
"Baju kamu lah, Mamah punya baju baru untukmu. Tapi nanti saja ganti bajunya, setelah kita makan siang bersama, kasihan Rizky sudah menunggu." Gita merangkul bahu Nella mengajaknya menuju ruang makan. Nella hanya pasrah dan menuruti ucapan Gita.
"Bagaimana rasanya, Riz?" Gita melihat Rizky yang tengah makan dengan lahapnya, sampai mulutnya terpenuhi makanan.
Rizky menjawabnya dengan anggukan kepala dan mengangkat kedua ibu jarinya ke atas, menandakan kalau makanan itu benar-benar enak.
"Segini cukup, Mah?" tanya Nella saat mengambil satu centong nasi ke atas piring, untuk Gita.
"Cukup sayang." Gita mengangguk, lantas dirinya duduk di samping Nella, Nella berada di tengah antara Rizky dan Gita. "Mamah mau yang paha," pinta Gita ketika melihat Nella tengah memegang sendok di atas mangkuk ayam balado.
"Iya, Mah. Sayur bayamnya mau nggak?" tawar Nella.
"Boleh, tuangkan di atas nasi saja."
"Iya, Mah." Nella mengangguk, lantas menuruti apa yang Gita pinta. Setelah itu, ia memberikan piring itu di depan Gita.
"Wah, rasanya benar-benar enak," ujar Gita takjub dengan mata yang berbinar, saat mengunyah satu suapan sendok ke dalam mulutnya. "Kamu benar-benar wanita sempurna, Nella. Mamah beruntung bisa menjadi mertuamu," tambahnya.
Pipi Nella langsung bersemu merah, pujian dari Gita membuat hatinya hangat. Nella menggembungkan senyum. "Terima kasih, Mah."
"Sama-sama Sayang."
Nella juga ikut makan, ia menuangkan nasi sedikit dan sayur bayam di atas piringnya.
"Kok makannya sedikit?" tanya Gita.
"Aku sedang diet, Mah."
"Oh, tapi tetap jaga kesehatan ya, sayang? Jangan terlalu dipaksa."
"Iya, Mah." Nella mengangguk.
Rizky memperlihatkan wajah Nella dari samping yang tengah tersenyum kepada Gita, Rizky juga ikut menyunggingkan senyuman.
Gue juga mau lihat senyuman itu untuk gue, Nell' batin Rizky.
*
"Maaf Mamah merepotkanmu dan terima kasih makan siangnya, rasanya sangat nikmat," ujar Gita diakhir sesi makan siang mereka, serta mengusap perutnya yang kenyang.
"Sama-sama, Mah."
"Oya, Riz!" panggil Gita yang mana membuat Rizky menoleh. "Antar Nella ke kamarmu, suruh dia ganti baju."
__ADS_1
"Nggak usah deh, Mah. Aku mau langsung ke Restoran saja," tolak Nella seraya bangkit dari duduknya.
"Lho kok ke Restoran? Kan Mamah minta kamu libur sehari dulu. Mamah ingin menghabiskan waktu bersamamu."
"Tapi pekerjaanku banyak di Restoran, Mah."
"Ya sudah deh, tapi kamu malam ini menginap di rumah Mamah, ya?"
"Aku—"
"Ide yang bagus tuh, aku juga kangen tidur di kamarku waktu masih bujang, Mah." Rizky menyela cepat ucapan Nella.
"Iya, kamu dan Rizky menginap di sini, nanti biar Mamah yang izin sama mertuamu."
Nella menghela nafasnya dengan berat. "Ya sudah, tapi aku harus ke Restoran dulu, Mah."
"Gue antar." Rizky bangkit dari tempat duduknya seraya merangkul bahu Nella.
"Mobil Bapak 'kan di rumah Papah, aku bisa pergi sendiri." Nella menjatuhkan tangan Rizky pada bahunya.
"Rizky bisa pakai mobil Mamah," sahut Gita. "Kalian hati-hati dijalan," ujar Gita seraya mengecup kening Nella dan Rizky secara bergantian. Nella hanya pasrah, mengikuti langkah kaki Rizky dari belakang.
*
"Bel—"
"Oh gue lupa," sela Rizky cepat. "Lu nggak akan jujur sama gue, biar nanti malam gue yang periksa sendiri."
Periksa sendiri?' batin Nella.
"Lu pulang jam berapa dari Restoran? Biar gue jemput habis dari kantor," tanya Rizky kembali.
"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri," jawabnya ketus.
"Jangan lupa pulangnya ke rumah orang tua gue, kita menginap. Gue tunggu lu nanti malam."
