Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
136. Kelaparan


__ADS_3

"Halo Rio," ucap Rizky saat panggilan itu diangkat.


"Iya, kenapa Kak?"


"Kenapa mertua lu nggak jualan bakso?"


"Oh, Ayah bilang sih libur dulu ... dia mau main sama si kembar."


"Oh, ya sudah." Rizky mematikan sambungan teleponnya, lalu berjalan menghampiri Nella yang masih duduk manis.


"Apa katanya, Mas?"


Mulut Rizky padahal sudah menganga hendak memberitahu, tetapi keduluan Nella yang bertanya.


"Katanya dia libur nggak jualan, mau main sama cucunya."


"Oh, ya sudah ... kita ke sana saja, Mas."


"Ke sana kemana?"


"Ke rumah Rio, pasti Pak Wahyu ada di sana."


"Tapi gue 'kan sudah bilang tadi, dia libur karena mau main dengan cucunya." Rizky mengerutkan kening, dia benar-benar merasa binggung. "Kan gue mau kita makan siang dulu, baru bertemu anaknya Rio."


Mungkin yang dimaksud Nella, dia ingin langsung bertemu kedua anak Rio. Itulah yang terpikir dalam benak pria tampan itu.


"Iya, tapi siapa tahu saja di rumah Rio, Pak Wahyu menyimpan bakso beserta bumbunya, Mas."


"Sepertinya nggak mungkin, di rumah Rio 'kan dia nggak jualan." Rizky menggeleng tak percaya.


"Ya sudah kita coba dulu, ayok pergi, Mas." Nella bangkit dari duduknya, lalu menarik lengan Rizky begitu saja sampai masuk ke dalam mobil.


Sebenarnya Rizky merasa malas dan tak bertenaga lantaran lapar, tetapi wajah Nell yang begitu ceria dengan pipi yang merona, seakan membuatnya tak tega untuk menolak.


Dengan helaan nafas berat, Rizky akhirnya mengemudi ke arah rumah Rio.


"Tapi lu janji dulu sama gue, ya! Kalau misalkan di rumah Rio nggak ada bakso ... kita cari makan siang yang lain."


"Jangan bilang begitu dong, Mas. Mas harusnya bilang ada."


Rizky hanya berdecak dan geleng-geleng kepala. Lalu tangannya perlahan mengelus perutnya yang sejak tadi berbunyi.


'Cacing sabar, ya! Tolong mengerti sikap istri gue yang cantik ini. Gue juga sebenarnya mau cepat-cepat makan, tapi Nellanya mau kita makan semangkuk berdua,' gumam Rizky.

__ADS_1


Setelah dua puluh menit perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di rumah Rio. Satpam rumahnya pun langsung membukakan gerbang sebab Rizky menurunkan kaca mobilnya. Dia tentu tahu dan mengenal Rizky, pria tampan itu bahkan sering datang ke rumah itu.


Melihat Nella yang sudah turun duluan saat dirinya mematikan mesin mobil, Rizky buru-buru ikut turun menghampirinya.


Ting ... tong. Tangan Nella memencet bel rumah itu dan tak lama terdengar suara pintu yang terbuka.


Ceklek~


"Pak Wahyu," ucap Nella dengan mata yang berbinar setelah melihat orang yang kini berdiri dihadapannya adalah orang yang dicari.


"Nona Nella ...." Wahyu lalu menoleh pada pria yang berada di sampingnya. "Eh, ada Pak Rizky juga. Silahkan masuk."


Wahyu melebarkan pintu rumah itu dan mempersilahkan mereka masuk. Meskipun dia sendiri tak tahu niat kedatangan mereka dan merasa aneh saat melihat Nella datang bersama Rizky, tetapi tidak ada salahnya untuk mempersilahkan mereka masuk dulu.


Sebab selain mereka adalah tamu, Wahyu tentunya mengenal Rizky dan saat ini lengan pria tampan itu tengah merangkul bahu Nella.


Nella dan Rizky langsung duduk di sofa ruang tamu.


"Maaf sebelumnya, Pak Rizky dan Nona Nella cari siapa? Kalau Rio dia ada di kantor, dan kalau Wulan ... dia sedang tidur siang," terang Wahyu.


"Kami mau ketemu si kembar," ucap Nella.


"Kami mau ketemu Bapak," ucap Rizky.


"Jadi yang benar kalian ingin bertemu siapa?" tanya Wahyu sekali lagi.


"Dua-duanya."


"Dua-duanya."


