Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
225. Aku duda


__ADS_3

Hening, suasananya begitu hening. Bahkan yang terdengar hanya suara garpu dan pisau yang baradu pada piring.


Buket bunga yang Sofyan bawa tadi hanya diletakkan di atas meja, tanpa dia mengatakan kalau itu untuk Maya. Rasanya Sofyan malu, malu sebab aneh saja.


Keduanya itu tampak canggung dan binggung untuk berkata-kata. Maya juga sering bertemu Sofyan jika ada meeting bersama Rizky, sebab dia hanya menjadi sekertaris dan itu juga hanya membahas masalah pekerjaan saja.


Sering juga berpapasan, dan Maya selalu menyapa. Tetapi Sofyan sendiri hanya menjawab sapaannya dengan anggukan kepala. Mungkin jika di ingat, hanya 'iya' saja, kata yang terluncur dari bibir mertua sang bosnya itu.


"Maaf sebelumnya, May. Apa kamu datang ke sini karena diancam Rizky?" tebak Sofyan. Ucapannya menepis semua keheningan di antara keduanya.


Maya yang sejak tadi menunduk lantas mengangkat wajah, tetapi hanya menatap wajah Sofyan sekilas saja sebab merasa malu. "Nggak kok, Pa," jawabannya sambil menggeleng.


"Kalau iya, jujur saja, aku nggak akan marah kok." Sofyan terlihat tak percaya, apalagi Maya adalah bawahan Rizky. Rasanya akan mudah jika Rizky mengancam karyawannya.


"Memang nggak, Pak Rizky hanya minta saya untuk makan malam dengan seorang pria. Tapi masalahnya dia sendiri nggak bilang kalau pria itu adalah Bapak," jawab Maya pelan.


Terlepas dari perdebatan di antara dia dan Rizky, Maya sama sekali tak menganggap Rizky mengancamnya. Sebab dia hanya meminta makan malam saja, kan? Tidak memintanya untuk menikah?


Hanya saja cara Rizky bicara terkesan emosi, dan itu cukup membuatnya takut sampai akhirnya dia menurutinya.


"Oh, terus kamu sendiri kecewa pas tahu akulah prianya?" Sofyan kembali menebak, perasaan sungguh tak enak.


Maya menggeleng cepat. Kali ini dia menatap wajah Sofyan karena penasaran, takut jika pria itu marah. Dia ingat ucapan Rizky kalau dia harus bersikap baik pada pria itu. "Nggak, tapi maaf banget, Pak. Saya nggak mau jadi pelakor."


Sofyan mengerutkan keningnya heran. "Pelakor? Maksudnya bagaimana?"


"Bapak 'kan sudah punya istri. Terus kenapa mencari wanita untuk diajak berkencan? Nanti kalau Bu Diana tahu bagaimana, Pak? Saya bisa-bisa dilabrak," ujar Maya dengan wajah takut.


"Memang kamu nggak tahu aku duda?" Sofyan kembali binggung.


Padahal gosip Diana selingkuh sempat heboh. Bukan hanya di kantornya saja, tetapi kantor Rizky, Guntur bahkan Aji. Dan yang menyebarkan gosip tiada lain adalah menantunya sendiri, yaitu Rizky.

__ADS_1


Sofyan sendiri sebetulnya menutup rapat masalah itu, tetapi entah mengapa mulut Rizky yang lemes justru membeberkannya.


Pria itu sangat puas sekali jika ada yang mencibir Diana.


"Duda? Memang iya? Berarti Bapak dan Bu Diana sudah bercerai?"


Sepertinya hanya Maya satu-satunya orang yang tidak tahu di kantor Rizky. Kemana saja dia selama ini? Padahal wanita, kok tidak memperhatikan gosip? Aneh.


"Iya, kami sudah resmi bercerai. Bahkan mantanku itu sudah menikah dengan Aji."


"Aji? Pak Aji Wijaya?"


Sofyan mengangguk.


"Oh pantes, kemarin-kemarin saya sempat melihat mereka ke supermarket sama-sama, Pak. Saya pikir ... kemarin saya hanya salah lihat."


Sofyan terdiam. Jantungnya terasa berdenyut nyeri. Dia bahkan sering tak sengaja melihat kemesraan mereka di tempat umum, tetapi tetap saja lagi-lagi hatinya sakit.


