
"Kalau Ibu berbohong, hukumannya akan bertambah dua kali lipat," ujar Pak Polisi. Ucapannya seperti sebuah ancaman.
Bu Sumiati terdiam dengan wajah binggung, keringat di dahinya seketika mengalir membasahi wajahnya. "Apa kalau sa-saya jujur ... saya nggak akan dipenjara?" tanyanya gugup pada Rizky.
"Iya, nggak akan," jawab Rizky.
Pasti, dia pasti akan dipenjara juga. Cuma untuk sementara lebih baik Rizky mengiyakan supaya dia mau jujur.
"Bukan dia yang menyuruh saya, Pak. Tapi ... tapi, seorang wanita."
Rizky membulatkan matanya. "Wanita? Siapa namanya?"
"Dia nggak menyebutkan namanya, tapi saya harus mengatakan kalau orang yang menyuruh saya adalah Pak Guntur ... jika sewaktu-waktu ketahuan," terangnya jujur.
"Apa Ibu diancam?"
Bu Sumiati mengangguk cepat. "Iya, dia menyuruh saya untuk berbohong karena saya juga diberi uang, Pak. Uang itu untuk biaya operasi anak saya yang sakit."
"Berapa Ibu diberi uang olehnya?"
"10 juta."
"Saya akan beri Ibu 20 juta sebagai gantinya. Tapi sebelum itu ... Ibu harus beritahu saya ciri-cirinya." Suara Rizky sekarang terdengar lembut. Emosinya sudah mulai mereda.
"Dia cantik dan masih muda, umurnya mungkin 20 tahunan. Rambutnya panjang sepunggung dan pirang, Pak."
Deg!
Mendengar kata pirang, Rizky langsung mengingat satu nama yaitu Mitha. Tetapi sebelum itu, dia harus memastikannya lagi.
Rizky menoleh pada Guntur. "Apa Papa punya foto Mitha? Coba tunjukkan pada Ibu Sumiati."
"Sepertinya ada." Guntur mengangguk, lalu mengambil ponselnya di dalam kantong celana. Setelah itu dia mencari-cari foto Mitha di dalam galeri. Saat sudah ketemu, diberikan ponsel itu pada Rizky.
"Apa wanita ini?" Rizky menunjukkan foto Mitha yang tengah tersenyum manis di depan layar ponsel.
Bu Sumiati yang melihatnya pun segera mengangguk cepat. "Iya, dia orangnya, Pak."
Dugaan Nella ternyata benar, Mitha lah orangnya.
Lantas Rizky berdiri sembari melihat ke arah Pak Polisi. "Bapak tangkap wanita ini, dan Bu Sumiati ikut dipenjara juga. Tapi beri dia keringanan."
"Tadi katanya saya nggak dipenjara kalau jujur, Pak? Kok Bapak berbohong?" Wajah Bu Sumiati tampak kesal dan tak terima.
"Ibu juga awalnya membohongiku. Coba Ibu mau jujur dari awal ... waktuku nggak terbuang sia-sia," terang Rizky. Dia melakukan hal itu supaya Bu Sumiati sadar jika dia tak boleh melakukan kejahatan hanya karena didesak kebutuhan. "Tapi Ibu tenang saja, masalah uang, aku tetap beri Ibu 20 juta. Itu sudah lebih dari cukup dibanding istriku yang hampir keguguran."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Rizky pun segera keluar dari kantor polisi bersama Guntur.
***
Sementara itu ditempat yang berbeda, Nella tengah duduk seorang diri di ruang makan. Baik Rizky atau Diana—tak ada satu pun yang pulang.
Nella terus menghubungi Rizky dan pria tampan itu hanya mengatakan akan segera pulang. Selanjutnya dia juga menghubungi Diana, tetapi nomornya tidak aktif.
Dia pun terdiam sembari menyandar pada punggung kursi. Perlahan-lahan tangannya mengusap perut. Seketika dia mengingat jawaban dari Bu Sumiati yang mengatakan kalau pelakunya adalah Guntur.
Jujur saja, Nella sendiri tak ingin percaya dan mencoba meyakinkan diri kalau pelakunya adalah Mitha. Namun lagi-lagi hati kecilnya terus bertanya.
Apa mungkin memang benar, Guntur bisa setega itu padanya?
Nella menggeleng cepat. "Ah nggak mungkin, masa Papa sejahat itu sampai mau membunuh cucunya sendiri?" Nella menunduk sembari memperhatikan perutnya sendiri. "Aku yakin pelakunya adalah Mitha, Bu Sumiati pasti berbohong."
