Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
167. Ada yang mau mencelakai


__ADS_3

"Jamu?" Gita terbelalak lalu menoleh pada Bi Yeyen. "Aku nggak kirim jamu apa-apa, Bi," ujarnya dengan gelengan kepala.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Rizky yang kebingungan.


"Tadi pagi saat Bibi mau mengantar baju couple ke rumah Pak Sofyan ... ada kurir yang mengantar di rumah Bapak. Dia bilang itu jamu penguat kandungan dari Bu Gita," terang Bi Yeyen. "Jadi Bibi sekalian memberikan jamu itu saat bertemu Nona Nella di rumah Pak Sofyan, tapi nggak tahu juga kalau diminum atau nggaknya," imbuhnya lagi.


"Bibi ini gila apa bagaimana, sih?" Gita mendengus kesal, merasa tak terima namanya dibawa-bawa. "Aku nggak kirim jamu!" tegasnya.


"Tapi kurir yang mengirim bilang dari Bu Gita, Bu," terang Bi Yeyen.


"Wah, berarti ini ada yang mau mencelakai Nella, Riz!" ujar Gita dengan emosi. "Dia membawa nama Mama juga lagi, kamu harus tahu siapa orangnya."


Rizky membulatkan matanya, darah di tubuhnya langsung berdesir dengan cepat dan emosinya naik ke ubun-ubun.


Tentu dia sangat tak terima, dan tak bisa diam saja seperti ini.


"Apa ada tanda pengirimannya, Bi?" tanya Rizky pada Bi Yeyen.


"Bibi nggak tahu." Bi Yeyen menggeleng cepat. "Kurir itu hanya memberikan sebotol jamu di dalam plastik putih, Pak. Tapi mungkin saja ada petunjuk di botolnya. Kalau belum sempat Nona Nella buang."


Rizky bangkit seraya berdiri. "Sekarang Bibi ikut denganku ke rumah Papa Sofyan, kita cari botol itu."


"Baik, Pak." Bi Yeyen ikut berdiri lalu mengangguk.


"Aku titip Nella, Ma." Rizky menoleh pada Gita. "Kalau ada apa-apa ... Mama hubungi aku."


"Iya, Riz." Gita mengangguk.


Setelah itu, Rizky berlalu pergi keluar rumah sakit.


Namun, baru saja hendak membuka pintu mobilnya—tiba-tiba Hersa datang memanggil dan berlari menghampirinya.


"Bapak mau pergi ke mana? Ini pesanan Bapak." Hersa menyerahkan kantong plastik putih yang sejak tadi dibawa ke tangan Rizky.


"Gue ada urusan, mau pulang dulu dengan Bi Yeyen. Lu di sini saja, Sa. Takut Mama butuh sesuatu."


"Iya, Pak." Hersa mengangguk.


Rizky pun segera masuk kemudian disusul Bi Yeyen.


Jas yang sejak tadi ada di atas kepala, kini Rizky turunkan. Dia memakai jas tersebut lalu memakai kupluk yang Hersa beli tadi.

__ADS_1


*


*


*


"Bibi ... Mami," panggil Rizky saat langkahnya sudah masuk ke dalam rumah Sofyan. Rumah mewah itu terasa sangat sepi.


Di belakang pria tampan itu ada Bi Yeyen yang tengah membuntut, mengikutinya sampai masuk ke dalam kamar.


"Coba Bibi periksa sekitar kamar ini sampai ke tong sampahnya, siapa tahu bisa menemukan botol jamu," titah Rizky.


Bi Yeyen mengangguk, dia pun segera mencari-cari apa yang Rizky perintahkan.


Namun setelah diperhatikan, kamar itu terlihat rapih dan sepreinya pun sudah diganti. Sepertinya—Bibi pembantu di rumah Sofyan sudah membereskannya.


Rizky memutuskan untuk turun lagi dari kamarnya, lalu berjalan menuju dapur yang kebetulan terdengar suara kran menyala.


"Bi, apa Bibi menemukan botol jamu di kamarnya Nella?" tanya Rizky seraya menghampiri wanita berdaster yang tengah mencuci piring.


Wanita tersebut menoleh lalu segera menghentikan aktivitasnya. "Botol yang ada di atas nakas bukan, Pak?"


"Mungkin, terus di mana botolnya, Bi? Apa jamunya masih ada?" tanya Rizky penasaran.