"Maafkan saya, Pak." Maya menatap wajah sedih Sofyan. Dilihat pria itu kini tersenyum tipis dan mengangguk kecil.


"Eemm ... jadi niat Bapak mengajak kencan itu sekalian mencari jodoh juga? Bapak ingin menikah lagi?" tebakan Maya tepat sasaran.


Sofyan terkekeh, dia merasa malu pada dirinya sendiri. Malu karena mungkin Maya akan menganggap dia tua-tua keladi. "Niatnya memang seperti itu. Dan Rizky sendiri yang pernah bilang ingin mencarikanku jodoh."


"Ah tapi ... maaf, Pak. Saya nggak bisa jadi istri Bapak."


Sofyan bahkan belum mengutarakan kalimat itu. Dan padahal dia sendiri memang sudah mengurungkan niat karena takut ditolak. Eh, tapi sudah ditolak beneran.


"Aku nggak maksa kok, aku ngerti pasti kamu juga nggak bakal mau dengan kakek-kakek sepertiku. Aku mengerti itu, May." Sofyan tersenyum tipis lalu menyesap pipet jus mangganya.


"Alasannya bukan karena Bapak kakek-kakek. Bapak terlihat masih muda, kok."

__ADS_1


Entah itu jujur atau bohong. Meski memang Sofyan sendiri yakin jika Maya berbohong—tetapi tak dipungkiri kalau saat ini hatinya senang, bahkan kedua pipinya itu merah merona.


"Kalau mau nolak, nolak saja, May. Nggak usah pakai merayu. Nanti yang ada aku malah salah paham." Sofyan terkekeh.


"Tapi saya memang jujur, Pak. Alasan saya memang bukan itu."


Sofyan menatap mata Maya dengan dalam, memang dari matanya dia terlihat jujur. "Terus apa?"


"Saya masih punya hutang sama Tante saya di kampung, dia nggak akan setuju saya menikah sebelum membayar hutang itu, Pak."


"Hutang?" Alis mata Sofyan bertaut. "Apa itu uang?"


Entah mengapa mereka jadi lumayan akrab, tak secanggung tadi. Mungkin itu karena ada hal yang saat ini dibahas.


"Sebenarnya hutangnya bukan uang. Tapi memang saya membelinya dengan uang."


"Maksudnya?" Sofyan binggung, ucapan Maya berputar-putar. Tetapi jujur dia penasaran.


"Tante meminta saya membelikan rumah untuknya, Pak. Dan sekarang saya masih menabung, uang itu belum cukup. Baru setengah dari harga rumah," jelas Maya.


"Kok dia minta rumah padamu? Memangnya di mana suaminya? Apa dia janda?"


Maya menggeleng. "Om saya ada, dia juga punya toko baju. Tapi sekarang tokonya tutup karena dia sering sakit kaki, dia juga nggak kuat lama-lama berdiri."


"Oh, jadi kekurangan biaya untuk membeli rumah? Tapi kenapa harus mintanya sama kamu, May? Kamu 'kan wanita, kamu juga pasti punya orang tua. Seorang anak 'kan harus bisa membahagiakan orang tuanya dulu. Baru orang lain," terang Sofyan.


Sosok figur seorang ayah tiba-tiba saja muncul pada dirinya. Padahal tadi dia sempat merasa jika jiwanya kembali menjadi muda, saat dimana untuk pertama kali berkencan dengan seorang gadis.


"Orang tua saya sudah meninggal, Pak. Sejak saya berusia 7 tahun. Semenjak itu saya hidup bersama Om dan Tante. Mereka yang membiayai saya sekolah sampai saya jadi sarjana. Om saya sendiri nggak pernah meminta apa pun kepada saya, bahkan setiap uang yang saya berikan padanya selalu dia tolak. Tapi ... berbeda dengan Tante ...."


Sofyan membulatkan matanya saat melihat buliran air mata yang tiba-tiba saja luluh membasahi kedua pipi gadis itu, segera dia menarik secarik tissue lalu memberikan padanya.

__ADS_1


Maya mengusap pelan-pelan pipinya, sebab takut riasan wajahnya luntur. Dua jam dia menghabiskan untuk dandan dan tampil sempurna seperti itu, rasanya sayang jika habis hanya karena menangis.


"Tantemu kenapa?" Sebenarnya Sofyan tak tega melihat gadis itu menangis, tetapi sepertinya dia amat penasaran pada cerita yang belum selesai.


__ADS_2