Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
231. Dijual oleh Om-om kaya


__ADS_3

Maya mengerjap-ngerjapkan matanya secara perlahan, lalu dia pun mengerutkan wajahnya saat merasakan sakit di kepalanya.


Sepertinya ada yang aneh dalam penglihatannya saat ini, semua yang dia lihat terlihat agak gelap. Semacam mendung. Tetapi anehnya dia seperti ada di sebuah pesawat yang tengah terbang, juga ada beberapa penumpang disekitarnya, duduk di kursi penumpang masing-masing.


"Eemm ...." Maya hendak bersuara tetapi tak bisa. Mulutnya dilakban dan dilapisi oleh masker. Kedua tangannya ingin menyentuh wajah, tetapi tak bisa lantaran kedua pergelangan tangannya itu diikat oleh kain dan tertutup oleh sebuah jaket.


Maya mendongakkan wajahnya ketika sadar saat ini dia tengah duduk bersama seorang pria. Namun, baru saja dia melihat wajah pria itu, mendadak dia merasakan ada sesuatu yang tajam menusuk lengan kiri atasnya. Hingga membuatnya meringis kesakitan.


Itu seperti jarum suntik, dan jarum itu disuntikkan oleh pria di sampingnya.


'Siapa dia? Dan apa yang dia lakukan padaku?' batin Maya. Tak berselang lama matanya kembali sayup dan perlahan terpejam.


***


Beberapa jam berlalu....


Maya membuka matanya secara perlahan, lalu segera menyentuh kepalanya yang berdenyut nyeri. Dia saat ini sedang berbaring di atas ranjang size bag, di sebuah kamar yang mirip sekali dengan kamar hotel. Tetapi hotel kalangan kelas bawah, tak ada mewah-mewahnya.


Maya menarik tubuhnya untuk duduk, lalu pandangan matanya mendarat pada dua orang gadis yang mungkin seusai dengannya. Sedang makan sambil duduk di sofa, keduanya mempunyai paras yang cantik.


"Akhirnya kamu bangun juga," ucap gadis berambut panjang saat melihat Maya tengah menatapnya. Terlihat dia seperti menghela napas lega.


"Kalian siapa?" Maya langsung menyentuh bibirnya, dia baru sadar jika bibirnya sudah tak ada lakban dan kedua tangannya juga tak diikat. Sekilas dia mengingat tentang kejadian yang samar-samar di otaknya, juga saat pulang kencan dan dibius oleh seseorang.


"Namaku Kiky," jawab gadis itu.


"Aku Nadda," imbuh gadis di sampingnya. Yang mempunyai rambut panjang dan berponi depan. "Kamu Melisa, kan?"


Maya mengerutkan keningnya. "Melisa? Siapa Melisa? Namaku Maya."


"Maya? Kata Mami namamu Melisa. Ayok makan, ini nasi untukmu." Nadda menunjuk sebuah kotak di atas meja.

__ADS_1


"Mami? Siapa itu Mami?" Maya menjatuhkan kedua kakinya di lantai, lalu pelan-pelan dia berjalan menghampiri kedua gadis itu. Sambil terus menyentuh kepalanya yang terasa berat.


"Mami, dia yang akan jadi Bos kita, Mel," sahut Nadda.


"Namaku Maya."


"Iya, maksudku Maya."


"Tadi kamu bilang apa? Bos? Bos apa? Bosku hanya Pak Rizky." Maya duduk di sofa single sembari mengucek kedua matanya. Berulang kali dia menepuk-nepuk kedua pipi, sebab rasanya dia seperti mimpi berada di tempat asing dan dengan orang asing.


"Dia bos yang akan menjual kita ke om-om kaya, May," jawab Nadda lagi, yang mana sontak membuat Maya melotot.


"Menjual? Om-om?" Maya menggeleng cepat, lalu berdiri. "Aku nggak mau dijual, apalagi sama om-om. Dan aku juga nggak kenal siapa itu Mami."


"Aku juga nggak mau, May. Tapi aku sendiri dijual oleh ibuku," ujar Nadda dengan wajah sedih.


"Iya, aku juga dijual sama ayahku. Dia tega sekali padaku," ucap Kiky dengan wajah kesal.


"Tapi aku nggak dijual oleh siapa pun dan harusnya aku nggak ada di sini. Aku ... aku harusnya sedang meeting di kantor." Maya teringat akan meetingnya, dia juga melihat jam weker di atas nakas yang menunjukkan pukul 17.00. Dia yakin jika sekarang sudah berganti hari. Jika diingat dia juga merasa kalau dia sudah banyak tidur.