Rizky memperhatikan botol itu, botol kaca itu sangat polos, dan tak ada petunjuk untuknya.


Tak lama Bi Yeyen datang menghampiri mereka berdua, tetapi dia tak membawa apa-apa.


"Itu benar botolnya, Pak," ujar Bi Yeyen.


"Tapi botol polosan begini bagaimana bisa kita tahu pelakunya, Bi?" keluh Rizky sembari memikirkan sebuah ide. Dia terdiam beberapa saat sampai akhirnya berkata, "Bibi sekarang pulang saja, bilang sama satpam suruh cek CCTV di depan gerbang rumah. Mungkin Bibi ingat wajah kurirnya ... nanti Bibi catat plat motornya dan kirim padaku. Aku akan suruh Hersa menyelidiki pelakunya."


"Baik, Pak." Bi Yeyen mengangguk.


"Besok-besok ... ini untuk kalian berdua." Rizky menunjuk Bi Yeyen dan Bibi berdaster bergantian. "Kalau ada orang yang mengantar makanan, minuman atau apa pun untuk Nella ... beritahu aku dulu. Pokoknya itu semua harus berada di tanganku dulu sebelum di tangan Nella. Kalian mengerti?"


Bi Yeyen dan Bibi berdaster mengangguk cepat dan berucap secara bersamaan. "Mengerti, Pak."


Setelah itu, Bi Yeyen pamit pulang dari rumah itu.


"Ini semua orang pada ke mana sih, Bi? Kok sepi banget?" tanya Rizky pada Bibi berdaster.

__ADS_1


"Pak Sofyan sudah berangkat ke Bandung, Pak. Kalau Bu Diana ... tadi dia pergi."


"Kalau Mami sudah pulang, Bibi beritahu dia kalau Nella masuk rumah sakit, ya? Rumah Sakit Sejahtera," titah Rizky.


"Baik, Pak." Bibi mengangguk.


Setelah itu, Rizky pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit menemui Nella. Tetapi dia juga tak lupa untuk mengirim pesan pada Hersa perihal masalahnya.


***


Sementara itu di tempat berbeda.


Diana sudah duduk di cafe yang Ihsan kirim alamatnya, tempat dimana mereka janjian. Tetapi pria bule itu tak kunjung datang.


"Di mana si Ihsan? Kok nggak ada? Katanya dia sudah datang lebih dulu?" gerutu Diana sembari mengedarkan pandangannya, mencari-cari keberadaan Ihsan.


Tak lama terdengar deringan ponsel di dalam tas jinjingnya yang berada di atas meja. Lantas dia pun segera mengambil benda pipih itu dan mengangkatnya. Panggilan itu dari Ihsan.


"Halo, kamu di mana? Aku sudah sampai," ucap Diana kesal.


"Tante, aku binggung sekali. Aku ingin menemui Tante tapi sepertinya nggak bisa," ujar Ihsan dengan nada sedih.


"Nggak bisanya kenapa? Katanya kamu sudah sampai lebih dulu?" Diana mendengus kesal.


"Itu benar, aku juga melihat Tante dari kejauhan. Tapi ada masalah."


Diana langsung menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Ihsan. Tetapi kembali dia tak menemukannya.


"Kamu di mana sebenarnya dan ada masalah apa, sih?" Lama-lama Diana menjadi jengah sebab tak kunjung melihat batang hidung pria itu.


"Sekarang Tante coba lihat dua orang pria yang memakai jaket kulit berwarna hitam, mereka duduk di sebelah kiri pojok cafe," titah Ihsan.


Diana pun langsung menoleh dan mendaratkan pandangannya pada pria yang Ihsan maksud, kebetulan mereka juga melihat ke arahnya.


"Mereka kulitnya coklat dan berbadan kekar bukan, San?" tanya Diana. Lalu dia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak menatap kedua pria itu lagi.


"Iya, dia sepertinya orang suruhannya Om Sofyan. Aku melihat gerak gerik mereka tadi dan mereka datang juga berbarengan dengan Tante," terang Ihsan.


Ihsan tak ingin ambil resiko jika dia kepergok jalan atau bertemu dengan Diana. Sebab itu tak sesuai dengan rencana awalnya.


Wajah dua orang itu juga sangat familiar di mata Ihsan. Dia orang yang sama, yang menghadangnya saat di hari Nella dan Rizky menikah.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya~


__ADS_2