Mereka kembali berucap bersama tapi kali ini jawabannya sama.


"Kalau si kembar sedang tidur siang bersama Bundanya, lalu kalau saya ... ada perlu apa, ya?" Wahyu mendudukkan bokongnya di sofa single.


"Apa Bapak masih menyimpan bakso di kulkas beserta bumbunya? Aku dan Mas Rizky mau beli bakso Bapak," ucap Nella.


"Oh, masalah bakso. Kalau baksonya nggak ada Nona, tapi adonannya ada di kulkas," terang Wahyu.


"Bumbunya?"


"Bumbunya juga ada."


"Kita pulang saja deh, cari makan yang lain." Rizky langsung berdiri dan menarik lengan Nella hingga ikut berdiri, dia merasa tak puas dengan jawaban Wahyu yang tak memuaskan.

__ADS_1


"Dih, Mas ... sebentar." Nella mengempit lengan Rizky pada ketiaknya, saat Rizky mencoba menariknya untuk berjalan.


"Apa lagi? Kan lu sudah dengar sendiri tadi. Masih berupa adonan, ya lama dong." Rizky mendengus kesal dan menatap nanar istrinya. "Gue bisa mati kalau lama-lama menahan lapar, Nell. Masa lu tega sama gue."


"Adonannya tinggal dibuat bulat-bulat dan direbus saja kok, Pak. Nggak lama," balas Wahyu menimpali.


"Tuh, Mas ... kata Pak Wahyu juga apa, kita hanya menunggunya sebentar." Nella mencoba merayu Rizky yang sudah merajuk ingin pergi. Akibat rasa laparnya, kepala Rizky terasa pusing dan emosinya mendadak naik.


"Ya sudah, gue bakal nunggu." Rizky menjatuhkan tubuhnya hingga kembali duduk, Nella pun segera melepaskan lengan Rizky dari ketiaknya.


"Sebentar ... saya buat dulu, ya! Mau makan di sini atau dibungkus?" tanya Wahyu seraya berdiri.


"Makan di sini, Pak. Sekalian tunggu si kembar bangun," jawab Nella. Rizky bahkan sudah memalingkan wajahnya dengan wajah masam sebab merasa kesal dengan keadaan.


"Oh oke, dua mangkuk, ya."


"Satu mangkuk saja, Pak," jawab Nella saat melihat Wahyu hendak beranjak. "Eemm ... aku boleh ikut masak juga, nggak? Bantuin Bapak supaya cepat matang."


"Nggak usah, Nona tunggu saja." Wahyu menggelengkan kepalanya, lalu berjalan menuju dapur, tetapi Nella malah mengikuti langkahnya menuju dapur.


Rizky hanya diam sembari melihat punggung Nella yang sudah hilang masuk ke dapur, sebenarnya dia ingin mencegah wanita cantik itu. Tetapi ingin berbicara rasanya tak bertenaga, dia benar-benar merasa lapar dan sekarang haus juga.


'Sudah kayak puasa saja gue, ini juga ... mana pembantunya? Kok gue nggak dikasih air minum?' Rizky menggerutu sambil menoleh ke kanan dan kiri, mencari orang lain di rumah itu.


Namun, bukannya menemukan seorang pembantu, pandangan Rizky justru terjatuh pada meja makan yang berada di samping ruang tamu.


Dari kejauhan—terlihat banyak sekali menu makan siang di atas dan membuat air saliva Rizky seketika menetes lantaran tergiur.


Sepertinya, itu adalah menu bekas makan siang satu keluarga di rumah itu. Hanya saja masih sisa banyak dan tersaji rapih di atas sana.


Kalau untuk menunggu bakso itu matang—rasanya akan lama dan bisa-bisa Rizky pingsan duluan. Dan akibat rasa lapar yang menggerogoti perutnya, seketika Rizky bangkit dari duduknya lalu secepat kilat dia pun menarik kursi dan duduk di meja makan.


"Lebih baik gue makan dulu sebelum Nella lihat gue."


Rizky tak peduli entah itu pikiran licik atau jahat pada istrinya, sebab dia ingin lebih dulu makan meninggalkannya.


Lantas, Rizky mengambil piring dan menuangkan nasi dengan dua centong. Setelah itu, dia menyendokkan beberapa menu yang berada di sana.


Ayam goreng, capcay dan telur balado, kemudian Rizky pun segera memakannya dengan cepat dan begitu lahap. Ralat, bukan lahap lagi, tetapi rakus sebab kelaparan.


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...

__ADS_1


......1087......


__ADS_2