gegabah jika bertindak.
"Tapi Mas Rizky nggak biasa lembur lho, Pa. Dia juga nggak pernah pulang malam."
"Iya, tapi tadi Rizky bilang kok." Sofyan tersenyum lalu mengusap puncak kepala Nella. "Sudah sana masuk ke kamar, tidur. Nanti kalau Rizky pulang pasti kamu tahu sendiri, suamimu 'kan mesum."
"Terus Mama Maya itu bagaimana? Apa kubangunkan saja?"
Sofyan menggeleng cepat. "Nggak usah, biar Papa yang pindahkan dia ke kamar."
Mereka masuk lagi ke dalam kamar, kemudian pelan-pelan Sofyan mengangkat tubuh ramping Maya seraya mengendongnya. Wanita itu masih tertidur pulas dan malah terlihat begitu nyaman berada di dekatnya.
"Selamat malam, Pa," ucap Nella saat Sofyan berjalan menuju pintu, pria itu menghentikan langkah dan berbalik.
"Selamat malam juga, Sayang." Sofyan tersenyum.
"Jangan lupa bikin adik."
Sofyan mengedipkan kedua matanya sambil mengangguk. Setelah itu—dia pun lantas menuju kamarnya kemudian membaringkan tubuh Maya pelan-pelan di atas kasur secara mengecup bibirnya.
"Eh, apa aku ketiduran?" Maya tiba-tiba saja mengerjapkan matanya seraya menatap sekeliling kamar itu. Sepertinya dia bangun karena sentuhan bibir Sofyan.
Pria itu segera mengunci pintu kamar kemudian menghampirinya dan merangkak naik ke atas kasur.
"Iya, tadi ketiduran, Sayang." Sofyan naik ke atas tubuhnya, lalu mengunci pergerakan wanita itu supaya Maya tak melepaskan diri. Dilihat wajah istrinya itu kembali cemberut saat mata mereka bertemu. "Kamu jangan marah sama aku dong, May. Kan Rizky yang salah, lagian aku juga sudah memarahinya kok tadi. Dia bilang minta maaf padamu."
"Kapan?"
"Tadi barusan diluar, dia ke sini." Sofyan lagi-lagi mengecup bibir Maya yang sedikit mengerucut.
"Tapi tadi Ayank juga yang salah."
"Salahnya?" Alis mata Sofyan bertaut. "Kan aku mengunci pintunya tadi, kan? Dan kamu juga tahu Rizky sendiri yang membuka pintu dengan kunci serep."
"Tapi coba saja kalau Ayank tahan sedikit, pasti nggak akan kejadian. Tadi pagi saja kita kepergok polisi, aku malu tahu, Ayank." Maya menatap wajah Sofyan dengan kesal.
__ADS_1
"Kamu malu jadi istriku?"
"Kok jadi istri? Aku 'kan malu karena Ayank yang nggak sabaran orangnya. Kok kesitu-situ, sih?" Maya makin kesal, dia lantas memalingkan wajahnya.
Sofyan terkekeh, dia tadi hanya menggoda saja. Antara lucu dan sedih sebenarnya, saat melihat Maya marah. Lucunya karena wajahnya terlihat mengemaskan, sedihnya karena Maya tadi sempat menolaknya ketika melanjutkan untuk bercinta.
"Iya deh, aku tahu aku juga salah. Aku minta maaf kalau begitu, ya?" Sofyan mengalihkan wajah Maya untuk kembali menatapnya. "Aku sudah lama jadi duda, May. Jadi wajar kalau nggak sabaran. Kamu inget nggak, saat pertama kali kita kelonan ... kamu susah sekali aku colok. Jadi aku ketagihan pas burungku berhasil masuk," imbuhnya seraya mengusap-usap inti tubuh Maya.
Bulu kuduk wanita itu seketika berdiri, pikirannya langsung berkelana ke sana.
Sofyan mendekati bibirnya ke telinga kanan Maya, perlahan dia menjulurkan lidah dan menjilatinya. Maya menggeliat, dia berasa geli.
"Ayank, ngapain?" Maya langsung menyentuh telinganya dan disaat itu pun—Sofyan segera melahap bibirnya dengan penuh nafs*.
Kedua tangannya langsung meremmas dua gunung kembar, tetapi aksinya itu langsung terhenti lantaran merasakan busa cup bra.
Sofyan melepaskan ciumannya. "Aku bukannya sudah bilang kalau malam jangan pakai bra, ya? Kok kamu bandel, sih?"
"Kan tadi aku ketiduran Ayank, biasanya 'kan memang aku lepas."
"Ya sudah, sekarang lepas. Tapi seluruh pakaianmu, ya?" Sofyan mengangkat tubuhnya sembari menarik punggung Maya. Keduanya kini sudah sama-sama duduk.