Gadis itu beringsut mundur beberapa langkah ketika melihat sesosok wanita seksi yang datang dengan kedua pria. Mereka orang yang sama, Mami dan dua anak buahnya yang memakai seragam hitam. Hanya saja sekarang mereka tak memakai masker, wajah keduanya terlihat garang dan tertutup kaca mata hitam.


"Kalian siapa? Kenapa kalian membawaku ke sini?" tanya Maya dengan kesal.


"Panggil aku Mami, Sayang. Mami membawamu ke sini karena akan merubah nasibmu," kata Mami dengan suara halus dan senyuman manis, dia berjalan perlahan mendekati Maya. Tetapi justru Maya memundurkan langkahnya ke belakang.


"Merubah nasib? Nasib seperti apa? Apa kamu akan menjualku?"


"Ya, kamu akan dijual oleh Om-om kaya. Hargamu pasti akan mahal." Mami perlahan menyentuh pipi kanan Maya, dan segera ditepis begitu saja oleh gadis itu.


Maya pun langsung berlari ke arah pintu, tetapi sayangnya di depan pintu itu tepat di mana kedua pria itu berada.

__ADS_1


"Tolong izinkan aku pergi, jangan jual aku. Aku punya keluarga dan juga pekerjaan. Tolong ...." Maya menangkup kedua telapak tangannya dengan wajah memohon. Akan tetapi hal itu sama sekali tak berarti di mata mereka.


"Kamu makan dulu, Mel. Habis itu mandi. Nanti sejam lagi akan ada perias yang akan merias wajahmu dan wajah temanmu. Kamu juga akan memakai pakaian cantik dan indah," ujar Mami.


Sama sekali dia tak menggubris ucapan Maya tadi, lantas dia pun menarik tubuh Maya supaya tak menghalangi jalannya untuk keluar.


"Tolong bebaskan aku, aku nggak punya salah dan hutang apa-apa padamu," pinta Maya dengan wajah memelas.


Gadis itu hendak menyusul, bahkan mengenggam salah satu lengan Mami. Tetapi anak buahnya langsung menepisnya, dan mendorong tubuhnya hingga terhentak di lantai.


Brak!


Pintu itu langsung dibanting saat ketiganya keluar. Maya segera berdiri dan menyentuh handle pintu. Dia menarik turunkannya, tetapi sayangnya dikunci.


"Buka! Tolong buka dan lepaskan aku!" teriak Maya sambil mengedor pintu. "Jangan jual aku! Aku bukan barang!"


"Maya, percuma kamu teriak. Mereka nggak bakal dengar," kata Nadda yang masih duduk di sofa. Dia dan Kiky telah selesai makan dan sejak tadi hanya menonton Maya.


"Lebih baik kamu makan saja, May. Sebelum orang yang dimaksud Mami datang," tegur Kiky.


"Apa kalian nggak takut?" Maya berbalik badan dan berjalan menghampiri mereka berdua lagi. "Kita mau dijual lho, kok kalian kelihatan santai banget, sih?" Maya menatap heran dan gemas pada mereka berdua.


Tak seperti dirinya yang saat ini begitu ketakutan bahkan jantungnya terus berdebar, kedua gadis itu malah begitu santai sekali. Tak ada rasa cemas di wajah keduanya.


"Aku juga takut sebenarnya, May. Tapi mau bagaimana lagi? Mau kabur juga kita nggak bakal bisa," ujar Kiky. Dia terlihat pasrah dan menerima keadaan.


"Kita bisa kabur, tapi sebelum itu kita harus telepon polisi," saran Maya.


Kakinya melangkah menuju kasur, lalu mencari-cari tas atau ponselnya. Tetapi tak ada. "Apa kalian bawa hape? Hapeku nggak ada." Maya menyentuh kantong celana. Dia terbelalak saat melihat tubuhnya sendiri, yang saat ini memakai setelan pendek berwarna merah. "Lho kok bajuku ganti? Siapa yang menggantinya?"


"Bajumu dari awal datang memang itu kok." Nadda menyahuti Maya yang terlihat kebingungan. "Kita disini nggak ada yang bawa hape, May. Dan kita juga ada diluar negeri."

__ADS_1


Maya kembali terbelalak. Berkali-kali dia merasakan keterkejutan yang mungkin tak sampai di akal sehatnya.


"Luar negeri? Memang di mana?" Wajah Maya seketika pucat, tubuhnya langsung lemas dan segera dia mendudukkan bokongnya ke atas kasur, sebelum tubuhnya terjungkal ke lantai.


__ADS_2