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah yang terhenti di depannya hingga membuat Nella mengangkat kepalanya.
"Papa!" seru Nella seraya berdiri.
Ya, dia adalah Sofyan yang baru saja datang dan segera menghamburkan pelukan pada putri semata wayangnya, dia juga mengecup singkat keningnya.
"Papa sudah pulang, lama sekali."
Apa tidak terbalik? Harusnya Nella bilang cepat. Jika dihitung—mungkin harusnya Sofyan pulang besok.
"Aku 'kan tak minta oleh-oleh Papa, emas permata dan juga uang."
"Dih, kaya lirik lagu saja." Sofyan terkekeh, lalu dia pun menarik kursi untuk duduk dan mengajak Nella duduk lagi di bangku tadi.
"Kak, aku ke atas dulu taruh koper, ya?" ucap Dirga yang sejak tadi ada di sana tetapi tak dianggap oleh Nella. Kedua tangannya memegang dua koper.
"Iya," jawab Sofyan singkat.
Lantas Dirga pun berlalu pergi menaiki anak tangga.
Sofyan membuka paperbag, lalu mengeluarkan dua kotak persegi panjang yang berisi bolu.
"Bolu apa itu, Pa? Sepertinya enak." Nella sepertinya begitu tergiur saat melihat Sofyan sudah mengambilkan bolu yang dipenuhi series dan keju itu padanya.
"Ini namanya bolu susu Lembang, katanya sih makanan khas Bandung. Coba kamu makan dulu, pasti enak."
Sofyan menyodorkannya ke bibir Nella, tetapi wanita cantik itu sepertinya ragu untuk membuka mulut.
Nella mengingat ucapan Rizky yang mengatakan kalau menerima minuman atau makanan—harus beritahu dia dulu. Sedangkan saat ini Rizky tak ada.
__ADS_1
"Aku makan itu tunggu Mas Rizky pulang saja deh, Pa."
"Lho kenapa? Ini enak. Kamu nggak mau?" Melihat Nella menggeleng kepala, pada akhirnya suapan itu untuk dirinya sendiri. "Oya, ngomong-ngomong ... Rizky dan Mami kemana? Kok rumah sepertinya sepi?"
"Mas Rizky sedang ke kantor ...."
Ting~
Ucapan Nella menggantung saat melihat Sofyan tengah mengambil ponselnya di dalam saku jas.
Sofyan mendapatkan chat dari nomor tak di kenal, ada sebuah kirimin video yang berisi 5 menit.
"Papa baru pulang kok sudah main hape? Kerja terus males, ah! Seperti Mas Rizky," ujar Nella cemberut.
"Ah sebentar sayang, ini ada seseorang yang mengirim video ke Papa." Sofyan segera memencet video itu dan langsung berputar.
Nella ingin ikut melihatnya, tetapi tidak diperbolehkan oleh Sofyan. Sebab dia takut jika itu adalah video bok*p kiriman temannya.
Seketika matanya membulat kala menatap layar ponselnya. Itu bukanlah video mesum, melainkan video Diana dan Aji yang tengah bertemu di koridor rumah sakit.
Melihat mereka yang di dalam sana tengah mengobrol, itu membuat Sofyan penasaran. Dia yang awalnya menonaktifkan volume, kini malah diperbesar dan membiarkan Nella ikut mendengarnya.
"Diana."
"Om ...."
"Kamu lupa padaku, ya?"
"Aku Aji, Aji Wijaya."
Mendengar nama Aji pada rekaman itu, Nella yang begitu penasaran langsung ikut menonton dan seketika mata mereka melebar, manakala menyaksikan adegan peluk-pelukkan yang menurutnya tak wajar itu sampai video itu berakhir.
Brak!
"Brengs*k!" pekik Sofyan seraya mengebrak meja, wajahnya yang terlihat memerah dengan rahang yang mengeras sudah menjadi bukti kalau dirinya benar-benar emosi.
Dia pun segera berdiri. Baru saja selangkah naik ke satu anak tangga, tetapi terhenti lantaran ponselnya kembali berbunyi notifikasi chat masuk. Mungkin saat ini Sofyan ingin menemui istrinya di kamar, dia kira Diana ada di sana.
Sofyan memencet tombol lalu membuka chat tersebut.
💬
08125×××××
20.00 PM
__ADS_1
Selamat malam, aku hanya ingin memberitahumu kalau saat ini istrimu yang cantik sedang berada di kamar hotel bersama pria lain. Jika kamu tidak percaya ... silahkan datang ke Hotel Raffles Jakarta, nomor kamarnya 303 di lantai 3.