Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
152. Bermain solo


__ADS_3

Sebelum Bi Yeyen dan dokter datang, Rizky pun segera memakaikan pakaian tidur yang tertutup pada tubuh polos istrinya.


Tok ... tok ... tok.


"Pak Rizky," panggil Bi Yeyen dari luar.


Rizky pun segera menurunkan handle pintu lalu mengambil nampang yang dia bawa. Berisi bak air dingin beserta esnya dan juga handuk kecil.


Setelah menaruh handuk yang sudah berhasil dicelupkan ke dalam baskom itu lalu memerasnya—perlahan Rizky menaruhnya atas dahi Nella.


Selang beberapa menit, Dokter yang Rizky telepon datang kemudian segera memeriksa keadaan Nella. Tetapi anehnya sejak tadi Nella masih memejamkan mata dan terdengar suara dengkuran halus.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Rizky saat melihat Dokter pria itu menaruh stetoskopnya ke dalam tas jinjingnya.


"Bisa kita bicara diluar saja, Pak? Biar tidak mengganggu istri Bapak?"


"Bisa, ayok." Rizky keluar dari kamar itu, tetapi di dalam kamar juga ada Bi Yeyen yang menunggu Nella sembari mengompres dahinya supaya demamnya turun.


"Apa Nona Nella bekerja, Pak?"


Rizky mengangguk. "Iya, dia kerja jadi manager restoran, Dok."


"Sepertinya Nona Nella kecapekan saat bekerja, Pak. Untuk sementara jangan bekerja dulu saja, ambil cuti selama hamil," saran Dokter itu.


"Tapi, Dok. Istri saya sudah beberapa hari nggak masuk kerja. Kemarin baru masuk dan hanya setengah hari. Saya juga perhatikan ... kalau dia baik-baik saja," terang Rizky.


Ya, itu memang benar. Malah kemarin Nella begitu antusias meminta Rizky untuk mencukur rambut.


"Oh begitu. Berarti saat di rumah, Pak. Apa Nona melakukan pekerjaan berat?"


"Dia di rumah hanya memasak setahu saya, Dok. Memangnya memasak bisa membuat capek, ya?" Rizky mengerutkan keningnya binggung.


"Bisa saja, Pak. Saat ini kondisi Nona Nella lemah. Dia kurang darah dan kelelahan. Dia juga perlu diinfus, Pak," terang Dokter.


"Apa saya perlu membawanya ke rumah sakit?"


"Tidak perlu. Nona Nella bisa diinfus di rumah ... nanti saya akan minta perawat di rumah sakit untuk membawa kantong infusan dan tiang penggantungnya."


"Lalu kandungannya bagaimana? Apa dia ikut lemah juga?" tanya Rizky.

__ADS_1


"Kandungannya kuat dan baik-baik saja. Ah tunggu dulu ...." Dokter itu terdiam sejenak lalu kembali berkata, "Maaf sebelumnya, ini terdengar seperti pribadi. Tapi apa selama hamil Bapak dan istri sering melakukan hubungan badan?"


Rizky mengangguk. "Ya, tapi waktu itu Dokter yang bilang sendiri kalau itu boleh."


Dia adalah Dokter yang sama, saat memeriksa keadaan Nella di IGD.


"Memang boleh, tapi saya juga bilang jangan memaksa kalau dia sudah kelelahan, kan? Apa Bapak melakukannya?"


Rizky terdiam dan mengingat-ingat saat mereka bercinta. Mungkin kemarin sore Nella tak bilang capek, tetapi kemarin-kemarin dia sering mengeluh capek. Apa mungkin itu sebabnya?


"Nella pernah sih bilang lelah, Dok. Tapi saya sering nanggung saat bercinta dengannya. Kan kalau belum keluar nggak enak," jelas Rizky malu-malu. Pipinya terlihat merah padam.


"Memang nggak enak, Pak." Dokter itu mengiyakan, sebab dia juga sama-sama pria dan tentu sering merasakannya. "Apa Bapak bercintanya setiap hari?" tanyanya kembali.


"Iya, malah kadang sehari dua kali, Dok."


"Harusnya jangan." Dokter itu menggeleng cepat. "Mungkin pengaruh itu, jadi Nona Nella drop, Pak."


"Terus sekarang bagaimana, Dok? Masa saya dan dia nggak bisa bercinta? Dokter meminta saya bermain solo di kamar mandi?" tanya Rizky dengan kening yang berkerut.


