
Terlihat oleh mata kepala mereka sendiri, di dalam kamar hotel itu ada Aji dan Diana.
Yang tadi membuka pintu adalah Aji, dia memakai jubah mandi berwarna putih. Dan begitu pun dengan Diana, wanita itu tengah duduk di tepi kasur dengan rambut yang sama basahnya seperti Aji.
"Papi!" pekik Diana terkejut, dia segera bangkit lalu berlari memeluk tubuh Sofyan. "Ini nggak seperti yang Papi bayangkan, semuanya salah pa ...."
Ucapan Diana menggantung kala Nella begitu cepat menarik lengan wanita itu hingga terlepas dari tubuh Sofyan. Diana terhentak dan beringsut mundur beberapa langkah.
Saat itu pula Nella mengangkat tangannya untuk menyambar pipi kiri Diana.
Plak!
"Kurang ajar sekali Mami! Tega sekali!" pekik Nella kesal.
"Aaww!" Diana meringis kesakitan, lalu memeluk tubuh anak sambungannya. "Ini salah paham Sayang, Mami bisa jelaskan."
Nella menghentakkan tubuh Diana begitu keras sampai wanita tersungkur di lantai.
"Kurang ajar sekali kau, Aji! Brengs*k!" berang Sofyan seraya menyambar kedua pipi Aji dengan bogem mentahnya.
Bugh!
Bugh!
Tubuh Aji oleng, tetapi dia tak jatuh dan malah membalas untuk menonjok pipi kanan Sofyan.
Bugh!
"Kau yang brengs*k dan bodoh!" balas Aji sambil tersenyum menyeringai.
Merasa muak dengan wajah pria itu yang seakan tengah mengejeknya, lantas Sofyan pun mendorong tubuh Aji sekuat tenaga hingga jatuh.
Secepatnya Sofyan menghentakkan bokongnya dan segera mencekik lehernya dengan kedua tangan.
"Kau harus mati Aji!" tekan Sofyan sambil melotot. Matanya merah padam dengan rahang yang mengeras, dadanya juga terasa sangat sesak saat melihat mereka berdua berada di dalam satu kamar hotel.
Memang dia sendiri tak tahu apa saja yang dilakukan Aji dan Diana di kamar ini, tetapi dia sudah menyimpulkan sendiri dan yakin kalau mereka telah melakukan dosa.
Melihat Aji sudah pucat menahan rasa sakit, Diana pun segera membungkuk dan menarik lengan suaminya.
"Papi lepaskan! Kasihan Om Aji," pinta Diana dengan suara memelas.
__ADS_1
Degh!
Jantung Sofyan terasa berhenti sejenak. Sebutan itu memang sudah menjadi lumrah, tetapi rasanya begitu mengganjal—jika seorang Diana memanggil pria lain dengan sebutan Om.
Dia sendiri sebelum menikah, dipanggil dengan sebutan itu juga.
"Papa, hentikan!" Sekarang Nella yang menarik tangan Sofyan sekuat tenaga hingga pria itu melepaskan cengkraman tangannya pada leher Aji.
"Uhuk! Uhuk!" Aji menyentuh lehernya sendiri yang hampir putus. Mungkin kalau tidak di tarik oleh Nella, dia sudah kehilangan nyawa.
Nella mengusap seluruh keringat yang ada di dahi Sofyan, lalu mengusap-usap dada Sofyan, meredakan emosinya.
"Apa kau selingkuhi aku Diana?" tanya Sofyan pelan namun dengan nada menekan. Nafasnya tersengal dan tatapan matanya begitu tajam.
Diana terdiam sesaat lalu menoleh pada Aji. Terlihat pria itu mengangguk, seakan memberikan isyarat padanya.
Mereka berempat sudah sama-sama berdiri dengan saling berhadapan. Sofyan di depan Diana, Aji di depan Nella.
"Iya, aku selingkuh dengan Om Aji. Aku ingin kita cerai, Pi."
Deg!
"Kenapa? Apa kurangnya aku di matamu Diana!" berang Sofyan sambil mengusap wajahnya kasar.
"Karena Papi sebentar lagi akan jatuh miskin, dan aku nggak mau jadi miskin. Lebih baik aku bersama Om Aji saja, yang lebih kaya."
Seperti tak ada urat malu, Diana dengan terang-terangan memeluk tubuh Aji dan seketika membuat hati Sofyan tersayat.