"Kita kelonan dong, mau ngapain lagi memangnya?" Sofyan sudah melepaskan pakaiannya sendiri. Lalu melemparkannya ke lantai.
"Kan sudah tadi siang."
"Tapi 'kan akunya belum keluar, May."
"Masa sih? Bukannya sudah?"
"Belum, kamu kali yang sudah. Aku belum, May." Sejak tadi Maya diam saja dan hanya memperhatikan tubuh polos suaminya dengan malu-malu dan merona. Sofyan yang sudah tak sabar akhirnya membuka sendiri baju tidur Maya hingga dirinya polos sempurna. "Bukannya di lemari ada lingerie? Kok kamu nggak pakai, sih?"
"Lingerie itu apa?"
"Pakaian dinas, May." Sofyan beranjak dari tempat tidurnya lalu membuka pintu lemari pakaian Maya. Setelah mencari-cari dan membuka hampir semua pintu—barulah dia menemukan beberapa stel pakaian kurang bahan yang sengaja dia beli lewat online untuk istrinya. Kemudian Sofyan mengambil yang berwarna kuning dengan motif macan tutul, lalu memberikan pada Maya. "Pakai itu, May. Kamu pasti tambah cantik dan seksi."
__ADS_1
Maya mengambil pakaian itu di atas pahanya, seketika matanya membulat. Pakaian itu sangat mirip seperti pakaian dallam, hanya bedanya lebih terbuka.
Kaca matanya berlubang ditengah-tengah dan begitu tipis, serta cellana dalamnya pun sama saja—berlubang ditengah dan yang membuatnya bergidik geli yaitu ada buntut di belakangnya. Buntutnya juga berbulu halus.
"Eh ini ketinggalan. Jangan lupa pakai juga." Sofyan memberikan sebuah ikan rambut yang bermotif sama seperti pakaian itu.
"Dih, Ayank. Masa aku pakai ini?" Maya memamerkan cellana dalam itu ke depan wajah Sofyan. Raut wajahnya menatap aneh.
"Iya, memang kenapa? Bagus itu, May. Lucu, kan?" Sofyan mengelus bulu buntut. "Ada buntutnya lagi. Pasti enak bisa buat pegangan."
"Tapi kenapa bolong-bolong? Apa yang buatnya ngantuk?" Maya memasukkan keempat jarinya ke dalam lubang tengah yang ada di cellana dalam. Keningnya mengerenyit dan dia masih terheran-heran dengan bentuknya.
"Itu memang modelnya, May. Memang kamu belum pernah melihat pakaian dinas, ya?"
"Oh, ini namanya pakaian dinas lingerie. Aku pernah lihat kok, tapi nggak seperti ini, Ayank. Ini Ayank beli di mana? Apa Ayank nggak malu membelinya?"
"Aku beli online. Aku beli lima gratis satu, modelnya berbeda-beda. Apa kamu mau pilih sendiri?" Sofyan menuju lemari Maya lagi kemudian mengambil beberapa pakaian yang mirip seperti itu. Sebenarnya modelnya sama, sama-sama berlubang dan tipis. Hanya saja yang membedakan adalah buntut dan warnanya. "Ini kelinci, tikus, kuda, kucing, buaya." Sofyan memamerkan beberapa buntut pada cellana dalam pakaian itu. "Dan yang terakhir ayam. Kamu mau pilih yang mana?"
"Yang aku pegang ini apa? Kok belang-belang?"
"Itu macan tutul."
Maya menatap lagi pakaian yang ada di tangannya. Rasanya ragu dan malu untuk dia pakai. "Nggak usah pakai ini saja deh, Yank. Bagaimana? Aku malu."
"Kenapa malu. Pakai dong, May. Aku sudah beli masa kamu nggak mau pakai, nanti mubazir. Aku 'kan beli itu untuk nyenengin kamu."
Apa tidak terbalik? Padahal disini Sofyan lah yang pasti senang.
"Aku 'kan nggak minta. Dan ...." Maya menggantung ucapannya kala melihat Sofyan tengah menangkup kedua tangannya dengan wajah penuh harap. Untuk menolak rasanya tak tega. "Ya sudah deh, aku pakai. Tapi aku penasaran dengan harganya. Kira-kira berapa?"
Mata Sofyan langsung berbinar. Dia segera duduk di atas kasur, di samping Maya.
"Lima juta," jawab Sofyan.
"Lima, lima juta?"
__ADS_1
"Satunya lima juta."
"Apa?" Maya langsung melolot kala mendengar harga satu pakaian itu. Dia merasa kaget dan tak percaya sebab baginya itu terlalu mahal untuk pakaian seperti itu. "Kenapa mahal sekali, Ayank?"