Dokter itu pun terkekeh mendengar apa yang Rizky katakan. "Bapak nggak akan bermain solo. Tapi sekarang beri jeda saat bercinta."


"Kalau bisa seminggu dua kali saja, tapi kalau nggak tahan-tahan banget ... bisa dua hari sekali. Nona Nella juga harus sering minum vitamin dan susu ibu hamil, kemarin 'kan sudah saya beritahu," terang Dokter.


Rizky mengangguk. "Iya, sepertinya kadang dia lupa, Dok. Nanti saya ingatkan."


Ya, Rizky juga kurang memperhatikan masalah itu, mungkin ini adalah sebuah pelajaran supaya dia makin perhatian pada istrinya.


"Ya sudah ... saya mau menghubungi pihak rumah sakit dulu."


Rizky mengangguk lagi, lalu membiarkan Dokter menelepon untuk meminta barang-barang yang dibutuhkannya.


Setelah memasang jarum infusan pada punggung tangan Nella, perlahan wanita cantik itu mengerjapkan matanya, mungkin dia terbangun lantaran jarum infusan yang terasa menyentuh kulitnya.


"Lu sudah bangun, Sayang. Apa kepala lu pusing?" Rizky mendudukkan bokongnya di samping Nella, lalu menangkup kedua pipinya yang masih terasa panas. "Lu sarapan dulu, ya! Nanti minum obat."


Semangkuk bubur ayam yang Bibi buatkan segera Rizky ambil di atas nakas, lalu menyendokkan ke arah bibir istrinya.


Nella menurut saja, perlahan dia membuka mulutnya dan mengunyahnya pelan-pelan.

__ADS_1


"Apa yang lu rasakan sekarang?" tanya Rizky dengan wajah cemas.


"Enak buburnya, Mas," jawabnya pelan.


"Dih bukan bubur, maksud gue kondisi lu."


"Oh, kirain bubur." Nella perlahan menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. "Kepalaku sakit, badanku juga sakit semua, Mas."


"Sarapan dulu, nanti minum obat, ya!" Rizky perlahan mendekat lalu mengecup singkat pipi kirinya.


Cup~


Setelah itu dia melanjutkan untuk menyuapi Nella.


"Kalau begitu saya permisi, Pak," ucap Dokter tersebut yang masih berada di sana, lalu melihat ke arah Nella. "Semoga Nona Nella cepat sembuh."


"Amin, terima kasih, Dok." Rizky yang menjawab, sebab mulut istrinya masih mengunyah bubur.


Seusai sarapan, Rizky mengangkat kepala Nella sedikit untuk membantunya menelan tiga butir obat, yakni obat penambah darah, menurun demam dan vitamin.


"Mas, aku sakit apa?" tanya Nella seraya mengulas bibirnya sisa air.


"Lu hanya kelelahan. Kata Dokter ... lu harus ambil cuti dan banyak istirahat," terang Rizky. "Jangan lupa sering minum vitamin dan minum susu ibu hamil. Sepertinya ... kemarin-kemarin, lu suka lupa, ya?"


Nella mengangguk samar. "Iya, aku kadang lupa, Mas."


"Salah gue juga lupa mengingatkan." Rizky mengelus perut datar istrinya, lalu menoleh pada Bi Yeyen yang sejak tadi masih berdiri di sampingnya. "Bibi juga jangan lupa, pokoknya setiap pagi harus buatkan susu ibu hamil untuk Nella. Dan malamnya diantarkan ke kamar, sebelum Nella tidur!"


"Bibi sering melakukannya kok, Pak." Bi Yeyen bukan mengelak, tetapi memang itulah kenyataannya. "Kalau pagi Nona Nella sering minum susu, tapi kalau malam ... Nona nggak meminumnya."


"Itu karena Nella jarang makan malam, sama halnya denganku. Tapi harusnya Bibi antarkan susu atau cemilan dong ke kamar ... masa begitu saja nggak peka. Harus aku suruh dulu baru mengerti, gitu?" gerutu Rizky sambil melotot. Bi Yeyen pun segera menurunkan pandangan sebab merasa takut.


"Maaf, Pak. Bibi juga sering melakukannya. Bibi mengantarkannya ke sini," jawabnya takut-takut.


"Kapan? Aku nggak pernah lihat tuh di meja atau nakas ... ada nampan," ujarnya kesal.


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...

__ADS_1


...1040...


__ADS_2