
Sofyan mengenakan setelan jas berwarna merah maroon, terlihat begitu rapih dan tercium aroma wangi. Wajahnya putih dan segar, jangan lupakan minyak rambutnya yang begitu mengilap dalam pantulan cahaya lampu.
"Mungkin Om dan Tante merasa terkejut atas apa yang saya katakan. Tapi saya bisa menjelaskan semuanya, supaya Om dan Tante nggak salah paham," jelas Sofyan.
"Apa boleh Bapak keluar dulu? Saya ingin bicara dengan keponakan saya," pinta Darus. Secara tidak langsung dia meminta Sofyan pergi dari sana. Padahal niatnya tadi ingin menjelaskan semuanya.
"Baik, saya keluar dulu kalau begitu. Tapi Om dan Tante tolong jangan marahi Maya. Dia nggak salah apa-apa disini." Sofyan tersenyum, lalu mengelus pipi kiri istrinya dan mengecupnya singkat. "Aku keluar dulu ya, May."
"Iya." Maya mengangguk, setelah itu Sofyan berjalan keluar dari kamar inap itu. Kemudian duduk di kursi depan sambil menghela napasnya dengan kasar.
"Sini, duduk." Darus menepuk kasur, meminta keponakannya duduk di dekatnya. Maya mengangguk dan perlahan duduk di sana. "Sejak kapan kamu punya pacar, May? Kok Om nggak tahu? Dan apa katanya tadi? Kamu dan dia sudah menikah? Sejak kapan? Dan kenapa kamu bisa menikah dengannya? Apa matamu buta? Dia semuran dengan Om. Dia sudah tua, May."
Begitu banyak rentetan pertanyaan yang terlontar dari mulut Darus. Sungguh, dia merasa tak terima dan tak habis pikir dengan keponakannya yang datang-datang sambil mengenalkan seorang pria tua dan mengatakan kalau dia adalah suaminya.
"Jangan bilang kamu menikahinya karena ingin ngeret hartanya? Om nggak pernah mengajarimu menjadi wanita seperti itu, May," imbuhnya dengan tatapan tajam.
"Nggak, Om." Maya menggeleng cepat. "Aku sama sekali nggak ada niat ngeret Pak Sofyan. Aku juga tahu umurnya sudah nggak lagi muda. Tapi aku kemarin-kemarin menikah dengannya karena terpaksa, karena aku terkena musibah," jelas Maya.
"Musibah apa? Apa dia memperk*samu?" tebak Yuni.
"Nggak, Tan. Bukan seperti itu." Maya menggeleng lagi. "Kemarin ... aku sempat diculik oleh seseorang yang nggak aku kenal. Mereka berencana menjualku ke Singapura. Tapi untungnya ada Pak Sofyan, dia yang telah menolongku dan membeliku. Mungkin kalau saat itu nggak ada dia ... aku sendiri nggak tahu kalau sekarang aku masih bisa ada di sini atau, nggak," jelas Maya panjang lebar.
"Dijual? Masa sih, May? Apa mungkin itu hanya akal-akalan Pak Sofyan saja?" Darus tak percaya, dia malah berpikir yang tidak-tidak tentang menantu keponakannya itu.
"Nggak, Om. Itu benar. Orang itu juga sudah dimasukkan ke dalam penjara oleh Pak Sofyan. Ada buktinya kalau Om dan Tante nggak percaya."
"Terus kenapa kamu dan dia harus menikah?" tanya Darus lagi. Wajahnya masih terlihat sangat penasaran dan belum mempercayai cerita Maya.
__ADS_1
"Jadi pas mau pulang ke Indonesia aku nggak ada identitas. Dan hanya menjadi istri Pak Sofyan ... satu-satunya jalan untuk aku bisa pulang, Om. Mangkanya aku dan dia menikah supaya pulang dengan identitas menjadi istrinya Pak Sofyan. Dan kita menikah di sana secara dadakan."
"Tapi awal mula kamu kenal dengan Pak Sofyan itu dari mana? Dan apa dia punya istri? Jangan bilang kamu menjadi istri mudanya."
"Dia seorang duda, Om. Istrinya dulu selingkuh. Aku mengenalnya karena dia mertua dari bosku, Pak Rizky. Om pasti tahu Pak Rizky, kan?"
Maya sering menceritakan Rizky sebagai bos yang baik pada Omnya. Tentunya pria itu tahu.
Darus dan Yuni saling menatap sambil terdiam. Hingga beberapa menit akhirnya Darus kembali melihat ke arah keponakannya.
