Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
227. Peluk duren


__ADS_3

"Eh, Riz. Kok kamu ada di sini?" Sofyan menghentikan langkahnya saat melihat menantunya itu tengah duduk santai di sofa ruang tamu.


Dia mengenakan kaos putih lengan pendek, celana kolor pendek berwarna hitam. Menonton televisi sambil mengunyah kripik kentang.


"Akhirnya Papa sudah pulang, aku sudah menunggu dari tadi, lho." Rizky tersenyum lebar saat mengetahui mertuanya itu berada di depan mata, lantas dia pun berdiri dan menaruh bungkus kripik itu di atas meja. "Bagaimana kencannya? Apa berjalan sukses?" Rizky mengedipkan salah satu matanya sambil berjalan menghampiri Sofyan.


Wajah Sofyan tampak lesu, dia menggeleng cepat. "Nggak, Maya terlalu sempurna untuk Papa, Riz."


"Sempurna? Maksudnya bagaimana, Pa?" Rizky berlari mengejar Sofyan yang berlalu begitu saja menaiki anak tangga. "Apa Maya menolak Papa? Apa dia menghina Papa? Beritahu aku, Pa."


"Maya menolak, tapi dia punya alasan." Sofyan melepaskan jasnya lalu membuka pintu kamarnya. Dia masuk ke dalam, begitu pun dengan Rizky.


"Alasannya apa? Coba beritahu aku?" Rasa penasaran Rizky membawanya malam-malam ke rumah Sofyan, bahkan niatnya juga ingin menginap. Memang selain agak gila, Rizky juga orangnya kepo.


"Besok saja deh Papa ceritakan, sekarang kamu pulang saja. Ini sudah jam ...." Sofyan menatap arlojinya. "Sudah jam 10, sudah malam, Riz."


"Dih, kok Papa mengusirku? Aku 'kan ke sini memang mau menginap. Lihat saja kostumku, aku sudah memakai baju tidur." Rizky membaringkan tubuhnya di atas kasur Sofyan tanpa izin terlebih dahulu. Dia juga sudah menarik selimut sampai di atas perut.


"Kostum apaan? Itu 'kan hanya kolor dan kaos. Lagian kamu kenapa ada di sini? Kalau mau menginap di kamar Nella saja."


"Dih, Papa kok nggak menghargai menantu sendiri? Papa Guntur saja yang mau tidur denganku aku menolak, tapi kalau Papa aku justru dengan senang hati mau tidur bersama. Tapi hanya malam ini saja."


Alasan, padahal Rizky memang ingin sekedar mendengarkan cerita. Dan memang Sofyan itu kalau tidur tak seperti Guntur, tidak ngorok. Rizky juga pernah sekali tidur dengannya saat rumah sakit meski mereka berdua berantem dulu.


"Tapi sempit, kamu 'kan kalau tidur jelalatan orangnya." Sofyan mengambil kolor pendek dan kaos di dalam lemari, mungkin pakaian yang sama dengan Rizky. Hanya saja beda ukuran, dia jauh lebih besar. Setelah itu masuk ke dalam kamar mandi untuk sekalian mencuci muka dan gosok gigi.


"Jelalatan gimana, sih? Orang tidur ya merem, Pa." Rizky menatap Sofyan yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil. Setelah menaruh handuk itu, lantas Sofyan naik ke atas kasur dan berbaring di samping Rizky. Menantunya itu juga membagi selimut untuk dipakainya. "Cepat ceritakan, sebelum aku ngantuk, Pa." Jiwa kepo Rizky masih meronta.


Sofyan menatap langit-langit kamar sambil membayangkan wajah Maya. "Tadi Papa dan dia mengobrol cukup banyak. Dan Papa bahkan belum sempat bicara kalau Papa mau mengajaknya menikah, tapi dia sudah bilang nggak bisa jadi istri Papa, Riz," keluh Sofyan sedih.


"Kurang ajar sekali Maya, masa dia langsung menolak Papa!" gerutu Rizky sambil mengertakkan giginya. Lantas dia pun bangkit lalu merogoh ponselnya di kantong celana. Sepertinya dia hendak menghubungi Maya, tetapi langsung dicegah oleh Sofyan. Papa mertuanya itu mempas ponselnya.


"Jangan marahin Maya, Riz. Dia nggak salah." Sofyan menggeleng cepat seraya duduk.

__ADS_1


"Itu dia menolak Papa, masa aku harus diam saja? Dan apa alasannya? Kenapa Papa belum melamarnya tapi dia sudah menolak duluan? Sok cantik sekali!" geram Rizky emosi.


"Dih, kok kamu malah marah-marah, sih? Dan Maya memang cantik, Riz. Nggak pakai sok. Alasan dia menolak Papa juga karena katanya dia punya hutang sama Om dan Tantenya. Mereka meminta Maya untuk membelikan rumah," jelas Sofyan. Dia tak mau sampai Rizky memarahi Maya, nanti yang ada Maya akan membenci padanya.