Memang saat ini perusahaan yang Sofyan kelola tengah mengalami masalah, itu juga alasannya mengapa dia pergi ke luar kota.
Mata Nella melebar sempurna, dia geleng-geleng kepala kemudian menggenggam tangan Sofyan yang yang tengah mengepal.
"Talak Mami, Pa! Wanita gila harta seperti dia nggak pantas dengan Papa!" titah Nella sembari menodongkan jari telunjuknya ke wajah Diana.
Sudah Nella duga, ternyata Diana tak setulus dengan apa yang diucapkannya kemarin-kemarin.
Sofyan menoleh pada Nella dengan bibir yang bergetar. Dia ingin mengatakan hal itu tetapi rasanya sulit dan tak rela.
"Kenapa Papa diam saja? Jal*ng seperti Mami nggak usah dipertahankan!" tambah Nella lagi.
"Apa yang kau katakan?" sergah Diana kesal. "Enak saja mengataiku jal*ng?! Suamimu sendiri pernah tidur denganku, Nell!" ujar Diana dengan bangganya. Dia tak sadar jika ucapannya sama saja merendahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Lalu apa aku salah mengatakan kau jal*ng?" Nella mengangkat dagunya sembari menatap tajam Diana dan Aji. "Wanita yang tidur dengan lebih dari satu pria tanpa status pernikahan adalah seorang jal*ng!"
"Dan kau!" Jari telunjuk Nella sekarang menunjuk wajah Aji. "Kau dan anakmu sama saja! Sama-sama perusak rumah tangga orang!" berang Nella dengan emosi yang meluap-luap.
Beberapa detik kemudian....
Bruk!
Seperti ada yang jatuh.
Seketika Nella menoleh pada posisi di mana Sofyan berada, lalu dia pun tersentak kaget lantaran yang jatuh tadi adalah Sofyan.
Pria itu terkapar di lantai dengan mata terpejam, segera Nella berjongkok dan menggoyangkan tubuh Sofyan.
"Papa! Papa kenapa?" tanya Nella cemas. Dia pun segera menempelkan telinganya ke dada Sofyan. Masih terdengar bunyi denyut jantung, tetapi begitu lemah. "Astaga Papa! Bangun, Pa."
Nella mulai panik dan binggung. Dia pun menaruh lengan Sofyan pada pundaknya lalu mencoba untuk mengangkat tubuhnya. Namun rasanya sangat sulit sebab tubuh Sofyan jauh lebih besar.
Diana dan Aji masih berdiri dalam diam. Mereka seolah menjadi penonton saja dan tak ada niat untuk membantu wanita itu. Padahal wanita itu benar-benar membutuhkan pertolongan.
"Tolong! Tolong!" pekik Nella dengan keras, dia menyentuh perutnya yang tiba-tiba saja terasa kram.
Ihsan yang sejak tadi berada di dekat pintu kamar hotel itu segera datang menghampiri Nella. Dia sempat menguping semua pembicaraan mereka tadi dan kali ini akan menjadi kesempatan emas untuknya, supaya bisa menjadi malaikat penolong.
"Astaga, ada apa ini, Cantik?" tanya Ihsan sembari merangkul pundak Nella.
Nella pun menoleh padanya dan seketika matanya membulat lantaran terkejut. Dia merasa heran kenapa malah Ihsan yang tiba-tiba saja datang.
Namun kali ini, tak ada waktu untuk Nella pertanyakan masalah itu, yang terpenting sekarang adalah kondisi Sofyan.
"Kakak, tolong aku ... tolong bantu aku bawa Papa ke rumah sakit," pinta Nella dengan wajah memelas.
Ihsan mengangguk. Tetapi sebelum itu dia mencuri kesempatan mencium puncak rambut Nella, dan setelah itu membantu untuk memapah tubuh Sofyan hingga keluar dari hotel.
Nella membukakan pintu belakang mobil papanya untuk Ihsan lalu pria bule itu membaringkan Sofyan di kursi mobil.
"Terima kasih, Kak. Biarkan—"
"Kamu naik, biar aku yang membawa mobilnya," sela Ihsan sembari mengambil kunci mobil yang Nella pegang.
Tanpa berpikir lagi, Nella pun mengangguki ucapan Ihsan lalu ikut masuk ke dalam mobil untuk menemani Sofyan di kursi belakang. Sedangkan Ihsan segera berlari untuk masuk ke kursi kemudi.
__ADS_1