"Jadi kamu terpaksa menikah dengannya, ya? Ya sudah ... Om bisa memakluminya. Tapi lebih baik kamu dan dia bercerai saja sekarang," usulnya dengan enteng.
"Bercerai?" Mata Maya mendelik, lantas kepalanya menggeleng. "Nggak, Om. Kenapa harus bercerai? Aku dan dia baru menikah kemarin dan aku nggak mau mempermainkan pernikahan."
"Tapi kamu nggak suka padanya, kan? Jadi untuk apa kalian mempertahankan pernikahan? Anggap saja pernikahan kemarin sebagai bentuk untuk kamu bisa pulang ke Indonesia. Pak Sofyan pasti nggak akan merasa keberatan kalau kamu minta cerai."
"Pak Sofyan pasti nggak mau, Om. Soalnya dia dulu pernah mengajakku menikah."
"Menikah? Apa Pak Sofyan suka padamu?"
"Aku nggak tahu." Maya menggeleng.
"Coba sekarang kamu panggilkan dia untuk masuk. Biar Om yang bicara padanya supaya mau menceraikanmu, May. Om nggak setuju kamu menikah dengan pria tua seperti dirinya. Kamu terlalu muda, nggak cocok dengannya."
"Tapi, Om. Aku nggak mau bercerai dengannya. Aku hanya mau—"
"Panggil dia sekarang, May!" sela Darus cepat.
__ADS_1
Mau tak mau Maya menuruti ucapan Omnya. Dia langsung berdiri dan segera keluar dari kamar inap itu. Dilihat suaminya tengah duduk sembari bermain ponsel.
"Eh, kamu mau ke mana, May?" Pandangan Sofyan langsung beralih kepada istrinya, dia berdiri dan memasukkan kembali ponselnya di kantong celana.
"Om ingin bicara sama Ayank," ujar Maya pelan.
"Bicara? Baiklah." Sofyan tersenyum, kemudian mangajaknya masuk sama-sama ke dalam kamar inap itu lagi. Tetapi mereka memilih untuk duduk di sofa. "Apa Om ingin mendengar cerita dariku?" tanya Sofyan dengan sopan. Sejak tadi bibirnya tak ada henti-hentinya untuk tersenyum. Bahkan dia sendiri merasa giginya kering akibat senyumannya mungkin terlalu lebar.
"Nggak perlu, aku sudah tahu semuanya." Darus membuang napasnya kasar. "Maaf sebelumnya jika ini terdengar menyakiti, tapi menurutku ... Maya terlalu muda untuk Bapak. Aku mengerti dan sangat berterima kasih karena Bapak telah baik kepada keponakanku. Tapi rasanya Bapak dan Maya nggak cocok kalau menjadi sepasang suami istri."
Sofyan tersenyum kecil sambil menghela napasnya pelan. "Oh jadi karena masalah itu, ya? Saya sadar kok, Om. Berapa umur saya dan berapa umur Maya. Saya juga sadar diri jika saya memang terlalu tua untuknya. Tapi ... saya mencintai Maya, Om. Dia benar-benar perempuan idaman saya. Tolong izinkan saya untuk menjadi suaminya, saya berjanji akan membahagiakan Maya." Sofyan menoleh pada istrinya, dia menatap dalam dan penuh cinta. "Maya sudah bilang kalau dia akan menerima dan mencoba mencintai saya, Om. Saya minta tolong restui kita."
"Kamu serius bicara seperti itu padanya, May?" tanya Darus. Dia lagi-lagi merasa tak percaya.
"Iya, Om. Aku menerima Pak Sofyan menjadi suamiku. Aku ingin berumah tangga dengannya."
Jawaban Maya sungguh benar-benar luar biasa. Selalu memuaskan Sofyan. Pria itu menjadi sangat bahagia, dan beruntung bisa mendapatkan perempuan seperti dirinya.
'Rizky nggak pernah salah, Maya memang wanita yang sangat baik. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia, May,' batin Sofyan.
Darus terdiam beberapa saat, sampai akhirnya dia menggeleng cepat. "Tapi Om nggak setuju, Om nggak bisa melepaskan kamu bersama pria seperti Pak Sofyan. Dia terlalu tua, nggak cocok denganmu."
"Tapi saya dan Maya sudah menikah, Om. Dan kami juga nggak mau bercerai," ujar Sofyan.
"Kalian harus bercerai!" tegas Darus.
Sofyan menatap Maya sebentar, lalu beralih menatap Darus lagi. "Tapi Maya sedang hamil, wanita hamil nggak boleh bercerai!"
__ADS_1
Sontak saja—Maya membulatkan matanya, dan seketika tersendak ludahnya sendiri. "Uhuk-uhuk!"