"Hubungannya sama menikah apa?"


"Dia bilang katanya Om dan Tentenya itu nggak akan mengizinkan Maya menikah sebelum dia membelikan rumah."


"Oh, ya sudah Papa saja yang belikan. Maya 'kan kere, Pa."


"Kamu kalau ngomong, Riz. Ngasal saja." Sofyan langsung menampar bibir Rizky saat mendengar gebetannya itu disebut kere. Dia tak terima. "Maya 'kan karyawanmu juga, kan gajinya dari kamu. Kok kamu ngatain dia kere."


"Memang gaji dariku, tapi 'kan aku memberikan gaji juga sesuai. Itu berarti dianya saja yang nggak bisa menabung."


Rizky tak tahu saja bagaimana kebutuhan seorang perempuan, apalagi tinggal sendiri seperti Maya.


"Memang berapa kamu kasih dia gaji perbulannya?"


"Dikit amat? Papa saja gaji sekertaris Papa sembilan juta, Riz."


"Enam juta 'kan belum sama bonus, Pa. Mungkin kalau sama bonus bisa sampai sepuluh jutaan."


***


Keesokan harinya.


Meskipun kemarin malam sempat merasa sedih dan kecewa lantaran sebuah penolakan, tetapi hari ini Sofyan justru ingin berjuang lagi untuk bisa mendapatkan Maya.


Tentunya dia juga meminta bantuan Rizky, pria itu harus selalu hadir sampai dirinya berhasil menikahi Maya.


Tepat di sebuah parkiran apartemen Maya, Sofyan tengah duduk di mobilnya sambil mengunyah roti tawar yang dia bawa dari rumah. Juga dengan kopi yang berada di termos kecil.


Dia sedang sarapan sambil menunggu Maya yang keluar dari apartemen.

__ADS_1


"Kok Maya belum keluar juga? Apa aku kepagian datangnya?" Sofyan menatap arlojinya yang menunjukkan pukul 5 pagi. "Ah tapi kata Rizky, Maya 'kan kalau berangkat pagi-pagi."


Setelah satu jam lamanya Sofyan menunggu, akhirnya dia melihat sesosok perempuan yang ditunggunya sejak tadi.


Dia Maya, gadis itu keluar dari gedung apartemen dengan mengenakan setelan jas berwarna pink, sepatu hinghells berwarna hitam dan tas jinjin berwarna hitam juga. Rambutnya terurai panjang dan sedikit basah.


"Wah ... calon istriku tuh, kinyis-kinyis banget. Rambutnya basah lagi, apa semalam dia habis mimpiin aku? Sampai keramas pagi-pagi begini?" gumam Sofyan sambil terkekeh.


Segera dia menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya ke arah gerbang. Menghampiri gadis yang kini berdiri di sisi jalan raya.


Kebetulan apartemen yang Maya sewa juga milik Steven, adik bungsunya. Jadi satpam penjaganya pun mengizinkannya masuk. Bisanya kalau bukan orang yang menyewa apartemen, pasti tidak diizinkan.


Tit ... tit ... tit.


Sofyan mengklakson mobilnya hingga Maya yang tengah bermain ponsel lantas terperangah. Gadis itu mengangkat wajahnya dengan kening yang mengerut saat melihat Sofyan menurunkan kaca mobil.


"Selamat pagi, May," sapa Sofyan sambil tersenyum manis.


"Eh, Pak Sofyan. Pagi juga, Pak." Maya ikut tersenyum.


"Ayok bareng, May. Aku juga ada perlu sama Rizky."


"Saya sudah pesan ojek online, Pak."


Ah, lagi-lagi Sofyan ditolak. Rasanya menyakitkan. Padahal dia sudah lama menunggu. Untungnya tidak jamuran.


"Sebentar lagi hujan, May. Nanti kamu basah pas sampai kantor Rizky," ujar Sofyan mencari alasan, itu semua demi Maya bisa mau ikut bersamanya.


Maya menengadah menatap langit-langit, sangat cerah sekali pagi ini, rasanya tak mungkin kalau hujan.


"Cerah begini masa hujan, Pak."


"Tadi aku lihat berita cuaca, May. Katanya nanti akan hujan lebat sekitar jam setengah tujuh, berarti sebentar lagi, kan?" Sofyan sampai turun dari mobil dan membukakan pintu, kali ini dia agak memaksa ingin Maya ikut dengannya. "Ayok naik. Selain hujan katanya juga ada petir, May. Kan serem. Nanti kalau pas kamu kaget masa peluk Abang ojek. Menang banyak dong dia, mendingan peluk duren."

__ADS_1


__ADS_2