"Iya."
***
Sore hari.
Nella melangkah masuk ke rumah Guntur, ia baru saja pulang dari Restoran.
__ADS_1
Langkahnya terhenti di ruang keluarga lantaran melihat Guntur dan Gita tengah duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Lantas, Nella menghampiri kedua orang tua itu.
"Sore Mah, Pah," ujarnya seraya mencium punggung tangan Gita dan Guntur silih berganti.
"Sore, Nella. Kamu baru pulang? Di mana Rizky?" tanya Guntur seraya melihat ke arah pintu utama, mencari anaknya.
"Aku pulang sendiri, Pah."
"Kok Rizky nggak jemput? Gimana kali si Rizky ini." Gita mengangkat bokongnya, kemudian memperhatikan Nella yang mengenakan dress dengan model Sabrina berwarna pink, tercium aroma minyak wangi pada tubuh Nella. Serta polesan make up yang seperti masih baru, menempel pada wajahnya. "Pakaian kamu kok beda? Kamu juga wangi seperti habis mandi?"
"Iya, aku memang sudah mandi tadi di Restoran, Mah."
"Oh, kamu mau makan atau mau istirahat dulu di kamar? Pasti capek, kan?"
"Aku sudah makan tadi, aku mau istirahat saja."
"Ya sudah, ayok Mamah antar ke kamar Rizky," ujar Gita. Lantas Nella mengangguk, mengikuti langkah kaki sang mertua yang merangkul bahunya, berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Tepat di samping kamar utama, Gita membuka sebuah kamar bernuansa abu-abu. Nella membulatkan netranya saat melihat penampakan kasur di kamar itu. Ada beberapa kelopak bunga mawar yang berhamburan di atasnya, selimutnya berbentuk angsa yang tengah berciuman. Ia juga menghirup aroma wangi pada ruangan itu.
Penampakan itu hampir mirip dengan kamar Hotel saat dirinya dan Rizky menginap. Benar-benar terlihat begitu berlebihan dalam penglihatan Nella.
"Kamarnya bagus, kan? Mamah yang buat semua ini lho, menyambut kamu dan Rizky menginap," ucap Gita seraya menoleh pada Nella yang tengah meringis geli melihat kasur.
Nella manis sekali, ekspresinya sama seperti waktu melihat kamar Hotel' batin Gita.
Gita mengajaknya untuk masuk dan berjalan menuju lemari kayu besar dengan empat pintu. Ia membukakan pintu urutan nomor dua lemari tersebut, seraya berkata, "Dan ini, semuanya pakaian milik kamu Sayang. Mamah yang membeli sendiri langsung, setelah kamu dan Rizky pergi tadi siang."
Gita mengambil lingerie seksi berwarna hitam yang berada di tumpukan baju paling atas. "Waktu malam pertama kamu dan Rizky, Mamah memberikan lingerie seperti ini, tapi dengan model yang berbeda. Saat itu ... kamu pakai atau nggak?"
Nella menggeleng. "Aku nggak suka baju seperti itu, Mah. Geli." Bahkan model yang sekarang Gita pegang adalah kimono, pakaian dalamnya memakai tali dan kimononya benar-benar begitu transparan. "Sama saja seperti aku nggak memakai pakaian sama sekali," tambahnya lagi.
Gita terkekeh. "Ini namanya seksi Sayang, Mamah bahkan setiap malam selalu memakai pakaian seperti ini, tapi dengan model berbeda."
Nella terbelalak. "Mamah benar-benar Mesum!" Merasa keceplosan, Nella langsung menutup mulutnya dengan tangan kiri. Ia tak enak pada Gita. "Maaf, Mah. Bukan—"
"Hahahaha ...." Gita bergelak tawa sambil geleng-geleng kepala. "Mamah sering dengar dari Rizky, kalau kamu sering mengatakan Rizky pria mesum, ternyata dia mesum menurun dari Mamah." Bukannya marah, Gita justru merasa bangga pada dirinya sendiri yang bisa menurunkan otak mesumnya untuk Rizky.
"Tapi Mamah harap, Rizky hanya mesum padamu. Mamah juga hanya mesum pada papahnya," ujarnya kemudian.
"Tapi memang Pak Rizky pria mesum, aku bertemu dengannya saja saat dia berbuat mesum di toilet dan aku juga dengar dari orang-orang kalau dia sering bercinta dengan beberapa wanita," celetuk Nella.
Kekehan Gita sontak terhenti, ia langsung terdiam dan mendudukkan bokongnya di kasur.
__ADS_1